The Price of Sugar: Whitemanity and Humanity

Alfred Tuname

 

Film sebagai sebuah karya seni setiap adegannya tidak pernah kosong, setiapnya selalu bermakna. Demikian tulis sutradara Ang Lee dalam mengapresiasi sebuah film. Demikianlah setiap film selalu memunculkan interpretasi-interpretasi yang menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. “Menterjemahkan” film pun nyaris pasti bersentuhan dengan nilai-nilai tertentu.

The Price of Sugar (2013) merupakan karya sinematografi yang disutradari oleh Jean van de Valde. Film ini digarap berdasarkan sejarah kolonial Suriname. Atas sejarah itu, sutradara secara elok menceritakan kolonialisme dalam wajah yang sangat humanis.

 

ThePriceofSugar2013

Sinopsis

Film The Price of Sugar (2013) bercerita tentang perbudakan Belanda di Suriname pada abad 18. Fokus cerita ditertuju gelombang relasi antara seorang putri bangsawan, Sarith (Gaite Jansen) seorang dan seorang budak kulit hitam bernama Mini-Mini (Yootha Wong-Loi-Sing). sebagai seorang keturunan bangsawan, Sarith bisa mendapatkan apa saja dia inginkan dengan bantuan budak pribadinya, Mini-Mini. Celakanya, cinta selalu tidak berpihak pada Sarith. Kegagalan mendapatkan cinta dari kekasihnya, Sarith melirik suami Elza (Anna Raadsveld), saudarinya sendiri, bernama Nathan (Benja Bruijning). Pertikaian Elza dan Sarith menyeruak ketika perselingkungan antara Nathan dan Sarith diketahui. Sarith keluar kota dan menikah dengan seoarang pemilik perkebunan. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki (anak biologis selingkuhan Sarith). Cinta suaminya, tidak membuat Sarith tulus mencintai suaminya. Ia tetap berhubungan dengan selingkuhan. Sebuah serangan kelompok pemberontak, membuat sejarah berpihak pada Mini-Mini, budak Sarith. Mini-Mini menjadi istri sah suami Sarith. Meksi di ujung kebahagiaanya, ia harus berjuang untuk mendapatkan Mini-Mini yang diculik dan dijual sebagai budak.

 

Whitemanity and Humanity

Film selalu mendebarkan untuk dibahas. Debaran itu pecah dalam percikan-percikan persepsi dan interpretasi atas karya sinematografi tersebut. Setiapnya menyisahkan perbedaan cara pandang. Hal itu tentu karena film itu sendiri tidak “melayani” apa yang kita hasrati, melainkan justru film itu sendiri yang menceritakan kepada spektator bagaimana berhasrat (how to desire). Oleh karena itu, fantasi berperan penting dalam membaca “kedalaman” narasi film. Fantasi itu sendiri merupakan bagian integral dari narasi film.

Dengan demikian, dalam membaca film spektator tidak saja menangkap apa Jacques Lacan sebut sebagai “Che Vuoi?” (what do you want?), tetapi sekaligus membongkar perkakas ideologis yang terselip di balik adegan. Tentu karena setiap adegan tidak pernah bebas nilai. Di sini, penulis mencoba memasuki ruang interpretasi ideologis yang terdapat dalam film The Price of Sugar.

Film The Price of Sugar adalah film yang bertemakan perjuangan ideologis yang termanifestasi pada setiap lakon. Para penjajah adalah mereka yang memiliki lahan perkebunan tebu. Mereka adalah bangsa kulit putih (Whiteman); mereka yang berasal dari bangsa barat. Kepemilikan lahan perkebunan di wilayah kolonial merupakan wujud kapitalisme riil melalui cara kerja imperialisme. Artinya, imperialisme merupakan jalan masuk kapitalisme. Kapitalisme sebagai ideologi berjalan baik melaui para aparatus negara (ideological state apparatus). Di situ, diskriminasi, penindasan dan kekerasan menjadi bahasa-bahasa teror yang meredam gerak perjuangan pembebasan penduduk terjajah (para petani tebu dan pelayan). Inilah yang disebut sebagai whitemanity.

Celakanya, setiap agresi whitemanity selalu menimbulkan resistensi. Cara kerja ideological state apparatus selalu tidak terintenalisasi dengan baik. Selalu terdapat ideological interpellation. Artinya, dalam setiap proses internalisasi selalu terselip sisa atau rintangan yakni subyek yang tidak tercelup dalam perintah ideologi. Dari sinilah, pemberontakan ideologis itu muncul. Dalam konteks film The Price of Sugar, terbaca gerak perjuangan humanisme yang begitu kuat untuk melawan whitemanity.

Perjuangan gerilya para pemberontak sedikit banyak cukup berpengaruh pada konstelasi politik saat itu. Tetapi dalam konteks film ini, perjuangan ini belum cukup. Pesis gerak juang humanisme terjadi ketika Mini-Mini menulis kembali sejarah hidup suku bangsanya. Ia menulis tentang ibunya, dirinya dan suku bangsanya. Menulis membuatnya bebas. Ia mengingat dan mengurai setiap luka dan darah akibat imperialisme. Di situ, ia menerima sekaligus melempaskan untuk kehidupan berbangsa. Dalam bahasa Hegel dalam Phenomenology menulis “tarrying with the negative” is the magic power that converts it into being.

Lantas, derita menjadi tertangguhkan apabila menjadi cerita, kata Hannah Arendt. Derita Mini-Mini, bangsa terjajah, ditangguhkannnya dalam setiap kata yang ditulisnya dalam darah dan air mata. Inilah perjuangan humanisme sesungguhnya. Seperti Milan Kundera, humanisme adalah perjuangan lupa. Mini-Mini menulis untuk melawan lupa, untuk melawan sejarah ketidakadilan yang diderita bangsanya. Mini-Mini telah berjuang dengan jemari kaku dan kecil. Sikap ini sangat penting untuk menang secara etis, melawan corak kekerasan dan ketidakadilan whitemanity.

 

Djogja, 2014

Alfred Tuname

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.