[Mangole] The Beginning

Imam Dairoby

Adalah anugerah kehidupan yang telah terjalani

Bagaimana pun yang memiliki hidup telah menggariskan

Bahwa semua yang berlaku adalah yang terbaik

Tinggal menjalani apa susahnya ?

            (IDM)

Chapter 1

THE BEGINING

 

Untuk melangkah

Mata telah kusiapkan, untuk melihat lagi
Hati telah kupersiapkan, untuk segala yg akan terjadi
Pikiran telah kusiapkan, untuk mengambil kesempatan yang tersaji
Tidak ada yang tahu tentang esok hari
Tidak ada yang bisa meramal apa yang akan terjadi
Tetapi satu yang pasti
Harapan untuk esok hari tak pernah mati
Karena sesuatu yang terbaik telah menanti
Tanam keyakinan dalam diri
Teriring doa pada illahi

 

Langit membiru berhias putih awan berarak bak kapas yang terhampar di tingginya permadani yang luasnya tak terkira. Bunyi debur ombak terdengar seiring desau angin yang keras menerpa rambut kriwil ku. Aku digendong bapak menapaki tangga kapal laut yang akan mengantarkan kami ke tanah seberang yang aku tak tahu di mana.

Usiaku baru memasuki 5 tahun, tak banyak yang kutahu tentang apa yang terjadi. Saat akan keluar dari kampung kami yang kutahu hanyalah suasana mobil colt (bis kecil) yang apek dan berbau minyak solar. Panas pengap karena dijejali kami sekeluarga serta beberapa sisa barang yang dimiliki kami. Terdengar suara isak tangis Mbah Siti, nenek kami beserta saudara-saudara dari ibu dan bapak yang mengantar sambil melambaikan tangan. Aku turut meronta menangis karena aku takut naik kendaraan yang asing dan terasa aneh bagiku.

Mobil colt penuh sesak, adikku terkecil masih berumur 7 bulan dan sama sepertiku tak tahan dengan suasana panas di dalam mobil sehingga dia pun menjerit menangis. Aku lihat ibu berusaha menenangkan adikku, dan bapak menyerahkan aku duduk di pangkuan kakak tertuaku.

Mobil bergerak perlahan ketika kami semua telah berada di dalam. Hembusan angin dari jendela mobil mengusir perlahan panas dan pengap. Meniti jalanan kampung halaman meninggalkan sanak keluarga yang masih terlihat lambaian tangan mereka.

Hamparan padi menghijau di tegalan sawah memberi bau harum di dalam mobil yang kami tumpangi. Hidungku kembang kempis mencium aroma padi dan segarnya bau lumpur..

Sebuah kampung bernama Dukuh di desa Tambibendo Kabupaten Kediri yang berserak pasir halus di kelilingi rimbunan bambu dan bau kembang kenanga akan kami tinggalkan menuju tanah yang sama sekali kami belum mengetahui seperti apa di sana.

Hanya bualan dari paman kami yang memberi secercah harapan bahwa di sana di daerah yang baru itu akan kami temukan masa depan yang lebih baik, bagi kami keluarga dengan banyak mulut untuk diberi makan.

Beberapa jam yang lalu, sebelum kami tiba di kota panas Surabaya ini kami masih berada dalam suasana yang sangat mengiris perasaan. Isak tangis dan cucuran air mata seakan tak pernah mengering untuk mengantarkan kepergian kami.

“Kang Hur, mobilnya sudah datang,” suara Lek Mat adik angkat bapak bagaikan petir di siang bolong. Aku melihat bapak dan ibu saling bertatapan dan mengangguk dengan mantap.

“Tak bisakah kau urungkan niatmu itu Hur,” suara isakan Mbah Siti bertambah keras. Ibuku mendekati Mbah Siti. Dipegang erat tangan Mbah, sembari ibu pun terisak.
“Mbok, restui kami untuk pergi mencari kehidupan yang lebih baik. Hanya dengan restumu kami bisa melangkah lega Mbok,” ibuku mencium tangan Mbah Siti.

“Kalian akan meninggalkan kampung halaman, yang telah menjadi pijakan kalian selama ini. Kalian membawa semua cucu-cucuku, tak bisakah kamu mengerti sedikit perasaan kami Nah, tinggalkan cucuku satu bersamaku agar aku bisa tetap melihat dirimu di sini,”

Tangis Mbah Siti semakin membesar, diiringi tangis sanak saudara lainnya. Mereka pun menawarkan diri untuk mengasuh beberapa dari kami.

“Tidak Mbok, saya tak mau berpisah dengan anak-anak saya. Demikian juga Monah, dia tak mau berpisah dengan darah dagingnya,” suara lantang bapak tegas terdengar.

“Tapi dengan tujuh anak bersama kalian, apa tak merepotkan jika harus pergi bersama. Biarkan satu atau dua anakmu ditinggal dulu di sini, setelah kalian mapan baru mereka kalian ambil,” suara Mbok De Asyiah keras terdengar. Ada rasa tidak suka dengan jawaban yang tadi bapak katakan.

Ibu berjalan mendekati Mbok De Asyiah.

“Yu, Kang Mashur benar, saya tak sanggup berpisah dengan anak-anak saya Yu. Walau saya tak tahu akan seperti apa nantinya di sana tetapi dengan adanya anak-anak di sampingku serasa semua beban tak ada Yu,” suara ibu terdengar tegar.

“Kami semua ini berniat membantu mu Nah, jangan di anggap kami menghalangi kepergianmu untuk mencari kehidupan yang lebih baik,” nenek menengahi pembicaraan ibu dan Mbok de Asyiah.

“Restui kepergian kami Mbok,” ibu kembali membungkuk di depan Mbah Siti kemudian memeluk dengan erat. Tangis kembali terdengar di seluruh ruangan. Mbok de Asyiah, Lek Puk dan Lek ma adik-adik ibu semua kemudian memeluk ibu. Di sudut ruangan duduk tak bergeming Lek Mukhlas adik lelaki ibu.

Lek Mukhlas beranjak perlahan dari tempat duduknya dan mendekati kemudian memeluk kami satu persatu. Terakhir di dekatinya bapak dan dengan erat di peluknya bapak.

“Kang, Jaga yu Monah dan anak-anak ya kang,” terdengar suara Lek Mukhlas perlahan.

Semua dalam ruangan hanyut dalam kesedihan, bagaimana pun keluarga kami adalah keluarga pertama di kampung ini yang pergi merantau dengan membawa seluruh anggota keluarga.

Di daerah yang terkenal dengan pabrik rokok itulah bapak dan ibu dilahirkan, dibesarkan dan memadu kasih sehingga terlahir kami 7 orang anaknya. Tak terbayangkan betapa sangat sesaknya dada bapak dan ibu saat itu, karena harus meninggalkan semuanya menuju ke sebuah tempat yang harus mengarungi lautan lepas selama 7 hari 7 malam. Yang mungkin akan sangat berbeda dari tempat mereka diami selama ini.

Kebulatan tekad, kepasrahan dan semangat untuk merubah nasib membuat bapak dan ibu tak memikirkan apa yang nantinya akan di hadapi di tanah yang baru. Bagi bapak dan ibu inilah saat yang terbaik untuk memulai segalanya dari awal. Dengan meninggalkan dan menjual apa yang dimiliki demi untuk sebuah harapan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Kesulitan hidup yang dialami oleh keluarga kami di tanah leluhur, kudengar setelah aku mulai mengerti. Kakak ku pernah menceritakan bagaimana kesulitan bapak dan ibu demi mencukupi geliat perut yang keroncongan pada ke tujuh anak-anaknya. Jika akan makan, beras ditanak menjadi bubur dan dibagikan pada kami. Kadang bapak dan ibu rela tak makan nasi tetapi makan tiwul yaitu makanan yang terbuat dari gaplek atau ubi kayu yang dikeringkan. Nasi aking yaitu makanan yang berasal nasi sisa yang telah dikeringkan dan ditanak kembali pun sering menyusup masuk ke dalam perut lapar kami.

Kesulitan yang dialami kami membuat beberapa saudara dan tetangga menaruh iba. Apalagi saat bapak akan membawa kami jauh dari mereka, dengan beban tujuh orang anak yang masih kecil-kecil. Beberapa tetangga dengan ikhlas menawarkan diri untuk mengasuh kakak-kakakku tetapi bapak dan ibu tak bergeming sedikit pun, mereka tetap bersikukuh untuk tetap membawa kami dan tak mau berpisah dengan kami anak-anaknya. Bagi mereka berdua kami adalah kekuatan untuk menghadapi apa yang akan menghadang di tanah seberang.

Perlahan kapal bergerak meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, aku masih digendong bapak yang melihat dengan samar dan nanar tanah kelahirannya. Aku tak tahu apa yang ada dalam benak Bapak, yang pasti di wajah lembut bapak tergambar tekad yang bulat untuk merubah semuanya menjadi lebih baik.

Ibu mendatangi kami dan berdiri di samping Bapak, terurai beberapa bulir air dari matanya. Bapak memegang tangan ibu dengan erat seakan berkata, “istriku, tegarlah….kita akan arungi kehidupan ini bersama. Bersamamu aku merasa kuat”. Bapak dan ibu saling bertatapan.

beginning

Mega merah terbentang di ujung horizon, seakan ingin dibelah oleh laju kapal yang kami tumpangi. Sekuat hempasan ombak menerpa kapal kami, sekuat itulah nantinya hempasan kehidupan yang akan dilalui kami. Laksana kapal yang melaju, begitu pun tekad kami melaju menahan segala hempasan kehidupan demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Manado, kota yang masih asing di pertengahan tahun 1977, akan kami tuju dan berharap menerima kami sekeluarga untuk merubah nasib. Dan bermulalah sebuah sirkuit kehidupan, yaitu sirkuit hidupku yang berliku penuh dengan peluh perjuangan.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.