Aborsi – Freedom, Choice atau Terkait Moral?

Dewi Aichi – Brazil

 

Aborsi merupakan masalah yang sangat sensitif bagi banyak kalangan terutama yang kontra. Berkaitan dengan artikel Itsmi, http://baltyra.com/2014/08/27/down-syndrome-jangan-dilahirkan/ ada terselip alasan kuat kenapa seseorang memilih aborsi daripada melahirkan anak syndrom down. Selain itu, masih banyak kenapa wanita melakukan aborsi. Itu hak sepenuhnya kepada pemilik rahim.

Di Jepang, aborsi dilegalkan. Tak ada perdebatan soal itu, apalagi dikait-kaitkan dengan agama atau moral. Tidak ada sama sekali. Dan sekarang soal legalisasi aborsi yang sudah ada sejak 1948, menjadi sangat mengkhawatirkan pemerintah Jepang, akibat rendahnya populasi. Meski demikian, hingga saat ini, aborsi masih dilegalkan di Jepang. Padahal dulu alasan dilegalkannya aborsi di Jepang adalah perbaikan mutu, alasan ekonomi, kesehatan,pemerkosaan,kusta dan resiko yang ditanggung wanita hamil.

abortionwordle

Kalau di Brasil, aborsi harus melalui pemeriksaan medis, jika ada alasan kesehatan, baik itu si janin atau si ibu hamil, dokter bisa melakukan aborsi. Tetapi aborsi ilegal jika ketahuan akan dikenakan hukuman pidana. Lain halnya dengan kehamilan akibat diperkosa. Aborsi dilegalkan dan malah biaya ditanggung pemerintah.

Presiden SBY juga baru saja menandatangani pengesahannya PP pelegalan aborsi akibat perkosaan, menurut saya ini adalah sebuah kemajuan. Meski di dalam PP masih dibatasi jika usia kehamilan belum melewati 40 hari. Tentu ini mengagetkan banyak pihak terutama yang tidak setuju dengan aborsi. orang hanya membaca aborsi berarti membunuh. Tetapi orang tidak memikirkan apa yang di alami dan dirasakan oleh si pemilik rahim.

http://news.detik.com/comment/2014/08/08/134807/2656807/10/sby-teken-pp-tentang-pelegalan-aborsi-bagi-korban-pemerkosaan?nd771106com

Orang biasanya hanya langsung menghujat si pelaku aborsi tanpa mau memahami masalahnya. Membaca kabar di atas, apa yang langsung di telan oleh pembaca? “Aborsi dilegalkan di Indonesia?” “Kenapa bukan pemerkosanya yang dihukum?” “Bayinya tidak bersalah kok dibunuh!” dan masih banyak lagi komentar yang hanya membaca kulitnya saja tanpa mau memahami lebih dalam.

Termasuk ketua IDI malah keberatan dengan PP yang baru saja disahkan oleh presiden SBY. Padahal sudah jelas, di dalam PP di jelaskan “seorang wanita diperbolehkan melakukan aborsi jika ada indikasi kedaruratan medis dalam kehamilannya atau hamil akibat peristiwa pemerkosaan”

http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/14/08/11/na4nra-idi-keberatan-aborsi-dilegalkan 

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi mengenai aborsi di grup SMK. Menarik sekali, dari diskusi ini saya mendapatkan banyak wawasan dan cara pandang soal aborsi. Dalam materi yang didiskusikan adalah mengenai pihak si wanita yang hamil akibat diperkosa. Pada umumnya, dalam kasus perkosaan, yang disalahkan sudah pasti si pemerkosa, dan janin yang didalam kandungan tidak salah sama sekali, sehingga bisa ditarik kesimpulan jika si wanita hamil itu melakukan aborsi, artinya si wanita telah merampas hak hidup si janin.

Sebagaimana disampaikan oleh Inang Butet,di AS khususnya di Austin bahwa seseorang diperkosa merupakan sesuatu yang di luar kontrol si empunya badan, maka secara hukum ia diberikan kebebasan untuk memilih, apakah mau aborsi atau mempertahankan kehamilannya. Badan dia dianggap sebagai propertinya, sehingga dia bebas melakukan apapun yang dia anggap paling baik untuk badan dia.

Saya sangat setuju dengan kebijakan yang telah disahkan oleh presiden SBY mengenai PP yang berkaitan dengan aborsi ini. Artinya hak-hak wanita atas rahimnya sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Rahim itu kan 100% adalah hak pemiliknya. Jadi apapun yang terjadi, si pemilik rahim berhak sepenuhnya memilih. Termasuk soal aborsi ini, ya biarkan saja jika si pemilik rahim tidak menghendaki si janin terlahir di dunia.

Kadang-kadang wanita menanggung beban perasaan yang amat berat hanya karena menuruti apa kata lingkungannya, entah itu orang tuanya sendiri, saudaranya, suaminya, pacarnya atau para tetangga. Bukankah yang merasakan adalah si pemilik rahim. Cobalah untuk memahami saja kenapa si wanita memilih aborsi. Mengenai dosa, siapapun tidak berhak memutuskan, biarlah itu urusan pelaku dengan Tuhannya.

