Valentine Cake

Teguh Afandi

 

Aku sedang membuat chocolate chiffon cake untuk Nikia. Dia special. Gadis manis yang selalu mengalungkan scarf tenun Badui di pokok leher jenjangnya. Sengaja kubuat sendiri cake ini untuk hadiah valentine. Sudah dua tahun kami memadu sayang. Nikia terlalu special untuk dilewatkan tanpa hadiah valentine. Hadiah kecil setelah sebuah gelang dan giwang tahun lalu.

Tunggu kejutanku, honey!” aku menelepon dua jam sebelum kubertandang, ketika adonan chiffon sudah masuk pemanggangan.

“I can’t wait more.” Nikia menjawab manja lewat telepon.

“Patient makes it more special,” aku mencoba membuatnya penasaran. “Harganya tak seberapa, tetapi isinya pasti istimewa.”

“Selalu.”

Aku menutup telepon sambil mengecup dari jauh.

Nikia membalas.

 

Sesekali aku menengok cake dari kaca transparan pemanggangan. Sudah kubayangkan cake yang lembut, cokelat yang menempel di lidah, dan rasa sayang yang tersimpan di setiap gram adonan. Apalagi semua bahan kubeli dengan kualitas utama. Oven kupasang pada 180 derajat dan kusetel timer selama 20 menit. Terlalu lama bisa menghitam gosong, kurang lama bantat tak mengembang.

 

Dalam benak aku sudah membayangkan wajah bungah Nikia. Merasa sangat istimewa di hatiku. Apalagi rencananya akan ada butter cream dan dark chocolate untuk mengukir kalimat “Happy Valentine, Nikia!”Chiffon cake lembut untuk seorang kekasih. Senyum manis pasti terkulum.

Apartemen sepi. Teman menyewaku, Kim sudah pergi berkencan. Aku senang. Kalau dia ada tentu cake akan habis dicicipinya. Dia memang pengganggu. Sebenarnya Kim memiliki andil besar dalam hubunganku dengan Nikia. Tanpanya aku tidak mengerti bagaimana resep membuat chiffon cake. Dari bakery Mama Kim, aku diajari meracik bahan chiffon. Kim kamu memang tidak kuizinkan mencicip chiffon cake spesial ini.

Alarm oven menyala. Kutengok,chiffon sudah cokelat kehitaman matang. Sarung tangan kubebat di tangan. Kuambil. Aroma harum menguar. Kelezatan terlihat dari warna penuh selera. Kudinginkan. Agar butter cream tak meleleh saat kuoleskan.

Chiffon cake sudah siap dengan rangkaian kalimat. Giliranku merapikan badan.

Voila. Spesial untuk Nikia.” Aku tersenyum bangga.

Aku mengambil kemeja dan celana. Kusemprotkan parfum daun kesukaan Nikia.

Bel pintu berbunyi. Kuselesaikan berpakaian dahulu. Tanpa sepatu kuberjalan ke pintu depan.

 

“Kamu? Mengapa ke sini?” kusunggingkan senyuman. Dia membalas dengan gincu marun.

“Kim mengabarkan kamu membuat chiffon cake untuk valentine’s cake?”

“Benar.”

 

“Aku ingin mencicipnya,” dia meraih tanganku dan menuntunku ke dapur.

chiffon cake

Sebelum dia sampai di meja makan. Sebelum dia membuka bungkusan chiffon cake, harus kubelokkan Leacy ke ruang televisi. Aku ingin mengganti nama yang terukir di atas chiffon cake. Kuganti dengan Leacy, kekasihku. Bukan Nikia, semacam selinganku. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.