Pendidikan untuk Anak Miskin

Wesiati Setyaningsih

 

Saat ini sebenarnya peluang untuk anak kurang mampu yang disediakan Pemerintah Indonesia sudah cukup banyak. Masalahnya, berapa banyak yang tahu?

Beberapa waktu lalu pembantu paruh waktu di rumah Ibu, Mbak Ni, mendaftarkan anaknya ke SMP. Karena niliainya tidak mencukupi, akhirnya dia memasukkan anaknya ke swasta. Ibu saya cerita, “Masak kata tetangganya Mbak Ni, dia suruh pake kartu Askin. Memangnya bisa dipake?”

Saya terhenyak. Sebagai guru SMA, yang sudah sering dibrifing Kepala Sekolah, saya menyesal tidak bertanya-tanya sejak awal. Mbak Ni jadi tidak tahu kalau kartu Askin yang dia punya bisa dipakai. Padahal andai dia menggunakan kartu tersebut, bisa jadi anaknya diterima di SMP Negeri.

Kartu Askin (Asuransi kesehatan untuk orang miskin), atau kartu Jamkesmas untuk orang miskin itu bisa dipakai untuk mendaftar sekolah. Tinggal difoto copy, lalu dilampirkan dalam berkas pendaftaran.

 

Buat apa?

Karena dari kartu itulah calon siswa menunjukkan bahwa dia adalah anak miskin yang berhak untuk mengisi kuota bagi bagi anak miskin di sekolah baru. Tidak tanggung-tanggung, kuota untuk anak miskin ini MINIMAL 20%. Padahal pendaftar dari golongan ini biasanya tidak mencapai kuota. Alhasil, berapapun jumlah pendaftar dari golongan ini, akan diterima, mengabaikan jumlah nilai mereka.         Nah, sebenarnya semua anak miskin bisa diterima di sekolah negeri asal mereka melampirkan kartu yang menunjukkan bahwa mereka dari golongan orang miskin.

Selain itu, hal ini nanti akan berpengaruh pada masalah uang SPP dan uang gedung. Sebagaimana diketahui, sekolah tidak lagi memungut biaya SPP karena sudah ada dana BOS. Namun tak jarang sekolah masih kekurangan dana operasional untuk menutup kegiatan seperti pelajaran tambahan, beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang tidak tercakup dalam dana BOS dan kegiatan-kegiatan lain. Sehingga sekolah masih mengharapkan bantuan dana dari orang tua siswa.

Namun bagi orang tua siswa yang tidak mampu, mereka bisa menunjukkan kartu tersebut dan akan dibebaskan dari masalah administrasi keuangan, baik SPP maupun sumbangan pengembangan institusi.

Bagi yang tidak memilik kartu Askin, bisa meminta surat keterangan tidak mampu yang diawali dari meminta surat pengantar dari RT, ditandatangankan di RW, lalu diganti dengan pengantar dari kelurahan. Dengan demikian nanti akan mendapat pengurangan atau bahkan pembebasan dari pembayaran SPP dan SPI.

Prosesnya sebenarnya tidak sulit, tapi toh selalu ada hambatan, di antaranya :

–          Tidak tahu

Seperti Mbak Ni, banyak orang yang tidak tahu bahwa kartu miskin yang mereka miliki itu tidak hanya memberi manfaat bagi mereka untuk  mendapatkan layanan kesehatan, tapi juga bisa digunakan untuk mendaftar sekolah. Karena kartu itu menunjukkan mereka bisa masuk dalam kuota untuk anak dari keluarga miskin.

–          Malas mengurus surat

Banyak terjadi bahwa anak dari keluarga tidak mampu memiliki orang tua yang tidak berpendidikan. Orang tua seperti ini tak jarang enggan berurusan dengan masalah urusan surat di RT, RW hingga kelurahan. Padahal kalau diurus, setidaknya masalah mereka untuk masalah SPP dan SPI bisa teratasi.

–          Malu

Selain malas mengurus surat, ada juga kemungkinan bahwa orang tua mau mengurus surat ini, padahal untuk kehidupan sehari-hari mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kalau sudah begini, kita tidak bisa apa-apa lagi selain menunggu kesadaran bahwa mengurus surat keterangan tidak mampu itu bukan hal yang memalukan apalagi kalau hal itu dibutuhkan anaknya untuk kelanjutan pendidikan mereka. Juga Pemerintah sudah memberikan begitu banyak peluang, akan percuma kalau tidak dimanfaatkan.

Dari apa yang sudah saya sampaikan di atas itu, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya Pemerintah sudah memberikan peluang yang sangat besar bagi anak miskin untuk melanjutkan sekolahnya. Wajib belajar 9 tahun (untuk Nasional. Di Semarang sudah wajib belajar 12 tahun sejak tahun 2013) mewajibkan sekolah mendukung program ini sehingga masalah keuangan tidak boleh menjadi hambatan.

Bagaimana dengan tingkat universitas?

 

anak-sekolah

BIDIK MISI

Orang terhenyak dengan berita tentang anak tukang becak yang lulus dengan nilai terbaik saat wisuda di UNNES Semarang. Selain kagum dengan nilai yang dia capai, keheranan muncul karena anak tukang becak bisa kuliah.

Sebenarnya sejak tahun 2008, Menteri M. Nuh sudah memberlakukan program Bidik Misi yang masih berjalan hingga saat ini. Program ini sangat bermanfaat bagi anak dari keluarga miskin yang pandai dan ingin kuliah.

Sejak dari mendaftar SNMPTN (jalur pendaftaran lewat undangan yang bisa diikuti oleh semua siswa tanpa kecuali) mereka yang memiliki kartu Askin bisa memanfaatkan kartu ini dan mendapat peluang yang cukup besar untuk masuk melalui jalur bidik misi.

Bagi mereka yang bisa masuk melalui jalur Bidik Misi, selain mereka digratiskan dari biaya, mereka bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 600 ribu untuk biaya belajar tiap bulan. Mestinya kalau mau menghemat, biaya ini cukup membantu. Paling tidak peluang ini sudah sangat besar manfaatnya dari pada sebelum ada Bidik Misi.

 

BEASISWA

Anak Mbak Ni akhirnya masuk SMP swasta dekat rumah. Di SMP ini dulu anak tukang bangunan yang sering dimintai tolong Ibu saya bersekolah, dan mendapat beasiswa hingga lulus. Jadi meski bersekolah di swasta, peluang beasiswa itu tetap ada.

Di SMA Negeri 9 tempat saya mengajar, anak-anak kurang mampu juga didata tiap tahun. Ada beberapa jenis beasiswa, salah satunya dari Pemkot yang diperuntukkan bagi siswa kurang mampu ini. Karena meski SPP dan SPI gratis, tetap saja mereka butuh biaya untuk transport berangkat ke sekolah, juga membeli buku dan seragam.

Untuk mendapatkan beasiswa, syaratnya biasanya hanya surat Askin tadi, atau surat keterangan tidak mampu yang bisa didapatkan dari kelurahan (lewat pengantar RT/RW dulu).

Di tingkat universitas, beasiswa lebih banyak lagi. Kemarin Dila, sulung saya, yang sekarang sudah terdaftar sebagai mahasiswa Undip menemukan beasiswa dari CIMB Niaga dimana penerimanya nanti akan langsung diterima sebagai pegawa bank Niaga. Belum lagi beasiswa dari perusahaan dan institusi lain baik dalam maupun luar negeri. Banyak tawaran beasiswa yang bisa diakses di internet.

 

anak-indonesia

TUGAS KITA

Dari apa yang sudah saya sampaikan di atas, kita memiliki tugas penting yaitu menyampaikan ini semua pada mereka yang membutuhkan. Karena mereka yang tidak mampu itu biasanya kurang informasi, dan butuh sedikit dorongan untuk mengusahakan beasiswa yang ada tanpa merasa malu.

Akhirnya, tidak ada alasan bagi anak kurang mampu untuk tidak bisa menjadi seorang sarjana seperti Raeni, si anak tukang becak itu.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *