[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Pagi Hingga Petang

Liana Safitri

 

“HAI! Sudah lama kami menunggumu!” sapa Xing Wang.

“Aku mau latte!” sahut gadis itu.

“Baiklah, akan aku buatkan.” Xing Wang segera pergi ke belakang.

Gadis itu tersenyum pada Tian Ya, “Halo, Tian Ya! Aku tak percaya waktu Xing Wang menelepon dan mengatakan kau ada di Taiwan. Ternyata benar, ya!”

Jantung Lydia berdesir. Dia bahkan mengenal orangtua Tian Ya.

“Aku datang tidak sendirian.” Tian Ya memberi tanda ke kursi di sebelahnya.

“Oh…” Gadis itu baru menyadari keberadaan Lydia.

Lydia sekali lagi berjabat tangan dengan seseorang yang sudah dikenal dalam kehidupan Tian Ya, tapi asing baginya. “Lydia.”

“Xu Fei Yang. Aku dan Tian Ya adalah teman lama, kami sama-sama kuliah di Shida (师大 —National Taiwan Normal University).”

Lydia menelan ludah yang terasa pahit.

Apa-apaan ini? Aku tidak bertanya kau kuliah di mana! Kenapa harus memberitahuku kalau dulu kalian belajar di universitas yang sama?

Kali ini tanpa menunggu Tian Ya, Lydia memperkenalkan diri lebih dulu, “Aku teman dekat Tian Ya!”

Mata Fei Yang membulat, ia menoleh pada Tian Ya, “Benarkah?”

“Ya!”

Lydia kesal karena Tian Ya tampaknya menjadi gugup setelah Fei Yang datang. Xing Wang kembali ke tengah-tengah mereka, meletakkan secangkir latte di depan Fei Yang. Xing Wang melirik ke gelas Lydia dan Tian Ya yang sudah kosong. “Apa kalian mau tambah minuman lagi?”

“Boleh. Aku pesan yang sama seperti tadi.” Tian Ya bertanya pada Lydia, “Kau?”

“Tidak usah! Rasanya perutku mulai kembung!” Lydia kehilangan minat.

“Kalau begitu berikan saja kue untuk Lydia.”

“Aku tidak mau!” Suara Lydia lebih keras, membuat semua orang terdiam.

Pembicaraan selanjutnya lebih sering diisi oleh Xing Wang, Fei Yang, dan Tian Ya. Mereka mengenang masa lalu, tidak ada Lydia dalam cerita mereka. Mau tak mau Lydia teringat pertemuannya dengan Tian Ya di sebuah restoran oriental, sesaat setelah ia menghadiri peluncuran novel pertama di toko buku. Lydia sangat gembira bertemu Tian Ya, mereka berbicara menggunakan bahasa Mandarin tanpa memedulikan Franklin. Mungkin seperti inilah perasaan Franklin saat itu. Hanya bedanya, sekarang Lydia mengerti bahasa Mandarin. Tian Ya, Xing Wang, Fei Yang…

Mungkin seharusnya aku berganti nama menjadi A Xing, alias “orang Asing”!

Pikiran Lydia sudah melayang terlalu jauh ketika satu tangan meraih tangannya di bawah meja dan menggenggamnya, membawanya kembali ke tempat itu. Lydia menoleh menatap Tian Ya. Tapi Tian Ya tak sekalipun melihat padanya, hanya jari-jarinya yang menggenggam makin erat.

 

Hari ini Lydia ikut Nyonya Li ke butik. Nyonya Li memperkenalkannya pada beberapa karyawan wanita yang semua orang Taiwan, dan menunjukkan apa saja pekerjaan di sana. Di atas meja Lydia melihat dua buah album foto.

“Foto apa ini, Ma?”

“Foto keluarga dan foto Tian Ya sejak dia kecil, sekolah, sampai kuliah. Aku juga masih menyimpan fotomu dengan Tian Ya di SMP… juga foto kalian saat study tour di Bali. Kau lihat saja!”

Lydia membuka-buka album foto melihat bayi Tian Ya ketika baru berumur satu hari, beberapa bulan, satu tahun, Tian Ya menggandeng papanya saat mulai masuk sekolah, belajar naik sepeda. Lydia tersenyum, tapi kemudian merasa sedih. Teringat dengan ayah dan ibu, juga kakak… Foto kenangan Lydia bersama orangtuanya memang tidak sebanyak foto Tian Ya bersama mama papanya, karena dari kecil Lydia sering ditinggal bekerja dan dirawat pembantu. Foto Lydia dengan kakak memenuhi facebook, tapi Lydia sudah lama tidak membukanya. Ia tahu kalau Franklin pasti menyesaki inbox-nya dengan kalimat-kalimat yang akan membuat Lydia menangis. Foto Lydia dengan Tian Ya membuatnya berharap kalau mesin waktu benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Lydia melihat pertumbuhan Tian Ya saat memasuki SMA di Taiwan, ketika menjadi mahaiswa baru di NTNU, diwisuda… Dan di antara lembaran foto yang ada di album, tanpa sengaja Lydia menangkap sosok yang belum lama ia kenal.

Dalam foto Fei Yang memeluk leher Tian Ya dengan manja, Tian Ya juga memeluk pinggang Fei Yang sambil tersenyum. Perasaan Lydia menjadi gelisah tak menentu. Dengan cepat tangan Lydia membalik lembaran-lembaran album. Foto Fei Yang yang berpose sendirian di dalam dan di luar toko memang cukup banyak. Sambil berusaha menenangkan diri, Lydia menunjukkan foto Fei Yang yang sendirian pada Nyonya Li.

“Foto wanita ini sepertinya paling banyak jika dibandingkan dengan yang lain…”

“Dia teman Tian Ya waktu kuliah dan memang sering membeli baju di butik kami. Dua bulan ini jarang datang, mungkin sibuk.”

Saat Lydia sudah pulang Tian Ya belum kembali. Lydia duduk di depan televisi, tapi sama sekali tak memperhatikan siaran. Ia hanya perlu sedikit suara agar suasana tak terlalu sunyi. Fei Yang… Fei Yang… Fei Yang… Lydia menggelengkan kepala berulang kali. Tidak! Tidak! Jika benar Tian Ya dan Fei Yang memiliki hubungan istimewa, itu adalah masa lalu. Lydia masih ingat saat melarikan diri bersama Tian Ya di villa Kakek Smith, di Kaliurang. Ia bertanya apakah Tian Ya pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis di Taiwan. Tian Ya menjawab dengan jujur, ya pernah! Tapi Tian Ya juga mengatakan kalau hubungannya dengan para wanita itu (seandainya ia menjalin hubungan yang bisa dianggap “istimewa” dengan seorang wanita lebih dari sekali) tidak pernah serius. Jika dibandingkan, maka Lydia adalah batu karang sedangkan mereka hanya kerikil-kerikil kecil. Bagi anak muda yang hidup di zaman modern, berganti-ganti pacar adalah wajar. Tidak ada yang salah dengan Tian Ya, bahkan ia bisa dikatakan setia karena kembali pada Lydia walau sudah bertahun-tahun kemudian. Cuma Lydia saja yang selama ini selalu menempel pada Franklin dan tak mau membuka diri pada teman-teman pria. Jadi sebaiknya jangan terlalu berprasangka buruk. Dengan pikiran seperti itu Lydia jatuh tertidur.

Lydia terbangun oleh suara-suara yang ditimbulkan Tian Ya saat ia pulang jam dua pagi. Lydia melihat Tian Ya dengan mata terkantuk-kantuk.

“Kau menungguku?” tanya Tian Ya.

“Kukira kau akan menginap di kantor… Mengapa Papa tidak mau berbaik hati padamu?”

“Kau seperti tidak tahu Papa saja! Dia hanya akan bersikap lebih lunak pada anak perempuan.”

Lydia mencibir, “Maksudmu aku?”

