Rahel Pergi ke Surga Sendiri

Ita Siregar

 

Apa yang kusentuh dan menyentuhku, tak lagi menyala. Bermula dari sebuah harapan. Aku akan memerikannya di sini. Jangan tutup peti itu dulu, tolonglah.

Jadi, semenjak beribadat di gereja-mal yang suasananya gaduh dengan tempik-sorak dan doa riuh seperti dengung ribuan kumbang, anak perempuanku ini kesengsem segala siasat ritualnya.

Dari ceritanya aku tahu, di tempat itu, Tuhan dipuja dengan iringan musik lirih, lantas keras, dengan suara histeris dan tangis, menyambut kehadiran Roh Tuhan. Macam menyambut superstar saja. Maka, darah muda anak perempuanku bergelegaklah di sana, penuh hasrat. Hidupnya seperti menyala.

Setelah itu hidupnya tak jauh-jauh dari rumah Tuhan. Hari Minggu ia dua kali ikut ibadah. Satu hari di rumah Tuhan lebih baik daripada seribu hari di tempat lain, Mak, itu alasannya. Iyah, dia mulai luwes mengutip ayat Kitab Suci.

Lantas, Senin ia puasa-doa. Selasa ia ikut meneliti isi Kitab Suci. Kamis ia bersama kaum perempuan muda, entah apa yang dilakukan mereka. Mungkin membentengi diri dari laki-laki busuk, kurasa. Dan kurasa pun, malaikat di surga angkat topi dengan gelora ‘cem ini.

Bukan tanpa sebab anak perempuanku begitu. Aku tahu ia berlomba dengan Sang Waktu. Tiap kali. Memang, dari semua anak yang kulahirkan dari rahimku, dialah satu-satunya yang masih diperam pun, bermasalah dengan jantung. Itu diluar kedaulatanku. Siapa ibu ingin melahirkan anaknya cacat? Tetapi ia bayi labuku yang manis. Tak ia persoalkan caraku menenunnya dalam gua garbaku. Campur tangan ilmu kedokteran mengutak-ngutik tubuhnya, semenit ia bertemu dunia.

Anak perempuanku itu berhasil hidup. Hanya, ia tak boleh terlalu penat, terlalu stres, terlalu tambun. Tiga kali seminggu dia mesti jalan kaki dengan ritme tertentu atau berenang seratus delapan puluh kali tarikan napas. Tiap tiga bulan ia melapor ke dokter. Begitulah terjadi bertahun-tahun.

Lalu nasib menautkan anak perempuanku dengan sesama penumpang lift di gedung kantornya. Setahun atau dua tahun lalu peristiwanya. Entah bagaimana mereka bicara, tapi kenalan itu bersaksi soal massa yang pernah tumbuh liar, berlambak di ketiaknya, dan hasil CT-scan menuntutnya kemoterapi. Tetapi ia menolak semua itu. Dengan penuh keyakinan, ia mengusap tubuhnya dengan minyak zaitun yang diurapi, yang dijemput dari Tanah Perjanjian, yang khusus didoakan para syafaat yang mendikte Sang Pencipta agar mengkonkretkan permohonan menjadi kenyataan. Asal kujamah jubah-Nya, pasti sembuh, katanya. Begitulah tubuhnya merdeka dari rasa sakit. Dan cerita itu menumbuhkan asa dalam diri anak perempuanku.

Jika ia sembuh, kenapa aku tidak, batinnya. Aku pun ingin menjamah jubah-Nya, Mak, tuntutnya. Semangatlah ia menyambangi sekumpulan jemaah sumblim itu, orang-orang yang bermasa depan surga. Di sana wajah-wajah berseru afdal, Tuhan mengasihimu. Penyakitmu sudah dipakukan di kayu salib dua ribu tahun lampau! Rayakan pemulihanmu, hari ini juga. Haleluya!
Aku percaya Yesus satu-satunya jalan ke surga, Mak, cakap anak perempuanku. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang, Mak. Aku manusia baru, Mak. Juga tubuhku.

