Bandung Punya Uskup Baru (2): Salve Agung – Janji Bakti Si Uskup Muda Terpilih

Linda Cheang – Bandung

 

Pengantar:

Selama periode tiga setengah tahun Keuskupan Bandung mengalami sede vacante (masa kekosongan jabatan) ketika pada 2010, Uskup Bandung saat itu, Mgr. Johannes Maria Pujasumarta (selanjutnya disebut Mgr. Puja) secara tiba-tiba ditunjuk oleh Bapa Paus saat itu, Paus Benediktus XVI untuk menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Selama sede vacante, Keuskupan Bandung dirangkap jabatan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo (selanjutnya disebut Mgr. Suharyo) sebagai Administrator Apostolik, hingga terpilihnya uskup baru. Dipilihnya Mgr. Anton menjadi Uskup Bandung yang baru memang tak disangka-sangka semua pihak, bahkan oleh yang bersangkutan sendiri. Terpilihnya Beliau menjadikannya sebagai Uskup termuda di Indonesia saat ini.

Lapanta selanjutnya.

Tunggu punya tunggu, sampai sekian hari menjelang tahbisan, ternyata dari komunitas yang aku ikuti, ada kabar terbaru bahwa acara pentahbisan uskup baru nanti, akan ada pembatasan undangan dari semua direncanakan sekitar 5000 undangan, menjadi hanya sekitar 3000 undangan. Dengarnya, sebelumnya akan diundang sebanyak mungkin orang, tetapi pihak pengelola gedung Sasana Budaya Ganesha keberatan bila panitia acara meminta pemasangan tenda sampai ke halaman di luar gedung demi untuk menampung banyak warga yang ingin langsung menyaksikan tahbisan.

Aku tak mau resah gara-gara indikasi tak kebagian kartu undangan. Aku yakin, jika satu pintu telah tertutup, akan ada pintu atau cara lain terbuka. Maka, aku santai saja dan yakin pada saatnya nanti aku bisa datang ke acara. Beberapa hari kemudian ada postingan di grupnya komunitas mengenai rencana acara rangkaian tahbisan bagi Uskup Terpilih tsb. Lebih baik aku menjadwalkan dalam agendaku untuk sedapat mengikuti ketiga rangkaian acara tsb, daripada stress karena kekuatiran tak dapat undangan, agenda acara dimulai dari rangkaian pertama.

 

Salve Agung

Ini disebut juga Ibadat Agung sesuai yang tertera pada postingan. Namun sifatnya ibadah khusus. Program utama acara ini adalah pemberkatan atribut uskup oleh Nuntius, yaitu Duta Besar Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia, yang saat ini dijabat oleh Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Sebelum pemberkatan atribut, ada pembacaan janji Uskup Terpilih di hadapan umat atas kesediaannya mengemban tugas menjadi uskup terutama setelah pentahbisan dilaksanakan.

Image(663)resized

Di waktu yang ditentukan, aku datang ke Katedral dan terlihat sepertinya bakal tidak kebagian tempat duduk di dalam gereja, karena ternyata ada pembatasan oleh panitia acara, kursi-kursi dalam gereja diperuntukkan untuk undangan khusus para pastor dan suster dari berbagai tarekat, khususnya tarekat yang berkarya di Bandung. Sesaat menjelang ibadat akan dimulai dan tak ada lagi penambahan undangan khusus yang datang, dalam sekejap saja kursi-kursi kosong diserbu umat yang berniat mengikuti ibadat dan beruntunglah aku, ada seorang kawan dari komunitas yang akhirnya datang, jadi aku batal merasa sendirian.

Aku perhatikan situasi dalam gereja, ternyata para umat gereja zaman sekarang, tidak lupa membawa gawai (gadget) mereka, entah ponsel berkamera, kamera saku berukuran kecil, bahkan ada yang bawa tablet yang kelihatannya segede gaban. Sementara aku cuma punya sebuah ponsel jadoel berkamera seadanya yang menjadi andalan untuk mengambil beberapa foto dan sebuah ponsel android yang mesti diirit-irit pemakaiannya jika tak ingin kehabisan isi baterai. Walau ponsel jadoel berkamera seadanya, tapi cukuplah untuk menjepret iringan prosesi ketika Mgr. Anton didampingi (jika aku tidak salah orang) Mgr. Glen Lewandowski, OSC, yang adalah Magister Jendral OSC, bersama Nuntius lewat lorong gereja menuju arah altar, acara pemberkatan atribut, dan ketika keluar selepas ibadat selesai. Saat itu Nuntius menjadi Pemimpin Ibadah, Mgr. Anton menjadi Pendamping 2 sekaligus yang akan diminta untuk membacakan janjinya.

Image(667)resized Image(668)resized Image(671)resized mgr-anton-nuntius-antonio-guido-hidupkatolik (1)

Benar saja, ketika prosesi perarakan yang punya acara datang menyusuri lorong gereja, tanpa perlu aba-aba lagi, para umat yang membawa gawainya langsung saja Klik! Klik! Jepret sana-sini, khususnya berusaha untuk mengabadikan sosok si muda Uskup Terpilih, dalam balutan jubah ungu keuskupannya. Berjalan di depan Nuntius yang selalu menggerakkan tangannya memberkati para umat. Terlihat pula rombongan prosesi perarakan sepertinya tidak merasa terganggu dengan ulah para umat yang memotret sebanyak-banyaknya. Mungkin mereka sudah terlatih benar untuk jadi sadar kamera, ya.

Usai rangkaian tata ibadah dan puji-pujian dilangsungkan, tibalah saatnya Pembacaan Janji Uskup Terpilih di hadapan Nuntius dan umat, dilanjutkan dengan Pemberkatan Insignia dan Tahta Uskup. Uskup Terpilih membacakan janjinya dengan suara yang mantap, tegas dan berwibawa, didengar oleh semua umat yang hadir. Selepas pengucapan janji dari Uskup Terpilih, barulah Nuntius dengan semua kelengkapan atributnya menuju Tahta Uskup dan meja tempat peletakan Insignia (atribut penanda uskup) untuk memberkatinya, sebelum esok harinya dibawa ke upacara pentahbisan uskup baru. Nuntius punya peran sebagai wakil dari Sri Paus.

Image(674)resized insignia uskup baru

Dalam foto terlampir, insignia yang diperlihatkan berupa beberapa macam mitra (topi uskup yang tinggi besar), pilleolus (topi bulat ungu), cincin uskup, yang konon satu di antaranya adalah “warisan” langsung dari Mgr. Suharyo, bapak asuhnya Uskup Terpilih, tongkat gembala dan kalung salib dada alias crux pectoralis. Ada beberapa atribut yang aku tak tahu namanya. Atribut lain adalah jubah keuskupan warna emas, serta kursi Tahta Uskup dengan lambang baru Keuskupan Bandung di bagian kepala tahtanya, lambang itu ide dari Mgr. Anton sendiri. Jika kita lihat dengan teliti, menurutku segala atribut Keuskupan Bandung kali ini, boleh dikatakan termasuk sangat sederhana, sesederhana pribadinya Si Uskup Terpilih.

Selepas ibadah, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah di aulanya Katedral, untuk kalangan terbatas, karena tak semua umat diizinkan ikut ke acara. Lagi-lagi aku termasuk yang beruntung, bisa ikut bergabung di acara ramah tamah tsb, walau aku ternyata tidak bisa menikmati seluruh hidangan yang disajikan. Semasa acara berlangsung, sudah bukan hal aneh banyak uskup “bertebaran” di dalam aula. Jarang sekali, kan, peristiwa banyak uskup bisa berkumpul dalam satu waktu. Beruntung aku bisa melihat langsung Mgr. Puja, Uskup Bandung sebelumnya.

Mgr. Puja

Tampak di satu foto ketika Mgr. Anton berfoto dengan para misdinar, si uskup muda terpilih, kelihatan “tenggelam” di antara para misdinar yang masih remaja, sekira siswa SMP. Terbukti Si Uskup Muda terpilih ini memang “masih kecil”, untuk membuktikan bahwa perawakannya memang kecil.

Mgr. Anton dan misdinar

Psst, ada julukan sayang dari Lani, Nyai van Kona untuk uskup muda ini sebelum Lani sadar, dia sudah jadi uskup yaitu: “pastor cina kecil”

 

bersambung…

 

Salam,

Linda Cheang

Bandung, 6 September 2014

 

Sumber foto :

  • Koleksi pribadi Linda Cheang
  • Foto Atribut Uskup oleh Teddy Arifin
  • Akun Berita Katedral Bandung
  • m.hidupkatolik.com

 

Sumber berita :

  • Buku Ibadat Agung, Gereja Katedral St. Petrus – Bandung
  • mirifica.net
  • Akun Berita Katedral Bandung
  • m.hidupkatolik.com

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.