Sampoerna Agro, Ekspansi Terbatas Karena Pendanaan Meskipun Land Bank Luas

Agus Benzaenuri

 

Sampoerna Agro Tbk, (SGRO) masih memiliki lahan perkebunan hingga 100 ribu hektar yang belum ditanami yang sepertinya karena keterbatasan pendanaan membuat ekspansi perkebunan terbatas meskipun kinerja keuangan pada semester pertama 2014 ini tumbuh signifikan.

Selama semester pertama 2014, Sampoerna Agro telah menambah ekspansi dengan menambah kapasitas tanaman perkebunan sawit baru dengan belanja modal hingga Rp 127,61 miliar namun belum cukup untuk memenuhi kapasitas seluruh perkebunan sehingga dapat menghasilkan sawit secara maksimal.

Meskipun telah melakukan ekspansi tersebut, cadangan luas lahan belum tertanami tercatat mencapai 55,6 ribu hektar dari 233,2 ribu hektar dan dengan lahan yang sengaja untuk tidak ditamani untuk alasan lingkungan dan infrastruktur mencapai 55 ribu hektar.

Keterbatasan pendanaan sepertinya membuat Sampoerna Agro hanya melakukan penambahan penanaman perkebunan sawit secara terbatas yang ditunjukkan dengan cadangan kas terbatas yang hanya sebesar Rp 109,8 miliar pada periode semester pertama ini.

Sebagai catatan, untuk periode tahun 2013 lalu, dalam penambahan tanaman baru seluas 6 ribu hektar, SGRO membutuhkan pendanaan hanya untuk pengadaan tanaman baru dengan belanja modal sebesar Rp 251 miliar.

Kami melihat, saat ini pertumbuhan kinerja yang positif dan potensi pertumbuhan dimasa mendatang yang cukup besar didukung ketersediaan land bank yang cukup luas, Sampoerna Agro perlu mengambil opsi untuk mendapatkan pendanaan untuk ekspansi. Pilihan opsi Sampoerna. Agro tersebut dapat berupa menambah pendanaan melalui laverage ataupun melalui modal.

Kami melihat jika opsi yang pertama yaitu jika melakukan pendanaan melalui laverage, maka akibatnya hutang akan bertambah cukup besar dengan risiko yang meningkat. Pendanaan melalui bank cenderung membuat beban bunga relatif tinggi karena perkebunan Sampoerna Agro yang didominasi berada di wilayah zona monsun Sumatera bagian selatan memiliki risiko lebih tinggi terhadap produktivitas operasi dibandingkan perkebunan diwilayah Sumatera bagian utara.

Saat ini posisi neraca Sampoerna Agro dengan debt to equity (DER) sebesar 0,45 kali, relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang mencatatkan rasio DER hingag 0,56 kali sehingga potensi pembiayaan dengan meningkatkan laverage masih memungkinkan.

Sementara itu, opsi pembiayaana lainya yaitu melalui modal masih dapat dimungkinkan. Sampoena Agro dapat melakukan pembiayaan dengan mekanisme penawaran umum terbatas atau dengan kemitraan dengan investor lain dengan dukungan peningkatan kinerja saat ini.
Kedua opsi tersebut dapat dilakukan jika operasional produksi meningkat dan menunjukkan kinerja positif. Sebagai catatan, pada tahun 2013 lalu, produksi tandon buah segar (TBS) oleh Sampoena Agro sempat mengalami penurunan signifikan karena faktor cuaca. Penurunan produksi TBS pada periode tersebut mencapai 21%.

Namun, kinerja operasional tahun ini telah membaik dengan indikasi positif yaitu, hingga semester pertama ini produksi telah kembali meningkat dengan kenaikan produksi TBS mencapai 37% mencapai 692 ribu ton dan produksi crude palm oil (CPO) mencapai 43% menjadi 142 ribu ton.

share-price

 

Kinerja Keuangan Sampoerna Agro Tumbuh Signifikan

Laba bersih Sampoerna Agro tercatat tumbuh 7 kali lipat hingga mencapai Rp 185,80 miliar pada semester pertama ini didorong oleh kenaikan penjualan CPO Sampoerna Agro tercatat meningkat 25% menjadi sebesar 133 ribu ton. Dengan didorong oleh kenaikan harga CPO tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, penjualalan berdasarkan nilai tumbuh hingga 44% menjadi Rp 1,46 triliun.
Marjin laba kotor tercatat tumbuh menjadi 30,8% dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 17,8%. Kenaikan tersebut didukung oleh kenaikan laba kotor yang tumbuh hingga 148,9% menjadi Rp 448,16 miliar setelah didukung kenaikan penjualan baik dari sisi volume dan harga jual yang meningkat.

Meskipun beban beban langsung meningkat, kenaikannya tidak melebihi kenaikan penjualan yang tumbuh lebih tinggi. Tercatat beban lansung naik hingga 21,3% y-o-y dengan didorong oleh kenaikan beban pemeliharaan, beban panen, beban tidak langsung dan produksi dan pembelian TBS.

Dalam proses produksinya, Sampoerna Agro masih mendatangkan TBS dari pihak ketiga hingga semester pertama ini sebesar Rp 560,94 miliar atau naik dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp 299,40 miliar.

Apabila Sampoerna Argo dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dari perkebunan sendiri, dengan potensi lahan kosong yang masih luas, dimasa mendatang marjin laba kotor ini mempunyai potensi untuk tumbuh.

Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, penyusutan dan amortisasi (EBITDA) tercatat tumbuh hingga 217,6% menjadi Rp 394,31 miliar yang menunjukkan profitabilitas Sampoerna Agro juga tumbuh. Marjin Ebitda juga tercatat tumbuh menjadi 27,1% dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 12,3%.

Namun, imbal hasil terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 13,9% atau lebih rendah dibandingkan industri sebesar 19%. ROE ini berpeluang meningkat jika Sampoerna Agro menambah laverege untuk ekspansi lahan kosong yang hingga saat ini belum sepenuhnya ditanami.

Sampoerna Agro tercatat mempunyai kapitalisasi pasar relatif besar hingga Rp 4,06 triliun dengan nilai aset yang tercatat sebesar Rp 4,09 triliun. Perbandingan harga dengan laba bersih per saham atau PER sebesar 10,86 kali sehingga kami melihat Sampoerna Agro masih reltif murah dibandingkan dengan kompetitor lainnya ataupun pasar. Selain itu, rasio harga terhadap nilai buku per saham atau PBV tercatat sebesar 1,43 kali yang juga lebih rendah dibandingkan industri dan pasar.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *