Mojokerto Treasure (2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Artikel sebelumnya:

Mojokerto Treasure (1)

 

Perjalanan kami lanjutkan, rasa sejuk begitu terasa dibandingkan dengan Surabaya yang sangat panas. Dan aku sepertinya lagi beruntung, matahari tidak menyengat bahkan makin siang justru agak mendung. Kami tiba di Candi Bajangratu yang juga menempati lahan yang sangat sangat luas. Dia berdiri kokoh menjulang menjadi saksi bisu betapa besarnya Kerajaan Majapahit pada masanya.

mojokerto 2 (1)

Pohon Majapahit juga banyak terlihat di setiap area situs Majapahit seolah ingin ikut ‘bicara’ betapa peranannya juga besar. Di sini kami menemukan buah majapahit yang tergeletak di area parkiran motor. Jelas ini dipetik orang iseng. Dan Thomas membelah buah yang masih muda itu. Isinya sih nggak menarik.

mojokerto 2 (2)

Nah di Candi ini juga menjadi saksi betapa tangan manusia kotor yang usil. Di beberapa bagian batu Candi yang terbuat dari tanah liat, terlihat coretan. Tulisan para alay seperti ‘Asep love Ita, Yudha, love dan sejenisnya”, entahlah apa yang ada di benak para pelakunya, tulisan itu tidak digores dengan tinta tapi seperti dengan benda tumpul yang tergores cukup dalam di dalam batu bata itu.

Dan tak terhindarkan kita akan lihat beberapa bagian candi terkikis usia. Sudah keropos, menandakan betapa tua usia Candi ini. Candi Bajangratu disebut juga Gapura Bajangratu. Diperkirakan dibangun pada Abad 14. Candi ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci memperingati wafatnya raja Jayanegara yang wafat pada 1328 M.

Namun sebenarnya sebelum wafatnya Jayanegara Candi ini dipergunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan ini didukung adanya relief Sri Tanjung dan sayap gapura yang melambangkan penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.

mojokerto 2 (3)

Candi Bajangratu serupa Candi Wringin Lawang. Bedanya, Bajangratu bertipe Paduraksa, artinya berupa gapura yang beratap. Candi terbuat dari bata merah dengan lantai andesit ini, memiliki denah persegi yang mengerucut ke atas. Uniknya, bagian puncak candi bukan berbentuk stupa atau mata panah atau lingkaran, melainkan persegi. Sekilas, wujudnya menyerupai bangunan Hindu, juga Budha.

Namun sampai saat ini, Candi Bajangratu masih belum bisa dipastikan apakah ia bangunan dengan corak Hindu atau Budha atau paduan keduanya. Oleh sebab itulah, banyak arkeolog berkesimpulan bahwa Candi ini termasuk ke dalam jenis Candi non-religius karena terdapat kemungkinan bahwa Candi tidak memiliki keagamaan yang jelas atau bersifat netral (universal).

mojokerto 2 (4)

mojokerto 2 (5)

Aku dan Thomas mengamati, Candi megah ini benar-benar dibuat dari tanah liat berbentuk bata. Dan lebih canggih lagi bata itu dipahat dengan aneka ornamen, salah satunya gambar dari buto yang seolah memberi tanda dua jari (tanda peace).

mojokerto 2 (6)

Candi ini di bagian bilik bagian dalam sudah disangga besi baja, sepertinya demi menjaga agar tidak rubuh, aku lihat memang sudah sangat tua dan bisa saja runtuh sewaktu waktu bila tidak dipasangi penahan. Aku sebenernya pengen bingit untuk memasukan semua foto yang ada, coz ini memang indah dan spektakuler. So demi banyak gambar yang bisa aku sertakan, reportase pandangan ini aku buat 2 chapter.

mojokerto 2 (7)

Nah tak jauh dari situ terdapat Candi Tikus. Candi ini berada di bidang tanah yang rendah dan dikelilingi kolam. Sama seperti lokasi lainnya yaitu terbuat dari bata dan dikelilingi taman nan indah. Sejarah nama Candi Tikus itu sendiri sebetulnya hanya sebuah nama sebutan yang diberikan oleh masyarakat untuk candi ini. Latar belakang pemberian nama sebutan tersebut adalah karena pada saat dilakukan penggalian di situs ini, ternyata lokasi itu merupakan sarang tikus yang jumlahnya luar biasa banyak. Maka lalu masyarakat sekitar menyebutnya dengan Candi Tikus.

mojokerto 2 (8)

Melewati jalan raya  bagai berada di sebuah lokasi yang oldies. Memasuki area yang dipenuhi pepohonan dan juga persawahan, ladang jagung dan juga tebu rasanya seru juga. Hamparan sawah sangat teduh sekaligus magis. Rumah-rumah yang ada juga masih bernuansa khas desa dan sebagian besar nampak antik.

mojokerto 2 (9)

mojokerto 2 (10)

Kolam Segaran menjadi perhentian selanjutnya, sangat luas bagai sebuah danau berbentuk empat persegi panjang. Fondasi kolam tetap terbuat dari bata merah. Konon dimasa lalu disekitar sini tempat Kerajaan Majapahit menjamu tamu penting dari dalam dan luar negeri.

mojokerto 2 (11)

Setelah acara perjamuan selesai maka segala piring, mangkok, dan sendok akan dibuang ke dalam kolam itu. Ini sebagai tanda bagi para tamu betapa kayanya Kerajaan Majapahit.

mojokerto 2 (12)

Di sekitar kolam ini warga banyak membuka rumah makan yang rata-rata menghidangkan Ikan Wader sebagai signature dish. Tapi Thomas bilang “Bang ada tuh di pojokan kolam ada bakso yang enak”, dan aku tanpa banyak tingkah langsung setuju, kan aku lagi ‘males’ makan berat gara-gara bobotku naik 5 kg (sekarang sudah susut 3 kg).

mojokerto 2 (13)

My gosh! Baksonya emang uenak! Endang bambang gulindang, dari tempat yang nggak banged tersimpan kelezatan. Soal minuman hanya ada dua pilihan, es degan atau es tebu yang tentunya seger deh.

mojokerto 2 (14)

Tapi …… Di seberang ada sederet rumah makan (rumah warga yang sekaligus rumah makan dengan konsep rata-rata lesehan) dan aku tergoda sayur kunci (sayur bayam yang memakai temu kunci dengan paduan garam dan gula)

Aku pun lupa diri langsung pesan aja sayur kunci, ikan mujair plus nasi. Ohhh porsinya banyak dan murah nih membuatku makan dengan asyik dan lupa kalau beberapa minggu lalu aku nangis-nangis lantaran Donna Karan dan designer lain mengirim SMS kejam, “Kamu kenapa berubah jadi mutant celengan Semar?? Jangan pernah bermimpi ada karyaku untuk badanmu yang makin luas” *Ngakak sambil banjir airmata*

mojokerto 2 (15)

Hidangan murah dan enak membuat diriku lupa akan bentuk badan. Udah gitu aku melengkapi afternoon delight itu dengan sebotol coffee beer yang nyessss!!!!! Sadissssss!!! Nah Thomas memilih temulawak, keduanya segar dan nikmat, must try before you die.

mojokerto 2 (16)

Kelar guilty pleasure, kita menuju ke Makam Putri Campa dan nggak jauh dari situ ada Makam Minak Jinggo (Candi Minak Jinggo) dan aku pun memutuskan tidak masuk, secara aku pakek celana pendek, takutnya tidak sopan aja.

Pendopo Agung, Makam Tujuh dan beberapa situs lainnya aku lewati coz waktunya tidak cukup. kami langsung menuju Candi Brahu yang merupakan salah satu peninggalan yang masih menjulang kokoh, walau seperti yang lainnya di beberapa bagian terlihat keropos karena termakan usia. Diperkirakan, Candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa candi ini berusia jauh lebih tua daripada Candi-Candi lain di sekitar Trowulan.

mojokerto 2 (17)

mojokerto 2 (18)

Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik Candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995.

mojokerto 2 (19)

mojokerto 2 (20)

Sekedar info, sepanjang jalan ada juga beberapa situs yang kami lewati saja karena hanya tertinggal fondasi atau altarnya saja dan sudah dinaungi bangunan mirip hanggar (design yang sama untuk melindungi di semua situs Trowulan yang nyaris hancur terkena cuaca). Jadi seolah tak banyak yang bisa dilihat. Sewaktu tiba di Candi Brahu cuaca menjadi mendung dan gerimis, tapi aku sempet mengabadikannya dari beberapa sisi juga detailnya. It’s  so amazing bingit deh pokoknya. Kita orang nggak lama-lama di tiap situs karena umumnya hanya ada satu object di tiap lokasi kecuali yang di Museum Majapahit.

Di masa Kerajaan Majapahit, sumur pun tidak sekedar digali, tapi dilapisi dengan tanah liat yang mirip gerabah namun sepanjang dinding sumur. Artinya tanah liat saat itu menjadi bahan utama di segala hal. Nah di situs Majapahit yang ada di Malang dan lain-lain (di luar Mojokerto) barulah akan terlihat bangunan dari batu andesit yang berwarna hitam.

mojokerto 2 (21)

Final destination dari blusukan kali ini adalah Vihara Budha Tidur (Sleeping Budha) yang konon masuk kategori terbesar di Indonesia. Jaraknya dekat sekali dengan Candi Brahu namun tiba-tiba hujan deras mengguyur. Kita berdua berteduh dan selama itu aku melihat warga yang lewat nampak cuek ujan-ujanan.

Dan ada satu bapak-bapak naik sepeda ontel bicara kepadaku, “Kok neduh? Memang kenapa kalo basah kena hujan?”, Ujarnya sambil lalu dengan wajah agak heran. Hujan-hujanan bukanlah hal aneh bagi sebagian masyarakat Jawa Timur, hujan artinya sehat, maka akan aneh saat ada orang yang takut kena hujan. Aku sih cuma nyahut “eaaaaa”.

Maha Vihara Trowulan berada di atas lahan seluas 2 Ha. Patung Budha Tidur ini adalah terbesar ke 3 di dunia setelah yang di Thailand dan Nepal. Panjang 22 meter lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Di Indonesia sendiri ada 4 Sleeping Budha dan di Vihara inilah yang terbesar. Tidak dipungut bayaran selain sumbangan sukarela. Bagi pengunjung asal luar kota yang akan Sembahyang, di sini disediakan penginapan dengan tarif sukarela, jangan heran ya …. walau suka rela tapi ber-AC dan bersih deh.

Halaman Vihara agak tergenang dan aku jalan sambil kecekan (main air) dan tak lama kita sudah narsis di depan patung Budha Tidur. Emang keren sih, Vihara ini memang dibangun dengan indah, bukan bangunannya tapi tamannya. Di sana sini terlihat tanaman jenis mahal. Thank to Thomas yang sudah membawaku ke sini, 2 jam naik motor dengan pantat berasa copot memang sepandan dengan keindahan yang hampir seharian memanjakan mata.

mojokerto 2 (22)

mojokerto 2 (23)

Di salah satu bangunan terbuka yang dihubungkan dengan koridor ada meja persembahan yang ditata indah. Lalu ada relief tentang Sleeping Budha di salah satu dinding bangunan utama.

mojokerto 2 (24)

mojokerto 2 (25)

mojokerto 2 (26)

Di taman yang dikelilingi kolam Koi ada miniatur Candi Borobudur.dan seindah indahnya taman, nyamuknya sangar cuy, aku langsung aja deh jadi sasaran.

mojokerto 2 (27)

Di salah satu bangunan dari kayu, ada tempat sembahyang (jumlahnya ada beberapa). Walau tidak ada yang mengawasi namun tulisan “Yang tidak Sembahyang mohon tidak masuk” membuatku memotret hanya dari luar. Walau aku ini serabutan tapi aku mendidik diri untuk mematuhi aturan, walau kalaupun melanggar ya nggak ada yang lihat.

Di halaman bangunan kayu ini terdapat patung-patung Dewa berwarna putih. Aku menitikkan airmata, bukan lantaran kaget lihat aneka patung Dewa tapi lagi lagi aku dirubung nyamuk nakal yang sekali serbu puluhan ekor. *Halah

mojokerto 2 (28)

mojokerto 2 (29)

Di bagian depan, ada patung-patung dewa dari batu hitam di antara taman indah dengan koleksi tanaman mahal. Tapi aku tertarik meja altar di bagian tengah teras sebelum memasuki bangunan utama. Meja-meja antik itu memang indah dan penuh selera.

mojokerto 2 (30)

mojokerto 2 (31)

Secara bangunan memang biasa saja tapi soal detail, taman, tata letak meja doa (altar) dan benda penunjangnya memang penuh selera. Sebagai pencinta disain antik dan benda antik, aku sangatlah mengakui selera tinggi menjadi nafas Vihara ini.

mojokerto 2 (32)

mojokerto 2 (33)

Akhirnya kita memutuskan pulang, sebenernya ada satu object lagi yaitu Api Abadi namun sayang tidak ada kuncennya hingga api itu mati. Sampai saat ini belum ada yang mampu menjadi kuncen di sana. Kami kembali ke Surabaya dan tiba sekitar jam 5.00 Pm, aku masuk ke rumah dengan hati senang, begitu seru acara blusukan yang kerap aku alami, entah besok-besok masih ada cerita yang bisa aku bagi gak yuaaa???

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.