Proyek 100 Sabun

Ary Hana

 

Bosan nulis dan numpang jalan di sana-sini, kali ini saya tantang diri melakukan proyek lain. Proyek membuat 100 jenis sabun nabati yang semoga berkhasiat mengobati penyakit alias herbal. Alasannya sederhana,

Pertama, saya memang penggemar dan penikmat sabun. Walau jarang mandi -sehari sekali kalau ingat- saya suka mengoleksi sabun. Tiap kali melihat sabun yang aneh-aneh, berbau alam dan berkhasiat, pasti saya beli. Tak heran jika saya selalu punya persediaan sabun minimal 6 bulan ke depan. Yang paling saya gemari sabun ayurveda beraroma ‘gaharu’ dan ‘neem’ yang sayangnya hanya bisa ditemukan di toko grosir Maydin, Penang. Sungguh, itu jenis sabun yang menyehatkan kulit. Harganya pun tak melangit.

sabun

sabun lulur berbahan minyak kelapa, minyak jarak, lemak coklat, minyak wijen, dan kulit jeruk

Kedua, lewat sabun saya bisa menuangkan hobi lama, mengobati. Bahan-bahan sabun seperti lemak nabati kerap dikawinkan dengan zat tambahan -entah minyak atsiri atau bahan lain- yang bersifat menyembuhkan. Itu menjadi tantangan yang menarik buat saya. Apalagi nusantara kaya akan tanaman penghasil minyak nabati dan tanaman obat. Jika pengetahuan proses pembuatan sabun dikawinkan dengan pengetahuan akan obat-obat alami, pastilah hasilnya mengagumkan.

Tentu saja saya sadar, tak semua penyakit dapat disembuhkan. Sumber utama penyakit -menurut saya- berasal dari makanan, pikiran, dan perbuatan (termasuk ucapan). Makan berlebihan justru lebih banyak bahayanya ketimbang kurang makan. Pikiran dan perbuatan negatif akan memicu penyakit batin dan kebencian orang, yang berarti mengundang penyakit.

Penyakit psikis mungkin sulit diamati. Tapi penyakit jasmani mudah diketahui. Beberapa penyakit jasmani seperti penyakit kulit (eksim, gatal, alergi, kanker kulit, jerawat), rematik, pegal linu, selain diobati dari dalam, juga butuh obat luar. Nah, sabun bisa jadi salah satu obat luar itu.

Beberapa kondisi jiwa dan pikiran dapat ditenangkan dengan sabun. Anda kalut, resah, silakan mandi dulu. Dalam tubuh yang bersih, aroma yang menenangkan dari sabun, mungkin akan membuat Anda lebih rileks dan berpikir lebih tenang.

Ketiga, kebetulan saya dikelilingi orang yang penyakitan. Ibu saya menderita diabetes, juga rhematoid arthritis, dan eksim. Kulit tuanya yang sudah bersisik sebagian menghitam. Sendi-sendi pada jejarinya tumbuh berkelok-kelok. Teman-teman ibu, para perempuan sepuh, banyak yang terkena rematik atau pun biang keringat. Ini membuat saya berpikir bagaimana jika saya membuat sabun berbahan minyak nabati yang dapat memelihara kelembaban kulit tua mereka sekaligus mengurangi penyakit mereka. Misalnya minyak jarak atau castor oil, minyak wijen atau sesame oil, juga minyak atsiri dan rempah-rempah.

Minyak nabati selain minyak kelapa dan sawit, lumayan mahal harganya. Minyak wijen misalnya, harga paling murah Rp.8000 ukuran 70 ml. Minyak jarak harganya mencapai Rp.90.000 per liter (belum termasuk ongkos kirim). Minyak atsiri lebih mahal lagi harganya. Untuk itu saya terpaksa belajar membuat minyak esensial sendiri dengan berbagai cara. Benar kata pepatah, keterbatasan dana memaksa orang untuk kreatif :D

Keempat, sabun yang beredar di pasaran kerap dipenuhi bahan kimia yang justru mengikis kesehatan dan kelembaban kulit. Sabun tersebut juga membahayakan lingkungan karena sulit terurai. Umumnya sabun mandi berbau harum itu menggunakan sodium sulfat yang tak mudah terurai. Sabun juga menggunakan zat kimia lain serta parfum yang mengikis kesehatan kulit dan bersifat karsinogenik. Gambaran paling gampang, usai mandi, coba goreskan kuku Anda ke kulit. Jika tampak bergaris, maka sabun telah membuat kulit kering. Selain itu sabun cair yang wangi kerap licin dipakai di tubuh. Jadi bagaimana bisa membuang daki dan garam keringat? Saya pernah mencoba hari ini memakai sabun cair. Benar, rasanya licin dan sulit mengorek daki. Lalu keesokan harinya saya coba mandi tanpa sabun cair. Daki menumpuk karena hari sebelumnya sabun cair hanya melicinkan -seolah-olah melembabkan kulit- dan bukan membersihkan kulit dari kotoran. Setelah itu saya kerap mandi pakai air lerak, perasan jeruk nipis, atau air yang dicampur baking soda. Terasa lebih bersih. Namun setelah dapat membuat sabun sendiri, lebih asoy mandi pakai sabun buatan sendiri.

Kelima, membuat sabun mirip bermain teka-teki. Saya tak pernah tahu pasti hasil akhirnya. Bahkan, menggunakan resep yang sama pun hasilnya bisa berbeda. Membuat sabun berarti harus memahami sifat minyak nabati sebagai bahan utama sabun, memahami sifat zat pewarna alami, juga penambah aroma. Selalu ada kejutan baru di setiap ujicoba sabun. Jadi jangan harap menemukan hasil  yang sama seperti sabun buatan pabrik. Suhu pencampuran, adukan, proses pencampuran, takaran, amat mempengaruhi hasil akhir sabun buatan tangan. Mirip melukis atau menulis saja, itulah seni membuat sabun.

Kelima alasan di atas yang membuat saya giat ujicoba dengan sabun. Tentu saja semua dengan cara belajar sendiri, membaca-baca sumber di internet setiap malam selama berjam-jam. Mempelajari karakteristik minyak nabati, juga minyak esensial, dan membaca tips dari para pembuat sabun nabati profesional. Ada yang menyarankan untuk kursus. Tapi saya enggan. Selain mahal biayanya, juga bea kursus lebih baik saya belikan bahan-bahan sabun seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak jarak, minyak wijen, minyak zaitun, atau soda kaustik. Bukan tak mungkin sebentar lagi bahan sabun yang saya butuhkan akan bertambah seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan ujicoba membuat sabun. Satu yang saya coba hindari, menggunakan bahan impor. Sayangnya ini tak berlaku bagi minyak zaitun. 99% minyak zaitun di indonesia produk impor. Perusahaan kosmetik indonesia kemudian mengemasnya lagi lalu dilabeli ‘minyak zaitun produk MR, SR, dan lainnya’. Saya sedang mencari 1% minyak zaitun ini. Ada kawan yang menanam pohon zaitun dan mengelola minyaknya, namun skalanya masih sangat kecil, masih buat konsumsinya sendiri :(

Ada beberapa kawan yang berminat membeli sabun buatan saya. Tapi mereka mesti sabar menunggu. Saya bukanlah pembuat sabun profesional. Saya membuat sabun demi kesenangan dan kegembiraan tatkala dapat menolong orang, khususnya yang tak mampu atau sedang putus asa mencari kesembuhan. Jadi, kalau ada pesanan, baru saya buatkan. Paling cepat seminggu kemudian baru siap dikirimkan. Yang perlu diketahui, harga sabun nabati yang berkhasiat herbal tidak murah. Bisa 3, 4, 5, bahkan 6 kali harga sabun buatan pabrik. Misalnya Anda terbiasa memakai sabun seharga Rp.2.500, maka sabun nabati buatan saya bisa saja harganya Rp.15.000 tergantung bahan utamanya. Sabun berbahan utama lemak kakao jelas lebih mahal harganya dibanding yang berbahan minyak kelapa atau minyak wijen. Namun tetap lebih murah ketimbang sabun herbal impor. Iseng saya ‘browsing’, harga sabun nabati buat bayi produk ‘himalaya’ seberat 125 gr misalnya, dibandrol $4,9. Sabun nabati yang lain bisa mencapai $9-$10. Memang mahal sabun-sabun luar itu. Kalau masuk ke Indonesia, lebih mahal lagi, karena kena pajak barang mewah.

Walau berbahan mahal, membuat sabun herbal tetaplah sebuah kegemaran yang menyenangkan. Seperti kata pepatah, ‘bekerjalah karena didorong kecintaan, bukan semata imbalan materi’. Semoga Anda tidak meniru saya,

 

Salam

 

Bisa juga dibaca di: http://othervisions.wordpress.com/2014/08/21/proyek-100-sabun/

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *