Liburan ke Reo (1): BBQ di Pinggir Pantai

Anastasia Yuliantari

 

Liburan sekolah tahun ini saya dan Max (suami) kembali merencanakan perjalanan ke pantai. Maklumlah, sebagai orang pegunungan udara hangat di pantai sangat mengundang. Apalagi cuaca yang tak menentu membuat hujan masih rajin bertandang meski tahun telah berlalu separuhnya. Kabut, angin yang bertiup kencang, dan suhu yang tak pernah lebih dari 25 derajat Celcius membuat saya semakin berminat liburan ke pantai.

“Kita pergi ke Reo atau Borong, ehm.” Usul suami begitu hari yang dinanti telah tiba.

“Engga, ah mending ke Labuan Bajo saja.” Jawabku. Sebagai tempat pesiar bertaraf internasional Labuan Bajo, dengan Pulau Komodonya yang terkenal, sangat cocok untuk berwisata. Segala fasilitas pelesiran tersedia. Snorkling, diving, sightseeing semua ada paketnya. Tak kurang Gwyneth Paltrow dan keluarga pernah mencicipi liburan di sana. Jadi, Labuan Bajo tetap menjadi tujuan favorit saya.

Setelah perdebatan panjang dengan berbagai prasyarat yang saya ajukan, kami menyepakati untuk melakukan perjalanan ke Reo, sebuah kecamatan di pantai utara kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sebagai kota kecamatan, saya meragukan tersedianya fasilitas wisata, terutama akomodasi. Untuk memastikannya saya menghubungi teman yang kebetulan bekerja di sana.

Enu (Mbak) Wiwik Laswi segera memberikan informasi tentang beberapa penginapan. Di Reo resminya hanya ada dua penginapan. Penginapan pertama agak kurang representative karena kondisinya. Penginapan kedua lebih jamak dipakai oleh pengunjung yang datang ke ke tempat itu untuk berbagai keperluan, tetapi sangat ramai dan kurang nyaman bila hendak mencari ketenangan. “Lebih baik di bekas tempat kostku aja, Mbak.”Usulnya.

Mendengar kata tempat kost mau tak mau saya membayangkan tempat yang agak kecil, sumpek, dan musti berebutan restroom dengan penghuni kost. Mungkin Enu Wiwik dapat merasakan keraguanku sehingga dia cepat berkata, “Tempatnya lumayan, koq Mbak. Ada kamar mandi dalam dan TV. Harganya juga tak begitu mahal. Dulu, sih IDR 70.000 untuk single. Mungkin tambah sedikitlah kalau sekarang.”

Wah, ya mau sekali bila kondisinya demikian. Meskipun masih agak ragu akhirnya saya setuju untuk menginap di sana bila terpaksa. Saat itu saya masih bersikukuh untuk pulang ke Ruteng, kota kabupaten, karena hanya ingin mengunjungi Pantai Pasir Putih. Berapa lama, sih mau mandi di pantai? Sejam dua jam pasti cukup. Sementara perjalanan Ruteng-Reo hanya 2 jam.

“Pokoknya kalau jadi ke Reo, Mbak Tia SMS saya aja, deh. Nanti langsung saya pesankan ke Pak Kost, soalnya akomodasi di sini sangat terbatas.Takutnya semua sudah penuh.” Terangnya.

Setelah urusan akomodasi selesai saya menghubungi Romo Charly Crova, Pr., pastor paroki Weleng. Beliau sering mengupload berbagai macam foto pantai di Reo melalui akun jejaring sosialnya. Bila bersedia, kami tak akan kesulitan menemukan beberapa pantai yang indah.

“Mbak tunggu saya di pertokoan, ya. Saya mau cari ojek dulu untuk mengantar ke Reo.” Jawabnya saat saya menghubungi melalui WhatsApp. Lha, pertokoan mana? Jangan-jangan Romo ada di Ruteng juga. “Pertokoan di Reo to, Mbak.” Balasnya. Oh, OK, deh.

Perjalanan ke Reo membuat saya sangat excited. Sepanjang perjalanan tampak pemandangan khas Manggarai: sawah, bukit, jurang, dan lembah. Semua tampak hijau cerah karena matahari yang bersinar terang. Meskipun jalannya berkelok-kelok, ini juga ciri khas Manggarai, tetapi mulus karena terbuat dari hotmix. Hanya di beberapa bagian perjalanan agak terganggu karena sedang dilakukan pelebaran jalan dengan memotong tebing-tebing bukit yang menjulang di sepanjang sisi jalan. Salah satu ruas jalan yang sedang diperlebar adalah wilayah Rongket. Daerah ini pernah menjadi bahan pemberitaan secara nasional karena tanah longsor yang mengakibatkan puluhan orang tewas. Tak kurang Presiden SBY juga berkunjung untuk melihat kondisi para pengungsi. Di sepanjang sisi jalan terdapat papan-papan peringatan akan bahaya longsor.

Meskipun agak rawan bencana, tetapi pemandangan yang disuguhkan luar biasa. Terutama karena kami mengadakan perjalanan dengan menggunakan motor. Kesejukan dan kesegaran udara mengisi rongga paru-paru diseling hangatnya mentari pagi. Beberapa kampung yang memiliki pasar lokal menyediakan hasil natura setempat untuk dicicipi bila tak cukup membawa bekal. Pisang, umbi-umbian, dan juga tuak.

Tepat dua jam kami sampai di Reo. Romo Charly telah pula sampai di tempat itu, tetapi masih mencari ikan segar di pasar. “Nanti kita bakar ikan di pantai.” Ujarnya. “Jadi Mbak dan Ka’e (Kakak) Max tunggu di situ saja.” Lanjutnya ketika tahu kami menunggu di depan Polsek Reo, tak jauh dari pelabuhan laut Kedindi.

Ternyata Romo Charly tak hanya sendirian. Ada serombongan umat Katholik dari Weleng yang bermaksud mengadakan ziarah ke Gua Maria Torong Besi. “Kita berdoa di sana dulu, ya.” Kata Romo sambil bermotor dengan salah satu anggota rombongan.

Sebelum sampai di Gua Maria Torong Besi, kami berhenti di pantai Torong Besi yang berjarak sekitar 4-5 kilometer dari Reo. Pantai berpasir putih itu terhampar di bibir jalan. Kami tinggal menghentikan motor dan langsung menginjak pasirnya yang lembut. Tak ada retribusi, tak ada pengasong, sebuah pantai yang sepi di pinggir perbukitan berpohon lebat.

reo1 (1)reo1 (2)

Setelah sejenak berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan ke Gua Maria. Jarak antara pantai Torong Besi menuju Gua Maria sekitar 2 kilometer. Jalanan sepi dan lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang melewatinya. Meskipun demikian kondisi jalannya sangat mulus dan terbuat dari hotmix juga. Menurut informasi Max, jalan ini akan menjadi pantura lintas Flores yang akan menghubungkan Larantuka di Flores Timur dengan Labuan Bajo di ujung barat Flores. Hanya saja pembuatannya sedang berlangsung.

Begitu sampai di Gua Maria, peziarahan sedang berlangsung. Umat Paroki Weleng tengah mendaraskan doa kepada Bunda Maria. Doa dipimpin oleh bapak pensiunan Kepala Sekolah di kampung itu yang sekaligus menjadi sesepuh gereja. Doa berjalan khidmat meski terdapat banyak anak-anak yang turut berziarah. Dengan suara renyah mereka mengikuti panduan doa yang dilakukan para orang tua. Setelahnya kami berfoto di depan Gua Maria.

reo1 (3)

Dan saat tamasya pun dimulai. Kami bersama-sama menuju pantai pasir putih. Perjalanan ke pantai itu dihiasi pemandangan lokasi tambang Mangaan di punggung bukit yang cukup tinggi. Beberapa ruas jalan masuk menuju lokasi pertambangan menyembul di antara lebatnya pepohonan. Sementara bongkahan-bongkahan baru kehitaman tampak dari jalan raya. Tak tampak kendaraan proyek untuk mengangkut hasil tambang. Mungkin saat kami berkunjung ke sana bukan waktu pengapalan hasil tambang.

Kira-kira 3 kilometer dari Gua Maria Torong Besi sampailah kami ke Pantai Pasir Putih. Jangan mengharapkan penunjuk arah, jalan masuk ke pantai itu pun hanya setapak di antara kerimbunan pohon. Bila tak bersama rombongan Romo Charly, tentu kami akan kesulitan menemukan lokasi pantai di tengah lebatnya pepohonan sepanjang jalan.

Sekali lagi, tidak ada retribusi atau pedagang asongan di sana, tetapi telah ada serombongan Pramuka yang agaknya sedang berkemah di tempat itu untuk beberapa hari. Mereka sedang membereskan tenda-tenda dan peralatan berkemah lainnya. Kami memilih bagian yang lebih ke tengah di antara pohon-pohon kelapa yang menjulang. Kendaraan diparkir mendekati pantai karena takut butiran kelapa jatuh menimpanya.

Ketika anak-anak telah berganti baju untuk berenang dan dengan bersemangat menikmati pantai, beberapa orangtua mempersiapkan makan siang. Bapak-bapak membakar ikan, bebek, pisang dan menanak nasi dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Kayu sebagai tungku dan sabut kepala sebagai bahan bakar melimpah. Barbequenya lebih menyerupai orang yang sedang camping dibandingkan pesta di pinggir pantai. Semua anggota rombongan dapat mampir untuk mencomot pisang yang sedang dibakar sementara menunggu ikan dan bebek dipersiapkan untuk makan siang.

Kegiatan yang mengingatkan adanya pelesiran hanya deretan peralatan makan dan beberapa penganan yang dipersiapkan para ibu. Mereka juga memasak ikan kuah asam yang rasanya asam-asam pedas. “Bagi yang ingin makan siang dengan lauk berkuah dapat mencicipinya.” Kata salah seorang ibu sambil mengaduk-aduk panci yang mulai mendidih, menguarkan bau harum masakan.

reo1 (4) reo1 (5)

Pantai pasir putih, tempat kami berwisata, sering disebut juga Pantai Ketebe. Kebanyakan orang menyebut pantai pasir putih karena seperti halnya Torong Besi, pantai Katebe juga berpasir putih. Bila pengunjung ingin pergi ke tempat ini tetapi tak tahu letaknya, bisa bertanya pada penduduk setempat yang tinggal tak jauh dari pantai. Mereka dengan senang hati akan membantu.Sebab, sekali lagi, tidak ada tanda-tanda atau pun penunjuk arah menuju tempat ini.

Selain tak adanya penunjuk arah, meski telah menjadi obyek wisata lokal, jangan berharap pula menemukan fasilitas bagi pengunjung seperti toilet atau tempat bilas. Bila ingin ke kamar kecil dapat dilakukan di tempat terbuka atau menumpang di salah satu rumah yang kebetulan berada dekat lokasi. Demikian juga untuk berbilas setelah berenang-renang di pantai. Terdapat pancuran air tawar tak jauh dari rumah penduduk. Tidak ada kamar khusus di sana. Berganti baju dapat dilakukan dengan menggunakan sarung atau handuk. Info ini saya peroleh dari Max, karena saya sendiri tak lagi bersemangat untuk berenang-renang di laut demi melihat ribetnya proses berbilas.

“Santai saja, dear. Nanti saya tungguin kalau takut ada pengunjung lain yang mau berbilas juga.” Kata Max. Tetapi saya tak punya jiwa adventure sebesar dia, jadi lebih baik tak usah saja.

Bertamasya ke pantai ini, atau pantai mana pun di Flores kecuali Labuan Bajo, juga harus membawa bekal sendiri. Tak ada restoran atau warung yang menyediakan makanan pengganjal perut. Tak heran rombongan Romo Charly merencanakan barbeque di pinggir pantai. Bila engga masak sendiri, tak akan ada makanan untuk makan siang.

reo1 (6)

Meski minim fasilitas pantai ini sangat indah. Pasirnya putih, pantainya landai, ombaknya tak begitu besar, dan jarang pengunjung. Beberapa nelayan lokal menyewakan perahu untuk tour sepanjang pantai dengan bayaran IDR 5000/ orang. Satu perahu muat sekitar 4 orang. Rute pelayarannya, menurut Romo Charly, sepanjang pantai Ketebe termasuk sebuah Cunca (air terjun) kecil di salah satu tebing yang berada di bibir laut. Berhubung hari itu tak terdapat nelayan yang sedang melaut, maka tak seorang pun yang mengikuti tour berperahu sepanjang pantai.

reo1 (7) reo1 (8)

Setelah anak-anak puas berenang dan seluruh rombongan selesai menikmati kopi sore, kami bersiap-siap pulang. Kami mengumpulkan semua perlengkapan dan memeriksa api yang mungkin masih menyala. Setelah semua beres rombongan meninggalkan pantai di tengah suramnya mentari karena mendung yang menggantung.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.