Gelang dan Sejuta Impian Eropa yang Terselip di Dalamnya

Primastuti Dewi Rakhmawati

 

Summer yang Indah, hari itu kami memilih untuk makan siang di sebuah restoran yang memiliki banyak meja di taman terbuka. Kami memilih meja di bawah pohon agar terlindung dari teriknya matahari sambil menikmati segarnya udara dan kicauan burung yang juga tampak gembira menyambut angin Poniente.

Dari kejauhan kami melihat seorang laki-laki penjual aksesoris wanita (Gelang, kalung, dan sejenisnya), tampak sedikit keberatan menggendong tas besar berisi jualan, tangan kanannya terangkat ke depan, ia gunakan sebagai etalase toko keliling untuk memajang barang dagangan. Dari siku sampai telapak di penuhi kalung dan gelang, berjejer jejer dan bergelantungan warna warni, bergelayut dan berjuntai juntai, sementara tangan kiri nya memegang beberapa gelang untuk di tawarkan pada orang-orang yang ditemuinya. Kulitnya hitam legam, begitu hitamnya sampai tidak mungkin lagi bisa lebih hitam dari itu, sudah hitam maksimal.

Pakaiannya gombrang dengan warna coklat pudar, mengenakan topi ala penyanyi Tompi, hijau lusuh. Dia berjalan ke arah kami, dari kejauhan, kami bisa melihatnya karena selain aksesoris yang dibawanya berkilau-kilau di bawah sinar matahari, dari wajahnya kami bisa melihat benda putih bulat kemerah-merahan, itu bola matanya. Nanar karena entah sudah berapa jam terkena sinar matahari. Bibirnya merah pecah pecah, kering dan tampak dehidrasi.

“Brazalate, señora?” (gelang Nyonya?) tawarnya ketika sampai di depan meja kami. “No.. Muchas gracias, otro dia, vale?” (tidak, terimakasih banyak, lain hari ya) jawab ku sambil tersenyum padanya. “Gracias” jawabnya lalu berjalan meninggalkan meja kami menuju meja lain. Aku menatap mata suami ku dan berkata “Amor.. aku ingat saat kita berada di dalam taxi di atas pegunungan di Afrika”.

Saat itu kami melihat puluhan orang-orang kulit hitam berkelompok-kelompok, berdiri di atas bukit yang bukan merupakan wilayah pemukiman penduduk.Tidak ada rumah, warung, tidak ada transportasi umum melewati daerah itu kecuali taxi. Mereka pasti menempuh perjalanan menuju bukit-bukit itu berjalan kaki entah dari mana, entah berapa puluh kilo meter yang mereka tempuh, kami melihat pemandangan itu berkali-kali, setiap sekitar 1 kilo meter ada kelompok orang kulit hitam lagi.

Tiba-tiba kami melihat ada mobil patroli polisi berhenti di pinggir jalan di depan kami. Tampak dua orang polisi yang berdiri di samping mobil dan seperti mencari-cari sesuatu dari daerah sekitar, dalam hatiku bertanya ada apa ya? Taxi terus berjalan, belum habis pertanyaan yang bermunculan di kepala ku, sopir taxi mendadak berhenti pada gerombolan orang kulit hitam dan berteriak “ada polisi di belakang!!” lalu mereka lari tunggang langgang sembunyi di balik bukit. Sopir taxi kembali menjalankan mobil sambil berujar “Kasihan kalau tertangkap, mereka hanya ingin mencoba mengubah nasib”. “What’s going on?” tanya ku. “Mereka mau menyebrang ke Eropa secara ilegal, kalau ketahuan polisi, mereka semua diangkut” jawab sopir taxi, “but how is that possible?” aku masih belum bisa mencerna bagaimana mereka menyebrang ke Eropa dari atas bukit. Suami ku lalu menjelaskan kisahnya:

Mereka itu, entah dari mana, bisa jadi dari Nigeria atau entah dari negara mana di Afrika. Mereka ingin mengubah nasib dengan bermigrasi secara illegal, karena mengadu nasib secara legal ke Eropa bukan sesuatu yang mudah, orang-orang yang ingin kerja di Eropa walau pun semua dokumen mereka lengkap, tidak serta merta bisa diijinkan oleh imigrasi untuk memasuki wilayah Eropa dan tinggal di Eropa, apalagi memasuki wilayah Eropa tanpa alasan yang jelas. Gosip yang ada di kampung mereka, bahwa kehidupan di Eropa jauh lebih baik dan menjanjikan dibanding kehidupan di negara mereka sendiri. Bermodalkan gosip dan keberanian itulah (tanpa modal yang lain) mereka ingin mengubah hidup mereka.

