Ketika Ilmu Membuat Soal Pelajaran Kelas Satu SD Tidak Lagi Bisa Terlalu Sederhana

Yeni Suryasusanti

 

Ilmu pengetahuan membuat kita menjadi lebih mengerti akan berbagai hal, dan terkadang hal itu membuat hidup tidak lagi sesederhana sebelumnya. Selain mempengaruhi hidup kita, pemahaman akan sebuah ilmu pengetahuan juga berimbas kepada orang-orang di sekeliling kita.

Contohnya pengajaran kita kepada buah hati pun menjadi lebih dalam, lebih terstruktur, lebih komprehensif. Masalahnya, ketika elemen lain di sekeliling buah hati kita ikut berperan dalam pengajaran, ketika itu pula kita dituntut untuk lebih jeli, kritis dan lebih komunikatif jika kebetulan pengajaran tersebut tidak sejalan dengan apa yang kita tanamkan.

Hal ini terjadi pada Fian, putra bungsu kami :)

Fian adalah anak yang sangat aktif bergerak. Dia menyukai berlari, melompat, bereksplorasi dan bermain bola. Sejak usia 4th, menjelang saat mandi sore adalah hal yang biasa bagi Fian pulang dalam keadaan berkeringat setelah bermain bola di jalan depan rumah bersama teman-teman baik yang seusia maupun yang lebih dewasa.

Di sinilah contoh ilmu pengetahuan membuat hidup menjadi lebih baik. Mengetahui bahaya mandi dengan air dingin ketika suhu tubuh masih terlalu tingi, saya selalu memberikan instruksi: “istirahat dulu sejenak sampai keringatnya hilang, baru kemudian mandi.”

Sebenarnya, kalimat yang lebih tepat adalah: “istirahat dulu sejenak sampai suhu tubuh tidak lagi terlalu tinggi, baru kemudian boleh mandi.”

Hanya saja, agak sulit memberikan pemahaman tentang suhu tubuh yang dimaksudkan, sehingga terpaksa memakai metode pengukuran secara tidak langsung: “waktu yang dibutuhkan oleh keringat yang tadinya membanjir menjadi kering, kurang lebih hampir sama waktunya dengan waktu yang dibutuhkan untuk penurunan suhu tubuh.”

Namun, di sini pula ilmu pengetahuan membuat beberapa hal tidak lagi menjadi sederhana.

Fian saat ini kelas 1 SD, bersekolah di SD Bhakti YKKP Kemanggisan Jakarta, sekolah almamater abangnya juga. Materi pertama pelajaran Tematik di SD Bhakti adalah “Diriku”. Ada sub tema tentang “Aku Merawat Tubuhku”.

Hari Senin, 18 Agustus 2014 yang lalu, Fian dan teman-temannya diberikan Lembar Kerja Pembelajaran 1 untuk dikerjakan di sekolah.
Hasilnya baru kemarin dibagikan. Di sini bisa saya contohkan bagaimana pengajaran tentang hidup yang kita ajarkan kepada anak kita bisa tidak sejalan dengan yang diajarkan di sekolah.

Ada pertanyaan tentang si Udin yang bermain bola berdasarkan konteks sub tema “Aku merawat tubuhku”. Jawaban Fian yaitu “istirahat” meneruskan rangkaian kejadian yang terjadi pada”Udin” :

soal-fian

Udin bermain bola.
Udin berkeringat.
Udin harus…. istirahat. :D

Jawaban Fian tersebut benar secara kesehatan, namun tidak ada kaitannya dengan sub tema “Aku merawat tubuhku”. Hal ini mengisyaratkan bahwa Fian belum sepenuhnya paham bahwa ada kaitan antara soal dengan konteks sub tema pelajaran. Sementara jawaban koreksi dari Guru yaitu “mandi” benar secara kaitan dengan sub tema “Aku merawat tubuhku”, namun berbahaya jika dikaitkan dengan ilmu kesehatan.

Berikut saya kutip dari Wikipedia tentang “Keringat” di http://id.wikipedia.org/wiki/Keringat :

Dampak keringat

Dampak positif: Membuang racun dari dalam tubuh.Membantu mendinginkan tubuh saat kepanasan.Membakar kalori.Menurunkan stres.Memperlancar sirkulasi darah. Mempercantik kulit.

Dampak negatif: Keringat dapat menyebabkan kulit dan baju terlihat basah atau lembab.Karena mengandung garam, dapat meninggalkan bercak keputihan atau kekuningan pada pakaian.Keringat yang berlebihan dapat menyebabkan gatal-gatal dan kemerahan pada kulit. Keringat dapat menciptakan lingkungan yang tepat untuk tumbuhnya beberapa mikroorganisme berbahaya seperti jamur. Langsung mandi dengan air dingin setelah berkeringat banyak dapat beresiko fatal. Bila ingin mandi setelah berkeringat banyak, tunggulah sejenak sebelum mandi dan gunakanlah air hangat ketika mandi.

Mungkin sebaiknya soal dimodifikasi menjadi :

Udin bermain bola.
Udin berkeringat.
Udin beristirahat.
Lalu Udin harus…. mandi. :D

Ketika pengajaran di rumah tidak sejalan dengan di sekolah meskipun bukan secara prinsip, di sinilah kita membutuhkan komunikasi.

Anak-anak cenderung lebih mudah mengikuti kata-kata Guru dibandingkan dengan orang lain, bahkan terkadang dibandingkan kata-kata orangtua.  Resikonya – mengenal Fian yang demikian kritis – pengajaran sang Guru akan berpotensi membuat Fian setelah bermain menjadi ingin segera mandi tanpa terlebih dahulu mendinginkan tubuh.

Mengantisipasi hal tersebut, saya pun segera berkomunikasi dengan Guru Kelas dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik via BBM mengenai hal ini, agar bisa menemukan titik temu antara materi pengajaran di sekolah dengan di rumah. Hingga tulisan ini saya buat, BBM sang Guru belum di Read, namun alhamdulillah BBM kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik sudah mendapatkan respon yang sangat baik.

Menjadi seorang Guru di masa kini memang tidaklah mudah. Karena begitu banyak ilmu yang beredar di luar institusi sekolah. Menjadi seorang pendidik juga harus siap belajar dari lingkungan pengajarannya: siswa itu sendiri, orangtua dan masyarakat.

Sebenarnya bukan hanya seorang pendidik, namun juga setiap manusia. Karena di atas langit selalu ada langit lagi…

 

Jakarta, 23 Agustus 2014
Yeni Suryasusanti

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.