[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Tolong!

Liana Safitri

 

SUDAH sangat larut. Lydia duduk di pinggir jalan dengan tas besar tergeletak di sampingnya. Kali ini dia tidak akan “mengungsi” ke rumah keluarga Li karena tidak mau ditemukan Tian Ya. Titik-titik air membasahi rambut Lydia dan semakin lama semakin besar. Hujan. Lydia lalu berteduh di depan deretan pertokoan yang sebagian besar sudah tutup. Pada saat ini Lydia baru menyadari keputusannya salah. Meninggalkan rumah demi meraih cinta bersama seorang pria yang mengatakan akan selalu bersamanya sampai ke ujung langit dan penjuru laut… Tianya haijiao (天涯海角)? Omong kosong! Jangankan sampai ke ujung dunia, baru sampai Taiwan saja hubungan mereka sudah berantakan. Lydia tidak peduli lagi dengan segala janji-janji manis dan tipuan menyakitkan itu!

Ponsel berbunyi tanpa henti, tapi Lydia mematikan panggilan. Ia justru menekan nomor lain. Tidak lama kemudian terdengarlah suara yang sangat dikenal.

“Halo!”

Lydia tak mampu bersuara. Orang di telepon kembali bertanya dengan tidak sabar, “Halo, ini siapa, ya?”

Air mata Lydia menetes.

“Halo… aku bertanya siapa di sana? Apa kau dengar aku?”

Saat suara isakan tak tak tertahankan akan keluar dari tenggorokannya, Lydia cepat-cepat menutup telepon dan membungkam mulutnya dengan tangan.

Kakak, aku ingin pulang!

Lydia sangat yakin jika ia mau berbicara, pada detik itu juga Franklin pasti langsung terbang ke Taiwan. Tapi Lydia tidak mau melakukannya. Melarikan diri adalah keputusan Lydia, ia sangat malu, juga tidak mau membuat Franklin sedih dan khawatir. Lydia akan pulang ke Indonesia setelah memperbaiki perasaannya yang hancur lebur, muncul di hadapan Franklin dengan senyum di wajah sambil berkata tanpa beban, “Kakak, aku sudah putus dengan Tian Ya.”

Uang yang ada saat ini tidak cukup untuk membeli tiket pesawat. Jalan satu-satunya adalah mencari pekerjaan dan tempat yang mau menampungnya, tapi di mana? Atau pergi ke KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia)? Ah, pasti di sana Lydia ditanya berbagai hal. Ujung-ujungnya Tian Ya, atau Tuan Li dan Nyonya Li menjemputnya kembali.

“Hei, sedang apa kau di sini?”

Lydia mengangkat kepala. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat cantik, bertubuh tinggi, rambut panjang lurus dengan warna coklat keunguan. Di udara dingin dan berhujan ini bajunya sangat terbuka.

“Oh… aku… hanya…” Lydia tergagap-gagap, bingung harus menjawab apa.

Wanita itu hanya perlu melihat Lydia sekilas dengan tas yang teronggok di sebelahnya untuk menyimpulkan Lydia sedang berada dalam kesulitan. “Aku Xiang Yi. Sepertinya kau mau pergi jauh, tapi ini sudah terlalu malam. Kalau tak keberatan menginap saja di rumahku malam ini.”

Lydia berbohong pada Xiang Yi dan mengatakan kalau dia terpaksa keluar dari apartemen karena tak mampu membayar uang sewa. Tidak perlu menyebut-nyebut nama Tian Ya.

Lydia mengikuti Xiang Yi dengan ragu-ragu. Ia berdiri di depan pintu.

“Sampai kapan kau berdiri di situ? Ayo masuk!”

Keadaan di dalam rumah sangat tidak terurus. Gelas dan botol kosong bekas minuman memenuhi meja, puntung rokok dan kartu berserakan di lantai. Xiang Yi mengantar Lydia ke sebuah kamar yang sama kacaunya. Tumpukan baju ada di tempat tidur dan di lantai, udaranya pengap dan bau asap rokok. Xiang Yi meraih tumpukan baju dan membawanya keluar. “Agak berantakan. Aku tidak punya waktu mengurus semua ini karena sangat sibuk. Tidak usah sungkan, anggap saja seperti rumah sendiri.”

“Kau tinggal sendirian?” tanya Lydia.

“Tidak. Ada dua orang teman lagi yang tinggal di sini. Mereka sedang keluar.”

Xiang Yi sudah tidur mendengkur di sebelah Lydia, tapi Lydia tak bisa memejamkan mata barang sekejap pun. Ponsel sengaja dimatikan karena Tian Ya terus-menerus menelepon. Lydia sempat berbicara dengan Xiang Yi dan minta tolong untuk dicarikan pekerjaan. Xiang Yi tampak biasa saja mendengar permohonan Lydia, tapi ia menyanggupi.

Beberapa jam kemudian bel berbunyi. Lydia menutup mata dan pura-pura tidur. Xiang Yi bangun lalu keluar kamar. Lydia mendengar suara dua orang lain. Mula-mula keras, kemudian berbisik. Mereka berbicara dalam bahasa Taiyu. Lydia tidak pernah belajar bahasa Taiyu, kecuali selama beberapa bulan tinggal di Taiwan dia tahu sedikit dari Tian Ya dan percakapan orang-orang saat pergi ke pasar. Lydia hanya sempat menangkap beberapa kalimat dari percakapan mereka. Seorang laki-laki bernama Jing Yuan, dan seorang perempuan bernama Qiao Li.

 

Frida menunggu Tian Ya di depan televisi dan Tian Ya baru pulang keesokan paginya. Melihat wajah Tian Ya, Frida tahu kalau pencarian Tian Ya sama sekali tidak membawa hasil. Frida pergi ke dapur lalu kembali sambil menyodorkan secangkir kopi pada Tian Ya. Tian Ya menyeruput seteguk tanpa semangat kemudian meletakkan lagi cangkir di atas meja.

“Kau… jangan terlalu tegang… Mungkin Lydia hanya merasa bosan dan ingin pergi jalan-jalan… Setelah suasana hatinya membaik pasti akan pulang lagi. Dia kan tidak mengenal siapa-siapa di Taiwan…” Frida mencoba menenangkan Tian Ya walau nadanya terdengar tidak yakin.

Tian Ya membelalakkan mata lebar-lebar. “Justru karena Lydia tidak mengenal siapa-siapa di sini makanya aku cemas!” Tian Ya berjalan mondar-mandir sementara mulutnya mengomel, “Jelek sekali tabiatnya! Marah sedikit langsung kabur dari rumah! Kalau mau bertengkar dan memaki-makiku itu jauh lebih baik! Sungguh menyusahkan! Aku harus bagaimana sekarang?”

“Tian Ya, kukira sebaiknya kau mandi dan ganti baju. Kalau badanmu segar pikiranmu juga lebih jernih. Mencari Lydia dalam keadaan kacau takkan membawa hasil…”

Pendapat Frida ada benarnya. Tian Ya menarik napas dalam-dalam. Ia melepas jas yang dikenakan sejak kemarin sore dan mengeluarkan dompet dari kantong celana. Tian Ya memeriksa semua kantong, kemeja, kemudian tas kerja.

Frida keluar dari kamar membawa sampah bekas makanan dan minuman. “Lydia makan pizza banyak sekali tapi kardusnya tidak dibawa keluar! Di dalam kamar jadi banyak semut.” Frida melihat Tian Ya sedang kebingungan lalu bertanya, “Mencari apa?”

“Sapu tangan.”

“Bukankah kemarin kau membawanya?”

“Bukan itu! Sapu tangan bunga lili…”

Frida berpura-pura tidak mendengar. Ia menaruh kotak bekas pizza dan sampah lain ke sudut ruangan. “Bagaimanapun kau harus makan sedikit. Aku akan membuatkan sup untukmu.”

Tian Ya sibuk mencari sapu tangan pemberian Lydia di kamar, di ruang tamu, lalu mengaduk-aduk beberapa plastik berisi sampah yang sudah dipilah-pilah. Kalau kemarin ia membawa sapu tangan baru ke kantor, seharusnya sapu tangan Lydia ada di rumah. Masa orangnya hilang sapu tangannya juga ikut hilang?

Sial!

Tian Ya memukulkan tinju ke plastik sampah. Kotak bekas pizza yang baru saja diletakkan Frida terjatuh. Tian Ya tertegun. Dirinya tidak merasa membeli pizza. Seharian kemarin Frida juga pergi keluar bersamanya. Apakah Lydia… Membeli dan menghabiskan pizza ukuran besar ini sendirian?

Sakit perut…

 

Lima hari setelah Lydia tinggal di rumahnya, Xiang Yi memberitahu Lydia kalau ada pekerjaan di sebuah restoran. Xiang Yi tidak bisa mengantar Lydia, tapi Qiao Li akan menemaninya pergi bersama Jing Yuan. Sore hari itu mereka bertiga duduk di dalam mobil yang dikemudikan Jing Yuan. Mereka akan membeli perlengkapan untuk bekerja, kemudian bertemu bos baru Lydia. Lydia tidak tahu “perlengkapan kerja” apa yang dimaksud, tapi karena belum terlalu mengenal Qiao Li dan Jing Yuan ia diam saja. Setelah melalui perjalanan yang membosankan, mereka masuk ke sebuah pusat perbelanjaan.

“Pilihlah beberapa baju yang paling bagus!” kata Qiao Li.

“Baju?” Lydia merasa tidak perlu membeli baju karena bajunya sendiri sudah cukup banyak. Lagi pula bekerja di restoran tidak perlu memakai baju mewah, kan? Lydia sadar sebentar lagi nasibnya tak jauh beda dengan Frida!

Tapi apakah harus serepot ini?

“Meski hanya bekerja di restoran bukankah kau harus memperhatikan penampilanmu? Kau akan diwawancara hari ini! Apalagi kau tenaga kerja asing…” Qiao Li mengambil sebuah gaun warna hitam tanpa lengan dengan kain transparan di bagian atas. Diberikannya pada Lydia, “Pegang!”

“Apakah tidak terlalu terbuka? Apakah…”

“Apakah kau bisa diam?” Qiao Li memotong perkataan Lydia, “Sudah kukatakan kau harus tampil menarik! Walau nanti diberikan seragam sendiri, tapi tidak ada salahnya menarik perhatian bosmu! Ada banyak saingan, aku yakin kau tidak mau tersingkir!” Qiao Li memilihkan tiga gaun lagi yang sama asingnya di mata Lydia, dua pasang sepatu ber hak tinggi, dan berbagai jenis kosmetik yang sebagian juga belum pernah dipakai Lydia. Selama Lydia dan Qiao Li berbelanja Jing Yuan mengawasi dari jauh.

Lampu-lampu di jalanan berkilauan seperti bintang yang turun ke bumi. Tian Ya selalu menggenggam tangannya erat-erat dan berlari di bawah siraman ratusan cahaya itu sambil meneriakkan Wo xihuan ni… (我喜欢你…)Lydia lalu mengutuk diri sendiri habis-habisan karena tak dapat melupakan si Ujung Langit!

Jangan ingat-ingat dia lagi… Dia punya hati yang terlalu luas hingga bisa dibagi-bagikan pada seluruh wanita di seluruh dunia!

Lamunan Lydia buyar saat mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup besar tapi tampak tidak terawat. Banyak orang mondar-mandir di depan bangunan besar tersebut.

Semua orang turun. Melihat ke sekelilingnya, entah kenapa bulu kuduk Lydia berdiri. Namun Lydia mengira hal ini karena ia belum terbiasa sendirian berada di tempat asing. Lydia dibiarkan berdiri di halaman sementara Jing Yuan dan Qiao Li berbicara dengan seseorang di dalam. Beberapa menit kemudian Qiao Li menyuruh Lydia masuk.

