Kinerja Tumbuh, Harga Emiten Perkebunan Masih Murah?

Agus Benzaenuri

 

Kinerja fundamental beberapa emiten perkebunan menguat selama semester pertama lalu, namun saham emiten tersebut masih cenderung turun sejak 3-5 bulan terakhir, sementara IHSG mengalami tren kenaikan. Benarkah hal ini mengindikasikan bahwa sektor perkebunan ini relatif masih murah dengan posisi harga sekarang ini?

Tercatat secara rata-rata pertumbuhan 4 emiten perkebunan dengan kapitalisasi pasar terbesar (AALI, SMAR, SSMS, LSIP) yang berkontribusi 61% terhadap seluruh sektor perkebunan, membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 33,9% dengan pertumbuhan laba bersih hingga 159,0% dan dengan imbal hasil terhadap ekuitas (ROE) keempat emiten tersebut tercatat mencapai 20,4%. Dengan kinerja fundamental yang tumbuh signifikan, emiten tersebut masih mempunyai peluang untuk menalami kenaikan harga.

Rata-rata price multiplier keempat emiten tersebut tercatat di bawah pasar dengan price to earnings ratio (PER) lima emiten tersebut sebesar 13,85 kali namun lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata PER pasar sebesar 21 kali. Sementara itu, price to book value ratio (PBV) emiten perkebunan sebesar 2,88 kali dan juga lebih rendah dibandingkan dengan pasar sebesar 3,00 kali.

Tingginya perputaran SMART ini didorong oleh penjualan terhadap pihak berelasi baik di dalam dan di luar negeri yang mencapai 68%. Dengan penjualan yang signifikan terhadap pihak berelasi tersebut, SMART dapat mengamankan target penjualan di masa mendatang.

Sisi negatifnya, dengan penjualan yang didominasi kepada pihak berelasi, membuat SMART hanya membukukan marjin yang terbatas meskipun perputaran tinggi. Marjin laba kotor yang dibukukan SMART tercatat sebesar 14,1% dibandingkan emiten sawit lainnya dengan rata-rata 33,9%.

Selain itu, sifat operasional SMART yang mayoritas didominasi pengolahan dan penyulingan pruduk CPO dan turunannya yang menyumbang total pendapatan hingga 72%, membuat biaya langsung untuk produksi cukup tinggi sehingga menekan marjin.

Meskipun demikian secara umum kinerja Sinar Mas yang tumbuh paling tinggi dibandingkan emiten sawit lainnya dibandingkan dengan kinerja tahun lalu, kami melihat potensi kenaikan harga saham SMART masih cukup terbuka. PER SMART yang relatif rendah hanya 9,53 kali atau lebih rendah dibandingkan dengan pasar dan rata-rata emiten sawit lainnya. Selain itu profitabilitas dan imbal hasil tercatat cukup tinggi yaitu dengan ROE sebesar 25,9% dan kenaikan laba bersih hingga 20,8% menjadi Rp 960,70 miliar juga diharapkan mampu mendorong kenaikan harga sahan SMART.

agri (1)agri (2)

Emiten sawit lain yang cukup menarik adalah PT London Sumatera Plantations, Tbk (LSIP) yang tergabung dalam konglomerasi grup Salim membukukan profitabilitas yang signifikan.

London Sumatera tercatat membukukan pertumbuhan laba hingga 162,7% setelah didukung oleh kenaikan pendapatan hingga 23,1% dan dengan biaya produksi yang hanya naik kurang dari 1% dan beban keuangan yang rendah dengan kuatnya permodalan membuat pertumbuhan laba terdorong.

Meskipun secara value pendapatan meningkat seiring kenaikan harga sawit, secara volume penjualan London Sumatera tercatat menurun terutama pada produk CPO dan karet, sementara untuk kernel oil tercatat masih tumbuh.

Volume penjulan produk CPO yang menurun oleh London Sumatera karena penjualan pihak ketiga yang menurun, sementara penjualan produk CPO kepada SIMP justru tercatat naik 38% menjadi 72% dari total volume CPO yang diproduksi. Permintaan CPO dari pihak ketiga yang masih rendah di awal tahun membuat volume penjualan CPO oleh London Sumatera masih rendah.

Pendapatan London Sumatera sebagian besar kepada sesama emiten grup Salim yaitu PT. Salim Ivomas Pratama, Tbk (SIMP) mencapai 62,8%. Meskipun penjualan signifikan terjadi kepada pihak berelasi, namun marjin laba kotor London Sumatera terjaga hingga 36,1%.

Dibandingkan SMART dimana penjualan juga didominasi kepada pihak berelasi, produksi London Sumatera masih dipenuhi oleh bahan baku CPO dari kebun sendiri sehingga menghasilkan marjin yang cukup tinggi, sementara SMART lebih didominasi mendatangkan bahan baku CPO dari pihak ketiga.

Kami melihat potensi kenaikan saham London Sumatera masih terbuka seiring kinerja bottom line yang naik signifikan. Dengan PER sebesar 13,80 kali, maka potensi tumbuh hingga mencapai PER rata-rata pasar masih terbuka.

Emiten sawit lainnya yaitu Sawit Sumber Mas (SSMS) yang tercatat mempunyai kapitalisasi pasar relatif besar hingga Rp 13 triliun, namun nilai aset yang tercatat hanya sebesar Rp 3,61 triliun. PBV yang tinggi hingga 5,23 kali dengan PER 17,88 kali, kami saat ini tidak merekomendasikan karena sudah menunjukkan nilai di atas harga pasar.

Semoga menjadi pertimbangan keputusan investasi Anda di pasar Indonesia.

 

Agus Benzaenuri

Pengamat Pasar Modal

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.