Terima Kasih dan Maaf

Anwari Doel Arnowo

 

Rumah saya pernah berada di lokasi di pinggir sebuah persimpangan jalan pertigaan dan amat tidak disukai banyak orang yang mempercayai sebagai berpotensi ditimpa suasana celaka, karena mendapat julukan sebagai TUSUK SATE. Oleh karena pintu pagarnya memang menghadap ke arah jalan lurus, maka relatip lebih luas area di depan pintu pagar. Itulah sebabnya para penghuni rumah kami yang sedang berada di daerah itu sering ditanya oleh mereka yang “singgah” berhenti sebentar menanyakan rumah nomor sekian sebelah mana, atau rumah pak Polan bahkan di mana ada tukang rias pengantin yang ada di dekat situ?

Kami, saya dan keluarga, selalu tetap sabar menjawab sebisanya menolong orang yang bertanya. Sekian tahun lamanya, saya merasakan satu hal yang amat terasa rutin. Lebih dari 50% para penanya itu “lupa” mengucapkan terima kasih. Hasilnya? Saya menjadi biasa. Tetapi terhadap penanya yang “kabur”: setelah berbuat seperti itu terkadang dari mulut saya terlontar juga suara teriakan seperti berikut: “Terima kasih ya, sudah ditanyai!!!” Boleh dong sedikit nyinyir cerewet atau luapan rasa jengkel dikeluarkan … dari dalam dada saya?!!

Hanya mengucapkan kata kata terima kasih saja  dianggap tidak penting!! Bukankah tanpa ongkos?

Menjadi “pengamat” masyarakat, saya meluaskan pandangan ke arah lain-lain hal dan mendapatkan beberapa “penyakit kebiasaan” seperti ini. Anda yang membaca ini sesungguhnya jangan terpancing emosi  mengatai saya sebagai melakukan generalisasi (Jawa: Gebyah Uyah). Yang penting mari kita amati bersama “kelakuan-kelakuan menyimpang” yang terjadi di dalam kalangan masyarakat sekeliling. Mari kita perhatikan sehubungan dengan kata maaf.

Saya sendiri berkesimpulan, banyak kata ini dipakai di saat dan tempat yang salah. Bila berhadapan dengan orang yang disegani atau terpandang atau berpangkat, orang condong mengucapkan kata ini sebagai awal kalimat. Misalnya: “Maaf Bapak,  ….. dst.”  Saya berpendapat awal kata maaf ini dihilangkan saja atau diganti dengan salam biasa Selamat pagi/ siang / malam dsb. Mengapa saya usulkan seperti itu? Sekali lagi menurut pengamatan pribadi saya, yang tepat, waktu dan tempat yang diperlukan melakukan permintaan maaf, justru tidak mengucapkan atau melakukan. Banyak kesalahan dilakukan secara tidak sopan. Sama dengan terima kasih yang di”lupa”kan yang saya kemukakan di atas. Telitilah sendiri apa saja yang saya kemukakan ini, dan anda akan terkejut serta kaget sedemikian banyaknya kejadian seperti itu. Ada di kelakuan berlalu lintas, surat menyurat dan tata krama yang dilakukan yang merupakan kebalikan dari kalimat semboyan resmi di pemerintahan kita. Bukankah sering sekali  diusung dengan menyebutkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah, sopan dan banyak tersenyum.

Ada sebuah pengalaman saya memperhatikan ketika saya menunggu giliran menemui petugas concierge di sebuah hotel. Hotel itu terletak di Akasaka, Tokyo. Di depan saya ada sepasang suami istri orang Amerika sedang bertanya sesuatu dan dengan amat perhatian si suami dalam mendengarkan keterangan dari nona sang petugas concierge itu yang mungkin ucapannya berbahasa amat kental berupa Japanese English. Sang istri minta diulangi isi keterangan yang didapat sang suami dan suaminya menjawab sang istrinya berkata seperti berikut: “My dear, this young lady said …. dst.” Uwaah kata hati saya, bukan main sang suami ini correct dan sopan meskipun berbicara dengan istrinya sendiri. Saya terus membayangkan kalau itu suami orang Indonesia hampir pasti akan mengatakan: “Dia ini mengatakan ……..”  Saya memang kurang piawai dalam menggambarkan kejadian ini dengan cara lain.

Biarpun saya mungkin akan mendapatkan cercaan, misalnya berupa: yang begitu saja kok disoal, apa perlunya, sih …. Kalau memang terjadi seperti itu, ya apa boleh buat. Bagi saya terdengar sekali “merdu”nya kata this young lady dibandingkan dengan hanya kata DIA …. Sang suami itu saya pandang lebih bersopan santun dan memakan waktu lebih lama sedikit, dan itu sedikit membuat saya menunggu lebih lama. Tidak apa-apa karena bagi saya itu adalah pendidikan kepada diri saya sendiri. Peristiwa itu amat lekat di dalam ingatan, meski telah terjadi sekitar setengah abad yang lalu. Saya tidak berkeinginan untuk membanding-banding apalagi ingin menjelekkan bangsa sendiri.

Kita amat sering membaca “cerita” mengenal gambaran manusia Jepang, yang padat penduduk di tempat-tempat umum. Bila ada yang berbenturan badan, meskipun dia tidak bersalah, secara otomatis kata maaf keluar dengan cepat dari kedua belah pihak. Salah atau benar tidak disoal, tetapi kata maaf dulu yang terucap. Sekali lagi bukan dengan maksud membanding-banding atau menjelekkan bangsa sendiri. Bukankah yang berikut adalah biasa di antara kita: “Gila kamu, matamu buta, ya? Babi …” dan lain-lain nama jenis binatang di Kebun Binatang Ragunan.

Oleh karena baru saja selesai satu hari yang lalu maka saya tidak lupa sungguh ingin berterima kasih kepada Kubu PRAHARA atau Prabowo Hatta Rajasa yang telah dengan gigih berjuang menurut keyakinannya yang diajukan di Mahkamah Konstitusi. Tanpa perjuangan terhadap keyakinannya itu maka rakyat Indonesia akan mengalami kegalauan yang luar biasa, terhadap Pemilihan Presiden di Republik kita. Sekarang kita sudah selayaknya menerima dengan napas lega karena secara terang benderang Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan keputusan yang bersifat  final sebagai sudah disepakati sejak semula. Saya hanya menunggu kapan kedua kubu akan saling bermaafan, karena tidak usah menunggu ritual Iedul Fitri yang akan datang. Mintalah maaf kedua dua kubu kepada seluruh Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia. SEGERA.

sorrythankshelp

 

Anwari Doel Arnowo 

 23 Agustus, 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.