Manusia “Kepiting”

Dwi Isti

 

Pelajaran dan hikmah bisa kita dapatkan dari mana saja, bahkan kita bisa belajar dari binatang dan kehidupan mahluk yang ada di alam ini. Banyak yang tahu bagaimana wujud kepiting tapi tak banyak yang mengerti sifat kepiting. Kepiting itu binatang pendengki, mau tahu?

Kepiting bisa diolah menjadi salah satu menu yang digemari banyak orang, rasanya lezat, dagingnya gurih. Menangkap kepiting sawah mudah dilakukan malam hari. Penangkap kepiting yang handal biasanya meletakkan kepiting-kepiting tangkapan mereka ke dalam baskom tanpa diikat kaki-kakinya. Cobalah amati sekali waktu, ternyata kepiting-kepiting itu sekalipun tidak terikat, tidak akan bisa lolos dari baskomnya sekalipun mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk merangkak keluar baskom dengan capit-capitnya yang kuat.

Oo itu rupanya kenapa penangkap kepiting santai saja dengan kepiting-kepiting mereka yang tidak terikat, mereka yakin kepiting-kepiting itu tak akan kemana-mana. Si penangkap kepiting rupanya hapal sifat kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir mencapai mulut baskom, teman-teman nya akan menariknya turun kembali, begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada seekorpun yang bisa lolos dari baskom. Dan esoknya, matilah sekawanan kepiting itu menjadi olahan hidangan lezat …yang disantap manusia.

Belajar dari kepiting, ternyata tanpa kita sadari, dalam kehidupan ini kita juga sering berlaku seperti kepiting-kepiting itu.

Alih-alih merasa gembira jika ada teman atau saudara kita yang sukses, kita justru berburuk sangka, dan berpikir negatif bahwa kesuksesan itu diperoleh dengan jalan yang haram…dst.

kepiting-crab

Dalam bisnis, dalam karir atau dalam hal-hal yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki atau munafik akan semakin nyata, dan bila kita tidak sadari, semua kedengkian itu akan membunuh diri kita sendiri. Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.

Ingin tau ciri manusia “kepiting” ?

1. Suka mengingat kesalahan orang lain atau menyalahkan keadaan yang sudah lampau dan menjadikannya patokan dalam bertindak.

2.Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mau mencari kelemahan diri sendiri, laksana kepiting yang sibuk menarik teman-temannya yang akan keluar baskom, hingga dia lupa untuk berusaha mengeluarkan dirinya dari baskom

3.Tidak suka mendengar kritik, dan melakukan kesalahan yang sama selalu dan selalu.

Kiranya kita perlu merenungkan berapa waktu yang kita pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, karir, sekolah atau religi, dan mungkin saatnya kita mengubah waktu-waktu itu untuk memikirkan cara mengembangkan diri kita menjadi pribadi yang lebih positif, sukses dan bahagia.

 

Note Redaksi:

Dwi Isti, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang sudah mengajak Dwi Istri bergabung.

 

 

About Dwi Isti

Seorang penulis lepas yang berasal dari Surabaya dan sekarang tinggal di Jogja.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.