Bandung Punya Uskup Baru (3): Misa Tahbisan Uskup – Putra Sunda Si Gembala Muda

Linda Cheang – Bandung

 

Pengantar:

Walaupun Mgr. Anton saat ini (2014) adalah Uskup termuda se-Indonesia, namun Beliau bukanlah pemegang rekornya. Rekor ditunjuk menjadi Uskup pada usia termuda di Indonesia, masih dipegang oleh Uskup Padang, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, O.F.M.Cap, di usia 37 tahun pada 17 Maret 1983.

Lapanta pada 25 Agustus 2014

Sekitar Pk 16.30, selain Nuntius yang sudah datang dengan mobil bernomor Korps Diplomatik, datanglah si Uskup Terpilih lengkap dengan berpakaian alba ditutupi kasula ungu, ciri khas sebagai uskup, bersiap masuk ke gedung Sabuga, tentunya Beliau akan langsung masuk ke bagian sakristi untuk persiapan tahbisannya. Banyak orang yang aku lihat ikut-ikutan riweuh alias repot, demi untuk bisa bersalaman dengan Uskup Terpilih, dan banyak wajah-wajah bahagia setelah berhasil menyalami Beliau. Sementara bagiku, sih, karena kebiasaan memperlakukan orang adalah sama sederajat, jadi, ya, aku pikir nggak perlu, lah, ikut-ikutan riweuh, walau aku ikut bersukacita untuk teman-temanku yang warga Katolik Bandung karena mereka punya gembala baru, masih muda pula.

 

uskup bandung

Undangan sudah di tangan, dan bersama seorang ibu dengan seorang anak perempuan yang aku temani (ibu itu menunggu anaknya selesai bertugas menjadi misdinar di tahbisan, tadinya dia dan anak perempuannya, hanya menunggu di luar gedung karena tidak dapat kartu undangan sampai akhirnya seorang panitia memberikannya kartu). Kami mendapat tempat di pojok dan di atas sekali, tetapi masih bisa melihat ke arah altar, hanya memang sulit melihat Tahta Uskup secara jelas. Toh, yang penting bagiku, bisa menyaksikan peristiwa sepenting ini sudah merupakan keberuntungan, karena banyak temanku warga Katolik yang amat mengharapkan bisa ikut hadir, tetapi tidak kebagian undangan.

 

Dengan resmi ditahbiskannya Mgr. Anton ini, Keuskupan Bandung mendapatkan “hadiah” dari Bapa Paus berupa Si Gembala muda putra asli Tatar Sunda, walau aslinya sekali, Mgr. Anton berdarah Tionghoa dengan sedikit aliran darah Sunda dari nenek, ibu kandung mamanya. Ini makin menambah sukacitanya segenap warga Katolik Keuskupan Bandung dan tentu saja warga Bandung pada umumnya, karena pada akhirnya ada putra setempat yang menjabat posisi sepenting itu. Sebelumnya, Keuskupan Bandung dipimpin oleh orang keturunan bangsa asing (alm. Mgr. Goumans, OSC, lalu alm. Mgr. Arntz, OSC) dan oleh warga non Sunda (alm. Mgr. Alexander Djajasiswaja, Mgr. Puja dan Mgr. Suharyo selaku Administratur Apostolik). “Hadiah” inilah yang membuat “iri hati” Magister Jendral OSC, yang disampaikan dalam sambutannya selesai acara tahbisan, karena satu putra terbaik OSC sudah “diambil oleh Gereja Katolik” untuk menjadi penerus kerasulan dari bapa-bapa gereja sebelumnya.

L_4182

Acara misa tahbisan berlangsung meriah, lancar, prosesi demi prosesi berlangsung sangat tertib, teratur nyaris tanpa cela. Merupakan keberuntunganku bisa ikut menikmati lantunan indah lagu-lagu gereja yang mengagungkan nama Tuhan. Bagusnya lagi para uskup yang mendapat tugas memberikan kata pembuka sampai sambutan, termasuk si uskup baru, mereka tahu saatnya melontarkan kalimat humor sehingga ketegangan mencair, umat tertawa senang. Apalagi Mgr. Puja bahkan spontan menyanyikan sepenggal lirik “You Are My Sunshine” ditujukan kepada Mgr. Anton, yang sudah “menjadi matahari” bagi Keuskupan Bandung, walau detik itu Mgr. Anton belum terima tahbisan resmi.

Prosesi tahbisan Mgr. Anton menjadi Uskup Baru dari mulai sampai selesai, bisa disaksikan di tautan ini, berupa kumpulan foto-foto sepanjang acara tahbisan yang dijadikan video :

Berkat Pertama Si Uskup Muda

Ritus tahbisan resmi selesai, Si Uskup muda kecil ini memimpin ibadat ekaristi (pemecahan roti komuni) dan setelah umat yang berhak menerima komuni kebagian semuanya, sampai di ritus penutup, untuk memperkenalkan Uskup Baru ini oleh penahbis utamanya, ke hadapan umat dan warga yang hadir, disambut tepukan tangan meriah dan gemuruh suara sorak sukacita. Satu dari sekian tugas pertamanya adalah, berkeliling untuk memberi berkat kepada para hadirin, didampingi dua uskup penahbis. Maka Si Uskup muda dalam jubah kebesarannya dan memegang tongkat gembala, berkeliling untuk memberkati setiap bagian hadirin berada.

L_4185

 

Sambutan dan Geleng-Geleng Kepala

Usai ritus penutup, ada perkenalan beberapa uskup yang hadir dari 29 keuskupan di Indonesia, Ada beberapa sambutan dari panitia, dari Magister Jendral OSC, dari Ketua KWI Mgr. Suharyo, dari Nuntius dan, tentunya sambutan dari Bapa Uskup Baru yang muda ini yang paling ditunggu-tunggu. Ada saja kata-kata sambutan dan adegan yang mengundang tawa hadirin. Misalnya, seorang uskup menyebutkan nama keluarganya Mgr. Anton yang Bunjamin, bersifat Alkitabiah mengaitkannya dengan 1 dari 12 suku Israel, yaitu suku Benyamin, yang memunculkan Rasul Paulus, maka Si Uskup muda tsb dianggap sebagai cucu/cicit entah ke sekian dari Rasul Paulus.

Saat Magister Jendral OSC hendak menuju mimbar sambutan, Beliau harus melewati Tahta Uskup untuk diam sejenak memberi hormat kepada Si Uskup muda, tetapi yang dilakukannya adalah “pato’ong-to’ong” alias berpandang-pandangan cukup lama dengan Si Uskup muda sampai keduanya tertawa. Lalu ketika giliran Si Bapa Uskup muda itu memberikan sambutannya, uskup muda itu sempat “kelimpungan” di tahtanya karena mencari-cari tongkat gembalanya, sampai seorang misdinar mengantarkannya dari meja kredens di samping panggung. Beliau juga menceritakan “keluhannya” bahwa kerap mendapatkan “olok-olok” sebagai uskup yang “masih kecil”, uskup berbadan kecil sampai dianggap masih (terlalu) muda. Hal ini yang menyadarkannya bahwa jabatan sebagai uskup adalah karena anugrah Tuhan, bukan hanya karena kemampuan pribadinya. Ada lagi Si Uskup muda ini berkisah, ketika suatu saat dibuat malu oleh mamanya yang polos dan bicaranya ceplas-ceplos, saat mamanya meminta kepada Uskup Bandung saat itu Mgr. Djajasiswaja, untuk mendoakan agar si pastor muda, anaknya itu kelak menjadi uskup, hal yang dianggap si anak adalah mamanya itu seperti mendoakan agar Bapa Uskup saat itu cepat meninggal. Mana tahu kelak ceplas-ceplosnya si mama akhirnya menjadi kenyataan. Anak itu, si pastor muda, beneran menjadi Uskup Baru di hari dia membacakan sambutannya!

L_4183

Adegan yang paling banyak membuat tawa hadirin benar-benar pecah adalah ketika Si Uskup muda ini menceritakan ketika latihan pemasangan mitra di kepalanya. Didahului dengan perkataan bahwa ketika 6 tahun lalu saat tahbisan Uskup Bandung, mitra sampai dua kali terjatuh, maka sebagai antisipasinya, Uskup Terpilih di masa gladi berlatih pasang mitra, diminta untuk menggeleng-gelengkan kepalanya, memastikan agar mitra tidak sampai jatuh. Adegan geleng-geleng kepala itu dilakukannya kembali spontan di hadapan ribuan umat, sehingga seisi gedung langsung riuh dengan tawa hadirin. Jelas terlihat lucu karena tubuh kecilnya berbalut jubah kebesaran uskup warna emas terang dan mitra di kepalanya malah membuat dirinya seperti “kelelep dalam jubah”, apalagi adegan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah pakai mitra itu benar-benar lucu, walau Si Uskup muda pastinya tak bermaksud sengaja melucu.

 

Ke Balik Sakristi

Selepas misa tahbisan, umat yang tidak mendapat akses, tentu tidak dapat masuk ke sakristi. Lagi-lagi aku beruntung. Ketika menemani si ibu dan anak perempuannya yang sejak sore bersamaku (sampai sekarang aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya) mencoba menemui anak lelakinya yang menjadi misdinar, tentu harus masuk ke ruang sakristi khusus misdinar. Jadilah aku menemaninya mencoba masuk sambil berharap ada kesempatan masuk ke sakristi khusus uskup untuk menemui seorang teman yang menjadi panitia yang mengurus semua kelengkapan busana upacara. Si ibu dan anak perempuannya akhirnya bertemu anak lelakinya, dan aku minta diri dari si ibu itu untuk melanjutkan mencari seorang kawan. Aku akhirnya ditemani oleh seorang anggota panitia. Berhasilah aku bertemu si teman dan kami pun bisa berfoto bersama di ruangan tempat penyimpanan busana, dengan sebelumnya aku dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba Bapa Uskup muda itu, dari ruang ganti, sudah berganti busana dengan kasula ungu dan kalung salib, mengucapkan terima kasih kepada sekelompok panitia pengurus busana, sambil Beliau berjalan keluar menuju tempat hidangan….

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC (2)

Rupanya, untuk mendapatkan 1 saja gambar bersama Bapa Uskup muda kecil ini, bukan hal yang mudah, karena Si Uskup muda ini “ditarik-tarik” sana-sini, oleh banyak orang yang ingin punya gambar bersamanya. Apalagi para ibu-ibu mulai dari ibu-ibu muda, ibu-ibu paruh baya sampai yang para ibu sudah sepuh. Belum lagi para umat, para panitia dan lainnya. Belum lagi seorang kawan lain yang aku sudah mintakan pertolongannya untuk mengambil gambarku bersama Bapa Uskup muda, eh, entah berada di mana si kawan itu, tak tentu tempatnya.

Memang aku masih beruntung! Ketika situasi sudah sedikit lengang, ada beberapa orang yang mengambil gambar Si Uskup muda ini bersama seorang Bapa Uskup Agung Emeritus dari Keuskupan Agung Medan, Mgr. Pius Datubara, OFM Cap, ya, aku ikut mengambil gambarnya mereka berdua dan setelah selesai, ternyata ada si pemilik katering yang sedang dimintai tolong oleh beberapa orang lain untuk ambil gambar, ya, aku sekalian minta saja ke Si Engkoh pemilik katering untuk mengambil beberapa gambarku bersama Si Uskup muda kecil ini, gunakan kamera ponselku, sambil aku was-was sebenarnya karena isi baterai ponselnya sudah mau tewas. Lalu berikutnya, …. Klik!

Selanjutnya aku, sih, duduk manis saja menikmati sajian perjamuan yang rasanya enak-enak, sementara di pojok sana, aku lihat Bapa Uskup muda masih sibuk melayani “tarikan” permintaan foto dari banyak orang, sampai sepertinya Beliau susah sekali untuk memiliki waktu buat mengunyah makanan yang sudah ada di mulutnya.

 

Bergambar bersama lagi

Dari sekian gambar yang jadi, inilah kulampirkan gambar Bapa Uskup Muda bersama Bapa Uskup Agung Emeritus Mgr. Datubara, dan akhirnya, akupun berhasil bergambar berdua saja bersama Bapa Uskup muda kecil ini. Aku yakin Si Bapa Uskup muda mesti nggak akan “ngeh” padaku ini karena saking banyaknya orang yang ingin berfoto bersamanya.

IMG_20140825_210520

 

Ketika foto ini aku unggah di dinding akun fesbukku, banyak teman-teman fesbukku para kaum ibu bersepakat dalam satu kata saja, berkomentar untuk menggambarkan rupa Si Uskup muda kecil ini, GANTENG!

IMG_20140825_210607

 

Lani van Kona teman Baltyran kita, sempat tidak menyadari bahwa lelaki ganteng berkasula ungu di sebelahku itu adalah pastor yang dikenalnya sebagai “pastor cina kecil”, bertemu di Roma, pada September 2013 lalu, yang justru dialah yang jadi Uskup Bandung saat ini. Padahal aku sudah berusaha bercerita dan rupanya Lani belum menangkap inti cerita tentang seorang pastor muda yang telah jadi uskup. Mungkin karena Lani tidak tahu mengenai arti warna pakaian yang dikenakan Si Uskup muda kecil itu (ini membuat aku heran). Barulah setelah Lani sadar pada akhirnya, maka julukan sayang dari Lani kepadanya berubah, sekarang menjadi “uskup cina kecil”.

Perkenalan Uskup Baru

Kata Lani, Si Nyai Kona, ora ono gludug, ora ono udan, ujug-ujug *) si pastor cina kecil ini jadi uskup! Woalahhh…..!

 

Bersambung…

 

Salam,

Linda Cheang

Bandung, 11 September 2014

 

*) Tak ada guruh, tak ada hujan, tiba-tiba saja

 

Sumber foto:

  • Koleksi pribadi Linda Cheang
  • mirifica.net
  • biarawan.blogspot.com
  • potretkamera.blogspot.com
  • keuskupanbandung.org
  • Akun Jakatarub

Sumber berita:

  • Buku Misa Tahbisan Uskup Bandung
  • keuskupanbandung.org
  • youtube

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.