Berkunjung ke Klenteng Xiao Yi Shen Tang

Jemy Haryanto

 

Bagi masyarakat setempat, keberadaan klenteng ‘Xiao Yi Shen Tang’ bisa menjadi tempat rekreasi alternatif melepas penat. Selain suasana tenang di sekitar, juga terbilang unik keberadaannya tepat di tengah laut, sepertinya inilah satu satunya klenteng di atas laut ada di Indonesia, atau mungkin di dunia??

Pagi itu, langit mulai terbungkus awan mendung. Tampaknya hujan akan segera turun mengguyur kota Pontianak. Namun cuaca buruk tidak sedikitpun menyurutkan keinginanku untuk berkunjung ke klenteng Xiao Yi Shen Tang.

Ada yang unik pada klenteng yang dibangun sekitar tahun 1960-an itu. Posisinya berada tepat di atas laut. Selain itu kerap juga digunakan sebagai lokasi pemancingan. Akhirnya bersama dua orang wartawan TV nasional, seorang Driver, dan sahabat dari Belanda, kami pun bertolak dari Pontianak.

Udara pengap tanpa Air Conditioning dalam mobil, badan jalan yang rusak dan berlubang membuat perjalanan kami terasa cukup lama. Padahal jika merunut pada kondisi normal, biasanya perjalanan dapat ditempuh sekurang kurangnya 30 menit. Namun kali itu perlu waktu sekitar satu jam untuk bisa tiba di dusun Merpati, Muara Kakap, kecamatan Sungai Kakap, kabupaten Kubu Raya.

Tak lama, bau anyir ikan basah maupun asin berasal dari toko-toko di sekitar pasar traditional mulai menyambut kami. Suara riuh para nelayan dari tempat pelelangan ikan juga bersahutan terdengar. Meskipun hari itu nelayan tidak banyak yang melaut, akibat cuaca buruk dan kelangkaan bahan bakar solar, namun kami masih bisa menemukan kekhasan atraksi itu sebagai sentral produsen ikan terbesar di kabupaten tersebut.

Fakta menarik lain terkait Muara Kakap ini adalah, bahwa 80 persen penduduknya keturunan Tionghoa. Mereka adalah keturunan orang Tiociu berasal dari daerah Guangdong, dan Khek (Hakka) dari daerah Fujian. Tapi mereka hidup berbaur dengan rukun bersama komunitas Bugis dan Melayu.

Kami kemudian tiba di dermaga kecil yang merupakan titik awal perjalanan menuju klenteng Xiao Yi Shen Tang. Ada sekitar lima sampai enam unit long boat atau perahu motor tertambat di sana, sebagai alat transportasi regular masyarakat setempat. Kami pun menggunakannya untuk memulai perjalanan, menyusuri dusun nelayan. 100 ribu rupiah biaya harus dikeluarkan per satu orang.

Long boat pun mulai bergerak perahan-lahan. Melewati kolong jembatan kayu yang melengkung. Ada pemandangan menarik kutemukan di tengah jembatan itu. Yaitu sebuah papan hijau beraksara merah lusuh yang tertulis: “Jembatan Bintang Tujuh” dan lengkap dengan aksara Cinanya. Jembatan tersebut digunakan sebagai akses penghubung antara Dusun Merpati dengan Pasar Kakap dan pusat kegiatan pemerintahan.

Jembatan Bintang Tujuh - Jemy Haryanto

Jembatan Bintang Tujuh – Jemy Haryanto

Setelah perahu melewati kolong jembatan, kami tiba pada muara sungai yang dipenuhi jermal-jermal penangkap ikan. Lalu Selat Karimata yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Jermal-jermal penangkap ikan dalam perjalanan menuju klenteng - Jemy Haryanto

Jermal-jermal penangkap ikan dalam perjalanan menuju klenteng – Jemy Haryanto

Dari kejauhan mulai tampak klenteng Xiao Yi Shen Tang berdiri sangat kokoh. Dinding-dindingnya bercat biru, kontras dengan pelisir merah pada atapnya. Tiang-tiang pancang dari kayu ulin yang menopangnya telah membuat bangunan itu seolah menyembul dari lautan lepas. Tidak salah jika warga setempat menyebut bangunan itu sebagai klenteng Timbul atau Pekong Laut.

Klenteng Xiao Yi Shen Tang

Klenteng Xiao Yi Shen Tang

Long boat pun merapat tiga puluh menit kemudian. Atau setelah menempuh perjalanan sekitar satu mil dari Muara. Kami kemudian meniti tujuh anak tangga kayu, hingga sampai pada beranda klenteng yang berpagar dan bernuansa merah. Sambil mengamati satu persatu simbol-simbol Cina yang begitu kentara pada klenteng itu.

5Lukisan Dewa Pintu

Lukisan Dewa Pintu

Pertama adalah dua tiang kayu penyangga atap beranda berhiaskan bunga teratai bersusun tujuh dengan warna jambon memudar. Terdapat sebuah papan nama beraksara Cina di antara bunga teratai, tepatnya di atas pintu. Aksara itu dapat dibaca ‘Xiao Yi Shen’ Tang yang artinya klenteng Darma Bakti. Atau biasa juga disebut ‘Hian Bu Ceng Tua’. Yaitu klenteng kumpulan Dewa-Dewa.

Pengamatanku kemudian berlanjut pada pintu masuk menuju ruangan dalam klenteng. Masing-masing pintu tersebut berhiaskan lukisan sosok dua dewa dalam mitologi Cina. Adalah Dewa pintu bernama Qin Qiong dan Yuchi Gong, atau Shen Shu dan Yu Lei.

“Namun Dewa utama klenteng itu adalah Guan Yu atau dikenal dengan sebutan Guan Gong atau Kwan Kong (Dewa Perang). Dewa tersebut dipercaya umat Tao sebagai pelindung kehidupan dan aktivitas umat,” ungkap Tan Cie Hong, 63 tahun, ketua pengurus persatuan umat Tao di Pontianak.

Tan Cie Hong

Tan Cie Hong

Ada yang menarik terkait Dewa Guan Yu itu. Dari literatur maupun catatan yang pernah kubaca, bahwa Dewa ini tidak hanya dipuja oleh orang biasa dengan berbagai profesi, tapi konon dipuja juga oleh serikat rahasia seperti mafia dan perkumpulan rahasia lainnya.

Pada bumbungan atap klenteng memiliki tiga buah bumbungan atap sebagai penutup beranda. Dua di antaranya berhiaskan dua naga yang dicat putih sambil mengapit mutiara.

Menurut Tan Cie Hong, klenteng itu sengaja dibangun dengan tiga bumbungan. Karena tiga dalam kepercayaan mereka merupakan angka penting sebagai simbol trinitas yaitu langit, bumi, dan manusia. Sebagaimana juga jumlah bumbungan atap dalam bangunan tradisi Cina.

“Sedangkan naga melambangkan elemen ‘Yang’ simbol kekuatan tertinggi dan keberuntungan. Dan mutiara merupakan simbol kesehatan dan kesejahteraan,” jelas lelaki yang juga memiliki nama lain Peter Stevens Tan.

811

Sementara satu bumbungan lain, tepatnya di atas beranda depan menampilkan sosok burung phoenix. Sosok satwa mitologi ini melambangkan elemen ‘Yin’ simbol kerendahan hati, kebajikan, kebaikan, dan kesopanan.

Kemudian sampailah aku di sisi sebelah kiri klenteng. Ada sebuah bak berukuran kurang lebih 2×10 meter bercat merah dan biru pada altarnya. Awalnya aku pikir bak itu sengaja dibuat sebagai wadah dalam prosesi kremasi jenazah, ternyata bukan. Bak itu merupakan tempat pembakaran kertas-kertas saat umat bersembahyang.

Bak tempat membakar kertas sembahyang - Jemy Haryanto

Bak tempat membakar kertas sembahyang – Jemy Haryanto

Menurut Tan, sejak dibangunnya klenteng Xiao Yi Shen Tang pada 1960-an lalu, memang telah menjadi pusat ziarah atau tempat bersembahyang umat pada Dewa-Dewa Tao. Puncaknya dapat ditemukan saat peringatan hari-hari besar Tionghoa, seperti pergantian tahun, dan lain-lain.

“Ada umat lokal. Ada pula umat dari luar seperti Jakarta dan Taiwan. Mereka datang ke klenteng untuk melakukan sembahyang,” ungkap lelaki berkacamata.

Sebagai tempat peribadatan, klenteng ini juga kerap dikunjungi masyarakat non Tionghoa. Mereka datang dari berbagai daerah di Kalbar, tanpa terkecuali luar negeri di antaranya Belanda, Amerika, Italia dan lain-lain. Kedatangan mereka biasanya hanya sekedar melakukan pengamatan, mengobati rasa ingin tahu. Ada pula yang mengambil rekreasi dan memancing.

“Namun yang sering datang adalah orang lokal. Dan jumlah pengunjung lokal paling banyak dapat ditemukan saat digelarnya even tahunan Robok-robok di sekitar Muara. Yaitu ritual tolak bala masyarakat Melayu di daerah itu,” terang Tan.

Namun siapa sangka, klenteng yang dulunya hanya sebuah pondok nelayan dengan jernal-jernal penangkap ikan ini ternyata pernah mengalami dua kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada sekitar tahun 70-an, dan yang kedua pada tahun 90-an akibat gelombang air laut naik sampai lantai klenteng.

“Dua kali kita renovasi. Tapi hanya tiang-tiang penyangganya saja yang sengaja kami tinggikan agar gelombang laut tidak naik lagi ke atas lantai klenteng. Dan sekarang sudah aman,” ungkap lelaki yang sudah menjadi pengurus sejak tahun 1970.

Sebagai tempat ibadah juga ikon pariwisata kabupaten, Tan merasa cukup senang jika klenteng tersebut dikunjungi banyak orang. Mengingat satu-satunya klenteng di atas laut hanya ada di Sungai Kakap.

“Saya berani mengatakan ini karena saya sudah cari di seluruh Indonesia. Dan klenteng yang berdiri di atas laut hanya ada di daerah ini. Bahkan di dunia juga tidak ada,” tutur Tan mengakhiri wawancara siang itu.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.