[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Ujung Langit, Penjuru Laut

Liana Safitri

 

TENTU saja Tian Ya masih ingat foto itu. Foto dirinya bersama Fei Yang di depan butik. Bahu Tian Ya turun seperti orang kalah. “Dulu aku memang sempat berpacaran dengan Fei Yang.”

Kemarahan yang disimpan Lydia selama beberapa hari muntah keluar, “Berarti dugaanku benar!”

“Sudah kukatakan itu dulu!” potong Tian Ya.

“Kalau dulu, kenapa kau harus menyembunyikannya dariku? Kalau dulu, kenapa kau menggunakan alasan bekerja hanya untuk pergi bersamanya?”

“Karena…” Tian Ya kesulitan menjawab. “Aku dan Fei Yang baru sekali itu pergi ke kafe Xing Wang tanpamu, haruskah dipermasalahkan? Xing Wang juga tahu kalau kami hanya mengobrol!”

“Kau pulang pagi setiap hari!”

“Tapi di hari-hari sebelum itu aku sungguh ada di kantor!” suara Tian Ya meninggi lagi.

Lydia tidak tahu apakah yang dikatakan Tian Ya itu benar. Kalau Tian Ya memang baru sekali itu pergi bersama Fei Yang, lalu saat minum sampai mabuk dia bersama siapa? Juga ketika Lydia menelepon Tian Ya, kenapa yang terdengar suara perempuan? “Aku tidak percaya!” katanya ringan.

“Apa kau mau kita ke rumah Fei Yang sekarang untuk membuktikannya?”

“Sudah malam… Aku ingin istirahat, kita bicarakan besok saja…”

Tian Ya menyiapkan sarapan sambil sesekali melihat ke pintu kamar Lydia yang masih tertutup. Dia sengaja bangun pagi-pagi dan memaksakan diri mandi meskipun rasa dingin menusuk sampai ke tulang. Kemarin malam Tian Ya juga memaksa meminta libur, tidak peduli jika hari ini sebenarnya sudah ada janji bertemu dengan pengusaha dari Taichung. Papa pasti sedang marah-marah di rumah, menyalahkan mama karena membiarkan Tian Ya jadi susah diatur. Tapi jujur saja, Tian Ya merasa lebih mudah menghadapi omelan Tuan Li daripada bersitegang dengan orang yang tinggal satu atap bersamanya. Lydia masih belum keluar dari kamar! Apa dia sengaja karena tidak mau melihat Tian Ya?

“Lydia! Apa kau sudah bangun?” Tian Ya mengetuk pintu kamarnya.

Sepuluh menit kemudian Lydia muncul, ia melihat Tian Ya tanpa menyapa atau mengucapkan selamat pagi.

“Apakah kau akan berangkat ke butik?”

“Ya.”

“Tidak bisakah kau libur hari ini? Aku sudak meminta izin pada Papa.” tanya Tian Ya dengan nada tidak senang.

“Ada banyak pelanggan yang akan mengambil baju pesanan mereka hari ini. Kau kan bisa pergi bersama Xing Wang!” Lydia berjalan menuju pintu melewati Tian Ya seolah pemuda itu tidak ada.

“Hei! Bukankah setidaknya kau harus makan sesuatu?”

“Aku bisa beli di luar!”

Setelah Lydia pergi, Tian Ya berkata kesal, “Mau balas dendam rupanya!”

Tian Ya melewatkan hari yang sangat menyebalkan. Menonton televisi, tidur, makan siang, baca koran… Akhirnya Tian Ya menyewa sepeda dan pergi menemui Xing Wang di rumahnya karena kafe baru buka sore hari.

“Hei, Tian Ya! Angin apa yang membawamu kemari?”

Rumah Xing Wang tak seberapa besar, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rumah yang ditinggali orangtua Tian Ya, tapi Tian Ya sangat akrab dengan tempat ini. “Kau tidak bekerja?” Xing Wang duduk di depan meja komputer sambil melihat-lihat tumpukan kertas yang berisi artikel tentang kopi.

“Libur.”

“Seharusnya kau manfaatkan kesempatan ini untuk pergi bersama Lydia. Bukankah dia sudah kembali ke apartemen?”

“Tapi dia masih marah…”

Xing Wang tertawa. “Kalau begitu buatlah agar dia tidak marah lagi!”

“Caranya?” Tian Ya melemparkan pertanyaan tanpa semangat.

“Kenapa tanya padaku? Kau yang tahu masalahnya!”

“Aku sudah menjelaskan semua pada Lydia. Juga tentang hubunganku dengan Fei Yang, tapi dia tidak percaya. Justru aku yang heran dari mana ia bisa mendapatkan fotoku bersama Fei Yang. Hari ini aku sengaja libur agar bisa menemaninya, tapi dia malah tidak memedulikan aku! Sungguh membosankan!”

“Dan itulah yang dirasakan Lydia setiap kali kau kerja di hari libur!” Xing Wang mengingatkan. “Kau kurang peka!”

“Kurang peka apa lagi? Dia yang tidak mau bicara padaku! Aku tidak tahu maunya apa!”

“Kau harus main tebak-tebakan… Seorang wanita tidak pernah mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya, tapi mereka selalu menuntut orang lain memahaminya sendiri.”

“Huh! Konyol! Memangnya kita paranormal?”

“Mereka memang begitu! Tidak mau sembarangan mengatakan apa yang dipikirkan dan apa yang diinginkan karena selalu memikirkan pendapat orang lain.” Xing Wang bertanya penuh selidik, “Apakah kau pernah berkata pada Lydia kalau kau menyukainya?”

Tian Ya mendadak jadi malu sekali. “Tidak.”

“Nah, berarti tebakanku benar!”

“Kami sudah melewati berbagai masalah, ditentang orangtua, mau dijodohkan paksa, kabur, sampai akhirnya mengungsi ke Taiwan… Bukankah sebuah tindakan jauh lebih penting daripada sekedar kata-kata?”

Xing Wang menatap Tian Ya serius. “Tindakan menunjukkan perasaanmu secara nyata, tapi kalau kau tidak pernah mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, orang akan menganggapmu tidak peduli padanya. Katakanlah kalimat ‘aku mencintaimu’, ‘aku menyayangimu’, ‘aku merindukanmu setiap hari’, sama seperti kalian mengucapkan selamat pagi atau selamat malam. Kalau kau membiasakannya, Lydia juga akan terbiasa. Jika ada perang dingin seperti sekarang, kalimat-kalimat itu pasti akan sangat membantu mencairkan suasana.”

 

Lydia benar-benar menggunakan hari itu untuk kesempatan balas dendam. Sampai jauh malam ia belum pulang, membuat Tian Ya marah-marah sendiri. Ketika Lydia tiba di rumah, Tian Ya malah tidak berani berkata apa-apa. Tapi Tian Ya terus mengawasi gerak-gerik Lydia, dan jika Lydia menatap balik padanya Tian Ya akan pura-pura melihat ke arah lain. Pagi berikutnya Tian Ya masih bertingkah aneh. Tian Ya terus memikirkan pembicaraannya dengan Xing Wang kemarin, Aku mencintaimu, aku sangat sayang padamu, aku merindukanmu setiap hari… Baru membayangkan harus mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini saja sudah membuat lidahnya terasa keriting! Ia masih ingat, bagaimana dulu perlu waktu lama untuk menyadari bahwa dirinya menyukai Lydia. Brenda harus datang ke rumah memaki-maki sambil memberikan setumpuk majalah yang memuat puisi Lydia. Tian Ya lalu menelepon Lydia dan menyanyikan lagu Tong Hua 童话). Untung ada lagu yang cocok!

Aku kan memang tidak bisa mengatakannya, apakah salah? Lagi pula kenapa harus dikatakan? Seperti anak remaja saja! Pokoknya kalau suka, ya suka!

Lydia dan Tian Ya menghabiskan sarapan dalam suasana yang sangat, sangat tidak nyaman. Tian Ya juga melihat pada Lydia berulang kali, membuatnya jengkel merasa diawasi. Tian Ya berangkat lebih dulu seperti biasa. Lydia masih menganggapnya seperti angin. Tian Ya keluar dari gedung dengan lesu. Sungguh tidak enak bertengkar seperti ini. Ia tidak tahan lagi! Tian Ya baru akan melewati dinding setinggi dua meter yang membatasi halaman dengan jalan umum saat tiba-tiba berhenti.

Tian Ya menengadah, “Lydia! Lydia!”

Lydia muncul di loteng salah satu kamar tempat mereka tinggal. “Apa?”

Tian Ya menangkupkan kedua tangannya di mulut membentuk corong dan berteriak keras sekali, “Wo xihuan ni!” (我喜欢你 —Aku menyukaimu!) Setelah mengucapkan kalimat itu ia melarikan diri.

Lydia terpana selama beberapa detik, tapi kemudian tersenyum.

 

Tian Ya menjemput Lydia di butik, bahkan lebih awal sebelum jam pulang. Nyonya Li sampai terheran-heran karena Tian Ya biasanya jarang datang, kalau tidak perlu sekali. “Apakah hari ini ada sesuatu yang spesial?”

“Tidak!” Lydia menyahut sambil merapikan baju pada gantungan.

Tapi Tian Ya yang sedang duduk di sebelah mamanya meralat, “Ya, ada!”

“Memangnya hari ini hari apa?” Lydia bingung karena ia tidak merasa ada yang istimewa pada hari ini.

Tian Ya mengedipkan mata, “Hari pertama aku mengatakan ‘Aku menyukaimu’!”

Lydia mendekati Tian Ya dan menyerangnya dengan bantal duduk tanpa ampun. “Kupukul kau sampai mati! Sejak kapan kau belajar mengucapkan kalimat-kalimat menjijikkan seperti itu!” Tian Ya tertawa terbahak-bahak sambil menghindari pukulan Lydia. Tentu saja Lydia malu sekali karena Tian Ya mengatakannya di hadapan Nyonya Li.

Nyonya Li hanya tersenyum melihat ulah kedua anak muda itu lalu berjalan menjauh. “Kalau begitu pulanglah lebih awal untuk merayakan hari istimewa kalian!”

Lydia menggelengkan kepala dengan wajah merah padam, “Tidak! Tidak ada apa-apa, Ma!”

Tapi Tian Ya segera menarik Lydia keluar sambil berteriak, “Terima kasih, Ma!”

Setelah mereka berada di luar Lydia menghentakkan kaki karena kesal, “Lihat, apa yang kau lakukan! Kau sengaja mau membuatku malu, ya!”

Tian Ya memeluk bahu Lydia sambil terus berjalan, “Mulai sekarang, sepertinya rasa malu harus dibuang jauh-jauh!”

“Kau dan Fei Yang… benar-benar… tidak ada hubungan apa-apa lagi?” Lydia bertanya setelah keduanya sampai di apartemen.

“Ya!”

“Tapi kenapa kau pergi dengannya?”

Tian Ya tidak mau terlalu banyak bicara. Ia menarik tangan Lydia lalu membuka pintu, “Kita pergi ke rumah Fei Yang untuk memperjelas masalah ini!”

Lydia melepaskan tangannya dan menutup pintu kembali. “Tidak usah! Aku tidak mau!”

“Kalau begitu kau percaya padaku atau tidak?” Tian Ya bertanya dengan nada tegas.

Lydia tak segera menjawab, sebenarnya di dalam hati masih sedikit ragu. Tapi akhirnya dia mengangguk, “Ya, aku percaya!”

Mereka berbaikan. Duduk di kursi depan televisi, Lydia menyandarkan kepala di bahu Tian Ya dan menggenggam tangannya, “Aku takut… kalau kau benar-benar terbang dengannya…” (Merujuk pada nama feiyang飞扬 yang berarti “terbang melayang-layang” atau “terbang membumbung”).

Tianya-Haijiao

“Aku sudah terbang bersamamu! Kita di Taiwan sekarang… dan kalau perlu kita akan terbang hingga ke ujung langit penjuru laut!” Tian Ya tersenyum. Lydia menatapnya lekat-lekat. Tianya haijiao! (天涯海角Ujung langit penjuru laut: ujung dunia, suatu istilah yang menggambarkan tempat yang sangat jauh, atau jarak yang saling berjauhan satu dengan yang lain). Selama berhari-hari Lydia dipusingkan dengan feiyang, khawatir jika nama ini akan membawa kekasih hatinya pergi jauh. Tapi mulai sekarang ia harus lebih percaya jika tianya telah ditakdirkan untuk menemaninya mengarungi kehidupan hingga ke ujung dunia.

Tian Ya menundukkan kepala akan mencium Lydia. Ketika wajah keduanya sudah sangat dekat tiba-tiba, “Hatchhiii!” Lydia bersin keras sekali. Tian Ya menjauh sambil marah-marah, “Ah… kau merusak suasana saja!” Lydia bangkit dan berjalan menuju kamarnya tanpa bisa berhenti tertawa.

Sejak saat itu, Lydia dan Tian Ya mengucapkan Wo xihuan ni我喜欢你)setiap hari, berkali-kali. Ketika akan berangkat kerja, siapa yang pergi lebih dulu, dialah yang berkata Wo xihuan ni. Tian Ya sering meneriakkan Wo xihuan ni dari bawah gedung. Lydia yang mengawasi dari atas balkon tempat tinggal mereka melambaikan tangan dan balas berteriak, “Wo ye hen xihuan ni!” (我也很喜欢你! —Aku juga sangat menyukaimu!)

Seorang tetangga pernah melempar Tian Ya dengan alas kaki karena merasa terganggu dengan ulahnya, “Berisik!”

Tian Ya hanya tertawa keras sambil berlari seperti sedang dikejar anjing.

Suatu ketika Tian Ya sudah hampir melompat ke atas bus, tapi ia kembali pulang. Karena tak menjumpai Lydia di rumah, Tian Ya naik taksi ke butik. Nyonya Li sangat terkejut. “Bukankah seharusnya kau berada di kantor?”

“Aku melupakan sesuatu!” Tian Ya masuk ke dalam mencari Lydia dengan keringat menetes dan napas tersengal-sengal.

“Apa?”

“Wo xihuan ni!”

Lydia dan Tian Ya secara kebetulan bertemu di dalam bus pada jam pulang kerja. Ketika turun di halte, tiba-tiba hujan. Padahal mereka harus berjalan kaki lagi selama lima belas menit sebelum sampai ke apartemen. Meski sudah menunggu lama, hujan bukannya reda, justru semakin deras. “Kita hujan-hujan saja!” Tian Ya mengangkat jeket untuk menutupi kepalanya dan kepala Lydia. Menembus hujan yang pekat membuat tubuh mereka basah kuyup. Jaket itu tak ada gunanya. Tian Ya memutar-mutar jaketnya dengan jari telunjuk, melemparnya pada Lydia, dan Lydia melemparkannya lagi kepada Tian Ya. Mereka bermain hujan, saling mencipratkan air, menghindar, tertawa-tawa, serta berlari seperti anak kecil. Keesokan harinya Lydia dan Tian Ya sakit dan tidak masuk kerja. Saat keluar kamar, mereka memandang wajah satu sama lain yang memerah karena demam. Lalu keduanya spontan mengatakan “Wo xihuan ni!” Satu kalimat yang masih bisa membuat Lydia dan Tian Ya merasa bahagia ketika sakit.

Jika Lydia dan Tian Ya pulang lebih cepat, mereka akan menyempatkan waktu untuk pergi jalan-jalan. Ya, benar-benar hanya berjalan kaki menikmati suasana kota Taipei di sore hari, bukan berbelanja. Lalu mereka akan pulang dengan bergandengan tangan, berlari sambil meneriakkan kata-kata yang sama.

“Lydia, wo xihuan ni!”

“Tian Ya, wo xihuan ni!”

Kemudian tertawa lagi.

Orang-orang yang melihat kelakuan Lydia dan Tian Ya akan menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Dasar gila!” Gila? Mereka tidak peduli! Siapa pun yang sedang jatuh cinta bisa berubah jadi gila! Mereka akan terus meneriakkan Wo xihuan ni sampai ke ujung langit dan penjuru laut! Ke ujung dunia!

 

Selesai makan malam Lydia melipat baju sambil mendengarkan RTISI (Radio Taiwan Internasional Siaran Indonesia). Suara penyiar yang lantang namun akrab memenuhi seluruh ruangan.

Tian Ya baru saja selesai mandi. Ia duduk di sebelah Lydia, tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. “Kau masih suka mendengarkannya?” Lydia mengetahui siaran RTISI dari Tian Ya ketika mereka masih SMP, tapi sekarang Tian Ya sendiri jarang mendengarkannya.

“Aku selalu mendengarkannya!” Lydia menyingkirkan baju-baju yang sudah dilipat. “Setelah kau pergi, rasa rindu membuatku mencari jejak-jejak yang kau tinggalkan. Seperti mendengarkan siaran RTISI…” Lydia tersenyum saat mengenangnya. “Aku juga berkirim surat dan email ke sana. Kau tahu, ketika radio Taiwan mengadakan acara temu pendengar di Indonesia dan aku diundang untuk menghadirinya, rasanya senang sekali. Kemudian saat bertemu dengan para penyiar dan mendapat kesempatan berfoto bersama mereka aku mulai bertanya-tanya dalam hati, ‘apakah tempat tinggal mereka dekat dengan tempat tinggalmu’? Pemikiran yang konyol dan berlebihan!”

“Kau belum pernah menceritakan tentang ini.”

“Benarkah?” tanya Lydia heran. “Aku kadang mendapat balasan buletin, kalender, sovenir, atau kartu ucapan selamat ulang tahun. Semuanya tertinggal di Indonesia.” Lydia teringat dengan Franklin yang selalu menerima surat dan paket untuknya ketika ia tidak ada. “Mudah-mudahan kakak menyimpannya dengan baik meski aku tidak tahu apakah bisa pulang. Aku akan menunjukkannya padamu. Salah satu keinginanku jika bisa ke Taiwan adalah mengunjungi kantor RTI yang ada di Bei An Road.” Lydia merasa terkejut sendiri, “Kenapa aku bisa lupa, ya?”

Tian Ya setengah percaya setengah tidak, ia memandang Lydia lama sekali. “Benarkah sampai separah itu? Apakah aku begitu menarik sampai bisa memengaruhimu begitu rupa?”

Lydia memukul punggung Tian Ya dengan kesal. “Dari kalimat yang kau ucapkan sepertinya kesedihanmu tidak sebesar aku!” Lalu kata Lydia sungguh-sungguh, “Karena tidak punya banyak teman, aku sulit akrab dengan orang lain. Mengherankan sekali ketika aku bisa dekat denganmu dan mama papamu. Kalian membuatku merasa nyaman. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku bisa bersikap terbuka dan menjadi diri sendiri di hadapan orang lain. Tentu saja hal ini meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan.”

Pada saat itu penyiar di radio sedang membicarakan tentang masalah buruh migran di Taiwan, terutama tenaga kerja Indonesia. Perasaan Lydia terusik. Ia berkata pada Tian Ya, “Bagaimana dengan Frida, ya?”

“Selama dia masih memegang dokumen-dokumen penting dan menaati peraturan tak ada masalah. Bukankah Frida pernah berkata kalau majikannya sangat baik?”

“Bukan itu maksudku… Semoga ia jangan sampai ditemukan Xiao Long…”

Bel berbunyi. Tian Ya bergegas membukakan pintu sambil berkata asal-asalan, “Tamu di malam hari, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk!” Tian Ya terpana melihat siapa yang berdiri di depan pintu. “Frida! Kami baru saja membicarakanmu…”

Mendengar suara Frida, Lydia ikut keluar. Ia baru menyadari jika Frida pergi dalam keadaan tergesa-gesa. Wajahnya muram dan penuh keringat.

“Apa yang terjadi?”

“Tolong aku! Xiao Long…”

Frida belum selesai bicara, tapi Lydia dan Tian Ya mengerti apa maksudnya.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.