Epik GA 329 Malam Ini

Hariatni Novitasari

 

I used to really hate flying. But not now. I really love flying. It’s really a time I can a quiet moment. Tonight, I thought about happiest moments in my life and some friends who really did something really wonderful. Can’t get enough to thank them. Sting’s song “When We Dance” kept playing on my head. I thought about you, and the last day I saw your bright and beautiful eyes.

Today was a long one -ran errand a few things before “holiday” in Jakarta. Honestly, I saw “interesting” passengers in the flight tonight. Seorang bule yang duduk di sebelahku tapi di aisle yang beda. Terus menerus bekerja seperti orang sibuk di dunia. Sibuk membolak-balik buku tebal dengan tulisan “copy” dan mewarnainya dengan stabilo. Lalu, ketika pesawat sudah mengundara, dia mengeluarkan laptopnya.

plane

Lalu kemudian sepasang suami-istri campuran dengan ketiga anak cowok mereka. Kalau di kuping dari bahasa yang mereka pergunakan, mereka dari Belanda. Cakep-cakep anaknya. Anak-anak blesteran lebih unik menurutku. Si anak yang paling besar mungkin agak pusing atau mual karena sibuk menghirup minyak aromateraphi. Di akhir penerbangan, si anak akhirnya muntah juga.

Lalu kemudian Mbak-Mbak sebelahku yang rupanya pahlawan devisa. Mulai duduk, dia sudah menutupi badannya dengan jaket kulit tebal seperti menyembunyikan sesuatu. Sepatunya warna blink-blink. Pada akhirnya aku tahu apa yang dia sembunyikan: dia masih coba-coba chatting dengan temannya ketika sedang mengudara. Aku suruh matikan HPnya tidak mau dia. Mau tidak mau aku jawil mbak pramugari yang kebetulan lewat.

Yang paling menarik adalah si mbah tua. Dia masuk ke pesawat dengan baju koko warna krem, celana hitam, songkok hitam, dan sandal jepit warna hitam. Mulai dari masuk dia sudah agak bingung. Sampai hampir take off dia belum ngancingin sabuknya. Si mbak pramugari aku kasih tahu kondisi si mbah dan bilang “ntar kalau sudah mau take off.” Akhirnya, dia dibantu sama oom bule yang super sibuk tadi. Ketika pesawat sudah landing dan kita antri keluar, si Mbah bingung mau keluar dan teriak-teriak -seperti sedang manggil-manggil keluarganya. Tidak dengan bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa.

Di tengah iringan lagu “Tanah Airku”, para penumpang akhirnya turun satu persatu. Ah, tiba-tiba pengen makan masakan Jepang euy…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.