Malam Hampir Pagi

Fidelis R. Situmorang

 

“Kamu ngapain bantu saya? Memang kamu siapa?” tanya bapak tua itu kepada saya. Saya kaget menerima pertanyaan yang tak terduga itu.

“Saya Sudung, Pak,” jawab saya malu, sambil tetap memegang botol infus yang terhubung ke tangan kirinya, mengikuti gerak langkahnya menuju kamar mandi. “Kebetulan adik saya sudah tidur, jadi enggak ada salahnya saya bantu bapak.”

Dia menganggukkan kepala. “Terima kasih,” ucapnya pelan.

Kemudian saya meletakkan botol infusnya pada kaitan yang disediakan di kamar mandi. Menunggunya di depan pintu kamar mandi dan mengantarkannya kembali ke tempat tidurnya.

“Adikmu sakit apa?” tanyanya tidak kembali tidur, tapi malah duduk di tempat tidurnya.

“Kecelakaan, Pak. Jatuh dari motor.”

“Parah”

“Ada tulangnya yang retak.”

“Kasihan. Semoga lekas sembuh ya.”

“Iya, Pak… Makasih. Bapak sakit apa?”

Dia menarik nafas dalam-dalam. “Saya sudah tua. Penyakit saya banyak. Bermacam-macam. Kadang kepala saya yang sakit, kadang perut saya, kadang pinggang saya, kadang lutut saya. Banyaklah,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang getir, senyum menghibur diri.

“Yang menemani Bapak belum datang?”

“Saya sendirian. Saya masuk sendiri, nanti juga pulang sendiri. Rumah saya dekat. Itu rumah saya.” Dari jendela kaca rumah sakit, ia menunjuk ke arah bawah, ke arah barisan rumah besar di balik tembok rumah sakit. “Rumah saya yang bercat putih,” lanjutnya, “sengaja lampunya saya nyalakan, supaya tidak disangka orang jahat rumah saya sedang kosong. Tahu sendirilah, sekarang banyak orang jahat berkeliaran.”

“Bapak tinggal sendirian?”

“Iya. Istri saya sudah almarhum. Anak-anak saya sudah menikah semua, tidak lagi tinggal bersama saya.”

“Ohh…”

“Saya senang suasana di sini. Sudah seperti rumah sendiri. Saya sering datang ke sini minta diopname.”

“Lho?”

“Iya, lebih enak di sini daripada di rumah. Di sini enggak pernah sepi. Saya selalu dapet teman untuk ngobrol-ngobrol. Kalau enggak dengan sesama pasien, saya ngobrol-ngobrol dengan perawat dan dokter. Dokter dan perawatnya baik-baik, mau menyediakan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan saya.”

“Anak-anak Bapak apa jarang berkunjung?”

“Oh, mereka sibuk. Mereka orang-orang penting di pekerjaannya masing-masing. Banyak yang harus mereka urus.”

Dia terdiam sejenak. “Saya ini sudah berhasil menjadi seorang ayah. Saya berhasil membesarkan anak-anak saya menjadi orang-orang yang sukses.”

Saya mengangguk. Menanggapi ucapannya dengan senyuman.

“Anak-anak enggak tau Bapak sering berobat ke rumah sakit?”

Ia menggelengkan kepala. “Mereka sangat sibuk. Banyak yang harus mereka urus. Terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabar saya.”

Saya terdiam.

Fajar-menyingsing

Wajahnya tiba-tiba terlihat lelah. “Entah kenapa, walau pun saya merasa bangga telah mengantarkan mereka menjadi anak-anak yang berhasil, tetapi tetap saja saya masih merasa gagal dalam mendidik mereka. Ia menarik nafas lagi. “Ya, mungkin saya telah gagal mendidik mereka, makanya mereka tak pernah ingin tahu keadaan saya.”

Ia menatap pada jam di dinding. “Sudah hampir pagi. Saya mau coba tidur dulu. Terima kasih tadi bantuannya ya, Dik…” katanya pelan, membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan mata. Ada setitik air di sudut matanya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.