[Oase Hidup Malaikat Kecil] Memberi dan Menerima

Angela Januarti Kwee

 

“Pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Tiongkok, akan muncul jembatan yang menghubungkan bumi dan bulan, sehingga Hou Yi dan Chang E dapat bertemu ….” begitu bunyi kisah tentang Mid Autumn Festival yang aku baca di buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara karyanya pak Joseph Chen. Perayaan tahun ini jatuh pada tanggal 8 September 2014 lalu.

Sama dengan tahun sebelumnya, tepat hari itu aku dan keluarga akan menyantap mooncake (Tiongciu pia) untuk memperingatinya. Mooncake ini tidak aku beli di pasar, namun langsung dibuat oleh Laukim-ku. Aku membawa mooncake dalam jumlah yang lumayan banyak karena beberapa teman juga memesannya.

memberi-menerima

Usai memberikan mooncake pada mereka yang memesan. Aku mengambil satu mooncake punyaku untuk kuberikan pada seorang kepala security di kantor. Istrinya adalah keturunan Tionghoa, namun sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kalau istrinya masih ada, pasti di rumah tersedia mooncake. Aku berpikir bahwa ia harus mencicipinya. Tidak lama, kepala security tersebut melewati ruanganku dan berhenti. “Biasanya anak saya selalu mengantar kue ke rumah, tapi tahun ini tidak ada. Saya jadi terharu mendapati anak saya yang satu ini memberikannya,” tutur beliau padaku. Aku terkejut mendengar perkataannya, karena aku hanya memberi satu potong kue untuk dicicipi. Aku ikut terharu.

Delapan hari kemudian, kepala security masuk ke ruangan mengantarkan paket untukku. Ah, aku senang sekali mendapati buku yang kupesan sudah datang. Siangnya, ketika aku pulang dari urusan di luar, ia berkata “Angel, kiriman buku sudah saya taruh di meja.” Aku bingung. Bukannya tadi dia sudah menyerahkannya langsung padaku? Aku segera menuju meja kerja dan mendapati satu paket lain berisi buku yang kupesan melalui seorang romo. Buku tersebut diterbitkan oleh mereka. Aku mengirim pesan untuk memberitahu buku telah kuterima. Ketika aku menanyakan harga buku dan ongkos kirim, romo malah membalas “Itu hadiah untuk Angel. Semoga diterima dengan senang hati ya.” Aku heboh sendiri. Tentu saja aku senang sekali karena bisa mendapatkan buku itu. “Terima kasih banyak ya, Romo,” balasku.

Aku teringat pengalaman yang hampir sama. Saat aku memesan beberapa buku dari romo yang lain. Paket buku yang kuterima malah lebih banyak dari yang kupesan. Aku mengkonfirmasi dan beliau berkata buku-buku itu hadiah untukku. Aku senang sekaligus terharu.

Aku bahagia sekali, karena judul renungan yang kubaca pagi ini “Surprise dari Tuhan” sungguh kualami seharian ini. Terkadang, Tuhan selalu menggunakan banyak cara untuk menyenangkan hati anak-anakNya. Memikirkan semua ini, aku jadi teringat hukum tabur tuai. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Ketika kita berani memberi, kita akan menerima dengan cara yang berbeda.

memberi-menerima (1)

*

Note : Kedua romo di dalam cerita adalah Direktur Yayasan Kanisius-Pendidikan Cabang Yogyakarta dan Direktur Penerbit & Toko Rohani OBOR.

*Sintang 16 September 2014

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *