[Mangole] Perjuangan

Imam Dairoby

 

Tapak kaki ku

Aku tinggalkan perlahan
Untuk mengais pesona yang dianugerahkan
Kadang berbinar
Kadang redup
Tapi semangat tak boleh pudar
Sering ku dapat yang ku cari
Tapi kadang berlimbah peluh tak satupun ku nikmati
Derai tawa dan air mata menyusup seiring helaan nafas
Tapi ku yakin semua indah pada waktunya

 

“Kamu di kamar ini saja tidurnya, ini pun baru di buat kok,” kata Kang Ron

“Iya kang,”

“Aku dan mbak mu mau ke pasar, tadi jualannya dititip sama mama mertua di sana, kamu istirahat saja. Pasti di kapal tidak bisa tidur, apalagi kamu baru pertama naik kapal, iya kan?” kata Kang Ron yang berada di mangole bersama dengan mertua yang telah lebih dahulu menetap di sana.

Aku mengangguk. Mereka segera bergegas menaiki sepeda mereka dan lenyap dari pandanganku. Aku melihat sekeliling rumah tempat Kang Ron mengontrak. Rumah ukuran 5 x 8 dengan di sekat menjadi 3 ruangan. 2 ruang tidur dan satu ruang besar yang hanya disekat dengan sebuah kotak yang di bentuk menyerupai lemari tempat menyimpan tempe untuk di fermentasikan. Bagian depan terdapat dipan yang berguna untuk mengeringkan kedelai bila telah selesai di kukus dan bagia belakang lemari itu adalah dapur yang digunakan untuk memasak.

Kang Ron memang sekarang membuat tempe yang dijual di pasar kampung Falabisahaya. Karena memang belum ada yang menjual maka tempe Kang Ron adalah yang paling di buru bagi penggemar makanan dari kedelai tersebut. Hampir 2 tahun Kang Ron berada di Falabisahaya. Padahal dulunya Kang Ron adalah Pegawai Negeri Sipil di IKIP Negeri Manado.

Aku tahu dia meninggalkan pekerjaannya karena jiwanya tak ingin dibelenggu dengan urusan yang seringkali mempersulit dirinya. Jaman ini adalah jaman di mana korupsi, kolusi serta nepotisme merajalela. Jika tidak memiliki jaringan atau orang-orang yang dekat dengan jenjang yang lebih tinggi dapat dipastikan karier akan berjalan di tempat atau bahkan terhenti.

Kami telah banyak diajarkan oleh bapak untuk berlaku jujur walau harus sering diperlakukan tidak adil. Benar kata pepatah, jika jaman sudah gila kita harus ikut gila. Jika tak mengikuti kita akan tersingkir dan kita yang akan dikatakan gila.

Benarkah?

Begitulah sehingga Kang Ron merasa tak sanggup untuk berada pada posisi yang serba sulit, hingga memutuskan untuk keluar dari Pegawai negeri Sipil. Keputusan yang sangat bodoh demikian kata teman-temannya. Tetapi prinsip seseorang terkadang tidak dapat dinilai dengan berapa besar materi atau kehormatan yang dia dapatkan tetapi lebih pada kenyamanan dan kedamaian diri dalam menghadapi kehidupan.

Saat pertama menginjakkan kaki di Kampung ini Kang Ron berjualan rujak. Sedikit demi sedikit dia mengumpulkan uang dan akhirnya bisa membuat tempe dengan modal 3 kilogram kedelai. Pertamanya dia membuat secara manual, yaitu mengupas kulit ari kedelai dengan cara menginjak dengan kaki setelah kedelai tersebut direbus setengah matang.

perjuangan

Kulit ari kedelai yang lepas kemudian dibuang dan selanjutnya kedelai yang telah bersih dari kulit ari dikukus sampai matang.

Kedelai yang telah matang kemudian dianginkan sampai agak kering dan diberi ragi yang dicampur dengan tepung terigu sebagai media untuk fermentasi. Hasilnya dimasukkan ke dalam plastik dan disimpan semalam untuk kemudian digelar di rak-rak lemari untuk difermentasi selama satu hari. Keesokan harinya tempe siap untuk dipasarkan.

Dari situlah akhirnya Kang Ron selama hampir setahun mengelola usahanya dan akhirnya bisa membeli alat penggupas ari kedelai sehingga tak perlu menginjaknya lagi yang menurut sebagian orang kurang higienis.

Bermula dari 3 kilogram kedelai sekarang Kang Ron setiap hari bisa membuat tempe menjadi 20 Kilogram per hari. Dan itu telah mengubah perekonomiannya.

Mulai bisa mengontrak rumah sendiri sebab sebelumnya dia ikut bersama mertuanya, sampai bisa membeli 2 sepeda dan beberapa rupiah untuk ditabung. Tak ada keinginan dari Kang Ron untuk bekerja di pabrik yang menjadi incaranku bekerja.

Dia selalu mengatakan bahwa dia sudah bosan diperintah orang, kalau hanya untuk kerja di pabrik mengapa dia harus keluar dari pegawai negeri. Itu yang selalu dikatakannya. Dan aku tahu dalam jiwanya telah terpatri jiwa wirausaha.

Selama menunggu lowongan pekerjaan di pabrik aku membantu Kang Ron dan Mbak Sul membuat tempe. Sekaligus menjaga anaknya yang masih umur 5 tahun lebih jika memang harus ditinggal di rumah. Aku sudah terbiasa merawat anak kecil sebab sejak di Manado pun anak mereka sering dititipkan di rumah kami dan akulah yang sering menjaganya.

Menunggu adalah pekerjaan yang sangat menjemukan. Dan itu yang ku alami saat aku menunggu lowongan pekerjaan dari perusahaan itu. Tetapi sesuatu harus dikerjakan dengan kesabaran untuk membuahkan hasil yang terbaik. Saat jenuh datang aku meminjam sepeda dan pergi ke pantai dekat lapangan udara yang ada di desa itu.

Di situ ku dengar deru ombak yang sangat ganas, ku duduk di tepi pantai menikmati saat matahari terbenam, sangat indah. Angin semilir menerpa wajahku dan bau khas laut yang sangat aku suka menusuk indra penciumanku.

            Sering saat seperti itu ku dendangkan kecil lagu dari KLA Project

            Pasir ombak bergulung menderu

            Sejauh kaki melangkah tak lepas memandang

Ramainya orang bersuka

Jaka dara tua muda

Melepas lelah sehari dan menghibur diri

Tak kau lihatkah itu semua

Tanah pusaka milik kita

Ketika ternoda ulah manusia

Kita lalai dan pantai berduka

Selalu saja lagu tersebut mengiringi aku menikmati segarnya angin sore di tepi pantai. Terkadang terlihat camar meliukkan dirinya dan bercengkerama dengan sesamanya. Aku tersenyum dan saat-saat seperti itu adalah saat paling membahagiakan diriku.

Rasa syukur aku panjatkan kepada Sang Penguasa atas segala karunia yang telah diberikan kepadaku.

Engkau tersenyum padaku
Dengan ujian Mu
Dengan cobaan Mu
Engkau semakin tersenyum
Apakah aku bertahan
Apakah aku bersabar
Aku tahu Engkau sangat menyayangiku
Aku tahu Engkau sangat mengasihiku
Dan aku tahu aku membutuhkan kasih sayang Engkau
Ya Illahi
Ya Robbi
Aku bermunajat pada Mu
Mohon tetap sinari aku dengan kasih sayang Mu
Jangan palingkan wajah Mu dari jiwa dan ragaku
Dan aku percaya
Setiap detik Engkau mengingatku
Walau aku sering alpa mengingat Mu
Ya Illahi
Ya Robbi
Aku percaya

Engkau tetap tersenyum untuk ku.

 

(Sendawar-Kutai Barat, 19012010)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.