Pada sebuah ruangan yang suram dengan dinding kehitaman karena kotor dan dimakan usia, ada seperangkat meja kursi sederhana. Jing Yuan duduk di sana berhadap-hadapan dengan seorang wanita setengah baya. Lydia menebak wanita itu seusia dengan Nyonya Li, mungkin dialah si pemilik usaha restoran. Awalnya wanita itu menanyakan beberapa hal pada Lydia menggunakan bahasa Mandarin, tapi kemudian kembali berkata pada Jing Yuan dalam bahasa Taiyu. Lydia berusaha menggabungkan arti beberapa kata yang ia tahu, namun tetap tidak dapat memahami inti dari pembicaraan mereka.

“Mulai sekarang kau akan tinggal di sini bersama teman-teman kerjamu. Kau tidak perlu memikirkan masalah tempat tinggal dan juga soal makan…” Jing Yuan mendorong selembar kertas ke hadapan Lydia. “Ini surat perjanjian kerja. Tanda tangan di sini…”

Lydia menatap kertas yang dipenuhi huruf Cina tradisional itu untuk mengetahui poin-poinnya. Tapi Jing Yuan menekan kertas dengan telapak tangan hingga yang tampak hanyalah beberapa kalimat bagian bawah. Ia berkata tak sabar, “Kalau kau berlama-lama, sebaiknya pekerjaan ini kutawarkan pada orang lain saja! Masih banyak yang menginginkannya!” Lydia menyadari keadaan dirinya sudah sangat terdesak. Tanpa pikir panjang, dengan gerakan cepat, tanda tangan Indonesia-nya tergores di sebelah tanda tangan lain.

Jing Yuan dan Qiao Li mengucapkan kalimat perpisahan pada Lydia. Basa-basi paling kaku, dan meninggalkan gadis itu di tempat barunya sendirian. Lydia berjalan mengikuti wanita setengah baya yang diketahuinya dipanggil Nyonya Zhou, melewati lorong-lorong penuh kamar di kanan kiri. Mereka berhenti di salah satu kamar paling ujung. Nyonya Zhao mengetuk pintu dan seorang perempuan membukanya. Nyonya Zhou menoleh pada Lydia, “Ini kamarmu. Belajarlah dengan teman-temanmu yang lebih senior…”

Lydia satu kamar dengan tiga orang perempuan lain berusia dua puluhan. Ia tertegun sesaat.

Belajar apa?

Lydia sama sekali tidak melihat mesin atau alat-alat tertentu yang harus dipelajari untuk bekerja. Teman sekamarnya justru menunjukkan sambutan selamat datang yang sangat menakjubkan. Mereka semua orang yang tidak pedulian, suka berbicara kasar, dan jorok. Rokok. Lydia paling benci ini. Dulu Lydia memarahi Franklin dan memintanya berhenti merokok karena tidak tahan dengan baunya. Tian Ya juga harus tersiksa selama beberapa waktu karena Lydia mengajukan syarat berhenti merokok jika ingin bersamanya. Tapi sejak di rumah Xiang Yi hingga sampai kemari, Lydia menjumpai rokok di mana-mana. Jika mau jujur sebenarnya Lydia merasa tidak nyaman. Tapi Lydia masih percaya akan ada sesuatu yang baik nanti. Ia membutuhkan uang untuk membeli tiket pesawat ke Indonesia dan uang saku. Seandainya mendapat majikan galak seperti cerita-cerita Frida, Lydia hanya perlu bertahan sebentar. Dalam hati ia terus berdoa agar jangan sampai mendapatkan penganiayaan!

Salah seorang perempuan yang sekamar dengan Lydia menertawakannya karena Lydia bangun pagi-pagi sekali. “Bukankah kita harus berangkat kerja?”

“Apa? Yang benar saja!” katanya mengejek. “Sebaiknya lanjutkan tidurmu karena kita pasti akan begadang semalaman!”

Apakah ia dan teman-teman sekamarnya mendapat giliran shift malam? Lydia tidak terbiasa dengan pola tidur terbalik. Jadi sepanjang siang selama teman-temannya tidur nyenyak, Lydia hanya duduk di sudut ruangan sambil melamun.

Setelah matahari tenggelam mulailah ada “tanda-tanda kehidupan” rumah besar tersebut. “Kau tidak bersiap-siap?”

Lydia menengadah. Dia Ke Ying, satu-satunya orang yang mau berbicara dengan Lydia sejak kemarin. Bukan pembicaraan yang penting, hanya sepatah dua patah, tapi lebih baik daripada dianggap tidak ada. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan, Lydia mengikuti Ke Ying dan kedua temannya keluar kamar. Saat itu perempuan dari kamar-kmar yang lain juga keluar bersamaan. Para perempuan berjumlah sekitar dua puluh orang masuk ke sebuah ruangan yang agak luas. Pada kedua sisi dindingnya terpasang cermin besar dan lebar berderet-deret. Beberapa kursi tinggi diletakkan menghadap kaca dan meja rias.

“Tempat ini sudah penuh! Sana berdandan di kamarmu!” Perempuan yang sedang memoleskan lipstik mengusir beberapa temannya yang datang terlambat.

Lydia merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Ke Ying menyikut lengan Lydia, “Kukira kau sudah dibelikan beberapa gaun sebelum datang kemari?”

Lydia mengangguk dan memaksakan diri berkata, “Ya, aku lupa!” Ia meninggalkan ruangan itu dan berjalan cepat menuju ruangan utama.

Ini tidak benar! Tidak seharusnya aku berada di tempat seperti ini! Seharusnya aku tahu kalau mereka menjebakku!

Dua orang laki-laki berwajah garang menghalangi Lydia di depan pintu. Lydia menelan ludah. “Minggir! Aku ingin keluar sebentar membeli sesuatu!”

“Apa kau sudah mendapat izin dari Nyonya Zhou? Kau tidak boleh keluar sendirian! Pasti kau orang baru!”

“Aku hanya akan pergi sebentar, nanti kembali lagi!” Lydia meraih pegangan pintu, tapi laki-laki itu mendorongnya. “Kalian tidak bisa menghalangiku…”

“Apa yang kau perlukan, Nona?” Tepat pada saat itu ada suara laki-laki lain di belakang Lydia.

“Da ge!” (大哥!—Kakak Besar!) Dua laki-laki di hadapan Lydia membungkuk hormat kepada seseorang di belakang Lydia.

Lydia merasakan kengerian yang luar biasa dan berharap telinganya salah. Tapi saat membalikkan badan seraut wajah licik itu benar-benar muncul di hadapannya. Pria bertato naga, Xiao Long!

“Kau…”

Xiao Long tertawa, sepasang matanya menyipit. “Apakah kita berjodoh, sehingga bisa bertemu lagi?”

“Bagaimana bisa?”

“Oh, kau belum tahu, ya? Ini daerah kekuasaanku! Orang-orang yang berada di sini semuanya bekerja untukku…” Xiao Long mendekatkan wajahnya ke wajah Lydia dan menambahkan dengan licik, “termasuk kau!”

Kali ini Lydia tak dapat menyembunyikan ketakutannya. “Aku… aku tidak pandai bekerja… Aku… hanya akan membuatmu rugi… Sebaiknya cari saja orang lain untuk bekerja di restoranmu…”

Xiao Long tertawa lebih keras. “Jadi kau tidak bisa bekerja? Aduh… bagaimana, ya? Sayangnya kau sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian… Kau punya uang berapa untuk membayar ganti rugi?”

“Aku akan bayar! Aku akan bayar!” Lydia mengambil ponsel di saku dan menekan nomor. Tapi Xiao Long segera merampas ponsel dari tangannya. “Kau pasti akan menelepon kekasihmu, kan?”

“Kembalikan!” Lydia berseru panik. “Tian Ya pasti akan memberimu berapa pun yang kau minta! Jauh lebih menguntungkan daripada mempekerjakan orang yang tidak bisa apa-apa sepertiku!”

“Aku percaya! Bagi pewaris tunggal SKY Group uang tak ada artinya, dibandingkan sang kekasih yang cantik ini… Tapi karena Frida sudah tinggal dengan Tian Ya, bagaimana kalau sekarang kau tinggal bersamaku? Aku ingin sekali melihat wajah Tian Ya jika dia tahu kau ada di tempatku sekarang. Bertukar pasangan, bukankah itu ide yang bagus?”

Dikuasai rasa takut Lydia tak mampu berkata-kata.

“Aku sudah membelimu! Kalau mengembalikanmu ke tempat Tian Ya rasanya terlalu merepotkan. Dan kalau kau tidak bisa bekerja di restoran, bukankah kau bisa bekerja dengan tubuhmu?”

 

Lydia terlempar ke neraka dunia. Walau sudah berteriak keras-keras dan melawan sekuat tenaga tetap saja tak dapat meloloskan diri. Dua orang pria membawa Lydia ke hadapan Nyonya Zhou, dan wanita itu… Ya Tuhan… Lydia baru menyadari siapa dia…! Sedangkan Xiao Long? Dengan sebutan Da ge 大哥)yang disematkan para anak buah, mungkin ia adalah Bos Besar. Tapi bisa juga masih ada orang lain di atasnya. Siapa yang tahu?

Menjelang malam, banyak pria datang ke tempat itu. Ada yang sendirian, ada pula yang berkelompok. Pergi ke lantai atas dengan beberapa wanita dengan backround musik yang bising, mungkin karaoke, dan entah apa lagi, karena di sana juga disediakan beberapa kamar kosong. Sebagian wanita pergi keluar bersama pria yang sudah menunggu dengan pengawasan beberapa bodyguard. Lydia sendiri dipaksa mengganti baju dengan gaun. Kemudian, di bawah ancaman karena terus-menerus melawan, ia dibawa ke sebuah kelab malam. Duduk bersama beberapa “teman”, dikelilingi pria asing yang memandangnya dengan tatapan tak berkedip, menuangkan minuman ke dalam gelas para tamu, belum lagi telinganya terpaksa mendengar kata-kata rayuan yang memuakkan! Lydia ingin sekali muntah.

“Manajer Yang, minumlah segelas lagi…” Yi Qian, teman sekamar Lydia membujuk dengan genit.

“Ah… ya, ya!” Diambilnya gelas dari tangan Yi Qian dan menghabiskan isinya dengan sekali teguk.

Manajer Yang melihat Lydia duduk diam sejak tadi. “Hei, kau! Kenapa diam saja?” Lydia menundukkan kepala dalam-dalam. Manajer Yang semakin penasaran. Tangannya terulur menyentuh dagu Lydia, “Angkat wajahmu, biar aku bisa melihatnya…”

Di luar dugaan Lydia mendorong Manajer Yang sekuat tenaga sampai jatuh terjengkang dari kursi lalu berteriak marah, “Lepaskan tangan kotormu itu! Kau membuatku jijik!”

Manajer Yang sedang mabuk berat, ia tidak siap dan sangat terkejut dengan reaksi Lydia. Manajer Yang kesulitan mengangkat tubuh gendutnya sebelum dua orang perempuan membantu mendudukkannya kembali ke kursi. Manajer Yang menepis tangankan tangan mereka, berdiri terhuyung-huyung lalu menunjuk wajah Lydia, “Dasar wanita jalang! Kau pikir kau siapa?” Manajer Yang meludah. “Kalau aku mau, aku bisa membuat wisma kalian luluh lantak besok pagi! Akan aku lihat apakah kau masih bisa bersikap sombong!”

Keributan itu menarik perhatian seluruh pengunjung kelab malam. Pada saat genting tersebut Ke Ying muncul. Ia membujuk Manajer Yang yang sedang marah besar. “Manajer Yang! Maafkanlah dia… Lydia masih baru, jadi belum bisa melayani tamu dengan baik! Biarkan saya yang menemani Anda, bagaimana?”

 

Setelah mendapat cambukan ikat pinggang beberapa kali oleh seorang bodyguard dalam perjalanan pulang ke “rumah”, Lydia masih harus menghadapi cemoohan teman-temannya.

“Sok suci!”

“Pura-pura menjadi Tuan Putri sudah tidak berlaku lagi zaman sekarang!”

“Kita lihat, sampai berapa lama dia bertahan dengan sikapnya itu!”

“Padahal dia sama saja dengan kita!”

Suara-suara sumbang terus berlanjut sampai Lydia masuk ke kamar. Yi Qian sejak awal tidak suka dengan kehadiran Lydia. “Hei… Bukankah kau sedang butuh uang? Untuk apa mempertahankan harga diri? Harga diri tak bisa dimakan! Kalau kau kelaparan, tubuhmu yang indah itu, yang setiap minggu dirawat di salon, akan menyusut jadi ranting kering, lalu mati! Setelah mati jadi tengkorak… Lebih baik tidur dengan pengusaha, dapat uang! Jika bisa mengambil hatinya mungkin akan dijadikan simpanan! Tidak ada salahnya bertahan dalam pekerjaan ini sebentar!”

Lydia pura-pura tuli.

Yi Qian mengangguk-anggukkan kepala. “Oh, aku mengerti… Kutebak kau pasti berasal dari keluarga kaya, ya? Perusahaan bangkrut, terlilit hutang, lalu orangtuamu tak sanggup lagi membiayai hidupmu? Atau kakakmu menjualmu jadi pelacur?”

Kalimat Atau kakakmu menjualmu jadi pelacur? telah menyodok sampai ke dasar hati Lydia. Seperti harimau terluka ia menubruk Yi Qian, berteriak kalap, “Kau boleh menghinaku, tapi jangan kakakku! Jangan pernah menjelek-jelekkannya sekali pun! Jangan pernah, atau kurobek mulutmu!” Lydia menduduki Yi Qian, mencakar, dan menampari wajahnya tanpa ampun.

Yi Qian terkejut setengah mati, ia berusaha mendorong Lydia sambil berteriak melengking, “Tolong! Tolong… tolong aku…”

Lydia seperti orang kerasukan mencekik leher Yi Qian dan mencengkeram dengan kuku-kukunya. “Aku sudah masuk ke tempat ini, aku tahu sudah tercemar! Dan aku juga tidak takut masuk penjara karena membunuh orang yang menghina kakakku!” Lydia mempererat cekikannya. Wajah Yi Qian sudah berubah biru saat Nyonya Zhou masuk ke kamar Lydia bersama beberapa orang perempuan.

“Ada apa ini?” Mereka segera memisahkan Lydia dan Yi Qian.

Yi Qian bangkit dengan rambut acak-acakan dan wajah penuh luka, sementara mata dan seluruh wajah Lydia merah padam. Lima atau enam perempuan berdesak-desakan di depan pintu kamar menyaksikan kejadian ini penuh rasa penasaran.

Nyonya Zhou berdiri di antara mereka. “Coba lihat kalian berdua! Bekerja tidak becus malah berkelahi! Kalau ada yang terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit akulah yang repot!” Nyonya Zhou menatap tajam Lydia. “Kau ikut aku!” Kemudian ia berjalan menuju pintu sambil membentak, “Bubar semuanya! Ini bukan tontonan!” Anak-anak asuhannya segera berhamburan menuju kamar masing-masing. Nyonya Zhou melangkahkan kaki lebar-lebar mendahului Lydia.

Ke Ying mulai merapikan kamar mereka yang berantakan. Lydia berusaha mengendalikan napasnya dan berbalik menuju pintu menyusul Nyonya Zhou. Tapi baru berjalan dua langkah rambut panjangnya ditarik ke belakang dan kepalanya dibenturkan ke tembok keras sekali. Lydia berteriak kesakitan.

“Rasakan! Rasakan! Akan kupecahkan kepalamu!” Yi Qian berkata sambil menggertakkan gigi.

Ke Ying berlari ke arah mereka berdua, menarik Yi Qian menjauhi Lydia. “Hentikan! Yi Qian, sudah cukup! Lydia, keluar dan pergilah menemui Nyonya Zhou! Kalian konyol sekali!” Ke Ying memegangi Yi Qian erat-erat sampai Lydia keluar dari kamar.

“Kau orang baru di sini tapi sudah membuat banyak masalah!” Nyonya Zhou memarahi Lydia di kamar pribadinya. Kamar yang paling bagus di antara semua kamar di rumah itu, serta lebih luas. “Kudengar kau juga bersikap tidak sopan pada tamu! Tahukah kau siapa Manajer Yang? Dia punya kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar! Dia bisa berbuat apa saja termasuk menghancurkan kita!”

Lydia tak berkata sepatah pun membuat Nyonya Zhou semakin marah. Dia mengambil sebuah tongkat panjang yang sepertinya memang selalu disiapkan untuk “memberi pelajaran”, memukulkannya ke tubuh Lydia bertubi-tubi.

“Aaaah! Aduh… Aduuhhh…!” Lydia berteriak sambil berusaha menghindar, menutupi kepalanya.

Nyonya Zhou berhenti sejenak, “Kau mengerti tidak apa yang aku bicarakam? Kalau kau bersikap manis dan menurut, hidupmu akan enak! Tapi kalau tetap keras kepala kau yang akan rugi. Bekerjalah dengan baik, berusahalah mendapatkan lebih banyak pelanggan! Hari ini aku berbaik hati memaafkan kesalahanmu dan tak memberimu hukuman karena Bos sendiri yang menemuiku dan mengatakan kau sangat istimewa. Tapi jika sekali lagi ada laporan buruk, mungkin kau tidak akan bisa bernapas lebih lama!”

Lydia akhirnya membuka mulut, “Aku tidak takut! Bunuh saja aku! Lebih baik mati daripada harus hidup dan bekerja di tempat seperti ini! Aku tidak ingin menodai perjalanan hidupku!”

“Oh, menyentuh sekali… Tapi kalau aku membunuhmu, bukankah itu berarti membuatmu senang?” Kata-kata Nyonya Zhou selanjutnya lirih namun penuh ancaman, “Bagaimana jika tidak mati, tapi juga tidak hidup? Apa kau bisa menghadapinya setegar sekarang? Aku akan memberimu waktu berpikir lebih banyak!” Nyonya Zhou lalu berteriak keluar pintu, “A Di! A Liang!”

Dua orang laki-laki segera datang ke hadapan Nyonya Zhou. “Ya, Nyonya!”

Nyonya Zhou menunjuk Lydia. “Kurung dia!”

“Siap!”

Lydia didorong hingga jatuh tersungkur ke dalam ruangan gelap dan terpisah dari kamar-kamar lainnya. Pintu ditutup lalu dikunci. Lydia menggedor keras-keras, “Buka! Buka pintunya! Keluarkan aku dari sini!” Lydia berhenti setelah sepuluh menit, menyadari hal itu hanya akan membuang-buang tenaga. Masih banyak yang harus dihadapi nanti. Ia memandang ke sekeliling. Ruangan ini jauh lebih buruk dan kotor daripada kamar yang ditempati Lydia beramai-ramai sebelumnya. Duduk meringkuk putus asa, Lydia merasakan sesak tak tertahankan oleh beban sebesar gunung yang menghimpit hatinya.

help-me

Paling tidak aku selamat.

Di kelab malam, tamu-tamu yang datang hari ini tak ada yang memilih Lydia. Ia berusaha agar tidak menarik perhatian siapa pun. Selamat walau baru satu hari, dan Lydia enggan memikirkan bagaimana hari-hari berikutnya.

Atau kakakmu yang menjualmu jadi pelacur?

Kata-kata Yi Qian kembali terngiang-ngiang di telinga. Lydia tahu kenapa ia marah. Lydia tahu apa yang membuat dirinya punya kekuatan begitu besar untuk menyerang Yi Qian. Bukan saja karena Lydia tidak terima Yi Qian menghina Franklin. Tapi karena kalimat itu seolah memiliki arti lain.

Bagaimana jika Kakak yang sangat menyayangimu, melihatmu dalam keadaan seperti sekarang?

Air mata yang telah lama menggumpal kini mengalir berdesakan keluar membasahi wajah. Mengingat seberapa besar Franklin bisa bersedih untuknya, hanya akan membuat Lydia menangis lebih banyak lagi. Keningnya terasa perih. Dan ketika Lydia meraba dengan jari, bercak darah menempel di sana. Pasti karena Yi Qian membenturkan kepalanya ke tembok. Lydia mengambil sapu tangan yang terselip di balik ikat pinggang. Dan saat melihat itu Lydia teringat dengan Tian Ya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.