Bagaimana caranya? Semua wilayah perbatasan Afrika yang secara fisik berdekatan dengan daratan Eropa, dikelilingi oleh pagar kawat tinggi yang tidak terjangkau untuk melompat, sebagian beraliran listrik, sebagian berkawat paku, dipasang CCTV di setiap sudutnya, terutama area pelabuhan sentral yang menjadi pusat transportasi dari Afrika ke Eropa, salah satunya adalah pelabuhan di wilayah Tangier Morroco.

Pelabuhan ini seperti kawasan ekslusif, semua area rapat di proteksi dengan pagar kawat tinggi sekitar 10 meter, tidak semua orang bisa masuk, hanya orang dengan dokumen lengkap yang bisa memasuki wilayah ini (aku dan suami kebetulan naik taxi untuk memasuki pelabuhan ini), ternyata fungsi dari pagar-pagar tersebut adalah agar kelompok orang kulit hitam seperti yang berada di bukit-bukit tadi tidak bisa menerobos masuk ke pelabuhan, jika mereka berhasil masuk, mereka dengan sembunyi sembunyi akan masuk di truk barang, kemudian truk tersebut memasuki kapal dan akan membawa mereka ke Eropa, entah bagaiamana nasib mereka setiba di Eropa, yang penting mereka bisa sampai di tanah Eropa dulu. Karena sekarang akses ke pelabuhan semakin ketat, mereka tidak kehabisan akal, mereka menuju bukit-bukit mencari jalanan yang menanjak tajam, dimana truk truk pengangkut barang yang melewati area itu akan berjalan pelan dan terseok-seok di penanjakan, saat itulah mereka melompat kedalam truk dengan harapan truk tersebut akan membawa mereka masuk ke pelabuhan. Sebagian berhasil melompat, sebagian jatuh dan patah tulang atau luka ringan, barangkali juga ada yang meninggal.

Nah, bagi mereka yang berhasil menyebrang ke Eropa, untuk menghindari aparat kepolisian Eropa yang sangat ketat, sebelum kapal sampai di pelabuhan, mereka akan melompat keluar kapal, menceburkan diri di laut, lalu berenang mencari daratan di luar pelabuhan yang aman dari mata polisi. Sebagian berhasil mencapai daratan, sebagian keletihan dan tenggelam di laut, mungkin ada juga yang dimakan hiu. What a hard life they have.

Bagi mereka yang lolos dari polisi, mereka segera memasuki dunia baru yang jauh dari apa yang mereka bayangkan di kampung halaman. Tidak punya tempat tinggal, tidak ada saudara, tidak ada pekerjaan, tidak punya relasi, berada jauh dari negara asal, tidak ada uang, bagaimana mereka bisa melamar pekerjaan yang layak tanpa identitas? Jika mereka menunjukkan identitas negara asal, sudah otomatis mereka akan dikirim pulang ke negara asal oleh pemerintah Eropa. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Pilihannya adalah bekerja serabutan seadanya. Pekerjaan yang sudah tidak lagi dilirik oleh orang Eropa adalah peluang bagi mereka.

Lalu bagaimana kisah mereka yang tertangkap polisi sebelum berhasil mencapai daratan? Atau sudah di bibir pantai dan sekelompok polisi sudah menunggu mereka di pantai? Mereka akan dibawa dan diinterogasi, mereka tidak membawa dokumen apa pun, bahkan identitas diri pun tidak ada. saat ditanya dari mana mereka berasal, tidak satu pun dari mereka akan mengatakan negara asalnya, karena kalau mereka menjawab dari mana mereka berasal, sudah pasti mereka akan dideportasi dan dikirim pulang ke negaranya, lalu mimpi yang mereka bingkai indah dari kampung halaman pun pupus saat itu juga.

Bagi mereka, apapun pertanyaan polisi kunci jawabannya adalah: tidak tahu.. tidak tahu.. dan tidak tahu. Bahkan ditanya nama pun mereka akan jawab TIDAK TAHU. Sampai polisi-polisi itu putus asa, mau diapakan orang-orang ini? Mereka ini sudah pasti bukan orang-orang Eropa, (kasus untuk mereka yang berlabuh di Spanyol) apa mungkin orang Spanyol tidak bisa berbahasa Spanyol? Mau dikirim pulang ke negara mereka, tapi dikirim ke mana? Negara apa? Dibunuh? Nggak mungkin kan? Akhirnya orang-orang ini dimasukkan ke dalam penjara. Berjejal-jejal dengan kelompok senasib yang sudah lebih dulu tertangkap dan dimasukkan sel.

Penjaranya tidak semakin besar, tetapi isinya setiap hari bertambah terus, akhirnya pemerintah kewalahan dan angkat tangan, yang sudah masuk duluan (entah tahun dan bulan berapa) dikeluarkan dengan diberi dokumen wajib lapor dan dokumen lain. Begitulah terus menerus, ada yang masuk ada yang dilepaskan. Setelah melalui wajib lapor yang aku juga nggak tahu berapa kali dan untuk jangka waktu berapa lama, akhirnya mereka nanti akan mendapat identitas sebagai warga negara Spanyol. Identitas yang mereka impikan selama ini.

Akhirnya dengan identitas baru itu, mereka mulai bekerja, tidak mudah mencari pekerjaan, tidak mengerti bahasa setempat, tidak memiliki keahlian khusus, lalu apa nilai jual dari diri mereka? Akhirnya sebagian memilih berjualan souvenir keliling, berjualan baju keliling, dan seperti yang siang ini kami jumpai berjualan aksesoris wanita, berjalan dari satu restoran ke restoran lain, entah berapa kilometer yang tempuh setiap harinya mereka di bawah sinar matahari. Dan bagi yang tidak tertangkap polisi, mungkin keadaannya lebih mengenaskan lagi, akan tambah sulit mencari pekerjaan tanpa identitas diri.

Kembali pada percakapan makan siang ku dengan suami, aku katakan apa yang ada di pikiranku tentang orang-orang itu. Hidup mereka sedemikian kerasnya. Mimpi yang mereka ciptakan untuk dapat mengubah nasib di Eropa, mimpi memiliki kehidupan yang lebih baik, melalui rintangan yang tidak mudah dengan resiko kematian, tertangkap polisi, dimasukkan sel, saat keluar masih harus mencari pekerjaan, sampai pekerjaan apapun dijabanin demi agar bisa bertahan hidup. Dua tahun yang lalu saat bulan puasa, aku juga bertemu dengan salah satu dari mereka, penjual kaca mata, aku tanya apa dia puasa, dia jawab iya, saat itu aku salut dan haru banget, puasa 18 jam, jalan kaki berkilo-kilometer di bawah terik matahari, tapi pada saat itu aku tidak tahu kisah di balik perjalanan hidup mereka.

“Do you know what? Semakin tinggi harapan dan cita cita yang disandarkan pada sesuatu, semakin terasa sakit dan sangat kecewa jika tidak terwujud,” ujar ku pada suami. Dan mereka… Bisakah kita bayangkan seberapa berat beban hidup mereka? Mimpi mereka yang belum terwujud, masih harus berjuang keras agar bisa bertahan hidup. Gelang yang harganya 3 Euro, berapa untungnya? Berapa bisa dia jual? tak satupun orang di restoran ini membeli barang dagangannya. Kalau pun ada yang membeli, berapa untungnya? Apa cukup untuk makan siang di tempat yang paling murah sekalipun?

Jika mereka kelaparan di negeri mereka, setidaknya mereka memiliki keluarga dan handai taulan, tidak ada rumah, mereka bisa menginap di tempat keluarga. Bagaimana kehidupan mereka di sini? Bagaimana kalau mereka lapar? Aku nggak pernah lihat ada warga kulit hitam meminta-minta di daerah sini. Bagaimana jika mereka tidak punya tempat tinggal? Apa pernah ada orang kulit hitam menekan bel rumah kita memohon tumpangan untuk menginap semalam? Mungkin di saat-saat sulit seperti itu mereka ingin kembali pulang ke negera mereka, tapi bagaimana? Uang dari mana? Setelah kembali ke negaranya nanti akan sulit untuk kembali ke Eropa. Aku membayangkan diriku sendiri, jika aku rindu keluarga, aku bisa pulang kapan pun aku mau, rindu sahabat? Aku bisa mengunjungi mereka dengan mudah.

Bagaimana jika mereka merindukan keluarga, teman teman, pacar mungkin? Menurutku, mereka ini lebih mulia dari pada bapak bertopi yang selalu berdiri di Mercadona membawa tulisan di selembar kardus bertuliskan “aku punya anak 2, dan tidak memiliki pekerjaan” memohon belas kasihan orang-orang yang selesai belanja melemparkan koin padanya. (Bapak bertopi yang kumaksud adalah orang lokal yang setiap hari meminta-minta di depan supermarket Mercadona, salah satu supermarket di daerah tempat kami tinggal). “Iya.. kamu benar, kamu benar” kata suami ku.

Aku terus nyerocos ke suami yang dari tadi menghentikan camilannya dan terus menerus memandang ku dengan serius. Tiba-tiba suamiku berdiri, berjalan setengah berlari mengejar penjual aksesoris yang sudah menjauh meninggalkan restoran, aku masih belum mengerti ada apa atau apa yang akan terjadi. Kulihat akhirnya suamiku berhasil mengejar, meraka tampak bercakap-cakap dan akhirnya mereka berdua berbalik menuju meja makan siang kami, kulihat sesekali sang penjual tersenyum menampakkan deretan giginya yang kemilau di antara wajahnya yang legam “Oh tidak ada hal buruk terjadi” ujarku dalam hati saat melihat mereka tertawa bersama.

“Duduklah” kata suamiku sesaat setelah mereka sampai, dengan canggung penjual itu duduk masih dengan tangan kanan penuh aksesoris berjuntai-juntai “Mau yang mana Nyonya?” ucapnya sambil tersenyum gembira dan menyodorkan dagangan ke arah ku. Aku menatap suamiku penuh tanya, tidak tahu dia bilang apa pada penjual ini saat mereka berjalan menuju meja kami. “Tidak… nanti saja, sekarang kamu mau apa” potong suami ku sambil menyodorkan buku menu. Ia tampak kebingungan karena semua tangannya penuh dengan aksesoris. “Jika tidak memberatkan, air putih saja, terimakasih” jawabnya dan tidak menerima buku menu yang di sodorkan suami, mungkin karena canggung atau karena tidak ingin meletakkan barang dagangannya. Lalu suami ku berkata lagi “letakkan dulu dagangan mu, siang ini kamu makan siang dengan kami” Suami menatap ku dalam dan tersenyum, banyak makna yang tersirat dari tatapannya itu, aku mengerti.

Sepanjang makan siang, kami berbincang ringan, sesekali ku tatap penjual aksesoris ini, membayangkan semua cerita dan kejadian ini, menghadapi apa yang baru saja suamiku lakukan, aku tidak kuat menahan kecamuk dalam diriku. Mataku berkaca-kaca, sekuat tenaga mehanan agar airmata ini tidak jatuh, tapi akhirnya menetes juga “Nyonya, apa anda sakit?” tanyanya saat aku tertangkap basah meneteskan airmata. “No. I’m very happy having you here” jawab ku.

“Saking senangnya aku sampai nangis, terimakasih telah bersedia makan siang bersama kami” lanjutku. Kami menyelesaikan makan siang dibumbui candaan suami yang mampu membuat kita tertawa, pada akhirnya, suami memintaku memilih gelang, aku pilih saja sekenanya, karena sejujurnya aku tidak tertarik sama sekali dengan barang dagangannya. Saat suami mengulurkan uang, dia menolak dan berujar makan siang ini sudah lebih dari cukup untuk membayar barang dagangannya. Bahkan dia menyodorkan gelang-gelang lagi dan berkata “pilihlah Nyonya, ambil untuk kenang-kenangan dari ku” aku memilih 2 dan berkata pada nya “aku hanya akan ambil kalau ini bayar, dan ini akan jadi kenang-kenangan indah darimu”.

Kami berdebat kecil soal pembayaran ini karena dia ngotot tidak mau dibayar, dan aku ngotot mau bayar. Akhirnya dia menerima uang yang diulurkan suami, berterimakasih lalu pamit dan beranjak meninggalkan kami. Aku peluk suamiku dan berkata “Terimakasih untuk hari yang sangat menakjubkan ini”. Balasannya adalah ciuman yang mendarat di keningku, ia melepaskan pelukan dan berteriak pada penjual aksesoris, “Hey tunggu, ngomong-ngomong dari mana asal mu?” “aku tidak tahu” jawabnya sambil tertawa dan melambaikan tangan kemudian berlalu. Aku dan suami saling berpandangan dan seketika kami tertawa terbahak-bahak.

 

~Dewi Pobo

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.