Nashar, dan Tentang Sebuah Pilihan

Desi Sommalia Gustina

 

Ini adalah tentang keteguhan hati terhadap sebuah pilihan. Juga tentang kesungguhan seseorang dalam memilih jalan hidup. Meskipun setiap orang berhak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing, melakoni profesi apa saja sesuai keinginannya, tetapi tak banyak orang yang benar-benar total terhadap pilihan hidupnya. Misalnya ada banyak orang yang memilih jalan hidupnya sebagai abdi negara tetapi di saat yang bersamaan ia justru menyalahgunakan wewenangnya, atau seorang tenaga pendidik yang menjalankan profesinya karena tidak adanya pilihan pekerjaan lain, seorang pewarta yang tidak mau menggali kebenaran akan sebuah data, dan seterusnya, yang muaranya menunjukkan tidak adanya kesungguhan.

making-choices

Sebuah pilihan yang dijalankan tanpa kesungguhan tentu akan berbeda hasilnya dengan sebuah pilihan yang dijalankan dengan penuh dedikasi. Sejatinya semua orang tahu bahwa kesungguhan akan menghasilkan buah yang baik, yang tidak akan didapat bila dikerjakan dengan serampangan. Tidak terkecuali dalam hal berkesenian. Dalam seni lukis misalnya, lukisan yang baik akan lahir dari tangan seorang pelukis yang bersungguh-sungguh dan tekun.

Adalah Nashar, pelukis kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, tahun 1928, merupakan nama yang cukup penting dan patut dicatat dalam sejarah seni lukis di tanah air. Ia telah mulai melukis sejak tahun 1944 dan tidak pernah lelah “menyajikan”(begitu ia mengistilahkan) apa yang ditemukannya dalam proses pengembaraan spiritual-kreatif ke dalam bidang kanvas meskipun kemiskinan dan getirnya kehidupan melingkari hari-harinya.

Nashar mencintai seni lukis seperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi. Ia secara tuntas mempersembahkan hidupnya pada seni lukis dan selalu melakukan pencarian-pencarian, perenungan, dan pengamatan untuk menciptakan karya terbaik. Sehingga, tidaklah mengherankan jika kemudian Nashar menjadi inspirasi bagi seniman, dan semua kalangan yang menghargai apa artinya sebuah pilihan. Aku ingin jadi pelukis. Mudah-mudahan, jika Tuhan memanjangkan umur kita berdua, aku bisa membuktikan bahwa aku bisa jadi pelukis yang baik dikemudian hari (Nashar, 2002:86). Begitu tulis Nashar dalam suratnya pada sang Ayah. Nashar kemudian membuktikan kesungguhannya memilih jalan hidup sebagai seorang pelukis, meskipun ia sadar menjadi seorang pelukis oleh penilaian masyarakat di waktu itu dianggap pekerjaaan yang sia-sia, tidak punya arti apa-apa untuk kehidupan, terutama anggapan Ayahnya.

Dalam sebuah memoar yang ditulisnya, ada satu periode dalam hidup Nashar di mana ia hanya ingin melukis saja, tak peduli apapun yang sedang menimpanya. Bisa dikata, ini merupakan semacam komitment, seperti ‘komitment’ matahari yang terbit di pagi hari dan tenggelam kala siang berganti malam. Karena sudah menjadi semacam komitment, jika sudah datang saatnya periode keinginan melukis yang meluap-luap, maka segala penghalang, seperti tidak ada uang atau pikiran sedang kacau, semuanya akan ia tempuh meski dengan sangat berat. Namun, betapapun penghalang-penghalang selalu ada saja, ia tetap melukis. Hingga semua penghalang bukan merupakan halangan lagi baginya. Hal ini bermakna, tak ada pilihan dalam hidup yang hanya menyuguhkan kemudahan. Oleh sebab itulah butuh ketangguhan untuk menaklukkan kesukaran yang datang silih berganti dalam sebuah pilihan.

