Menuju Kedewasaaan

djas Merahputih

 

Even when I lose I’m winning

Cause I give you all of me

And you give me all of you

(John Legend, All of Me)

Pemungutan Suara Rakyat (Pesuar) 2014 telah kita lalui dengan tingkat partisipasi yang cukup tinggi serta tanpa gesekan horizontal berarti. Hal ini menunjukkan indikasi munculnya kesadaran baru akan kepedulian/keikutsertaan masyarakat Indonesia dalam peristiwa politik lima tahunan ini. Walaupun kebrutalan memenuhi halaman-halaman media sosial (medsos) kita namun nampaknya generasi sekarang sepertinya perlu berterima kasih atas keberadaan medsos tersebut.

menujukedewasaan (4)

img01. Masyarakat Maya

 

Kekerasan verbal dalam medsos paling tidak merupakan cara pelampiasan uneg-uneg serta energi kemarahan yang biaya sosialnya relatif, sekali lagi, relatif lebih rendah. Perang medsos atau twitwar tak perlu membuat para pelaku ekonomi khawatir dan was-was. Seluruh warga baik yg ekstrim maupun pengamat biasa dapat melangsungkan peperangan tanpa harus merusak dan mengganggu aktifitas ataupun fasilitas umum.

Masyarakat hanya perlu diajak dan dibiasakan untuk mampu menerima bahwa apapun yang terjadi di medsos jangan pernah mewujud ke dalam tindakan anarkisme di kehidupan nyata. Biarlah dunia maya menjadi arena peperangan yang legal sebagai wujud kebebasan berkumpul dan mengemukakan pendapat seperti yang dijamin UUD kita. Bangsa kita harus mampu memanfaatkan kemerdekaan serta kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat ini tanpa harus menimbulkan rasa cemas atau takut dituntut ke meja hijau. Tentunya dibutuhkan sikap arif dan kedewasaan mental untuk memastikan kondisi aman dalam kehidupan nyata bangsa ini dapat berlangsung.

Sementara itu Partai Politik, LSM, Sekolah, Kampus maupun Lembaga Adat dan Keagamaan perlu secara terstruktur, sistematis dan masif untuk terus-menerus mendidik dan mencerdaskan komunitas mereka masing-masing agar lebih mengutamakan kesantunan serta adab dalam berkomunikasi dengan kawan maupun lawan politik mereka terutama dalam lingkup medsos tadi. Sebab budi bahasa merupakan perwujudan jati diri sebuah bangsa. Bahasa yang vulgar dan brutal akan menjadi indikator masyarakat yang taraf pendidikannya masih rendah dan juga berarti peran negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa belumlah dapat dikatakan berhasil.

menujukedewasaan (1)

img02. Ruang penyelesaian sengketa dengan otak

 

Pelaksanaan Pesuar 2014 memang belumlah sempurna. Ia tak luput dari berbagai kekurangan, baik secara sistem maupun dari segi kesiapan para pelaksananya (KPU) terutama pada daerah-daerah terpencil yang belum tersosialisasi dengan baik. Segala usaha untuk memantau dan mengoreksi kelemahan serta kekurangan yang ada haruslah disikapi dengan positif selama hal tersebut ditempuh melalui koridor hukum dan konstitusi. Gugatan ke Mahkamah Konstitusi perlu “dibudayakan” hingga jika suatu saat tak ada lagi gugatan yang muncul, kita dapat bernafas lega bahwa segala kecurangan itu telah benar-benar dapat dikendalikan/dihilangkan sama sekali.

Suatu ketika nanti, pemilihan Presiden bukan lagi menjadi sebuah hal yang menegangkan namun akan menjelma sebagai sebuah pesta kegembiraan. Menjadi sebuah momen kebersamaan dan kekeluargaan. Bisa digambarkan sebagai sebuah “Arisan”, sebab calon-calon pemimpin berkualitas telah bertebaran di seantero negeri. Sebuah kondisi yang hanya bisa dicapai jika amanat mencerdaskan kehidupan bangsa benar2 dapat terlaksana dengan baik dalam proses bernegara kita.

menujukedewasaan (2)

img03. Win or Learn

 

Demokrasi kita baru bisa dikatakan dewasa dan mapan, ketika, baik pemenang maupun pihak yang kalah sama-sama bisa menerima hasil akhir yang ada. Kedua belah pihak telah sampai pada kesadaran bahwa siapapun presiden terpilih akan menanggung amanah dari kedua pihak/kelompok sebagai warga dan masyarakat republik ini. Kelompok penguasa dan oposisi sama-sama merasakan kemenangan dan kegembiraan. Mereka tetap memiliki ruang masing-masing untuk mengabdikan diri kepada bangsa tercinta yang pada akhirnya juga akan tetap bermuara pada cita-cita kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Di dalam kekalahan kita tetaplah pemenang, seperti kutipan syair lagu di awal tulisan ini.

menujukedewasaan (3)

img04. Lose but Winning

 

Perlu pula dicatat bahwa walaupun jabatan Presiden adalah jabatan politik namun individu calon presiden tak harus selalu berasal dari partai politik. Ia boleh berasal dari kalangan mana saja namun harus memiliki jiwa kepemimpinan serta wawasan kebangsaaan yang cukup kuat agar mampu menjawab segala tantangan sebuah bangsa yang kompleks dan heterogen serumit Indonesia.

Sebuah hal yang juga menarik diperdebatkan adalah keharusan seorang capres berasal dari Indonesia atau merupakan warga negara Indonesia (WNI). Jika kita cermati konsep Bung Karno tentang Pancasila sebagai ideologi universal dapat dikatakan bahwa seluruh warga dunia boleh dan mampu mengamalkan Pancasila dalam konsep bernegara mereka. Tentu saja dengan sedikit modifikasi berciri lokal di masing-masing negara. Layaknya dalam dunia sepakbola seorang pelatih nasional tak harus berasal dari negara bersangkutan. Nah, apakah presiden Indonesia suatu saat, ketika kedewasaan kita tak lagi dipertanyakan, bisa berasal dari negara mana saja (Naturalisasi) namun dengan jiwa ke-Indonesiaan yang kuat? Mengingat tak sedikit WNA namun dengan kecintaan luar biasa pada kecantikan serta keramahan negeri kita tercinta. Mari menunggu, dan biarlah waktu yang akan menjawabnya..

 

//djasMerahputih

menujukedewasaan (2)

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.