“Memang begitu kenyataannya, kan? Jika ada masalah selalu aku yang dimarahi, disalahkan! Mana pernah Papa galak padamu?” Setelah melepas sepatunya Tian Ya mengambil remote dan mematikan televisi yang masih menyala. “Tidurlah di dalam!” Lalu ia berjalan menuju kamar mandi.

“Tian Ya!”

“Apa?”

Lydia bermaksud mengatakan sesuatu tapi kemudian berubah pikiran. “Tidak! Tidak apa-apa!”

Dahi Tian Ya berkerut heran tapi tak bertanya lebih lanjut.

Lydia masuk ke kamarnya sendiri.

Jangan cari masalah! Jangan mengungkit soal Fei Yang! Kalau mereka hanya teman biasa dan aku bertanya macam-macam, bukankah berarti aku yang kekanak-kanakan?

Setelah Lydia dan Tian Ya bekerja mereka jarang punya kesempatan melewatkan waktu bersama. Jangankan pergi jalan-jalan seperti dulu, untuk makan berdua saja sangat sulit. Lydia dan Tian Ya hanya bisa bertemu selama sekitar empat jam. Meskipun bekerja bersama orangtua sendiri, keduanya tidak bisa santai-santai. Nyonya Li memang tak pernah menyuruh Lydia bekerja sampai larut, karena ia cemas jika Lydia naik bus terlalu malam. Tapi Tian Ya, jam kerjanya sungguh parah. Lydia baru bisa melihatnya setelah jam dua atau jam tiga pagi. Kalau Lydia selalu bisa bersenang-senang di akhir pekan, Tian Ya masuk kantor tujuh hari seminggu. Satu bulan kemudian Lydia protes, mana ada ayah yang begitu kejam, mempekerjakan anaknya seperti sapi perah? Bosan diberondong pertanyaan Lydia setiap pulang kerja, Tian Ya menyuruhnya bertanya pada Nyonya Li, jam berapa Tuan Li pulang.

“Aku hanya berharap Papa lebih murah hati, membiarkanmu sedikit lebih lama di rumah untuk menemaniku…”

Tian Ya melingkarkan lengannya ke sekeliling leher Lydia sambil berkata menghibur, “Kau bisa bertemu Frida atau mengajaknya kemari jika ia mendapat libur.”

“Apa kau mengajakku ke Taiwan hanya untuk melewatkan hari-hari seperti ini?” Lydia masih tidak puas.

“Aku akan menanyakan pada Papa kapan kira-kira bisa mengambil cuti tiga hari. Atau…” Tian Ya mengedipkan sebelah matanya, “Sebaiknya kau saja yang memintakan cuti untukku! Kurasa Papa takkan bisa menolak permintaanmu!”

“Dengan begitu bukankah akan terlihat sekali kalau aku yang ingin kau libur?”

Tian Ya menarik napas dalam-dalam, “Aku rasa Papa memang sengaja membebaniku dengan banyak pekerjaan untuk mengurangi waktu kebersamaan kita. Mama dan papa sangat khawatir, mereka tidak ingin terjadi kecelakaan di antara kita!”

Lydia menatap Tian Ya dengan dahi berkerut, “Seharusnya mereka tahu itu tidak mungkin terjadi!”

 

Lydia akhirnya pergi jalan-jalan ke pasar malam Ximending bersama Frida. Di tempat Harajuku-nya Taipei ini mereka melihat-lihat berbagai barang yang dijual di kios dan toko, juga mencicipi makanan (sekarang rasanya tidak terlalu aneh seperti pada saat Lydia pertama kali datang ke Taiwan). Mereka juga menyaksikan pertunjukan dari para pengamen jalanan. Frida menarik Lydia mendekati seorang pelukis tua Ia menyelesaikan satu karya mengagumkan dalam waktu sepuluh menit. Di bawah lantai beralas tikar seadanya, berserakan lukisan yang sudah dibingkai maupun belum. Paling depan ada kertas lebar yang sudah ditulisi harga. Pria dengan kepala setengah botak itu mulai menggerakkan tangan dengan cekatan. Tak lama kemudian tampaklah lukisan pemandangan. “Aku tidak tahu apa-apa soal lukisan, tapi menurutku ini bagus sekali.” Lydia terkagum-kagum.

Lydia dan Frida bergabung dalam kerumunan orang yang menonton pertunjukan musik. Di depan ada dua laki-laki muda, satu membawa keyboard, satunya lagi membawa gitar. Mereka menyanyikan lagu dengan penuh semangat, kadang-kadang mengajak penonton bernyanyi bersama. Beberapa penonton melemparkan uang ke kotak. Lydia menyedot zhenzhu naicha (珍珠奶茶 —teh susu mutiara) dari gelas yang isinya tinggal setengah sambil terus memperhatikan. Setelah dua lagu selesai, ada seorang penonton maju ke depan dan membisikkan sesuatu. Si pemain keyboard menganggukkan kepala tanda mengerti. Tak lama kemudian terdengarlah musik pembuka yang sangat dikenal Lydia. Tentu saja Tong Hua童话)! Lydia nyaris bersorak jika tidak ingat dirinya sedang berada di tempat umum. Rasanya sangat berbeda, mendengarkan lagu ini dari MP3, suara Tian Ya saat menyanyi untuknya, dengan di Taiwan, oleh para pengamen jalanan. Setelah lagu selesai Lydia melemparkan selembar uang dengan jumlah cukup besar, membuat dua orang pengamen itu membungkukkan badan sambil tersenyum pada Lydia.

Frida menepuk bahu Lydia dengan pandangan tak setuju, “Terlalu banyak!”

Lydia hanya tertawa, “Tidak apa-apa! Aku sangat suka lagunya!”

Puas menjelajahi seluruh sudut Ximending, Lydia dan Frida memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran seafood.

“Bagaimana kalau Tian Ya pulang dan kau tidak ada di rumah?”

Lydia tak peduli. “Dia tidak akan pulang sebelum pagi-pagi buta.”

“Masa?”

“Setelah butik tutup aku langsung pulang ke apartemen, tapi selalu melamun sendirian tak tahu apa yang harus dikerjakan. Ketika Tian Ya kembali biasanya aku sudah tertidur di ruang tamu. Aku pernah meminta Mama agar membuka tokonya lebih malam, tapi dia menolak, katanya biar bagaimanapun aku harus beristirahat. Mama tidak tahu aku bosan setengah mati. Hanya saat kau libur aku baru bisa sedikit bersenang-senang.”

“Apakah setiap hari Tian Ya pulang pagi? Maksudku, memang hampir semua orang di sini bekerja tidak kenal waktu. Tapi Tian Ya kan berada di peusahaan milik sendiri, seharusnya dia lebih mudah meluangkan waktu menemanimu.” Sepasang kekasih duduk di meja sebelah Lydia dan Frida, membuat Lydia menarik napas dalam-dalam.

“Aku juga pernah meminta seperti itu. Tapi dia malah menyuruhku bertanya sendiri pada Papa. Menurutnya, kata-kataku akan lebih didengar.”

“Orangtua Tian Ya sangat baik padamu, ya?” Frida penasaran.

“Oh, ya! Mereka baik! Baik sekali…”

Frida diam-diam memperhatikan Lydia. “Waktu SMP semua anak di kelasku paling benci jika diberi tugas menulis atau mengarang.”

“Guru bahasa Indonesia ku juga pernah memberi tugas mengarang tentang bintang idola. Tapi aku dapat nilai jelek dan pulang ke rumah sambil menangis.” Lydia teringat betapa bodohnya ia karena menjadikan Franklin sebagai tokoh di dalam tulisannya dulu.

Frida melanjutkan, “Mengarang cerpen, membuat karya tulis, esai, resensi… Semua menyebalkan!”

“Aku tak ada masalah dengan itu. Hanya saja…” tambahnya, “aku selalu merasa malu jika harus mendeskripsikan adegan berpegangan tangan, berpelukan, atau berciuman untuk cerita remaja. Aku dipanggil ke depan dan dikuliahi panjang lebar. ‘Masalahmu, Lydia… kau tidak bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiran dengan bebas. Padahal kau bisa lebih dari apa yang sudah kau capai sekarang. Mengarang bukan pelajaran etika! Jangan ragu-ragu menuliskan adegan berpelukan atau berciuman jika memang merasa perlu.’ Guruku seperti tukang ramal saja!” Lydia tertawa.

“Jadi?”

“Aku sering berpikir ‘Sepertinya akan bagus kalau mereka berpelukan… Pasti lebih emosional lagi jika mereka berciuman…’ Tapi… aku masih remaja, rasanya canggung sekali menulis adegan hug and kiss! Kemudian aku selalu mengingat kalimat, ‘Mengarang bukan pelajaran etika!’ jika akan menulis adegan romantis!”

Lydia dan Frida tertawa bersama-sama.

“Sepertinya kulihat kau tidak malu-malu lagi, ya?” goda Frida.

“Sepertinya sekarang aku sudah kelewatan, jadi tidak punya etika,” Lydia melanjutkan dengan perlahan, “apalagi setelah melarikan diri bersama Tian Ya…”

Frida bercerita, “Kami diberi tugas membuat resensi dan memilih buku dari perpustakaan. Seorang teman menyodorkan novel dengan sampul bergambar bayangan hitam. Judulnya Lelaki Pulang Petang. Aku langsung menolak mentah-mentah. ‘Kenapa? Ambil saja daripada terlalu lama memilih.’ Temanku memaksa menerima novel itu. Aku berkata, ‘Aku tidak suka petang. Petang itu kesannya suram dan murung. Berbeda dengan pagi, kata ini membuat orang bersemangat.’ Temanku menganggap aku konyol. ‘Frida… besok kalau kau sudah menikah, seandainya suamimu pulang petang tidak usah dibukakan pintu! Suruh dia pulang pagi saja sekalian!’ Lalu aku memilih novel lain untuk tugas resensi.” Frida terdiam sejenak, memperhatikan air muka Lydia yang mulai berubah. “Kau mengerti maksudku, Lydia?”

“Kita hanya membicarakan pelajaran bahasa Indonesia…”

“Ini bukan hanya sekedar pelajaran bahasa Indonesia! Kau tahu pendidikanku tidak tinggi, lulusan SMP. Tapi saat membaca judul novel Pulang Petang, pikiranku langsung tertuju pada ayah! Bagaimana suasana di rumah berubah aneh, bagaimana aku, ibu, dan adik-adikku semakin jarang menjumpai ayah, semakin sulit meminta uang padanya, semakin sering melihatnya marah, pulang petang, pulang pagi, dan akhirnya tidak pulang sama sekali! Aku akhirnya paham, ayah pulang ke tempat lain.”

Frida menatap Lydia lekat-lekat. “Mungkin sekali, dua kali, tiga kali Tian Ya pulang pagi karena dia sedang banyak pekerjaan. Tapi kalau setiap hari?”

Lydia mulai memikirkan kata-kata Frida.

“Kalau aku jadi kau, aku akan cari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Tian Ya di luar sana. Siapa tahu Tian Ya sudah ‘kehilangan etika’.”

“Maksudmu Tian Ya punya wanita lain?” tanya Lydia, mulai tidak tahan dengan sikap Frida yang penuh teka-teki.

“Tidak usah jadi orang pintar untuk mengetahui apakah seorang pria mulai bermain di belakang kita.”

Lydia gelisah sekali.

“Memang belum tentu Tian Ya mengkhianatimu, tapi kau harus tahu apa saja kegiatannya, dan dengan siapa ia bergaul. Lebih baik berjaga-jaga.”

 

Kembali berulang. Ketika Lydia pulang apartemen masih kosong. Semula Lydia mengajak Frida jalan-jalan agar suasana hatinya membaik, siapa sangka malah bertambah rusuh. Lydia tidak mau berpikiran buruk, tapi… Benarkah yang dikatakan Frida, kalau laki-laki selalu pulang petang itu ada sesuatu? Tian Ya bahkan pulang pagi! Pikiran Lydia terus berputar. Bagaimana dengan Fei Yang? Tian Ya tidak pernah bercerita apa pun soal masa lalunya dengan Fei Yang. Tapi Lydia tanpa sengaja melihat foto mereka. Apa karena Lydia diam saja lalu Tian Ya mengira Lydia tidak tahu apa-apa?

Ponsel Lydia berbunyi. Pada layar tertulis nama Tian Ya. “Tian Ya! Kenapa masih belum pulang?”

“Apakah ini Lydia?”

Lydia heran karena yang menjawab laki-laki, tapi bukan suara Tian Ya. “Benar! Ini siapa?”

“Aku Zhi Kai… Dia minum sampai mabuk, tak sadarkan diri! Tian Ya tidak bisa tidur di tempatku, tak ada cukup kamar. Aku juga tak bisa mengantarnya ke apartemen kalian….”

“Di mana?”

Zhi Kai memberitahukan alamatnya pada Lydia.

Setelah menerima telepon itu Lydia bingung. Walau mencemaskan Tian Ya, tapi ia tidak bisa membawa pulang Tian Ya yang sedang dalam keadaan mabuk sendirian. Lydia lalu menghubungi Xing Wang, minta tolong padanya untuk menjemput Tian Ya dan mengantar sampai rumah. Xing Wang sepertinya agak jengkel karena waktu tidurnya terganggu. Tapi untunglah Xing Wang mau menolong.

Setengah jam kemudian Xing Wang tiba di apartemen. Lengan Tian Ya bertumpu di bahu Xing Wang, jalannya sempoyongan, wajahnya merah dengan mata setengah tertutup, badannya bau keringat bercampur alkohol, dan bajunya berantakan. Begitu dibaringkan di tempat tidur, Tian Ya sudah seperti orang mati. Lydia melepas jaket Tian Ya, Xing Wang melepas sepatunya.

“Terima kasih… Kalau bukan karena kau, aku tidak tahu harus bagaimana…”

“Tidak usah sungkan. Kalau perlu bantuan hubungi aku saja…”

“Apakah Tian Ya memang suka mabuk?”

Xing Wang dapat merasakan kegelisahan Lydia dari suaranya. “Selama aku mengenalnya Tian Ya kadang-kadang minum, tapi belum pernah sampai mabuk seperti sekarang…”

“Apakah Tian Ya juga suka pulang malam sejak dulu? Maksudku ketika Tian Ya masih kuliah, apakah dia sering pergi hingga malam?”

“Mmm… yah… itu tergantung bagaimana teman kami juga… Ada apa?” Xing Wang menatap Lydia penuh selidik. “Kalian tidak sedang bertengkar, kan?”

“Oh, tidak.. tidak…” Lydia tergagap. “Aku hanya ingin tahu kebiasaan Tian Ya di Taiwan…”

 

Tian Ya bangun terlambat. Kepalanya terasa berat dan pening, tapi ia tetap harus berangkat ke kantor. Setelah cuci muka dan gosok gigi Tian Ya berganti baju terburu-buru, menjatuhkan barang-barang di kamar dengan berisik. Lydia mendengarkan dari samping kamar yang lain. Tanpa sengaja mereka keluar bersamaan. Lydia berdiri di depan pintu kamar menatap Tian Ya. Walau sudah mengenakan dasi, tapi rambut pemuda itu masih acak-acakan.

“Semalam kau mabuk… Untung ada Xing Wang yang mau menjemput dan mengantar sampai rumah…”

“Benarkah?” Alis Tian Ya berkerut.

“Kau sungguh tak ingat apa-apa?’

Tian Ya memegangi kepalanya. “Kepalaku sakit sekali. Nanti pulang kerja aku akan ke kafe Xing Wang, jadi mungkin pulang terlambat…

Memangnya kapan kau pernah pulang tepat waktu?

“Kau tidak ke butik? Kita bisa berangkat bersama…”

“Aku sedang flu.”

“Baiklah, kalau begitu aku berangkat!”

“Kau belum sarapan!”

“Aku bisa beli di luar!”

Lydia berdiri termangu. Sebenarnya flu hanya alasan. Lydia sengaja tidak masuk, dia ingin mencari tahu kegiatan Tian Ya di luar rumah. Sekarang apa yang akan dilakukan? Frida tidak bisa menemaninya karena sekarang memang bukan hari libur. Sepertinya ia harus pergi ke luar sendiri kalau tak mau terkurung di dalam apartemen seharian. Beberapa hari ini suasana hati Lydia tak pernah baik. Apalagi sejak semalam Tian Ya pulang dalam keadaan mabuk. Walau ingin tahu kenapa, tapi Lydia tak mau bertanya. Ia berharap Tian Ya akan menjelaskan sendiri. Sayang, Tian Ya tak pernah tahu apa yang dipikirkan Lydia jika Lydia tidak mengatakannya. Tapi Lydia baru sadar jika ia tidak mengenal banyak teman Tian Ya.

Betapa sedikitnya hal yang aku tahu tentang Tian Ya, padahal selama ini aku mengira tahu segalanya, keluh Lydia.

Lydia menelepon Tian Ya malam harinya. Daripada Tian Ya mabuk lagi dan ia kembali merepotkan Xing Wang, lebih baik bersikap cerewet, begitu pikir Lydia. Lama sekali baru panggilan Lydia dijawab, “Halo!” Lydia mau pingsan rasanya. Kemarin yang menelepon adalah suara laki-laki tak dikenal. Sekarang bahkan lebih buruk lagi, suara perempuan! “Halo! Ini ponsel Tian Ya, tapi dia sedang ke toilet. Kau siapa?” Lydia sangat marah. Ia langsung memutus sambungan.

Seharusnya aku yang bertanya kau siapa!

Semua yang dikatakan Frida hampir menjadi kenyataan, atau bahkan telah menjadi kenyataan sejak lama, hanya saja Lydia terlalu bodoh. Lydia tidak tahu mengapa dirinya masih sulit mempercayai kalau Tian Ya telah jatuh hati pada wanita lain. Ia baru dua bulan di Taiwan! Sedemikian cepat dan mudahkah hal-hal yang indah berlalu?

Tian Ya pulang jam tiga pagi. Lydia tidak menunggu di ruang tamu seperti biasa, tapi ia mendengar suara pintu terbuka, batuk-batuk kecil, dan pintu kulkas di buka lalu di tutup.

Syukurlah kali ini kau tidak mabuk.

Walau Lydia tidak tahu Tian Ya minum atau tidak.

Pagi hari Tian Ya masih sempat sarapan sebelum berangkat ke kantor. Tapi raut wajahnya biasa saja, tak menunjukkan rasa bersalah, gugup, atau seperti orang yang menyimpan rahasia.

“Kemarin Frida memberitahuku kalau ia akan pergi ke Taichung beberapa hari bersama majikannya dan diperbolehkan mengajak teman. Frida bertanya apakah kita bisa ikut?”

jalan

Tian Ya terdiam sejenak sebelum berkata, “Kalau kau mau pergi, kau bisa pergi.” Hanya itu, Tian Ya tidak membahas lebih lanjut. Lydia lagi-lagi dibuat terkejut. Apakah Tian Ya menyuruhnya pergi sendiri? Tanpa ada rasa khawatir sedikit pun? Lydia sampai tidak memperhatikan ketika Tian Ya berdiri dan mengucapkan, “Aku berangkat!”

Kesabaran Lydia telah mencapai batasnya. Jam sebelas malam itu Lydia menelepon Tuan Li.

“Papa, apakah Tian Ya sudah pulang dari kantor?”

“Dia sudah pergi setengah jam yang lalu, kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku sedang tidak di apartemen…”

Lydia tak mau menunggu bus dan memilih naik taksi ke kafe Xing Wang. Di sana, Lydia melihat pemandangan yang membuatnya merasa yakin, kalau anggapan Frida tentang laki-laki pulang petang adalah benar. Tian Ya dan Fei Yang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.