Sang Inspirator Itu adalah Seorang Pengamen

Tjiptadinata Effendi

 

Sudah sejak seminggu ini, perasaan saya nggak nyaman. Saya mencoba menelusuri seluruh relung pikiran saya. Karena bila perasaan hati tidak nyaman, biasanya ada sesuatu yang membebani pikiran atau mungkin ada masalah yang tidak tercarikan solusinya. Sambil duduk mereguk secangkir cappuccino, yang masih mengepul hangat, saya duduk merenung diri di teras kediaman kami di Mountu Saint Thomas. Baru saya ingat bahwa yang menjadi beban pikiran saya, adalah masalah tanah yang kami beli di kampung dan sudah memiliki sertifikat hak milik, ternyata ada yang menanam pohon kelapa sawit di tanah milik kami. Padahal, tidak pernah menghubungi saya, apalagi minta ijin untuk menggarap tanah tersebut.

Semakin saya pikirkan, semakin membuat perasaan jadi nggak keruan. Membayangkan, hasil kerja keras bertahun tahun, yang kami belikan tanah seluas 30 hektar, untuk dijadikan perkebunan, tiba tiba diserobot orang, tanpa ijin. Serasa ingin saya segera kembali untuk mengurusnya. Nah hal inilah yang ternyata membuat saya jadi uring-uringan.

Pengamen itu kembali bernyanyi

Ketika kening saya sedang berkerut memikirkan masalah di atas, tiba-tiba, entah apa sebabnya, seolah nyanyian seorang pengamen, yang kami temui 3 tahun lalu di Alaska, seperti hadir lagi di alam pikiran saya dan nyanyian itu seperti nyata dalam hati…………..”

Good morning everybody….

Welcome to Alaska. Whoever you are enjoy your life! Celebrate your life!

Look at me. I have nothing. Even if I left my jacket on the floor, no one care about it. Because it nothing. But, I tell you, If I die today, I should say: ” Praise the Lord” because I have get a cup of cappuccino”

Bagaikan terjaga dari mimpi buruk, saya terjaga. Saya malu pada diri saya, karena kurang bersyukur untuk yang ada pada kami. Mengapa saya harus murung? Kurang apa hidup kami di sini? Semuanya sudah ada..

Sedangkan si Pengamen, yang tidak memiliki apa-apa, bahkan kalau jaketnya dibuang, tidak ada yang mau memungutnya, karena tak berharga sepeserpun, tapi rasa syukurnya kepada Tuhan, jauh melampau rasa syukur saya. Saya sungguh malu pada diri sendiri dan pada Tuhan. Kami punya rumah, kendaraan, kebutuhan hidup, bahkan dapat menikmati hidup secara luar biasa, namun masih murung, hanya karena urusan tanah.

disini kami tinggal

Mata saya basah.. saya menyesal dan berjanji pada diri sendiri, untuk selalu bersyukur atas apa yang ada pada kami.

Jangan Lihat Siapa Yang Berbicara

Saya ingat sebuah pribahasa mengatakan: ’Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi dengarkanlah apa yang dibicarakannya”

Pengamen itu sudah menjadi Inspirator bagi diri saya, untuk selalu bersyukur atas karunia hidup.

 

Mount Saint Thomas, 28 September, 2014

Tjiptadinata Effendi

 

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.