I don’t like it, my dear…

Ida Cholisa

 

Normal BAB rata-rata setiap orang saya pikir tak lebih dari 3 kali dalam sehari semalam. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika saya belum mengalami sakit seperti sekarang ini. Saya rutin BAB setiap pagi sehabis bangun tidur. Selebihnya kadang siang atau malam. Tapi BAB yang saya rasakan sekarang ini benar-benar mirip sebuah penyiksaan. Saya bisa BAB puluhan kali dalam sehari semalam!

Awalnya tak separah ini, saat saya dinyatakan mengidap hipertiroid oleh dokter kanker yang menangani saya. Dokter yang berpraktek di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Timur tersebut telah menangani kanker payudara saya sejak tahun 2010. Saat itu beliau menyarankan saya untuk menjalani kemoterapi dan masektomi atau pengangkatan payudara. Pertengahan tahun 2011 saya berhenti menjalani kemoterapi. Check up rutin setiap bulan hingga per tiga bulan pun saya jalani. Jelang akhir tahun saya rutin menjalani beragam pemeriksaan kembali. USG perut, rontgent dada, pemeriksaan darah hingga bone scan saya jalani.

Tahun 2013, beberapa bulan sebelum suami meninggal, saya sempat menjalani pemeriksaan kembali di sebuah rumah sakit pemerintah. RSCM menjadi pilihan saya saat itu. Hasil pemeriksaan menyatakan saya bersih dari kanker. Beberapa bulan setelah suami berpulang, saya kembali merasakan sesuatu yang aneh dan berbeda di leher dan mata saya. Leher depan saya bengkak dan mata kanan saya jika diraba tidak sama besar dengan mata kiri saya. Keadaan yang serba berubah pasca suami meninggal membuat saya mendiamkan keluhan badan saya. Tahun 2014, setelah saya jatuh sakit dan menjalani opname di salah satu rumah sakit milik Angkatan Darat di Kramatjati, saya pun kembali menuju rumah sakit tempat saya berobat kanker.

“Oh ini hipertirod,” kata dokter sambil memegang leher saya. “Periksa lab dulu ya, nanti hasilnya ketahuan.”

“Terus bagaimana, Dok?”

“Operasi, ya?”

Saya termenung. Sungguh setelah operasi pengangkatan payudara tahun 2010 silam, saya benar-benar tak ingin menjalani operasi untuk kedua kali.

“Apa bisa nggak operasi, Dok?”

“Lama sembuhnya. Kita lihat tiga bulan dulu ya. Kalau nggak kempes langsung operasi.”

Saya pulang. Bulan demi bulan kelenjar tiroid di leher saya tidak kunjung mengempis, justru membesar. Badan saya semakin kurus, nafsu makan berkurang. Metabolisme tubuh berantakan. Kondisi badan yang lemah ditambah jarak rumah sakit yang sangat jauh dari rumah tinggal saya membuat saya malas kembali ke rumah sakit. Satu bulan kemudian saya mengajukan pindah rumah sakit yang berlokasi tak jauh dari rumah saya. Oleh dokter kanker, saya pun disarankan ke bagian poli penyakit dalam.

Pindah rumah sakit, saya kembali menjalani serangkaian pemeriksaan lab. Lelah terasa. Dokter penyakit dalam memberi resep obat dengan jumlah tak tanggung-tanggung. Untuk orang seperti saya yang termasuk kategori susah minum obat, menelan 6 butir pil dan kapsul tiga kali sehari selama pengobatan tentu bukan hal yang mudah. Saya acap merasa stress setiap kali hendak meminum obat.

Setiap minggu saya rutin menuju rumah sakit. Dokter akan memeriksa saya, terutama bagian leher dan perut saya. Raut muka sang dokter sering terlihat redup usai memeriksa saya.

“Hipertiroid Ibu sudah mengganggu metabolisme tubuh Ibu. Jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Ini saya beri obat untuk hati. Ini obat supaya bengkak di kaki Ibu berkurang. Selama enam jam Ibu akan terus-menerus pipis usai meminum obat ini.”

Ada banyak resep obat yang harus saya tebus. Bukan masalah harga obat yang membuat saya pusing. Tapi jumlah obat yang sangat banyak yang membuat saya stress. Sanggupkah saya meminumnya setiap hari?

Dan saya ternyata bukanlah pasien yang disiplin dan penuh tanggung jawab. Sudah dua bulan saya tak meminum obat. Rasa jenuh dan malas membuat saya mendiamkan obat-obatan yang saya dapatkan dari apotek rumah sakit.

Kini badan saya semakin kurus, semakiiiiin kurus. Kaki saya bengkak kembali. Dada terasa nyut-nyut, jantung berdebar kencang sekali. Metabolisme tubuh saya sangat terganggu. Saya mengalami kesusahan menaiki tangga, bahkan saya tak mampu mengangkat kaki saat menaiki bus. BAB saya kacau

sekali. Saya bisa keluar masuk toilet untuk BAB lebih dari dua puluh kali dalam sehari! Setiap hari, setiap malam saya menahan sakit perut. Bahkan saat badan terasa sangat lelah, suara saya pun terganggu. Saya tidak bisa bersuara seperti orang normal lainnya. Yang ekstrim, suara saya bisa tidak keluar sama sekali.

Tidaklah mudah menjalani hidup dengan serangkaian keluhan yang melilit tubuh. Tidak ada cara lain kecuali saya kembali melanjutkan pengobatan yang terputus. Suka atau tidak suka, enak atau tidak enak, obat harus menjadi menu utama keseharian saya. Meski untuk memulainya kembali saya harus berjuang setengah mati.

Sementara saya bergelut dengan beragam tak enaknya badan, anak-anak saya duduk mengelilingi saya.

“Ibu harus sembuh. Aku takut Ibu kenapa-kenapa. Kalau Ibu nggak ada, hidupku nggak berguna. Ibu minum obat, ya?”

Anak lelaki saya mengambil air dan mengupas pisang, sementara anak perempuan saya membuka obat satu demi satu. Saya kunyah pisang yang disodorkan anak lelaki, saya masukkan obat yang diberikan anak perempuan.

Saya mendelik. Salah satu obat ternyata tidak tertelan dengan mulus. Rasanya pahit sekali.

Anak-anak saya tertawa. Mereka lega karena saya mau menelan obat.

“Awas lho Bu kalo gak diabisin obatnya,” ancam si sulung.

Kepala saya langsung nyut-nyutan melihat rentengan obat yang jumlahnya masih banyak. Perut saya mendadak mulas. Saya BAB lagi. Cape deeeeh…!

Sekonyong-konyong wajah sang dokter melintas dengan resep obat yang bejibun. Oh…! I don’t like it, my dear….!

feeling

***

 

Cileungsi, malam tak bisa tidur, 26 Agustus 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.