Melihat hiruk pikuk modernitas seperti hari ini, pilihan apapun yang diambil seseorang untuk dijadikan jalan hidupnya kemudian, sesungguhnya membutuhkan mental sekuat baja untuk bisa terus bertahan. Hal ini penting agar seseorang tidak mudah goyah meskipun dihadapkan pada setumpuk kesukaran. Karena berapa banyak manusia yang rusak mentalnya karena ia harus hidup dengan cara menjilat atau menempel seperti parasit kepada orang-orang yang lebih kuat.

Kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta adalah sebuah kehidupan yang membiarkan seseorang hidup dan mati terlantar sendirian. Manusia hidup dengan kesibukan yang luar biasa, tapi saling membiarkan satu sama lain. Sesungguhnya merupakan suatu tempat yang bisa dijadikan sarana untuk melatih mental agar seseorang memiliki pribadi yang kokoh, tapi juga merupakan tempat hancur luluhnya mental manusia bagi mereka yang tidak kokoh penopangnya. Hal itu dikarenakan dalam hidup ini ada tingkat kadar kesanggupan tertentu seseorang, yang kemudian menentukan apakah ia mampu bersatu atau tidak dengan alam dan kehidupan.

Pada tingkat tertentu jiwa seseorang belum membaja, dimana masih ada kemungkinan untuk mundur dan gugur terhadap pilihan yang telah ia ambil. Pada tingkat dan kadar tertentu pula, jiwa seseorang telah membaja dan tidak gampang hancur meskipun segala kesulitan hidup menghampar di depan mata. Nashar adalah satu dari sekian banyak manusia yang pernah menempa mentalnya di kota besar seperti Jakarta dan melawan menjadi parasif. Sehingga, meski pilihan menjadi pelukis tidak membebaskannya dari deraan kemiskinan, Nashar tetap sungguh-sungguh dan tekun terhadap jalan yang ia pilih.

Ketekunan Nashar tidak saja ditunjukkan dengan melukis secara kontinu, tetapi juga ketika melihat dan mengamati sebuah lukisan. Bagi Nashar, untuk memahami sebuah lukisan harus dengan melihatnya berkali-kali. Tidak cukup hanya dengan satukali lihat. Apa artinya? Ini juga soal kesungguhan, utamanya kesungguhan dalam hal membaca dan memaknai sebuah lukisan. Sebab, menurut pandangannya, lukisan yang hanya dilihat dengan satu kali pandangan mata, jika dibandingkan dengan melihatnya secara berulang-ulang—meskipun pada sebuah lukisan yang sama, maka akan terjadi perbedaan penilaian. Hal ini dikarenakan semakin sering seseorang melihat sebuah lukisan maka seseorang itu akan semakin bersatu dengan lukisan yang ia lihat. Seseorang akan melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ia lihat, sebaliknya, jika seseorang telah terpesona untuk pertama kali melihat sebuah lukisan, maka kemungkinan penilaian lain menjadi tertutup. Karena bisa jadi, keadaan terpesona ketika hanya satu kali melihat sebuah lukisan adalah suatu keadaan dimana seseorang berada di bawah pengaruh lukisan tersebut (Nashar, 2002:162).

Keteguhan Nashar terhadap pilihan hidupnya menjadi seorang pelukis kemudian melahirkan sikap hormat dan kagum banyak orang. Dalam hal dedikasi, komitmen, dan kesungguhannya pada seni, Nashar memang dapat disebut bersama Affandi, rekannya, dan Chairil Anwar sang legenda di dunia satra Indonesia. Memang,  pilihan apa saja dalam hidup membutuhkan sebuah kebulatan hati, total, “keras kepala”, dan penuh daya hidup tatkala menjalankan pilihan yang sudah diambil.

 

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Andalas, Padang.


Dipublikasikan di harian Padang Ekspres, 9 Maret 2014

 

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.