Ketika Anak tak di Sisi Ibu

Ida Cholisa

 

Setiap Jumat malam ia akan tiba di rumah. Kadang selepas Maghrib, kadang selepas Isya’, bahkan kadang tengah malam.

“Ibu, maceeet sekali. Dari kost aku jam 19.30. Masa sampai rumah jam 22.00?”

Anak lelakiku bermandi peluh. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan plastik warna putih.

“Apa ini, Mas?”

“Ini fried chicken, Ibu. Aku lapar sekali.”

“Ibu sudah siapkan makan malam kesukaanmu. Makanlah.”

Ia lahap menyantap masakanku. Sesekali bercerita tentang kehebatan sekolah dan teman-temannya.

“Aku betaaaah banget di sekolah. Teman-temanku baik, mereka asyik dan kocak. Aku ketawa mulu tiap hari.”

Sesudahnya ia pun tidur. Kuperhatikan wajahnya. Tenang tanpa beban. Kuusap kepalanya. Ah anakku sudah remaja. Hanya satu hari dua malam ia berada di rumah. Minggu sore ia kembali ke kost. Rutinitas setiap minggu sore adalah menyimak wejanganku.

“Baik-baik jaga diri di kost ya Nak. Jangan lupa sholat dan belajar. Ini uang untuk naik 56 dan taksi. Ini uang laundry. Ini untuk makan satu minggu. Cukup kan? Kalau kehabisan uang, kamu ambil di ATM ya? Secukupnya saja. Jangan malam-malam kalau ke ATM, sepulang sekolah saja.”

Anakku mengangguk. Disimpannya uang tersebut sembari menyalamiku.

“Addam berangkat dulu ya Bu?”

“Ibu antar sampai prapatan, Nak.”

Kami pun menembus jalan raya Cileungsi yang acap dirundung macet. Sepanjang perjalanan anakku akan bercerita banyak hal. Tiba di prapatan Cileungsi kami berpisah. Ia menaiki 56 sambil matanya tetap mengawasiku dari kejauhan….

Aku pulang. Rumah kembali senyap. Bayang wajah anakku berkelebat menusuk rasaku. Ada gumpalan sedih mengendap di dasar hatiku. Anak sekecil itu berjuang dalam kesendirian. Sementara ibunya sakit-sakitan, sedikit memiliki waktu untuk sekadar menengoknya di perantauan.

Aku mengusap mataku. Tak ada air mata yang meluncur. Segenap rasa melebur dalam heningnya waktu.

ibu

Kubuka catatan keuanganku. Sepeninggal suamiku beban itu tergantung di pundakku, seorang diri. Tapi aku pasti mampu. Untuk anak-anakku, untuk masa depan anak-anakku,  aku rencanakan semuanya semampuku.

Aku tahu, seorang Ibu memiliki nyali yang kuat untuk menghadapi setiap kesulitan. Dan ibu itu adalah aku.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.