Roller Coaster Adventures with the Kenthirs: Unveiling Switzerland (1)

Sasayu – Jakarta

 

Halo pembaca Baltyra yang terkasih. Bertemu lagi di lapaknya Sasayu yang agak lama ditinggalkan. Maaf kemarin-kemarin absen dulu dari Baltyra karena kesibukan angkut-angkut pindah benua. Kali ini Sasayu ingin berbagi pengalaman seru jalan-jalan selama 10 hari di Negeri Cokelat, Switzerland.

Kira-kira sebulan sebelum meninggalkan Helsinki untuk kembali ke Tanah Air tercinta, Sasayu menengok sepupu kenthir tersayang, si Nonik, yang masih melanjutkan studi di Geneva. Kunjungan kali ini selain temu kangen karena belum tahu kapan ketemu lagi sama si Nonik, sekaligus untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Awal-awalnya banyak mikir sih mau ke Swiss karena pengeluaran lagi banyak dan dengar-dengar semua di Swiss itu muahaalll, apalagi mau pulang ke Indonesia pula. Cuma, Sasayu belum pernah mengunjungi Swiss sebelumnya dan semua orang bilang Switzerland itu negara yang indah sekali. So, let the adventure begins…

Jan 29 – Feb 2: Studious Geneva

Buat Sasayu yang belum pernah mengunjungi Swiss, yang terlintas di benak Sasayu mengenai Jenewa (Geneva) adalah bakal ga ngerti sama sekali deh bahasa Perancis, bahasa yang menurut Sasayu bahasa paling boros sedunia, ngabis-ngabisin tinta, lha banyakan alphabet yang tidak dilafalkan, walaupun tidak diragukan bahasanya terdengar seksi dan romantis.

Keberangkatan dari Helsinki sudah diawali dengan sedikit drama, kunci rumahku ketinggalan di dalam kamar, duh musti manggil tukang kunci, ga mungkin cukup waktunya harus mengejar pesawat. Panik donk, padahal udah nyiapin satu jar besar smoothie untuk diminum selama perjalanan. Ini kedua kalinya Sasayu meninggalkan kunci di dalam kamar selama tinggal di Helsinki (ini udah rekor yang sangat amat bagus, mengingat Sasayu yang super duper ceroboh).

Mendarat di bandara Geneva, agak kecewa sih Sasayu, maksud hati melarikan diri dari dinginnya Helsinki malah disambut dengan hujan salju. Tapi toh hati kembali riang setelah bertemu dengan si Nonik yang dengan terbengong-bengong melihat kopernya Sasayu yang super besar – isinya bumbu dan alat masak.

Rencana awal kami berdua adalah melewatkan beberapa hari untuk menjelajahi Geneva. Sayangnya si Nonik masuk angin gara-gara sehari sebelumnya ada acara Indonesian Night, dimana selain jadi seksi sibuk di dapur, dia pakai dress backless kiwir-kiwir (beauty is pain, literally). Alhasil si Nonik bedrest dua hari sambil menikmati masakan asal cemplung Sasayu. Karena Nonik sayang sama Sasayu, walaupun agak ga enak badan, si Nonik bersikeras mengajak Sasayu muter-muter Geneva, dari melihat headquarter PBB, tempat magangnya, ke alun-alun, taman, kota tua, gedung universitas, dsb. Kesan Sasayu tentang Geneva benar-benar kota untuk belajar karena banyak dipenuhi dengan universitas dan tempat-tempat kos untuk mahasiswa.

Waktu berjalan-jalan sendiri di Old Town, Sasayu berpapasan dengan dua pasangan pengantin dari negeri Tiongkok yang lagi photo shoot untuk wedding mereka. Jujur Sasayu merasa aneh dengan dandanan mereka yang lebay untuk meniru gaya barat.

Waktu berjalan-jalan sendiri di Old Town, Sasayu berpapasan dengan dua pasangan pengantin dari negeri Tiongkok yang lagi photo shoot untuk wedding mereka. Jujur Sasayu merasa aneh dengan dandanan mereka yang lebay untuk meniru gaya barat.

 

Mengunjungi area Headquarter PBB di Place des Nations, di depannya berdiri monumen the Broken Chair setinggi 12 m. Salah satu kaki dari kursi ini memang dibuat patah sebagai simbol perlawanan terhadap ranjau tanah. Jalan-jalan dilanjutkan mengunjungi Jet d’Eau de Genève, air mancur buatan yang menggunakan pompa hidrolik untuk mencapai ketinggia 140 m dengan kecepatan 200 km/h.

Satwa in Geneva

Satwa in Geneva

Mengunjungi area Headquarter PBB di Place des Nations, di depannya berdiri monumen the Broken Chair setinggi 12 m. Salah satu kaki dari kursi ini memang dibuat patah sebagai simbol perlawanan terhadap ranjau tanah. Jalan-jalan dilanjutkan mengunjungi Jet d’Eau de Genève, air mancur buatan yang menggunakan pompa hidrolik untuk mencapai ketinggian 140 m dengan kecepatan 200 km/h.

Mengunjungi area Headquarter PBB di Place des Nations, di depannya berdiri monumen the Broken Chair setinggi 12 m. Salah satu kaki dari kursi ini memang dibuat patah sebagai simbol perlawanan terhadap ranjau tanah. Jalan-jalan dilanjutkan mengunjungi Jet d’Eau de Genève, air mancur buatan yang menggunakan pompa hidrolik untuk mencapai ketinggian 140 m dengan kecepatan 200 km/h.

Monumen the Broken Chair setinggi 12 m. Salah satu kaki dari kursi ini memang dibuat patah sebagai simbol perlawanan terhadap ranjau tanah. Jalan-jalan dilanjutkan mengunjungi Jet d’Eau de Genève, air mancur buatan.

 

Jan 31: The Nerdy CERN

Memasuki hari kedua, baru menyadari kalau CERN (The European Organization for Nuclear Research) terletak di Geneva – gini nih kalau trip dadakan, kurang planning tempat mana yang mau dikunjungi. Secara Sasayu self-proclaimed geek – kutu buku maksudnya – langsung bersemangat ingin sekali melihat CERN. Kalau yang pernah membaca novel Angels & Demons-nya Dan Brown, pasti tahu donk CERN itu tempat terjadinya pencurian anti partikel yang digunakan oleh tokoh antagonis untuk memusnahkan nyawa banyak orang (ini versi lebay novelnya).

Versi nyatanya, CERN ini merupakan tempat yang dikhususkan untuk meneliti high-energy physics research. Penemuan yang cukup menggemparkan dunia sains adalah ditemukannya Higgs boson particle atau yang lebih populer dengan sebutan God particle pada 4 July 2012. Kenapa heboh? Karena partikel ini akhirnya ditemukan setelah 40 tahun masa pencarian dengan menggunakan fasilitas termahal di dunia – seharga 550 juta Swiss Francs/ kira-kira Rp. 7.1 trilyun – yang disebut LHC (Large Hadron Collider). Karena penemuan ini, Peter Higgs dan Francois Englert dianugerahi Hadiah Nobel Fisika tahun 2013 lalu.

Anyway, daripada pembaca tidur mendengar Sasayu ngoceh tentang LHC, bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang CERN dan riset-riset mereka, bisa membuka link ini. Kembali ke jalan-jalan, ternyata oh ternyata, untuk masuk dan melihat LHC, walaupun tidak dikenakan biaya, pengunjung harus membuat appointment sebulan sebelumnya. Yahhh kecewa dehhh. Cuma Sasayu tetap ingin berkunjung ke CERN untuk foto-foto (Asia banget dehh).

Dengan ditemani Nonik yang masih agak sakit, kami menuju CERN dengan menggunakan tram 18 dari Central Station. Yang membuat hati gembira, tidak disangka sesampainya di gedung The Globe of Science and Innovation, ada exhibition gratis. Wah, ternyata ga rugi-rugi amat deh, apalagi di pameran itu ada beberapa pekerja CERN yang dengan senang hati menerangkan segala macam teori fisika yang membuat pusing 7 keliling (yang Sasayu perhatikan malah Masnya ganteng-ganteng…halahh).

Karena sudah puas melihat pameran, kami memutuskan untuk kembali ke kosnya Nonik, selain itu meriangnya Nonik mulai kumat lagi. Dalam perjalanan kembali ke terminal tram, ndilalah ketemu sama teman sekelasnya Nonik. Nonik sendiri sudah cukup lama tidak bersua dengan temannya, sebut saja Ji Eun (orang Korea Selatan). Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata si Ji Eun ini baru punya pacar baru blasteran Polandia-Belanda yang lagi magang di CERN. Si pacar ini mau memberikan tur gratis untuk melihat LHC untuk Ji Eun. Whattt??! Spontan Sasayu minta tolong mau nimbrung ikutan, agak ga tahu malu sih…tapi bodo dehh, kapan lagi bisa ke CERN. Memang namanya rejeki, boleh aja Sasayu ikutan. Sayangnya hanya tersisa satu tempat lagi di mobil (ternyata harus naik mobil, karena lokasi LHC harus melewati daerah Perancis, kurang lebih sejauh 13 km). Dengan baik hati si Nonik mengalah dan memutuskan untuk tidak ikut. Alasannya karena memang lagi kurang enak badan dan si Nonik kurang tertarik sih sama urusan tembak-tembakan partikel di accelerator seberat 14.000 ton.

When All Hell Broke Loose

When All Hell Broke Loose

 

Sepulang dari CERN, Sasayu janjian dengan Nonik di Central Station untuk langsung mengunjungi persekutuan doa. Senang sekali bertemu orang-orang Indonesia yang ramah-ramah dan saling menguatkan di dalam doa, tidak lupa kalau orang Indonesia berkumpul selalu ada hidangan yang maknyuss.

Kembali ke tempat kosnya Nonik dengan hati senang, Sasayu membersihkan diri dan siap-siap untuk tidur. Sebelum tidur, Sasayu ingin membayar beberapa tagihan melalui internet banking. Bergerak mengambil tas dan merogoh dompet….OEMJIIIIIIIII DOMPETKU KEMANAAAAAAAAAAA????!!!!

Si Nonik yang lagi tidur-tiduran membaca buku langsung panik bangun. DOMPETKU HILANNGGGGG!!!! Duhhh, malam Sincia Shio Ular ditendang sama Kuda Jingkrak.

Bagaimana kelanjutan nasib Sasayu dan Nonik dalam edisi jalan-jalan kali ini? Stay tuned yaaaaa…..

 

P.S: Sasayu udah jagain warung si Mbok, kalau mau ngopdar, ngajak-ngajak donk :D

 

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.