Geng Jalan Melati

Tri Yudani

 

Entah mengapa akhir-akhir ini aku ingat sahabat-sahabatku. Sahabat masa kecilku dulu. . .

Bukan hanya Andrea Hirata yang punya sahabat yang dinamai Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Tapi aku juga punya, sahabatku ada tiga orang, kalau dengan aku berjumlah empat. Semua namanya berakhiran “I” : Tri, Nani, Heni, dan Sri. Kami menamai sahabat berempat dengan sebutan, Geng Jalan Melati hahaha…

kenangan indah masa kecil

Aku lupa siapa yang menamai demikian itu. Cuma seingatku dulu kami berempat suka sekali pergi ke suatu tempat. Tempat itu indah, sepi, dekat lapangan, , di sepanjang jalan berjejer pohon cemara. Angin bertiup sepoi-sepoi di situ. Sejuuuuk. . . . selalu terasa kedamaian jika berada di situ.

Nah di otak kecil kami sesuatu yang indah itu ibarat bunga melati. Begitulah akhirnya kami menamai jalan di situ sebagai Jalan Melati, dan kami berempat yang biasa main di situ sebagai Geng Jalan Melati.

Geng Jalan Melati selalu ngumpul di rumahku setiap hari. Tentu sepuang sekolah. Makan tidur di rumahku itu sudah biasa. Ada hal unik yang tidah pernah kulupa, kami punya kebiasaan yang sungguh menyenangkan kalo kuingat. Kami makan ceker rame-rame, hahaha…Ya, makan ceker !! waooooo. . . sedaaaaap sekali. Rebutan ceker sak ember !!

Ibuku punya warung makan. salah satu menu andalannya adalah soto ayam. Di dalam soto itu selalu ada ceker-ceker ayam yang banyak sekali. Dan jaman dulu ceker itu tidak dijual. Siapa yang mau ya tinggal minta aja. Ibuku selalu menyisihkan ceker-ceker yang lezat itu untuk aku dan teman-temanku. Hmmmm. . . . . . . . enaknyaaa. . . . . .

Geng Jalan Melati kalau pas hari Minggu dan pasaran harinya Pon selalu pergi beramai-ramai ke pasar hahaha. . . . .Saya tidak pernah lupa yang saya beli selalu sama, Pindang !! Masyaallah. . . . dahulu pindang hanya ada pada hari pasaran. Di mana pasarnya sangat ramai.

Makan ayam goreng itu sudah setiap hari, karena memang jualan ayam goreng, kalau makan pindang memang sangat jarang. Dan yang aku ingat pindang jaman dahulu sangat lezat.

Nah di pasar itu, ada kebiasaan Geng jalan Melati yang nggilani kalau kuingat. Sehabis belanja yang gak seberapa itu, kami leles bungkus permen !! Hahaha. . . . . . dalam pandangan kami waktu itu bungkus permen itu sangat indah jadi harus dikoleksi. Begitulah kami berempat banyak-banyakan bungkus permen.

Geng Jalan Melati  juga tidak kalah berani dibanding geng kakakku yang cowok semua. Kami juga berani main di sungai !! Hahaha. . . . . nyari ikan dan udang. Kami tidak takut ular, juga tidak mikir ada makhluk halus penunggu sungai. Meski cerita tentang makhluk-makhluk halus selalu ada di benak kami. Udang dan ikan tangkapan lalu kami goreng dan makan rame-rame. Duh indahnyaaa. . . . .

Menginjak kelas 5 SD geng Jalan Melati punya kegiatan yang lebih modern.Kami jadi penyanyi, hahaha. . .

Benar, kami bertiga minus mbak Sri, menjadi penyanyi di desa kami. Entah mengapa kok pimpinan musik itu menunjuk kami bertiga jadi penyanyinya (aku, Heni dan Nani). Dari 3 orang itu Henilah primadonanya. Heni memang sangat cantik, bakat musiknya besar dan dia sangat berani. Dia yang banyak mengajari kami berjoget dan menyanyi.

Melalui tulisan ini aku berharap Heni bisa terhibur mengingat betapa hebatnya dia dulu hehehe. . . . .

Menginjak usia remaja Geng Jalan Melati pergi satu persatu meninggalkan desa, mengadu nasib. Mbak Sri ke Surabaya ikut saudaranya. Nani juga pergi ke Jember ikut saudaranya juga. begitulah kebiasaan orang dahulu di desa kami. Jika ekonominya kurang menguntungkan maka anak akan dititipkan saudaranya yang lebih mampu. Maka tinggallah kami berdua, aku dan Heni.

Aku dan Heni adalah dua mata uang yang sama. Kami sangat dekat. Di situ ada Heni di situ ada aku. Aku sangat menyayangi dia, dia juga sangat cinta aku. Kemanapun aku pergi selalu Heni menyertaiku.Aku dan dia punya kebiasaan unik. setiap pagi punya tugas membeli tauge.

Kami setiap jam 06. 00 disuruh membeli tauge. Kami naik sepeda onthel dengan gembira. Di sepanjang jalan kami bernyanyi. lagunya selalu sama, lagu Chicha Koeswoyo dan Adi Bing slamet, hahaha. . .Rambutku berkepang dua mirip Chicha, sedang Heni rambutnya berponi mirip Adi Bing Slamet, hahaha. . .

Ini lagu yang aku nyanyikan dulu:

AYAM BERKOKOK DI PAGI HARI KUKURUYUK. . . . .

BUNGA BERKEMBANG INDAH BERSERI TRILILILI. . . .

Sayangnya aku sudah lupa terusannya syair lagu ini hahaha. . . . .

Heni. . . . . Heni aku tidak akan pernah melupakannya. Jasanya padaku sangat besar.Aku masih ingat menginjak kami remaja. Kami mulai pacaran hehe. .Henilah. yang selalu mengantarku ketemu sama pacarku, waooo. . . . . .

Tidak terasa kini kami sudah tua. Hidup bagai cokro manggilingan. Yang dulu di bawah kini di atas. Geng Jalan melati yang dulu dekil dan ndeso sudah berubah. Nani sekarang jadi dosen, Heni tidak kalah mentereng, dia punya usaha di bidang properti. Melalui foto-fotonya yang diunggah di fb dia kelihatan sangat mapan. Fotonya semua di luar negeri. Sedangkan aku dan mbak Sri memilih jadi ibu rumah tangga.

Geng Jalan Melati, melalui fb ini aku kirim pesan aku sangat kangen kalian. Ayo kita berkumpul. Kalau bisa kita berkumpul lagi di jalan Melati, jalan kita dulu, jalan penuh kenangan.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.