Perilaku Merokok, Iklan atau?

Andi Mangesti

 

Foto-foto mengenai para laki-laki cilik yang menikmati asap rokok dengan penuh perasaan sebenarnya bukanlah salah iklan melulu. Iklan hanya sekedar iklan kalau tidak diberikan kesempatan bagi anak-anak itu untuk membelinya sendiri

Seperti yang menjadi sorotan kamera wartawan TIME yang menuliskan : “Marlboro Boys: Photographing Underage Smoking in Indonesia” http://lightbox.time.com/2014/08/18/indonesia-smoking-child-cigarette-tobacco-marlboro/#12

underage-smoker

Yang paling berpengaruh dalam perilaku laki-laki cilik itu justru dari perilaku orang tuanya yang jauh lebih berperan dalam perilaku “kecil-kecil sudah merokok”.

Mari kita telaah satu persatu;

  1. Kebanyakan para ayah atau ibu yang merokok menyuruh anaknya membeli rokok di warung jika kehabisan rokok dan malas mengangkat pantat mereka untuk membeli sendiri apa yang menjadi candu mereka. Lalu para penjual rokok di warung juga membiarkan anak-anak di bawah umur untuk membeli rokok dari mereka yang seharusnya tidak boleh diperkenankan untuk membelinya.
  2. Kebiasaan saat ayah merokok selalu di ruang keluarga atau di ruang tamu, ruang makan atau di kamar kontrakan mereka yang sempit. Dan kalau ayah atau ibu lupa membawa koreknya saat hendak merokok maka dipanggillah, “Leeee… bawain korek! Bapak mau merokok”.
  3. Meninggalkan rokok setengah terhisap di asbak untuk kemudian diambil anak untuk mencoba-coba mengisapnya.
  4. Pembiaran oleh orang tuanya anak-anak mereka mau ngapain aja asal tidak mengganggu rutinitas mereka sendiri, tidak rewel dan ribut.
  5. Orang tua merokok dengan santainya di tempat umum, angkutan umum tanpa rasa bersalah. Kalau ditegur malah marah-marah. Jadi anak-anak beranggapan bahwa merokok itu hebat bisa merundung orang-orang di sekitar mereka.

Itu baru sebagian kecil dari contoh perilaku sederhana yang tidak diperhatikan oleh kita orang-orang dewasa terhadap anak-anak kecil yang ada di sekitar kita. Jangankan rokok, kadang kala saat anak-anak bergabung dengan orang-orang yang lebih tua dari umur mereka, mereka dijadikan office boy yang ke sana kemari membelikan ini dan itu saat berkumpul-kumpul. Mending jika hanya beli kacang tetapi jika disuruh beli minuman beralkohol, rokok, dan main gaplek saat kumpul-kumpul dan yang menjual mau menjualkannya tanpa pandang bulu, maka kita sebenarnya tahu mau ke mana arah pendewasaan anak-anak yang sudah terpolusi sikap orang dewasa atau sok dewasa.

Beberapa gerai toko kelontong 24 jam mungkin sudah tidak membiarkan pegawai mereka menjual rokok pada anak-anak di toko mereka, tetapi penjualan rokok ini kan tidak hanya di toko kelontong yang buka 24 jam saja, tapi juga di warung-warung kecil yang mungkin si pemilik kenal dengan si anak atau orang tuanya.

Apakah ini masih salah iklan? Bukan. Tetapi pemasaran yang terencana, terstruktur dan masif, (saya sampai ikut-ikutan timses P-H pakai istilah TSM) sehingga menembus segala lapisan masyarakat dan perekonomiannya.

Iklan cuma iklan jika tanpa pergerakan dan perilaku buruk para manusia dewasa yang ada di sekitar anak-anak kecil ini.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.