September

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SELAMAT datang September. “September Ceria” lantun penyanyi yang lama tinggal di Jerman, Vina Panduwinata. Awal September 75 tahun silam, 1 September 1939, Hitler menyerbu Polandia, negeri tetangganya. Satu juta tentara Jerman membanjiri Polandia, pastinya memenjarakan warga sipil yang nakal dan membunuhnya. Seorang gadis meratapi saudaranya yang dibunuh tentara Jerman jadi visual terkenal menggambarkan kekejaman tentara Jerman (LIHAT FOTO).

september

Polandia hilang dari peta dunia. Nama-nama kota diganti berbau Jerman. Kota Gdansk (kota pelabuhan yang banyak membuat kapal untuk Indonesia dan kota perjuangan Lech Walesa), digantinya menjadi nama Jerman, Danzig. Puluhan juta warga sipil Eropa tewas sia-sia karena ulah seorang monster yang gila dengan keyakinannya dan “agama ideologinya”.

Sering saya baca tulisan di media sosial dari teman-teman yang gemar mencetuskan revolusi, perang dan jihad atas dasar ideologi dan perintah agama. Mereka mengira kalau revolusi atau jihad atau perang, sama seperti pesta minum anggur. Prettt.. Langka BBM saja, apalagi tarif listrik naik, sudah menjerit-jerit cengeng. Bagaimana mau revolusi atau jihad? Sementara mereka berevolusi, berperang atau berjihad, pemimpin mereka enak-enakan santai minum anggur. Bahkan Tuhan ongkang-ongkang kaki di langit menyaksikan kita saling membunuh atas perintahNya.

Jelang menyerbu Polandia, Hitler serius memikirkan strateginya. Makan secukupnya dangan dengan roti mentega dan diet vegetarian serta minum bir beralkohol 1% dan tidur jelang matahari terbit, demi ide gilanya.

“Saya tak akan melepas seragam ini sampai kita meraih kemenangan!”, teriak Hitler di depan parlemen Reichstag, beberapa saat setelah Jerman menyerbu Polandia yang mengawali Perang Dunia Kedua. Baju Hitler didisain khusus oleh Hugo Boss jelang 1 September 1939. Necis. Lengkap dengan bintang kancing-kancing berkilau dan lambang swastika.

Lima tahun kemudian, May 1945, ketika jutaan orang mati karena ulahnya, Hitler bunuh diri di bunkernya di Berlin, dengan tetap masih memakai seragamnya. Tak ada kemenangan. Lha wong seragamnya masih dipakai!

Orang gila agama, gila keyakinan dan gila ideologi tidak pernah akan menang!

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *