Rock and Roll

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

WOW! Sudah 42 tahun hidup tanpa sosok ayah. Masih traumatik waktu masih kecil lihat ayah saya sakaratul maut jarak dekat close up dan wafat sore-sore jam segini 14 September 1972 di RS. Fatmawati. Saya nangis lalu dipeluk oleh sahabat ayah Om Gembel Soediono (donatur PDI sebelum pakai P). Duduk di tepi lapangan golf (Masih ada? Kok RS ada lapang golfnya?). Dua kali ke RS Fatmawati, 1972 dan 2012 waktu ayah mertua wafat. Apes banget dan trumatik dengan rumah sakit itu bagi saya (serem haunted lagi!). Waktu dimakamkan di Karet Bivak, saya ikut dan tak inget apa-apa kecuali dari foto saja.

pemakaman01

Menurut cerita ibu saya, Indonesia musim kemarau panjang dan mematikan. Jenazah ayah tak dibawa ke rumah kami, karena kekeringan tak ada air. Tapi dibawa ke famili di kompleks BI di Kemanggisan. Dulu rawa-rawa depan kompleks BI itu, sekarang jadi jalan tol Merak-Jakarta (tepatnya Jl. Arjuna II A).

pemakaman02 pemakaman03

Masih “beruntung” 42 tahun tak ada ayah. Ada orang yang tak pernah lihat ayahnya (juga ibunya). Masih “beruntung” lagi ayah yang wafat. Ibu akan menjaga anak sampai mati. Kalau ibu yang wafat, ayah langsung kawin lagi dalam hitungan minggu. Adat Indonesia!

Hidup tanpa ayah, hidup jadi seperti musik “rock n roll”. Kaki di atas, kepala di bawah. Jungkir balik, karena hidup aneh. Susah dan mengasyikkan. Seru! Yang lengkap orangtua, mungkin hidup sepert musik kroncong.

 

Tomorrow Never Knows.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *