Drama Dengkul Indah

Wesiati Setyaningsih

 

Saya jadi pengguna angkot sejak kuliah semester satu di Undip (waktu itu masih di Pleburan). Kebetulan depan rumah Ibu dilewati angkutan baik mikrolet maupun bis kota. Untuk ke kampus tinggal naik mikrolet kira-kira setengah jam kemudian turun di daerah Siwalan lalu jalan kaki, kalau memang waktu kuliah tidak mepet, atau naik becak kalau capek atau buru-buru.

Ketika bekerja di Dinas Pariwisata saya juga naik mikrolet lagi karena jalurnya hampir sama. Baru saat bekerja di Kelurahan sampai sekarang saya naik motor karena tempat kerja dan tempat tinggal ada di satu kompleks. Sampai sekarang saya lebih suka naik angkot kalau harus ke Semarang bawah. Meski banyak repotnya karena sering kali jadi telat karena sopir suka ‘ngetem’, tapi di mikrolet selalu banyak kisah.

Ketika pagi itu diminta untuk menghadiri acara Road Show menumbuhkan minat baca yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah, saya memilih untuk naik angkot. Acara diselenggarakan di halaman Gedung Wanita yang dilalui angkot. Motor saya titipkan di depan toko swalayan yang tukang parkirnya teman saya, jadi sudah biasa nitip motor di sana. Lalu saya naik angkot dari situ.

Pagi-pagi naik angkot ternyata lebih asyik karena selain belum sepanas siang hari, penumpang yang lain juga masih segar dan bau wangi. Karena turun di ujung rute, saya mojok ke dekat jendela paling belakang saja agar tidak menghalangi penumpang lain yang naik turun.

Sampai Srondol naiklah laki-laki dan perempuan setengah baya yang sepertinya pasangan suami istri. Entah kenapa si suami memilih untuk duduk mojok di depan saya sedang si istri memilih di depan pintu. Mungkin si suami berpikir seperti saya, agar tidak mengganggu penumpang yang akan naik atau turun. Sementara si istri mendekati pintu agar tidak susah nanti ketika turun. Alhasil mereka jadi duduk terpisah ketika penumpang-penumpang baru duduk di antara mereka.

Mikrolet berjalan lagi, tak lama naiklah seorang perempuan muda mengenakan terusan se-bawah lutut dan membawa ransel besar. Karena sudah penuh dia duduk di kursi kecil tambahan yang ada tepat di belakang supir. Siapapun yang duduk di situ akan menjadi pusat perhatian penumpang yang duduk di posisi saya. Apalagi kalau orangnya menarik seperti ini.

Dengan asyik saya mengamati perempuan muda yang dengan tak peduli dengan sekitar, terus menerus main hape sejak naik. Kulitnya bersih kuning langsat, rambutnya yang bergelombang terurai, dia sisihkan melewati bahu kirinya. Wajahnya tidak cantik sekali, tapi cukup enak dilihat. Hidungnya saja tidak mancung, tapi ‘pantas’. Tas ranselnya di pangkuan dan dengan rok selutut, tampaklah lutut yang terbuka. Saya bisa melihat kaki yang bersih dari lutut ke bawah, lalu sepatu pantofel hak pendek warna hitam yang manis.

Perhatian saya kembali tertuju ke lututnya yang bersih. Saya tahu roknya tidak terlalu pendek, tapi duduk di kursi pendek begitu, jelas saya ujung rok jadi tertarik ke atas. Maka tampaklah kedua lututnya dengan jelas dan itu menarik sekali buat saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa sekedar lutut saja adalah pemandangan langka.

dengkul

Dalam hati saya mengeluh, di jaman sekarang, karena jarang sekali lutut terlihat.  Pemakai jilbab pasti akan mengenakan rok atau celana panjang sementara xmereka yang tidak berjilbab pun lebih memilih jins atau celana panjang. Saya geli sendiri, pikir saya, “hanya dengkul saja kok rasanya sudah begitu ‘terbuka’..”

Iseng saya menatap Bapak di depan saya. Kepalanya menengok ke kanan lurus melihat jalan di depan. Saya menunggu matanya melirik ke bawah sedikit. Tunggu punya tunggu, sedetik, dua detik, lalu sreet.. Matanya melirik ke bawah. Saya tahu pasti si Bapak melihat ke lutut mulus yang indah itu.

Saya lantas menoleh ke arah istrinya yang duduk tak jauh dari si empunya lutut. Benar saja, Ibu itu menoleh ke belakang ke arah suaminya dan dilihatnya si suami sedang fokus menatap ke depan dan tak berkedip. Tatapan si Ibu lama tak beralih dari suaminya, seolah ingin mengingatkan agar jangan memandang lama-lama. Dalam hati saya terkikik. Drama tatapan mata terjadi justru ketika si penyebab malah asyik dengan hapenya, sama sekali tak peduli bahwa lututnya sudah menyebabkan dua hati terkoyak. Haha…

Tak lama mikrolet berhenti, ada penumpang turun. Perempuan muda yang duduk di belakang sopir jadi bisa bergeser ke sebelah Ibu tadi dan hilanglah pemandangan lutut yang indah dari pandangan para penumpang. Saya menatap Bapak di depan saya. Dia tetap menatap ke arah jalan, tapi istrinya tak lagi melihat ke arahnya.

Selesai sudah drama tentang dengkul indah dalam mikrolet pagi-pagi.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.