Coba kita simak pendapat Ana Kiwitter, “Kalau si ibu menginginkan aborsi, artinya dia tidak siap untuk mencintai si anak, kita mau berargumen bahwa kita tidak berhak menghapus hak si anak untuk hidup,pertanyaannya: jika si anak memiliki seorang ibu yang tidak siap untuk mencintai dirinya hingga sampai ada hasrat untuk membuangnya sebelum lahir, how could we be so sure that this “child” would be happy, dan masih tetap ingin dilahirkan dengan kondisi punya ibu yang tidak bisa mencintainya, tidak mengharapkannya, dan bahkan berpotensi membencinya karena mengingatkan si ibu kepada trauma buruk dan mengingatkan pada wajah pria yang sudah menghancurkan masa depan dan cita-citanya (untuk yang kasus perkosaan misalnya)? If i were that child the answer is no, i would prefer not to be born if i have to suffer in a family without love, if only i could choose”.

NOTE: kemungkinan bahwa si ibu akan menyesal telah memilih aborsi, dengaan kemungkinan bahwa si ibu akan membenci bayinya sendiri yang kehadirannya tidak diharapkan adalah sama besar lho. Dan saya cenderung ada pada posisi, mencegah itu lebih baik daripada menyelesaikan masalah setelah menjadi parah.

 

Masih mengutip pendapat Ana Kiwitter:

“Perlu diingat, bahwa jika seorang wanita punya jiwa keibuan yang cukup kuat dan sanggup melewati traumanya, toh sudah pasti dia ngga akan memilih aborsi, don’t you think so?

If she chooses to do abortion, it means she doesn’t want that baby, she can’t love it. Anak tidak cuma butuh dikasih makan dan disekolahkan, yang paling utama dibutuhkan mereka adalah “cinta”, dan jika itu saja tidak ada, alangkah kasihannya kalau harus dipaksakan hidup oleh orang lain.

So, to me it is absolutely ok if a woman is given a right to decide, whether she keeps that baby or not, karena dialah yang harus menanggungnya nanti. Orang lain seharusnya tidak punya hak untuk memutuskan bagaimana seseorang ingin menjalani hidupnya, karena mereka tidak ikut susah dan merasakan penderitaan itu, cuma bisa “nyawang” = menonton saja.

From medical point of view: jika seseorang sudah determined, yakin tidak mau membesarkan anak yang tidak dia inginkan kehadirannya, akan tetapi orang lain (in this case would be the state) memaksakan kehendak dan tidak mengijinkannya melakukan itu dengan cara legal di RS yang punya sarana pertolongan yang lebih memadai, maka wanita ini jangan kita kira trus bakal nyerah ya… kemungkinan besar mereka ini malah akan mencari jalan aborsi ilegal yang justru jauh lebih berbahaya baginya.

So, apakah ini menolong mencegah angka aborsi? Not at all: FACT: “Banyak kasus bayi dibuang ditempat sampah, bayi dibunuh, kasus kematian aborsi ilegal yang cukup tinggi karena melakukannya di klinik ilegal.”

Aborsi selalu berisiko, itu jelas, no question about it… tapi resiko melakukannya di klinik ilegal jelas jauh lebih besar daripada di klinik legal yang harus selalu mengikuti standar medis yang seharusnya.

Plus: Sama sekali tidak ada korelasi yang signifikan yang menunjukkan bahwa dilarangnya aborsi legal lantas bisa mencegah kasus aborsi secara prinsip.”

 

Saya berharap ketua IDI membaca pendapat Ana Kiwitter. Sebab akan berakibat fatal jika terjadi penolakan dari yang seharusnya memberikan pertolongan dari medis.

Sudah wajar apabila hal ini menuai pro dan kontra. Pihak yang menolak PP reproduksi juga mempunyai alasan yang kuat terkait KUHP maupun kode etik kedokteran. PP ini juga dinilai  tidak melihat kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat, etika dan kesusilaan.

abortion-wordle

Sedangkan menurut saya PP ini sebenarnya ingin memberikan “early warning” kita semua tau bahwa kebebasan seks itu sudah bukan rahasia lagi, aborsi ilegal juga sangat banyak, kehamilan yang tidak dikehendaki sangat banyak, nilai-nilai ketimuran yang menjunjung tinggi virginitas juga sudah tidak dipegang lagi oleh kalangan remaja.

Akhirnya saya kembalikan ke si pemilik rahim, aborsi atau tidak adalah hak sepenuhnya si pemilik rahim, orang lain tidak bisa ikut campur. Entah itu orang tuanya, suaminya, pacarnya, saudaranya, tetangganya, pemerintah, bahkan pemuka agama.

komentar01 komentar02 komentar03

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *