Gogoda kana awak: The Suruntuls and The Sontoloyos

Luigi Pralangga – Kabul, Afghanistan

 

December sudah berada di pertengahan.. tidak terasa 2012, sudah mendekati ambang batasnya. hari dan sinar mentari menjadi lebih pendek, maka senja menyapa persis mulai pukul 4:00pm. Nah, saat waktu menunjukkan pukul 4 lewat, sinar keemasan mentari jelas menyapa silau menerawang pada kisi-kisi jendela di ruang kerja ini.  Tidak terasa, saatnya berkemas untuk kembali ke rumah.

nyuruntul (1)

Perjalanan berkendara, disyukuri hanya memakan waktu paling lama 30 menit, maka tibalah diri ini sampai pada halaman parkir kelas 1 pada kompleks hunian bertingkat di bilangan Salmiya, Kuwait.

Mengapa parkir kelas 1? – Sebab dia berada persis di sebelah tangga masuk kompleks hunian itu. Mengapa parkir kelas 1? – Sebab selalu menjadi parkir kendaraan tamu hunian atau kendaraan ‘home delivery’ dari mulai sepeda motor dengan boncengan box makananlaundry home delivery, sampai truck moving company – dan terus lagi..

Mengapa parkir kelas 1? – Sebab selalu menjadi incaran rata-rata pengendara sontoloyo di sini (kebanyakan) tidak taat aturan.

nyuruntul (2)

Karena status parkir kelas 1 itulah yang acapkali membuat hati ini menjadi jengkel saat kendaraan mulai masuk area kompleks hunian bertingkat itu mendapati lahan parkir yang memang menjadi parkir tetap warga yang sudah diberi nomor khusus itu ditempati kendaraan orang lain, dan yang lebih jengkel lagi adalah mendapati sosok bandot-sontoloyo, pemilik kendaraan parkir seenak-udelnya itu tidak bergeming melenggang seolah tidak ada rasa bersalah atau malu. Sama-sekali-tidak-sedikit-pun! (Ya Alloh Gusti.. ampunilah mereka) – Dalam hati saya terus membatin sembari berguman: “Edduuun, men!“.

Masih teringat akan kejadian serupa, namun saat itu berlangsung saat Kuwait masih berada pada periode musim panas. Buat rekans yang belum pernah tinggal di Kuwait, musim panas di negeri ini adalah benar-benar panas menyengat. Catat: Me-nye-ngaaat!.  Dimana suhu di luar di bawah naungan keteduhan tenda atau rindangnya pohon masih berkisar antara 49 – 50 celcius, nah bagaimana suhu yang tanpa naungan peneduh sama sekali? – dan harus mencari tahu siapakah ini bandot-sontoloyo yang parkir seenaknya sembari ikut menegur petugas satpam kompleks hunian yang ‘kecolongan’ luput dari pengawasan mereka terhadap“unauthorized parking” (Kendaraan yang parkir seenaknya).

Dengan logat kental khas Kerala, India sembari menggoyang-goyangkan kepalanya – sebutlah si satpam ini bernama Khanjoot Baboou:

“I am sorry, sir.. when I saw the guy who parked at your place.. I rushed outside and argued with him that he cannot parked in designated tenant’s area, but he would not listen thus shouted at me when I asked which apartment he was heading into..”

Saya kasihan sekali melihat si mamang Khanjoot ini, ekspresi wajahnya memelas penuh rasa bersalah karena gagal mengamankan tempat parkir itu. Ujung dari kejadian itu yang kembali menguji kadar kesabaran dan kewarasan jiwa ini. Bandot-sontoloyo itu terpaksa harus menunggu saya memindahkan kendaraan yang sengaja diparkir menghalanginya untuk keluar setelah hampir 2 jam sejak saya tiba di rumah. Dengan tampang wajah yang datar tanpa ada satu katapun terucap kecuali tatapan sinis sembari menggeleng-gelengkan kepala tanda keheranan akhirnya saya memindahkan mobil agar ia bisa keluar dan beranjak.

Sangat tidak sebanding, antara model kendaraan SUV sekelas BMW X5 dengan watak pengendara ignorant-stadium akut. Perilaku serupa juga tidaklah mengherankan saat bertemu dengan bandot-bandot dengan tabiat sejenis di jalan raya. Itulah mengapa telalu banyak angka kematian korban kecelakaan lalu-lintas di Kuwait, salah satunya ya dari perilaku ‘ignorant’ tadi.

Mungkin rekans dan sahabat yang sudah lama tinggal dan menetap di Kuwait, faham benar akan tabiat kebanyakan orang di negeri ini dalam hal kesantunan berkendara. Buat saya, pengalaman sesuai cerita lawas: (Beberapa) Pria berdaster di sini gemar membuntuti pantat orang sudah cukup menjadi pembelajaran hidup yang cukup serius terutama dalam urusan kesantunan berkendara sembari terus mengingatkan diri akan pepatah: Sing waras ngalah.

Memang, tidak ada satu orangpun yang sempurna. Saya pun bila semisal ada kontes berkendara dengan elegan bak kepiawaian berkendara sekaliber sopir Ratu Inggris-pun tidak akan bisa menyamai – not even close!.

Sepintas, dari pengalaman pribadi ada baiknya rekans dan sahabat di Kuwait atau khususnya mereka yang baru saja berhasil lulus dan lolos dari serangkaian tes saringan mendapat SIM (Driver’s License) Kuwait dan masih pada periode awal berkendara di jalan-jalan di Kuwait agar mencermati 2 golongan pengemudi/pengendara, yaitu:

1. The Suruntuls. (Artinya: Tukang Nyelonong) Golongan ini terlepas dari pria atau malah biasanya lebih parah para wanitanya – adalah golongan pengendara ajaib yang sekonyong-konyong atau mendadak muncul pada sudut pandangan mata kita, berkecepatan cukup tinggi hendak masuk ke jalur berkendara dimana mobil yang dibawanya itu jelas-jelas harus mengurangi kecepatannya. Biasanya para Bandot & Bandotwati Suruntuls ini muncul saat ada alur masuk dari perempatan/persimpangan dimana pilihan ‘belok-kiri-boleh-langsung’ itu diterabasnya tanpa peduli menginjakkan pedal rem.

nyuruntul (3) nyuruntul (4)

Kejadian serupa adalah mereka yang gemar berpindah jalur (apalagi dalam kecepatan tinggi), semenjak kendaraannya masuk jalur cepat, dari sisi lajur lambat selalu berusaha merangsek masuk ke jalur di sebelah kiri-nya TANPA melihat kaca spion dan lampu indikator mau belok/minta jalur – maka dia akan seenaknya ‘nyuruntul’ (Baca: Nyeruduk persis seekor Bandot-angot di tengah musim kawin ‘ngebet-pada-stadium-pucuk‘ – persis!

 

2. The Sontoloyos. (Artinya: Ngawur Pang-Edun-na) Ini biasanya perilaku berkendara yang sangat adiktif atau kecanduan dengan kecepatan. Biasanya adalah pengendara muda dengan jenis/model kendaraan sport dan selalu melesat kencang di atas ambang batas kecepatan yang diijinkan. Bila kendaraan kita persis berada di depan-nya maka jangan heran bila pada pandangan kaca spion tengah mobil ini, dia persis seperti tergandeng di belakang dengan jarak 1-2 meter terpaut. Bila saja kita menginjak pedal rem mendadak, sudah pasti akan bertabrakan. Sikapnya rusuh memburu agar kita keluar dari jalur yang menghalanginya. Tidak sedikit kejadian serupa dialami saya dimana pengendara adalah seorang ibu muda bercadar hitam, melesat di atas 110 Km/jam dengan sedan anyar keluaran pabrikan Lexus, dengan satu tangan pada setir sembari satunya nyekeli ponsel dan putra-nya sibuk ajrut-ajrutan di atas kursi kendaraan tanpa diikat sabuk pengaman.

nyuruntul (5)

Hampir dari semua rekans staff misi yang notabene adalah staff expatriates selalu punya cerita pengalaman pahit dan unik akan pengalaman mereka mengemudi di Kuwait.

Tentunya saya harus merasa bersyukur kepada Gusti Alloh SWT, karena selama ini selalu dalam lindungan-Nya saat berangkat kerja dan kembali ke rumah melalui jalan-jalan yang sarat oleh para Suruntuls & Sontoloyos.

Beberapa saran & himbauan buat rekans yang berkendara di Kuwait, dan mungkin pada daerah lainnya di kawasan Timur Tengah ini agar:

  • Berdoalah sebelum beranjak keluar rumah, mintalah kepada Gusti Alloh SWT/Tuhan agar terhindarkan dan dijauhkan dari marabahaya dan orang-orang yang membahayakan
  • Patuhilah aturan lalu-lintas yang berlaku. Semisal rambu kecepatan maksimum adalah 120 Km/jam bila di belakang kendaraanmu itu ramai dibunyikan klakson dan kibasan lampu high-beam, ingat pepatah:  Sing waras ngalah agar berpindah jalur dan memberinya kesempatan mendahului. Resiko yang akan ditanggung adalah kematian dan masuk bui bila tertangkap basah ikut atraksi kebut-kebutan oleh patroli polisi.
  • Jangan terpancing emosi lalu ikut kejar-mengejar atau tidak mau kalah karena berhasil disalip-jalurnya. Ingatlah bahwa tiap 2 Km pada kebanyakan jalan bebas hambatan di Kuwait dipasangi radar lalu-lintas yang denda-nya mulai dari 50 KWD sekali ‘jepret’ oleh sensor kamera pelanggar kecepatan itu. Ada satu expatriat berkebangsaan Inggris dengan Porsche Boxter-nya tidak menyadari bahwa ia telah banyak melanggar batas kecepatan, pad asaat perpanjangan ijin nomor kendaraannya itu dia dikejutkan dengan jumlah denda yang mencapai 700 KWD (setara 30 Juta Rupiah).

Mudah-mudahan update kali ini bisa kembali menyapa rekans dan senantiasa mengingatkan agar waspada dalam berkendaraan di manapun berada baik di Kuwait dan di tanah air, serta senantiasa menjadi warga Nusantara dan Duta Bangsa sebaik mungkin dalam berinteraksi dan berperilaku apalagi selama menjalani hidup di perantauan.

nyuruntul (6)

Ohya, ayolah juga ceritakan pengalaman serupamu akan berkendara di negeri luar dan pengalaman unik serta keluh-kesahnya mengemudi di Kuwait atau di kawasan Timur Tengah ini… juga pengalaman unik berkendara di negeri lain?.

 

Note Redaksi:

Luigi Pralangga, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Make yourself at home ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengajak Luigi Pralangga bergabung…

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.