Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (6 – habis)

Leo Sastrawijaya

 

Artikel sebelumnya:

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (1)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (2)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (3)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (4)

‘Hallo semua, logistik untuk kenduri sudah siap.’ Harahap berseru memberi tahu kami. Aku dan Ira terkesima dengan logistik yang dimaksud. Satu krat minuman ringan dan dua dos aneka kue. Logistik yang berlebihan untuk kami bersembilan. Ah, pada dasarnya kami memang rakus kok.

‘Waduh nggak salah nih………?’ Ira nampak takjub dengan jumlah makanan yang terhampar di depan kami.

‘Inilah kami Ir. Rakus. Tukang makan semua, termasuk calon suamimu itu.’

‘Udah kita mulai, Zam biasa pimpin doa.’ Izam kemudian dengan takzim memimpin doa pendek pengantar kami menikmati sajian ini. Botol-botol dibagikan, Buyung mengawali ucapan kenduri dengan khidmat ;

‘Buat sahabatku Erwin, kupikir tidak ada hal lain selain ucapan selamatku untuk kamu dan Ira. Selamat menerima anugerah itu. Jaga dan hormati ………biarkan itu tetap menjadi kudus.’

‘Dari aku Harahap : Sekali lagi Erwin memang sahabatku yang bedebah dan beruntung, selalu saja yang menempel adalah perempuan-perempuan paling cantik. Tetapi kupikir ini mungkin yang terakhir…….Kalau tidak ya bedebah benar bah… !’ Kami semua tergelak mendengar ungkapan batak gila sahabatku terbaik ini.

‘Pudi : Mungkin tadi Erwin dan Ira tidak menyadari bagaimana aku dan Ino harus mendorong motor menjauh dari sini sejauh empat ratus meteran supaya kalian tidak mendengar suara motor kami. Kemudian mengangkat tiga dus logistik itu naik ke sini. Aku sangat ikhlas sobat, anggaplah itu sebagai bagian dari ungkapan maaf kami. Semoga kisah kasih kalian abadi.’

‘Ini Ino : Sungguh ini indah. Aku jadi kepingin memandang kekasih seperti Erwin memandang Ira dan Ira menatap Erwin. Itu kejujuran kukira. Dan selama ini aku hanya terlibat percintaan pura-pura.’

‘Wah celaka…..bakal ada janda muda nih….’ Harahap si tukang omong cepat saja menyambar.

‘Jangan lupa aku jomblo….Siapa tahu Gita adalah soul mate ku.’ Tanpa tedeng aling-aling Buyung nyeletuk. Semua tertawa. Tetapi aku tahu Buyung diam-diam memang suka dengan Gita. Aku tahu benar itu, cara Buyung menatap Gita menyatakan semuanya. Mengapa Buyung masih jomblo hingga kini? Aku yakin itu lebih karena dia masih berharap bisa bersama Gita suatu saat. Yakin aku, seyakin-yakinnya. Apakah sore ini menjadi jalan kearahnya? Aku tidak tahu untuk hal ini. Semoga saja.

‘Pudi juga merasakan hal sama dengan Ino, mungkin juga seperti Erwin sebelum ketemu Ira. Aku terlibat sandiwara panjang bersama Dewi. Aku harus menilai semuanya kembali, merenungkan lagi. Kalau teman kita yang play boy bisa jinak, mengapa aku tidak?’

‘Amiiin.’ Kami serempak mengamini harapan Pudi.

‘Selama ini sahabatku bisa menyimpan skandalnya dengan rapat sekali dariku. Baik kamu Ira maupun kamu Erwin. Ogut tidak nyangka sama sekali, kalian melakukan backstreet. Agak narsis dan egois mungkin, tetapi jika kalian berjalan atas dasar nurani dan kejujuran maka kukira bisa aku terima. Dan fragmen yang kulihat tadi sepertinya merupakan penuturan tentang kejujuran dua hati. Jadi ya selamat deh……’ Wulan mengakhiri kalimatnya dengan merangkul dan mencium Ira.

‘Sebagai teman yang telah bersama sejak kecil, aku sudah curiga sejak awal. Erwin menjadi begitu berbeda beberapa minggu terakhir ini. Meski mengakui bahwa dia telah menemukan cinta sejati, tetapi dia tidak mau mengakui dengan siapa. Kini aku lega, aku sudah tahu alasannya mengapa dia menyembunyikan nama gadis pujaannya dan aku mengerti. Ira, aku teman Erwin sejak di SD dahulu. Aku paham benar siapa dia. Kuyakinkan kepadamu jika dia menyatakan cinta kepadamu maka itu tulus. Bukan gombal seperti kepada yang lainnya.’

Semua bertepuk tangan untuk pidato singkat Priyo. Tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Untuk beberapa saat kami terdiam. Kini giliranku, maka aku bertekad untuk menyatakan kejujuran kepada mereka semua; sahabat-sahabat sejatiku.

‘Terima kasih untuk semua usaha kalian. Yang pertama aku harus merasa berhutang kepada kalian semua, karena selama ini akulah orang yang paling sering menerima perayaan seperti ini ……… Kutegaskan kepada kalian semua, aku sungguh-sungguh berharap ini adalah moment terakhir bagiku……Selanjutnya kepada kalian semua suatu saat aku ingin mengirim undangan merah jambu untuk pernikahan kami. Untuk Priyo khususnya dan juga semuanya, saya harus menyembunyikan hubungan ini sekian lama. Maaf. Masalahnya kompleks, kalian tentu mengerti. Yaaah……..cinta datangnya seperti pencuri ternyata. Dia egois, tapi indah dan menenteramkan. Aku sudah mencoba melawannya dari awal, berfikir bahwa ini tidak layak, namun seperti sebagaimana kalian lihat saat ini, aku luluh dan tertembak jatuh juga pada akhirnya. Dihadapan kalian semua sahabatku, juga kamu Ir, rasanya aku tidak bisa mengatakan tidak bahwa aku kini telah dikaruniai cinta. Aku telah jatuh cinta kepada gadis cantik di sebelahku ini. Tolong dicatat hal itu telah kuterima dengan penuh syukur dan bertanggung jawab. Kuharap satu persatu kalian akan menyusul kami, menyerah kepada asmara dan mengakhiri petualangan. Terima kasih.’

Sesaat kemudian hening, ‘Giliranmu sayang……’

Ira mengangguk lalu berdiri;

‘Sebagai ucapan terima kasih untuk kebaikan kalian semua aku akan menceritakan secara kronologis mengapa pada akhirnya kami harus bersatu seperti ini. Awalnya aku sangsi dan takut akan nasib adikku Sisi, sewaktu dia bilang bahwa dia baru menerima tembakan dan memilih pacar seorang Erwin. Adikku masih lugu, sementara siapa sih yang tidak kenal reputasi pemuda di sebelahku ini? Sehingga aku tergerak mengawasi kemanapun adikku pergi bersamanya. Aku selalu mengintip saat dia datang dan mengapeli adikku, awalnya aku bahkan merasa risih dipanggil dia dengan sebutan mbak. Kalau tidak salah aku malah pernah membentaknya-emang aku kakakmu? Lama kelamaan aku malah merasa ada benang-benang halus merenda hatiku, dia menarik, romantis dan tidak setengil yang dikatakan orang-orang. Yang tadinya aku hanya ingin mengawasi adikku, lama kelamaan aku malah merasa ketagihan untuk memandanginya dengan mencuri-curi. Gila ya? Aku senewen lah dengan gerak hatiku sendiri. Sama sepertinya, akupun mencoba melawan pada mulanya. Hingga pelan-pelan aku menyadari bahwa itu tidak mungkin. Pada saat bersamaan aku merasakan bagaimana pandangan mata dan bahasa tubuhnya semakin berubah dari hari ke hari terhadapku. Kegalauan sempat menyergapku demikian dalam. Aku sering menangis dan tidak tidur, merasa sangat bersalah kepada adikku sekaligus merasa tidak berdaya terhadap panggilan jiwaku sendiri. Hingga pada akhirnya aku tidak bisa menahan diri, memancingnya untuk bisa bicara berdua, tetapi kemudian akulah yang terpancing dan terperangkap. Dia membawaku kemari, menjadi pria pertama yang mencium bibirku tanpa bisa kucegah…..dan seterusnya hingga hari ini. Seperti dirinya aku pun merasa telah dikaruniai cinta. Jika Tuhan menghendaki, sungguh aku ingin terus bersamanya hingga aku hilang dari peredaran dunia fana ini. Kini kami butuh bantuan teman-teman untuk merahasiakan hubungan kami ini, sampai kami menemukan jalan terbaik menyampaikan fakta ini kepada adikku. Dia pasti akan terluka…..dan kami tidak ingin dia terluka terlalu dalam.’

‘Lin, jadi selama ini pacar-pacar kamu sebelumnya kamu beri apa?’

‘Aku kasih gamparan kalau mereka memaksa menciumku……..’

Kembali suara tawa pecah membahana diantara kami,

‘Waduh, rupanya kamu cantik-cantik tukang pukul juga ya?’

‘Jangan lupa aku memegang Dan I Karate….’

‘Erwin sempat juga kena gamparmu ya?’

Dengan malu-malu Ira menggeleng; ‘Enggak, baru ciuman pertama saja aku sudah nyungsep dalam pelukannya. Aku tidak berdaya, kurang ajar dia, tidak ada satu jam kayaknya dia sudah membombardirku dengan puluhan ciuman. Rakus….’

‘Tapi Ira mau kan……?’

‘Iya juga siiiiiih, kalau tidak sudah kubikin KO dia.’

‘Eh Ira, sadar nggak kalau kamu dicium oleh pria yang juga menciumi adikmu?’

‘Aku tahu, aku juga pernah melihat dia mencium adikku kok.’

‘Terus kok kamu nggak marah.’

‘Habis sudah kadung sih.’

‘Kadung apa nih? Kadung kecurian ciuman atau kadung sayang?’

‘Dua-duanya kali ya…..Iiiiih udahan ah……aku jadi terpancing yang enggak-enggak nih.’

Suara tawa kembali membahana, lalu bersama-sama kami mengangkat dan menyatukan botol-botol soft drink kami, ‘Untuk kebahagiaan Ira dan Erwin, untuk kebahagiaan kita semua’. Kemudian kue-kue yang jumlahnya kupikir berlebihan itu satu persatu berpindah dari dus-dus itu kemulut kami. Aku sungguh terharu dengan solidaritas dan kepedulian teman-temanku, kupikir ini merupakan wujud cinta yang lain. Kasih para sahabat sehati. Kami bisa saja saling maki dan bertengkar, bisa saja saling ejek. Tetapi pada saatnya kami akan menjadi satu berbagi bahagia, saling menguatkan. Di mata cemerlang mereka aku menemukan ketulusan, pada senyum ikhlas mereka, aku menikmati rasa bahagia.

Saat kami semua tenggelam dalam canda ria, aku sengaja merengkuh Ira, ia menurut tanpa rasa sungkan;

‘Perlihatkan kepada sahabat-sahabat kita, bahwa cinta sejati mampu merubah kita menjadi lebih baik sayang’. Bisikku. Ira tidak menjawab ia tersenyum begitu manis, merebahkan kepalanya ke dadaku, aku membelai rambutnya dengan lembut, kucium keningnya. Semburat asmara memenuhi rongga dadaku, getaranya mungkin menyentuh ujung-ujung Mayapada. Ketika satu persatu sahabatku menghentikan aktivitasnya, kami masih terus berpelukan mesra, saling tatap, saling meyakinkan bahwa kami tidak sendiri lagi kini. Ada seseorang yang sedia selalu bersama bahkan pada saat kita harus terjatuh kedasar jurang sekalipun. Ada seseorang yang akan menghiburnya saat kita terpukul dan terjengkang oleh pukulan kehidupan. Ada seseorang yang memiliki rasa rindu nan tak pernah putus. Ada jiwa yang berpendar dan pendarannya mengena langsung ke inti sanubari kita dan membuat kita menjadi ikut berpendar karenanya. Kubiarkan mereka untuk melihatku menitikan air mata, supaya mereka percaya, bahwa akupun manusia biasa sama seperti mereka. Yang bisa saja menangis karena terlampau bahagia. Tetapi biarkanlah mereka juga tahu betapa air mata bahagia ini, akan merekatkanku lebih dekat ke arah kesejatian hidup.

new_beginning

Sekali lagi di hadapan sahabat-sahabat terkasihku, tidak mungkin bagiku untuk tidak mengatakan bahwa aku kini telah dikaruniai cinta sejati. Aku telah terjatuh, terjatuh dalam kejatuhan nan membuaiku. Kejatuhan yang membuat sayap-sayapku mampu mengepak. Kubiarkan mereka menyaksikan betapa cinta telah mengubah banyak hal dalam hidup kami. Aku berharap, dengan ini merekapun percaya bahwa pada saatnya mereka akan menemukan seseorang yang pendar matanya seperti pendar mata Ira saat menatapku, indah, mesra, tulus dan memompa energi kehidupan dalam jumlah tak terkirakan, lalu menulis buku cinta mereka sendiri, mempersembahkanya kepada kehidupan. Karena aku tahu kini aku berhutang begitu banyak kepada sahabat-sahabatku, kepada kehidupan ini pada umumnya…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.