Bandung Punya Uskup Baru (4 – Tamat): Tercecer Dibuang Sayang

Linda Cheang – Bandung

 

Selepas acara tahbisan Uskup Bandung pada 25 Agustus 2014 lalu, sebenarnya reportasi ini sudah layak diakhiri. Lagipula kalau aku kebanyakan menulis, bisa-bisa para pembaca bosan padaku karena kebanyakan menulis artikel.

Namun melihat beberapa hal yang tercecer, dibuang sayang dan terlalu berharga rasanya kalau hanya untuk disimpan sendiri, maka artikel terakhir ini akan akan menjadi penutup rangkaian reportasiku.

Misa Perdana Si Uskup Baru

Masih dalam rangkaian terpilihnya pemimpin baru bagi Keuskupan Bandung, sejak ditunjuk oleh Bapa Paus sampai resmi ditahbiskan, tentu Bapa Uskup baru sudah harus segera memulai tugas penggembalaannya. Tentunya oleh warga Katolik Bandung, setelah resmi sebagai gembala, misa perdananya Beliau sudah pasti jadi hal yang paling dinantikan.

Misa Perdana Uskup

Aku termasuk yang punya rasa ingin tahu yang besar pula, sengaja mengagendakan ikut misa perdana ini untuk lihat langsung, dan ketika sudah tiba di Katedral Bandung, ternyata kursi di dalam gedung Katedral sudah penuh sesak oleh para undangan, sedangkan jemaat dan warga yang ingin ikut ibadah, diarahkan untuk menempati kursi yang disiapkan di plasa samping katedral dan di aula. Aku memilih di aula saja dan ternyata itu pilihan jitu, karena kalaupun dapat kursi di dalam katedral, udaranya panas dan pengap. Sedangkan selama aku mengikuti misa di dalam aula, udara terasa sejuk dan nyaman.

Misa perdana tsb ternyata dibersamakan dengan misa syukur 50 tahun kaul kekal salah satu pastor yang bertugas di katedral tsb, Pastor Leo van Beurden, OSC, Pastor kepala Katedral Bandung. Aslinya Beliau berasal dari Belanda dan setahuku, Beliau sudah jadi WNI. Aku hanya sekedar tahu pastor ini, karena semasa remaja, pernah diajak almarhumah nenekku beribadah di katedral ini dan beberapa kali misanya dibawakan oleh Beliau, namun aku tidak kenal Pastor Leo secara pribadi. Bersyukur melihat Pastor Leo masih sehat dan takjub bahwa ternyata Beliau sudah mencapai tahun emas menjalani pilihan hidup imamatnya. Bravo! Uskup Baru Bandung saja malah belum mencapai 50 tahun usianya.

Monsi Anton & Pst Leo van Beurden

Rupanya meskipun misa di 31 Agustus 2014 itu adalah misa perdananya Si Uskup muda, tetapi Beliau tidak diberikan kesempatan membawakan kotbah, bahkan kata pembuka sekalipun. Setelah perarakan masuk yang tentu saja dihujani dengan jepretan dari berbagai gawai yang dibawa umat di dalam gedung Katedral, Bapa Uskup muda dalam jubah emasnya, memang tampak percaya diri dan kesan agung terpancar dari gestur tubuhnya walaupun kecil mungil (kata Lani van Kona), dan walaupun aku hanya bisa menyaksikan dari TV layar datar di gedung aula. Ada sesuatu yang selalu menjadi hal yang unik, yaitu karena topi pilleolusnya selalu mau jatuh setiap kali mitranya diangkat, jadi Si Uskup muda harus selalu meletakkan tangannya sesaat di ubun-ubun kepalanya, memastikan pilleolus tetap pada posisinya di sana. Aku hanya berpikir, kenapa tak pakai penjepit saja, sih?

Tunggu punya tunggu, uskup muda ini “cuma” membawakan beberapa ritus ibadah, yaitu beberapa doa, pemberian komuni dan sampai Penutup, serta tentunya tidak ketinggalan, yaitu Berkat. Kata pembukaan malah disampaikan oleh Mgr. Puja, selaku wakil dari KWI, dan homilinya, disampaikan oleh Pastor Leo, sehubungan dengan syukuran kaul emasnya. Keduanya sanggup menyampaikan perkataan dengan rileks sampai umat tertawa, apalagi Pastor Leo menyampaikan kisah masa kecilnya yang nakal bin badung sampai akhirnya berhasil menjadi imam, tapi tentunya umat bertanya-tanya, kapan Si Uskup Baru kecil mungil itu akan berbicara. Apalagi selama rangkaian ritus, Kata Pembuka, Homili, Pengumuman, ketika uskup muda itu duduk di tahtanya, Beliau terlihat tidak bisa diam tenang. Mungkin karena udara panas di dalam Katedral, karena Si Uskup muda ada terlihat beberapa kali mengusap dahinya.

Akhirnya barulah di bagian setelah Pengumuman, Si Uskup kecil ini kebagian bicara, dan ternyata pengaturan tersebut diatur oleh sekretarisnya. Perihal ini, Si Uskup kecil menyampaikannya kepada segenap umat, bahwa dirinya berpikir, akan membawakan Kata Pembukaan, namun dijawab oleh sekretaris uskup, bukan olehnya, tapi oleh Mgr. Puja. Lalu dia berpikir akan membawakan homili, namun lagi-lagi dijawab oleh sekretaris uskup bukan Beliau yang akan berkotbah, melainkan Pastor Leo. Sampai Si Uskup ini menyampaikan kepada umat dalam perkataannya, bahwa dia sempat bertanya dalam hatinya, “Siapa yang jadi uskup di sini?”. Dan umat pun tertawa.

Memang secara de jure, Monsi Anton ini adalah uskup definitif, namun ternyata secara de facto, yang jadi “uskup” sebenarnya adalah, ya, si sekretaris uskupnya! Segenap umat tertawa dan kelak saat perkenalan para pengurus baru Keuskupan Bandung, tentu saja si sekretaris uskupnya diperlihatkan seperti apa orangnya. Aku berpikir, lumayan kasihan juga Si Uskup, karena apa-apa pun diatur oleh sekretarisnya.

 

10406718_10203708363342293_3409436754404274820_n

Waktunya misa selesai, Si Uskup muda selama perarakan keluar dari Katedral, banyak disalami dan diabadikan gambarnya oleh umat undangan. Sebenarnya ada acara ramah-tamah dari Uskup Bandung dan Pastor Leo di belakang katedral, tapi aku tidak bisa ikut ke acara karena bukan termasuk undangan. Berarti aku baru akan bisa jumpa lagi dengan Si Uskup kecil kelak di suatu acara audiensi.

 

Lambang Keuskupan

Adanya Uskup baru definitif, tentu ada juga lambang baru Keuskupan Bandung, dan aku membandingkannya dengan beberapa lambang kekuskupan lain di Indonesia, lambang Keuskupan Bandung ini termasuk yang paling sederhana. Dirancang sendiri oleh Monsi Anton, sejak resmi ditunjuk jadi Uskup. Mottonya Ut Diligatis Invicem, yang artinya “Kasihilah seorang akan yang lain”, diambil dari ayat ke-17 dalam Injil Yohanes pasal 15. Gambar lambang dan arti dilampirkan di sini.

Monsi Anton kasula hitam

Jabatan Baru, Pakaian Baru

Ut Diligatis Invicem Visi & Makna

Konsekuensi dari dipegangnya jabatan baru sebagai Uskup Bandung, tentunya pakaian pun baru. Sebelumnya warga Bandung biasa melihat Pastor Anton memakai jubah ordo, berkasula hitam dengan lambang ordonya, dan kesehariannya Beliau suka mengenakan kemeja batik. Sebagai Uskup, Monsi Anton memakai pakaian uskup yang diperuntukkan sesuai kesempatan dan jenis kegiatannya, contohnya seperti pada gambar aku bersama Beliau di St. Ignatius Cimahi. Ada jubah putih bergaris ungu yang untuk kegiatan kategori sehari-hari, ada yang khusus pada saat tugas atau acara tertentu, menggunakan collar di bagian leher, dan ada sewaktu-waktu juga mengunakan pakaian uskup bergaris merah dengan kasula di pundaknya, berkalung salib dada alias crux pectoralis, seperti di gambar ketika Beliau ada di acara misa instalasi Uskup Agung Pontianak, hanya kalung salibnya tidak kelihatan semuanya.

10636094_945650482127724_2594237580287545654_n (1)

Selamat bertugas Monsi Anton!

Pada akhirnya, aku ikut mengucapkan selamat bertugas dan berkarya untuk Monsi Anton, Bapa Uskup Bandung yang muda. Suatu anugrah dan berkat luar biasa bagi Kota Bandung mendapatkan beberapa pemimpin baru yang muda, mengimbangi kotanya yang energik, dinamis dan kreatif karena banyak penduduk anak-anak mudanya.

Monsi Anton kasula putih  Mgr._Antonius_Subianto_(1)

Monsi Anton karikatur

Karikatur terlampir ini mewakili gambaran rasa sukacitanya warga Bandung akan hadirnya seorang Uskup Baru yang muda, dan sekaligus mungkin juga menggambarkan hal yang sedang dirasakan Monsi Anton. Lihat gambar 2 tetes keringat pada wajahnya…

 

Bandung, 23 September 2014

Salam,

Linda Cheang

 

Sumber berita :

  • Buku Misa Perdana Uskup Bandung
  • komkepbandung.com
  • Karikatur dari Buku Daya Doa Rahmat Salib

Sumber foto :

  • Koleksi pribadi Linda Cheang
  • Wikipedia
  • Blog Sastra F. Rahardi

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.