[Resensi Film] Lari dari Kenyamanan Semu

Abu Waswas

 

Datang lagi di jagat fiksisinema sebuah film berlatar dunia distopia (antitesis utopia), sebut saja di antaranya The Hunger Games dan The Divergent.

Apa yang baru dari film yang dipinang dari novel laris manis karya James Dashner, The Maze Runner? Premis cerita nan menjanjikan!

THE MAZE RUNNER

Pemain: Dylan O’Brien, Aml Ameen, Ki Hong Lee, Blake Cooper, Thomas Brodie-Sangster, Will Poulter, Kaya Scodelario, Joe Adler, Patricia Clarkson.

Sutradara: Wes Ball.

Skenario: Noah Oppenheim, Grant Pierce Myers, T.S. Nowlin.

Produksi/distribusi: Gotham Group, Temple Hill Entertainment/ 20th Century Fox.

mazerunner

Dari elevator yang menderuderu, muncullah seorang remaja yang kepayahan dan amnesia temporer. Dia disambut oleh cowokcowok sepantarnya ke sebuah tempat berupa hutan kecil, padang rumput, ladang palawija, dan kandang (rumah) yang dikitari dinding beton ratusan meter, di pusat labirin. Mereka semua terjebak di tengah labirin. Bukan labirin seperti kebanyakan. Labirin yang disebut Glade itu konfigurasi dindingnya bisa berubah kapan saja (secara periodik?).

Remaja yang amnesia itu akhirnya tahu siapa namanya, Thomas (Dylan O’brien), beserta fragmen memori mengapa dia ada di sini, di Glade, walau ingatannya abu-abu. Thomas diterima dengan tangan terbuka oleh Alby (Aml Ameen) si pemimpin Glader (sebutan bagi penghuni Glade) dan dekat dengan Chuck (Blake Cooper), Glader termuda, gemuk, dan berambut merah tembaga.

Tak ada yang tahu siapa yang mengirim mereka ke Glade, semuanya terasa gelap. Yang pasti mereka hidup nyaman di sana setelah usai masamasa kelam. Itulah kira-kira prinsip Gally (Will Poulter) si Glader antagonis yang taat aturan (di antaranya dilarang memasuki dinding Glade).

Sampai pertanyaan demi pertanyaan bercokol di benak Thomas: untuk apa kita di sini, ini bukan rumah kita, lebih baik mati daripada terpenjara. Dan Thomas bersama Minho (Ki Hong Lee) adalah dua dari para runner (pelari) yang tiap siang memasuki dan memetakan ronggarongga labirin dan mesti kembali ke pusat sebelum matahari terbenam karena sebelumnya tiada Glader yang sanggup bertahan di rongga labirin karena ancaman Griever (serangga hibrida robot dan otot) yang sengatannya bisa mengacaukan pembuluh darah.

Hingga suatu petang, yang seharusnya pintu Glade bertalatala tanda tertutup, kali itu tidak. Teror muncul. Griever masuk ke pusat dan membantai separuh penghuninya.

Menggetarkan!

Dengan tonase visual yang muram dan hangat, dan tekstur musik yang sederhana, The Maze Runner terbilang cukup menegangkan (thrilling) secara aksi namun melempem pada sektor drama dan penokohan. Banyak tokoh yang terasa bagai tempelan dan kurang kuat mengabarkan karakter sebenarnya. Misal aktor Will Pouter yang secara muka dan gestur terkesan satu dimensi sebagai Gally si antagonis. Sisi rapuhnya kurang disorot. Termasuk aktris Kaya Scodelario (Teresa), satusatunya Glader cewek, si pemanis yang kurang manis. Kecuali untuk aktor Blake Cooper si pemeran Chuck yang dapat bumbu drama. Ia memahat patung mini dari kayu untuk orangtuanya yang bahkan tidak diingatnya. Terlepas apa akting mereka tersekat naskah skenarionya atau tidak. Semoga iya.

maze-runner

Apa pun itu, The Maze Runner unggul dari segi aksi thriller yang membuat penonton menahan kedip mata tatkala Griever menyerang dan saat formasi pintu dan pisau labirin bergerak dinamis dan sadis. Horor! Hampir tiada sekuens yang longgar.

Maka dengan premis yang menjanjikan (terperangkap di pusat labirin, labirin yang kompleks, tanpa tahu motifnya) sang sutradara cukup berhasil. Lumayan menghibur.

 

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.