Menjadi Single atau Double? Ada Enaknya dan Tidak Enaknya

Jeng Margi

 

Kenalan baikku, sebut namanya Dina (bukan nama sebenarnya) adalah seorang jomblo atau single. Hingga kini belum juga mendapatkan/menemukan jodoh/pasangan hidup. Ke manapun doi berada, di tempat kerja, di warung, di resto bahkan di kamar kecil sekalipun, oleh teman-temannya sering dihujani pertanyaan kapan menikah, kapan pestanya, kenapa berlama-lama. Sampai-sampai Si Dina ini sedikit tidak interest karena sering mendapat pertanyaan yang sama terus secara berulang-ulang.

jomblo

Mereka yang suka bertanya ini mungkin saja lupa bahwa  kenalanku ini adalah seorang wanita yang sudah pasti tak mungkin mengejar-ngejar cinta dari seorang pria, untuk mau dijadikan pendamping hidup, tak mungkin over expose pula untuk menarik lawan jenis agar mau bertekuk lutut padanya. Tidak khan…?

Yang terjadi, sebagai seorang wanita (single) adalah hanya bisa menunggu jodoh yang diberikan Tuhan kepadanya sambil melakukan pekerjaan yang jelas-jelas sudah ada di depan matanya. Ttak minder, tak menyalahkan diri sendiri, waktunya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat lainnya. Itu sudah bagus.

Sebagai teman aku hanya bisa men-support atau menasihatinya untuk tidak gegabah menerima ajakan banyak pria yang mungkin iseng atau serius mengajak berkenalan lebih dekat hanya karena alasan usianya sudah expired. Lagipula secara wajah, doi juga tak jelek, malah cenderung menarik, fashionable, well educated. Hidupnya juga sudah amat settle. So, Tak ada satupun alasan yang sanggup memberi stigma doi ini berat jodoh. Hehehehe

Menurutku, ya ini menurut pengalamanku saja, apa yang kulihat, apa yang kudengar menjadi single or double memang ada enak dan tidaknya. Di sini aku akan bahas sisi enak menjadi single terlebih dahulu *sambil nyanyi-nyanyi lagunya Opie Andaresta “I’m single I’m very happy”

  1. Mau pergi ke ujung dunia, tinggal pergi aja, tak perlu pamit-pamit
  2. Mau masak, jajan di luar, nggak ngaruh, tak ada yang protes
  3. Mau mengembangkan karir setinggi langit, tak ada yang keberatan
  4. Pengin tidur, tidur aja, kalo perlu ngorok, tak ada yang terganggu
  5. Mau uangnya habis, tak ada yang maido, tak ada pula yang meng-audit
  6. Hidupnya pure untuk dirinya sendiri, tak ada yang intervensi
  7. Pengambil keputusan yang baik dll

 

Sisi tak enaknya menjadi single adalah:

  1. Hidupnya garing, monoton
  2. Apa-apa dipikir sendiri
  3. Sering di’bully kawan-kawannya karena kesendiriannya
  4. Acapkali pengin menjadi orang yang pengin diperhatikan
  5. Lainnya sepertinya tak ada tuh…..! wkwkwkwkwk

 

Sementara, sisi enak dengan status dobel (mempunyai pasangan)

  1. Selalu berdekatan terus dgn orang yang paling kita kasihi, sepanjang waktu
  2. Ada yang memperhatikan
  3. Ada tempat untuk curhat
  4. Ada yang ngasih duit saban bulan
  5. Ada yang merindukan kehadiran kita
  6. Bila sakit, ada yang setia mengantar ke dokter
  7. Bila salah langkah, ada yang mengingatkan

 

Sedang sisi tak enaknya menjadi dobel adalah:

  1. Hidup tak bisa seenaknya karena ada pasangan yang bisa tersakiti
  2. Ada yang protes bila melangkah sendiri
  3. Mau istirahat, tidur, harus memastikan terlebih dahulu apakah pasangan kita sudah tersedia makanan dengan lauk pauknya (khusus wanita)
  4. Tidur tak boleh ngorok, krn orang di sebelah kita bakalan terganggu hihihihi
  5. Dengan siapa kita pergi, kemana, dimana harus dikomunikasikan dengan pasangan dll

Ya sudah, begitu saja….. bahwa dalam mengarungi hidup memang ada suka dukanya, ada enak dan tidaknya… tinggal bagaimana kita bisa mengaturnya….. karena manis dan tidaknya hidup, kita juga yang menentukan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.