Memperjuangkan Hak Bagian Mutlak Waris, Sang Kakak Serakah Sang Adik Ditindas

Amstrong Sembiring

 

Judul: MEMPERJUANGKAN HAK BAGIAN MUTLAK WARIS, SANG KAKAK SERAKAH SANG ADIK DITINDAS

Penulis: Amstrong Sembiring SH MH

Penerbit: Konsorsium Untuk Transparansi Informasi Publik Indonesia (KUTIP Indonesia)

Tahun Terbit: September 2014

Tebal: Ix + 196 hal

buku

ISBN: ​

ISBN

Dunia ini punya cara tersendiri menyampaikan makna kesannya, Tuhan tidak tak pernah tidur dan selalu mendengar. Adakalanya kita merasa apa yang terjadi pada diri kita atau orang lain itu tidak adil, lalu ujung-ujungnya kita jadi terkesan mempertanyakan dimana keadilan Tuhan. Lihat saja jika seorang pencuri ayam tertangkap langsung dihajar oleh massa hingga meregang nyawa tapi bagaimana dengan para pencuri uang negara? Banyak yang masih bebas berkeliaran, kalaupun berhasil dipenjarakan hidupnya masih bisa bermewah-mewah.

Bahkan ada juga seorang kakak menguasai hak bagian waris adik kandungnya sendiri sampai menderita, dan tindakan itu merupakan tindakan sangat tercela. Menguasai hak orang lain itu adalah perbuatan zhalim. Tidak ada jalan lain menghapuskan tindakan semena-mena itu kecuali dengan menegakkan hukum dan aturan yang tegas. Siapapun yang menguasai hak orang lain itu harus diberi sanksi dan korban harus dilindungi dan dibela haknya. Maka tindakan sang kakak itu menyadarkan kita betapa pentingnya hukum ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, agar tidak ada orang semena-mena mengambil milik orang lain yang bukan haknya. Yang mengatur kehidupan bukanlah kekuasaan tetapi hukum. Hanya dengan tegaknya hukumlah anggota masyarakat dapat merasa aman dan tenteram, karena percaya tidak ada yang akan menguasai miliknya tiba-tiba atau menodongkan senjata agar dia memberikan uang atau perhiasannya. Sebab itu marilah kita mengupayakan penegakan hukum di negeri kita.

Harta yang diperoleh melalui jalan yang tidak benar hanyalah kesia-siaan. Yang memakan menguasai hak orang lain itu tidak bisa didiamkan dan harus dilawan dengan dukungan banyak orang dan iman yang teguh kepada Tuhan. Hal itu juga sudah diatur secara tegas di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, tentang pengakuan terhadap martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak terpisahkan dari semua anggota keluarga manusia merupakan landasan dari kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia. Mengakui bahwa hak-hak ini berasal dari martabat yang melekat pada manusia. Mengakui bahwa sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, keadaan ideal dari manusia yang bebas dari penikmatan kebebasan dari ketakutan dan kemelaratan, hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi di mana semua orang dapat menikmati hak-hak ekonomi, sosial dan budayanya, juga hak-hak sipil dan politiknya.

Biasanya orang yang suka memakan menguasai hak lain atau saudara sekandungnya itu terjadi bukan karena didasari oleh niat saja. tapi juga karena ada kesempatan. Oleh karena itu bagi semua orang yang ada niat dan ada kesempatan untuk melakukan perampasan (monopoli) dalam bentuk apapun itu untuk tidak melakukannya, sebab apa yang ditabur maka itu juga yang akan dituai, itu semua merupakan fenomena sosial sering dipertontonkan di hadapan mata kita.

 

Keluarga Merupakan System Expectation

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan beberapa anaknya, baik anak kandung maupun asuh, aktivitasnya tidak hanya terjadi interaksi antara seorang pria dewasa yang kebetulan berstatus ayah, bukan seorang wanita yang kebetulan berstatus ibu, dan bukan manusia-manusia kecil yang kebetulan berstatus anak, melainkan justru yang menjadikan ciri sebagai keluarga adalah adanya “system of expectation”, yaitu terjadinya harapan-harapan akibat terjadinya perubahan statuts dari status bujang menjadi suami, dari status gadis menjadi isteri.

Apa arti orang tua? Apa arti anak kandung? Seorang anak kandung “expectation” salah satu harapan baik untuk tidak menguasai hak saudaranya sendiri, “expectation” untuk tidak berbuat semena-mena terhadap saudaranya, “expectation” untuk saling menghargai sesama saudaranya, demikian juga anak-anak memiliki “expectation” apa yang harus dilakukannya terhadap orang tuanya. Anak-anak yang dilahirkan oleh sang istri, anak-anak yang ada di dalam rumah adalah titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita sebagai orang tuanya untuk di rawat, di didik dan dibesarkan. Di masa anak-anak itu masih kecil, sangat lemah, tidak banyak mengenal lingkungan di sekitarnya, masih sangat polos dan sangat bergantung pada perlindungan dan bimbingan orang tuanya.

Meski ada juga terjadi relasi antar “expectation” (harapan-harapan) tersebut tidak selaras dengan “performance” (pelaksanaannya, kenyataannya). Dalam teorema dimana makin lebar jarak antara “expectation” dengan performance” maka makin tidak ideallah hubungan tersebut.

Kemudian yang memberikan arti pada “system expectation” itu adalah kaidah-kaidah. Jadi mengisi “system expectation” itu adalah kaidah sosial, mencakup kaidah hukum, agama, moral dan kesopanan.

Oleh karena itu dalam “system expectation” jika ada anak yang berbuat semena-mena atau perbuatan yang terlarang, maka itu telah bertentangan dengan system expectation yang berisi kaidah-kaidah sosial, mencakup kaidah hukum, agama, moral dan kesopanan.

Secara analitik modelitas sikap perilaku sang kakak tersebut merupakan kombinasi ilusi pada kerakusan dan kebodohan. Sudah berjuta-juta teorema digaungkan kaum bijak bahwa orang yang mendapatkan kekayaan kemakmuran (kapital uang) dari bukan haknya maka menuntun kepada kejahatan. Sebab kekayaan kemakmuran (kapital uang) yang ia dapat itu akan memberikan sikap yang salah terhadap perkara-perkara materi (kapital uang). Cinta terhadap kapital uang haram yang bukan haknya menuntun kepada kejahatan, karena akar segala kejahatan itu ialah cinta terhadap kapital uang haram yang bukan haknya. Bagi orang waras tentunya itu akan menyiksa dirinya sendiri dengan berbagai duka. Sederhananya jika sang kakak bernama Soerjani Sutanto tersebut mempunyai rasionalitas yang baik maka tentunya tidak akan melakukan itu.

Beberapa tahun sejak Ayah mereka wafat, kakak kandungnya bernama Soerjani Sutanto tersebut selalu bikin ulah ingin menguasai harta warisan peninggalan ayahnya, sehingga muncul gugatan sengketa waris dilakukakannya kepada adik kandungnya. Sang kakak tersebut tidak tahu malu rakus, karena dia merasa anak yang tertua, maka dia meminta bagian besar dengan cara curang menggelapkan sebagian dari harta warisan peninggalan ayahnya dan modus tersebut berjalan terus dilakukan dengan memperalat Ibu kandungnya sendiri yang sudah sakit tak berdaya membuat sang adik tak terima, dan mengakibatkan mereka menjadi saling putus hubungan tali komunikasi persaudaraan.

Ibunya yang lumpuh dan sakit stroke itu tak berdaya tersebut, akhirnya ia pun meninggal dengan kesedihan mendalam. Dengan meninggalnya ibu mereka, anak tertua bernama Soerjani Sutanto bukan malah semakin sadar, eh malah semakin kurang ajar. Kakaknya dengan membuat rekayasa sebelumnya dibuat untuk menguasai harta waris tersebut. Adik kandungnya sengaja dimusuhin, dulu kakaknya juga pernah memperalat Ibu kandungnya tua renta membuat perekayasaan hukum terhadap adiknya sendiri dengan membuat laporan di kepolisian tentang pencurian satu buah kunci di rumah, dan akhirnya adiknya disidangkan di Pengadilan, kemudian di tingkat Banding dan Mahkamah Agung diputuskan tidak bersalah sama sekali.

Akibat pengaruh saran sesat dari advokatnya, sang kakak ini semakin menjadi-jadi menguasai keluruhan harta waris dan ingin menindas pula adik kandungnya. Pada saat hendak mengatur strategi menindas adiknya itu, tanpa sengaja orang kenal dekat dengan adik kandungnya mendengar. Melihat kelakuan kakaknya itu, Sang adik merasa sedih dan kecewa, serta dirugikan secara material karena kakaknya itu suka berfoya-foya berpergian ke luar negeri. Sang adik yang melihat kelakuan kakaknya tidak tahan, dan bersama kuasa hukumnya melakukan somasi agar jangan dikuasai harta waris dari peninggalan Ibunya dan segera memberikan pembagian secara proporsional…”

 

 

8 Comments to "Memperjuangkan Hak Bagian Mutlak Waris, Sang Kakak Serakah Sang Adik Ditindas"

  1. Deasy  10 June, 2019 at 10:27

    Semua hak waris ibu saya dan kakak” saya
    Semua dikuasai oleh 2 org kakak tertua dari lain ibu
    Kami tk bisa berbuat apa apa , ingin menggugat tak punya biaya untuk byr pengacara
    Kami hanya bisa pasrah pada Allah
    Karena kami yakin pengadilan Allah lah yg paling adil ..dan kelak akan ada akibat nya bagi orang yg serakah dan dzolim ….

  2. Endah  3 June, 2019 at 03:27

    Kami pun sama.. dana pensiun ibu yg sdh gk ada dibagi ber 5 untuk bapak dan 4 cucu. Tertera saja untuk dana pensiun duda bapak 1941000 dibagi ber5 dan untuk anakku yg ber 2 hanya di beri 2 juta setahun.. padadal seharusnya kurang lebih 10 juta setahun untuk anak2. Kami hanya bisa diam dari pada perang saudara

  3. Suryatul afifah  15 March, 2019 at 23:08

    Kalau suami saya anak tertua, tapi adiknya yg serakah, rumah yg kami tempati direbut paksa, dan terpaksa kami pindah ke rumah yg sangat tidak nyaman bagi kami, semoga hukum berguna bagi adik ipar saya, alloh SWT maha adil, tidah pernah tidur, semoga mukjizat berpihak pada saya dan suami, dan keadilan berlaku bagi kami.

  4. muhammad syafi'i muchtar albinsaid  21 February, 2019 at 10:19

    kalau saya bukan dirampas,saya ada surat hibah dari orangtua IBU saya(kakek) utk IBU saya justru kemenakan ibu saya yang sok ngatur rumah,tanah yg saya tempati,dia bilang bukan milik ibu saya sedangkan kemenakan ibu saya sdh dapat dari kakeknya(bpkny ibu saya) harta die sudah habis terjual

  5. NN  17 September, 2018 at 08:33

    Harta waris suami saya mau dikuasai oleh Kakak ipar saya yang perempuan. Dia pintar bersilat lidah dengan memberikan pengaruh-pengaruh negatif ke orang tuanya agar semua harta waris orang tua jatuh ke tangan dia dan suaminya. Suami saya dan adiknya hartanya mau dikuasai dengan memanfaatkan papanya agar memberi dukungan kepada dia. Rumah tangga saya hampir dibuat berantakan gara-gara ulah dia dan orang tuanya. Padahal rumah tangga adik ipar saya sudah berantakan akibat ulah mereka juga. Hukum apa yang berlaku bagi orang yang serakah mau menguasai harta saudara sendiri??? Orang tua masih hidup saja bisa jelas-jelas ingin menguasai harta adik sendiri, gimana jika orang tua meninggal?

  6. Yoyok  21 June, 2018 at 15:31

    Harta Warisan hak Bapak Saya dikuasai oleh Bude saya. Hingga bapak meninggal dunia, tidak sempat menikmati harta warisan itu. Tapi Allah tidak tidur, bude saya meninggal dalam kondisi tersiksa. Lalu menantu2 lelakinya yg ikut makan harta warisan selama bertahun2, tiba2 saja mati dengan alasan yg tidak jelas. Azab Allah sedang berlaku selama kazaliman masih terjadi di muka bumi.

  7. AGUS  26 April, 2018 at 17:13

    Semua hak milik saya yang bernilai ratusan juta dirampas oleh 2 kakak saya dengan cara bersekutu dengan aparat desa, surat” kepemilikan saya dimanipulasi untuk merampas hak milik saya, saya tidak punya apapun lagi untuk memperjuangkan hak saya apalagi untuk membayar kuasa hukum, saya hanya bisa pasrah kepada Alloh

  8. denti  14 August, 2017 at 16:50

    waris ayah ibu sy diiuasai 100% olh ank lk lk. sy tdk kuat byr pbgacara.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.