Mengapa Banyak Pria tak Tahan Menduda?

Jeng Margi

 

Kesetiaan hanya milik wanita. Catat!

Wanita dan Pria memang ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan. Manakala perkawinan yang dibangun atas dasar cinta itu harus berakhir dengan perceraian oleh karena sesuatu dan lain hal bisa dipastikan akan melahirkan gelar Para Janda dan Para Duda.

Biasanya, seperti yang ku lihat…seiring berjalannya waktu…Mungkin karena trauma…..Para Janda akan tetap setia menyandang status ke-Janda-annya. Tak mau menikah lagi dan lebih memilih membesarkan buah hatinya. Lantas, Bagaimana dengan Para Duda…..?

janda-duda

Sekali lagi, yang ku lihat  Para Duda ini rata-rata tak tahan berlama-lama dengan status duda. Mereka segera berburu pendamping hidup atau segera melegalkan perkawinanannya yang mungkin saja relationnya sudah dibina jauh sebelum perkawinannya dulu bubar. Hehehehehe…

Di sini, aku tak akan menjustifikasi apapun…karena memang sepertinya menjadi Duda itu  repot dan sungguh tak enak…(ihhh sok teu banget, yach). Menjadi Duda jauh lebih ribet dan repot, lebih enak menjadi seorang suami. Karena menjadi duda otomatis segala sesuatu akan dikerjakan seorang diri. Bagaimana tak repot, contoh sederhana saja, jika pengin minum teh harus repot menjerang air dulu,  membeli gula, sesudahnya harus mencuci gelasnya yang habis terpakai. Belom lagi manakala lapar masih harus hunting ke warung dari breakfast sampe dinner. Cucian…..? Harus kucak kucek sendiri, meski sekarang dah ada Laundry tapi jarang laundry yang mau jemput bola. Akibatnya tetep repot harus antar-antar baju kotor segunung. Kebayang rempong ngga…? Beda bila masih punya Istri…Pengin teh manis, tinggal request, langsung tersedia wedang Ginastel, tinggal srupuuuut…srupuuttt …seger…seger…….seger….kemepyar. Sudah gitu dilanjut sarapan. Mangkanya banyak Duda-duda yang sesegera mungkin menyudahi ke-Duda-annya  wkwkwkwwk…

Oleh karena  menduda itu tak enak, ini yang sangat membuatku heran, bila seorang pria itu masih ada istri yang setia koq yaa sepertinya ogah me-maintenance kwalitas hubungan perkawinannya, cenderung semau gue. Punya istri mbok disayang-sayang gitu kek, bukan  dicuekin,  apalagi sampe dipukulin hingga babak belur. Amit-amit dah….!

Acapkali, eksistensi seseorang itu baru bisa dirasakan, jikalau orang tersebut tidak bersama-sama lagi…wkwkwkwkwkwk…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.