Hangzhou – Shanghai – Beijing

Enta Nola – Bogor

 

Rasanya sudah lama tidak menulis di Baltyra karena sibuk merantau ke Solo, balik lagi ke Bogor dan sibuk kerja di Jakarta.

Saya mau menceritakan perjalanan liburan saya bersama keluarga kecil kami ke Hangzhou-Shanghai-Beijing.

Liburannya sendiri pas libur Natal 2013 kemarin, ceritanya saya bayar utang sama anak-anak. Saya ingin mengajak anak-anak untuk mengunjungi kantor tempat saya pernah bekerja di Hangzhou dan napak tilas kehidupan saya selama bekerja di China.

Tiket dan hotel sudah dibooking sejak jauh-jauh hari maklum biar bisa dapat biaya yang murah meriah. Kami merencanakan perjalanan selama 2 minggu di China dengan menjelajahi 3 kota di sana.

Kami berangkat tgl 22 Desember, kenapa berangkat pada bulan Desember? Karena anak saya yang bungsu ingin melihat salju padahal sudah saya katakan kalau di China itu belum tentu turun salju walaupun suhu minus tapi dia ngotot minta perginya pas libur Natal. Waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Saya sudah mengontak teman kantor saya di Hangzhou apakah taksi masih tersedia di airport karena kami akan tiba tengah malam di Hangzhou dan Puji Tuhan, dia akan mengatur mobil kantor untuk menjemput kami di airport dan mengantar kami ke service apartment yang kami sewa selama 4 hari. Berikut foto-foto kami selama di Hangzhou :

Si unyil mejeng dulu di West Lake

Si Unyil mejeng dulu di West Lake

Si sulung yang sudah kedinginan karena suhu saat itu minus 2 derajat Celcius tapi kalo di foto tetap gaya

Si sulung yang sudah kedinginan karena suhu saat itu minus 2 derajat Celcius tapi kalo di foto tetap gaya

Air mancur yang menari meliuk-liuk mengikuti irama music yang diputar dengan keras (terlihat perbedaan air mancurnya antara foto sebelah kiri dan kanan)

Air mancur yang menari meliuk-liuk mengikuti irama music yang diputar dengan keras (terlihat perbedaan air mancurnya antara foto sebelah kiri dan kanan)

 

Kantor saya yang lama sudah berpindah tempat ke daerah perkantoran yang letaknya lebih di luar kota Hangzhou. Delapan tahun yang lalu sewaktu saya masih bekerja di sini, letak kantor masih dekat West Lake jadi kalo lagi jenuh di kantor bisa keluar dulu cuci mata di West Lake karena jalan kaki cukup 3 menit sudah sampai danau lumayan buat menyegarkan mata. Letak kantor yang sekarang, dulu masih berupa padang rumput dan sekarang sudah berubah menjadi padang beton gedung-gedung pencakar langit.

Pada hari ke 5, kami naik kereta api cepat menuju Shanghai. Sebenarnya teman saya sudah memberitahu bahwa saya cukup naik subway dari Shanghai Hongqiao dan turun di stasiun East Nanjing Road dan tinggal jalan kaki menuju hotel yang akan kami tempati selama 3 malam di sana tapi berhubung saya takut stasiun subwaynya ditulis huruf kanji dan tidak ngerti mesti jalan ke arah mana menuju hotel dari stasiun pemberhentian maka kami memutuskan naik taksi yang lumayan macet, jauh dan berat di ongkos tapi tak apalah yang penting sampai di hotel yang dituju hehehehe…

Ternyata hotel yang kami pilih itu letaknya persis di samping pedestrian walk yang bisa dibayangkan berisiknya sampai tengah malam tapi untungnya anak-anak bisa tidur mungkin karena capek.

Foto yang diambil dari sekitar hotel

Foto yang diambil dari sekitar hotel

Jalan-jalan naik bus tour hop on hop off mengelilingi tempat-tempat yang sering dikunjungi turis di Shanghai

Di Madame Tussaud dan foto bareng artis terkenal walaupun cuma lilin. Lumayan bingung cari lokasinya karena tempatnya terletak di lt. 10 sebuah mall dan tidak ada petunjuk di bagian luar gedungnya kalo Madame Tussaud ada di dalam situ.

hangzhou-shanghai-beijing (5)

Tambahan 1 patung baru di Madame Tussaud hehehehe…

Tambahan 1 patung baru di Madame Tussaud hehehehe…

Jing Mao tower, melihat kota Shanghai dari gedung tertinggi ke 2 di Shanghai setelah Pearl tower

Jing Mao tower, melihat kota Shanghai dari gedung tertinggi ke 2 di Shanghai setelah Pearl tower

Di The Bund, banyak yang foto pre-wed di sini. Kok bisa ya pake gaun pengantin yang tipis dengan suhu minus empat derajat Celcius

Pada hari ke 8, kami berangkat ke Beijing menggunakan kereta lambat. Sebenarnya teman saya menyarankan untuk memakai bullet train alias kereta cepat yang 4.5 jam sudah sampai Beijing tapi saya ingin anak-anak memiliki pengalaman menaiki kereta api yang memiliki kabin tempat tidur lagipula bila menggunakan bullet train akan sampai di Beijing jam 2 pagi, kasihan anak-anak bila harus mencari taksi pada waktu orang lagi enak-enaknya tidur. Kereta ini merupakan kereta kabin, tiap kabin memiliki 4 tempat tidur bersusun jadi pas buat kami berempat, satu gerbong kereta memiliki 10 kabin. Berdasarkan pengalaman saya, karena pihak kereta menyediakan air panas maka kami sudah menyiapkan bekal makan malam berupa mie seduh, kalo pagi ada pramugari yang berkeliling menawari bubur, mie kuah, nasi goreng yang dapat dibeli oleh penumpang jadi tidak perlu takut kelaparan.

Kami sampai di Beijing jam 9.30 pagi, naik taksi sampai di hotel, kami hanya keliling seputar hotel dan jalan ke Tianamen dan forbidden city pada sore harinya ternyata lumayan jauh jalan kaki dari hotel ke sana, setelah foto-foto kami pergi ke Wang Fu Jing yang katanya si sulung mau coba sate kalajengking tapi setelah melihat kalajengking yang kakinya masih gerak-gerak, nyalinya langsung ciut. Jijik katanya, padahal dari Indonesia kita sudah larang jangan makan karena takut kalo keracunan bagaimana? Dia ngotot, sekarang kita yang ketawain dia pas ciut nyalinya.

Di depan forbidden city

Di depan Forbidden City

Keesokan harinya, kami ikut tur ke Great Wall, Ming Tomb dan terakhir ke House of Dr. Tea. Di Great Wall, anginnya cukup kencang dan si Unyil hampir jatuh kena terpaan angin (lebay.com).

Di Great Wall

Di Great Wall

Hari terakhir di Beijing, kita mencoba MRT nya di kota tsb, lumayan rapi dan bersih stasiunnya dan petunjuknya pun cukup jelas buat orang-orang seperti kita yang tidak bisa membaca huruf kanji jadi jangan takut untuk mencoba MRT di China. Kita pakai MRT untuk pergi ke street marketnya Beijing Li Anyong (maaf kalau ejaannya salah), kata teman satu tour kemarin si katanya di sini bisa dapat barang-barang branded dengan harga murah. Ternyata di sini penjajanya menjual barang dengan keliling sambil bawa gembolan besar yang berisi barang dagangan. Ada dompet, jam, scarf untuk dompet hargany RMB 10/pc, untuk jam RMB30/pasang dan untuk scarf kalau niat beli bisa ditawar sampai RMB 10/pc. Barang-barang yang dijual adalah barang aspal alias asli tapi palsu tapi lumayanlah kalau dilihat sekilas sih mirip aslinya jadi bisa dipakai buat mejeng hehehehe.

Karena naik taksi tarifnya lumayan gede maka pas hari terakhir, kami menggunakan MRT dari dekat hotel menuju stasiun kereta. Lumayan naik turun tangga di stasiun sambil geret-geret koper yang gede-gede maklum di stasiun MRT tidak semuanya memiliki eskalator jadi mau tidak mau harus geret koper untuk naik atau turun tangga, kalau naik taksi mungkin kami akan kena RMB 50-80 tergantung lalin padat atau tidak, kalau menggunakan MRT cukup merogoh kocek RMB 8 untuk berempat, lumayan kan bedanya?

Kami naik kereta malam lagi dengan soft sleeper menuju Hangzhou, dari Hangzhou railway stasiun kami naik taksi menuju hotel yang daerahnya dekat dengan airport, menginap semalam di sana lalu pulang kembali ke Indonesia.

Begitulah jalan-jalan back packer ala keluarga saya.

 

Salam sejahtera,

Shinta

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.