Kagum dan terharu aku mendengarnya berharap seperti itu. Aku mengangguk-angguk, turut berdoa dalam hati, agar Tuhan melawatnya mesra.

Lalu nyala di hatinya berubah fanatik. Tiap bulan dia sisihkan sepersepuluh gajinya, dijejalkan ke dalam amplop putih yang seketika menggelembung, untuk nanti dilesakkan dengan sedikit tenaga, ke pundi-pundi gereja. Tiap kali ia menjatuhkan selembar seratus ribuan ke kantong kolekte, tak lagi seribuan, seperti biasa kulakukan.

“Kita harus kasih yang terbaik agar diberkati berlipat-ganda, Mak,” katanya.

Kepalaku mengangguk-angguk. Kubayangkan, jika tiap jemaat bertindak seperti yang dilakukan anakku, gereja akan berubah menjadi bank yang sanggup menanggung makan jutaan miskin papa di seluruh pelosok negeri. Takkan lagi kautemui satu pengamen pun di perempatan lampu merah. Bahkan turis pun hidup sejahtera.

Kemudian anakku mulai nyinyir menyindirku. Pertama soal makanan. Dia tak mau lagi menyentuh saksang. Siapa makan darah akan dikutuk oleh Tuhan, Mak. Bah!

“Keluarga kita makan gota turun-temurun, Nak. Apa mereka kena kutuk juga?”

“Itulah. Mamak ini nggak ngerti kebenaran!”

Iyah, apa ini? Makanan kan cumak dikelola perut dan sisanya dibuang jadi tahi? Makan makanan babi pun, asal mulutmu bersedia mengolah, maka jadilah.

Kedua, anakku itu mengkritikku tentang kebiasaanku mar pesta. Dalam sepekan, aku pasti pergi martumpol, ke kawinan kerabat entah siapa, arisan marga, dongan sabutuha. Aku memang perlu uang untuk kegiatan yang bikin aku senang ini.

“Tuhan nggak suka kita lakukan hal-hal yang tak ada guna, Mak!”

Ala mak jang! Boruku ini tak tahu kalau di pesta itulah aku berbagi lapak hidup dan penderitaan, dengan ibu-ibu lain. Di situlah, sembari mendengar adat dirundingkan dan gondang dinyanyikan, tanganku menyentuh kawan sepermainanku, membisikkan harapan, agar ia perkasa menatap hidup yang sedang tak bersahabat. Di sinilah aku merasa bermakna karena berani menguatkan hati janda ditinggal mati, tak punya uang, sementara aku pun masih ketar-ketir menghadapi hari esok.

Dan, rahasia ini. Seorang ibu tua telah mengeluhkan perilaku anaknya kepadaku, yang persis apa yang kualami.

“Tiap hari anakku bilang Tuhan ngomong begini, begitu. Dia pergi ke tempat kumuh, bantu orang miskin katanya, tapi membantuku di rumah, tak pernah ada waktunya. Dia paksa-paksa aku untuk terima Yesus sebagai Juruselamat. Apa itu? Aku sudah ke gereja sejak balita!

Apa itu tak dilihatnya? Alasannya, dia takut aku masuk neraka. Iyah, anakku tak percaya kalau kubilang, aku pernah bersalaman langsung dengan Yesus!”

Setelah itu kami tertawa terpingkal-pingkal, lalu kucolek lengannya, berbisik, nasib kita sama, eda. Lalu kami tertawa lagi. Sampai yang bikin aku naik pitam, boruku mengeluarkan semua ulosku dari lemari, menumpukkannya di lantai beranda belakang rumah. Aku meledak mendengar kalimat sengitnya, bahwa ia akan membakar ulos-ulos yang menurutnya ditunggangi roh jahat.

“Coba Mamak perhatikan! Aku sakit-sakitan terus. Abang ditinggal istrinya, nikah dengan orang lain. Papa mati karena sakit! Usaha Salomo selalu bangkrut. Itu karena kita menyimpan ulos di rumah ini, Mak! Kita harus memutus rantai kutuk keturunan!” pekiknya seperti kemasukan setan.

“Babam! Apa maksudmu kutuk? Tak ada yang dikutuk di keluarga ini. Kembalikan ulos-ulos itu ke tempatnya. Sekarang!” teriakku murka.

“Mamak tak bisa masuk surga kalau mempertahankan ulos-ulos ini, Mak!” jeritnya.

“Tak usah aku masuk surga kalau harus buang ulos!” berangku dengan badan gemetar.

Kami bertatapan lima detik, ia tahu aku marah benar, cepat mengalihkan pandangnya. Dan setelah peristiwa itu, ia keluar rumah, kos. Aku habis akal, tak tahu apa yang mesti kubuat untuk mengurai soal macam ini. Satu dua bulan dia tak berkabar, kubiarkan dengan cemas. Saat itulah aku mencurahkan galau hatiku kepada Tuhan yang kupercaya, menyerahkan anak perempuanku dalam pengamatan mata-Nya, pemeliharaan-Nya. Aku tak sanggup melakukannya.

Langit mendung ketika anak perempuanku mengabari ia terkena stroke ringan, dadanya sesak. Terlalu banyak makan, alasannya. Aku kaget dua kali mengingat dia pasti tak lagi ke dokter.

“Boru, kita sakit bukan melulu karena dosa, lo. Kita sakit agar kita ingat berharap kepada Tuhan, dan Tuhan dimuliakan karena ketabahan dan rasa syukur kita, menerima keadaan. Dokter juga diberkati Tuhan karena diberi kepintaran untuk mengobati. Tidak salah kok kita ke dokter, Inang. Pergilah ke dokter, minumlah obatmu, Sayangku,” bujukku lembut.

Tetapi anak perempuanku bersiteguh. Mukjizat itu sudah dekat, Mak. Hanya tunggu waktu, katanya.

Gelisahku memuncak melihat kepasrahannya yang buta. Lalu tengah malam, ia muncul di depan pintu rumahku, dengan tatap lemah memandangku, menyerahkan berat tubuhnya ke dadaku, dan berbisik pelan, “Mak, antar aku ke dokter.”

Jantungku mengacau melihat wajahnya seperti lilin. Dalam perjalanan yang terasa lamban itu, anak perempuanku terkena serangan, napasnya terhenti tiba-tiba, dan di rumah sakit, petugas berwajah sendu itu bergumam pelan, mengumumkan semuanya sudah terlambat.

Rupanya boruku tersayang ini mampir kepadaku untuk pamit. Dia ingin aku memeluknya, melepasnya pergi.

Dari rumah sakit kutaruh jasad anak perempuanku di tengah-tengah sini inilah. Dengan hati patah kuselimuti tubuh barunya itu dengan ulos holong yang diberikan natorasku atas kelahiran pahompunya, Rahel Uli Siregar, anak perempuanku itu. Kucium dahinya, sambil berkata pelan di atas wajahnya yang dingin, Boru, izinkan Mamakmu ini mengembalikan ulos parompamu, Hasian, untuk menemanimu ke surga.

Ah, Tuhanku.

Sekarang, tutuplah peti itu. Sudah cukup aku memandang bohi boruku.

jesus-in-heaven

 

Cempakaputih, Januari 2014

 

Keterangan bahasa Batak:
Saksang = masakan daging babi yang dipotong dadu, dimasak dengan pelbagai bumbu dan darahnya.
Martumpol = pertunangan.
Boru = anak perempuan
Babam = mulutmu
Hasian = kekasih
Ulos parompa = ulos yang diberikan orangtua perempuan kepada cucunya.
Ulos holong = ulos sayang
Natoras = orangtua
Pahompu = cucu
Bohi = dahi

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.