Liburan ke Reo (2): A Blessing in Disguise

Anastasia Yuliantari

 

Pertengahan bulan Juli tak berarti kemarau. Awan kelabu menggantung sepanjang siang. Perjalanan antara Pantai Ketebe-Reo tak begitu terik, namun menimbulkan kekhawatiran akan hujan yang sewaktu-waktu turun. Kami tak membawa mantel, sementara rumah penduduk sangat jarang. Membayangkan harus berkendara di bawah hujan deras sangat menggelisahkan. Apalagi kami belum memutuskan untuk mencari penginapan yang lebih sukar diperoleh di kota kecamatan sekecil ini dibandingkan kota besar.

Sesampainya di Reo kami berpisah dengan rombongan Romo Charly yang meneruskan perjalanan ke Weleng. Meskipun langit semakin suram saya tetap ingin kembali ke Ruteng. Keraguan saya akan fasilitas di tempat penginapan selalu menghantui. Apalagi saya belum menghubungi Enu Wiwik untuk memesan penginapan seperti pesannya sebelum kami berangkat ke Reo.

Asa, dear? Kita tidak menginap saja di Reo kah?” Tanya Max sambil memperhatikan langit hitam di atas sungai Wae Pesi yang dipagari deretan perbukitan.

“Kita, kan belum pesan penginapan. Enu Wiwik bilang, kan tidak bisa (datang) mendadak saja.” Saya tetap bersikeras.

“Kayaknya di Ruteng hujan deras, nih. Lihat saja langitnya suram sekali.” Max berusaha mempercepat laju motor.

Saya tetap menolak meskipun titik air mulai membasahi helm. Pikir saya, bila hanya gerimis saja masih memungkinkan untuk sampai di Ruteng meski basah kuyup. Saya lupakan wilayah Rongket yang rawan longsor atau gusuran bukit untuk pelebaran jalan yang mungkin akan sangat licin karena berasal dari tanah liat.

Jembatan Wae Pesi kami lewati. Jembatan besi sepanjang kira-kira 50 meter ini melintang di atas sungai Wae Pesi. Bentang alam ini dipergunakan untuk membatasi wilayah kecamatan Reo dengan kecamatan Cibal. Kami sempat melaju sejauh beberapa kilometer di wilayah Cibal sebelum hujan semakin deras mengguyur. Akhirnya kami terpaksa berteduh di sebuah warung kecil yang berdiri persis di belokan jalan.

Sungai Wae Pesi

Sungai Wae Pesi

Warung kecil itu sebenarnya bukan lagi sebuah warung. Tak ada barang dagangan di lapaknya yang tertutup. Alih-alih sebuah ruangan memanjang yang dibangun di sebelah lapak itu dipergunakan sebagai hunian. Di depan hunian itu tersedia dua buah bangku panjang terbuat dari papan kayu sederhana. Pintu rumah itu terbuka, penghuninya sedang duduk sambil mengamati hujan. Dua ekor ayam berkeliaran meskipun hujan sedang deras mengguyur bumi.

reo2 (2)

Setelah mengucap salam dan minta ijin berteduh kami duduk di emperan warung. Telah ada sepasang suami-istri yang lebih dahulu duduk di sana. Seperti kebiasaan hidup di kota kecil, Max menyapa dan bertanya tujuan mereka berdua. Ternyata pasangan itu juga dalam perjalanan menuju Ruteng. “Ibu harus kuliah besok pagi.” Kata si suami sambil menunjuk istrinya yang tampak gelisah. Rupanya sang nyonya adalah mahasiswa di perguruan tinggi keguruan yang ada di Ruteng. Dia juga menambahkan bahwa mereka berasal dari sebuah kampung di dekat wilayah Robek.

“Jauh (tempat itu), dear?” Bisik saya pada Max.

“Cukup jauh, dear. Melewati pantai Ketebe tadi, tuh. Tapi mungkin masih tiga perempat perjalanan, apalagi kalau masuk ke kampung-kampung.” Jawabnya.

Hadduhh, saya melihat betapa dilema yang dihadapi pasangan itu. Bila kembali ke kampungnya, mereka akan tiba di malam hari. Membayangkan harus menembus hutan, semak belukar, tanpa ada penerangan di saat hujan, pasti menimbulkan kekhawatiran yang sangat. Sementara bila nekad melanjutkan perjalanan ke Ruteng juga bukan hal mudah. Situasi jalan yang sama ditambah tanah licin sepanjang proyek pelebaran jalan pasti menyulitkan. Belum lagi kekhawatiran akan tanah longsor yang mungkin terjadi.

“Kayaknya kita harus menginap di Reo, nih dear.” Kata Max melihat hujan yang tak kunjung berhenti hampir sejam. Langit pun semakin gelap karena mendung tebal dan senja yang telah saatnya tiba. Apalagi salah seorang teman dari pasangan yang berteduh bersama kami kebetulan lewat sambil membawa kabar yang membuat ciut nyali, “Saya kehujanan sejak dari Ruteng. Jalanan licin sekali di Rongket akibat penggusuran bukit untuk pelebaran jalan. Bila tak ingat harus pulang, rasanya lebih baik menginap di Ruteng saja.” Ujarnya sambil mengebas-ngebaskan jas hujannya yang tak begitu berfungsi karena sekujur tubuh tetap kuyup oleh hujan.

Meskipun agak ragu, saya menghubungi Enu Wiwik yang ternyata masih di kantornya. “Kami terjebak hujan di sebuah kampung beberapa kilometer setelah jembatan Wae Pesi. Apa kami masih dapat memperoleh penginapan di Reo?” Tulis saya dalam pesan singkat. Sebenarnya saya telah berusaha meneleponnya untuk bicara, tetapi sinyal yang timbul-tenggelam di tengah liku-liku perbukitan membuat pesan singkat lebih efektif dan jelas.

Jawaban datang tak lama kemudian. Enu Wiwik mengatakan bila ada sebuah kamar tersisa di bekas tempat kostnya. Dalam kondisi terdesak dan kedinginan, memperoleh tempat menginap sudah sangat lumayan.

Begitu hujan mulai berkurang derasnya, kami memutar arah kembali ke Reo. Kami tinggalkan pasangan yang masih menunggu redanya hujan untuk meneruskan perjalanan ke Ruteng. Tanpa mengeluh Max melajukan motor meski beberapa kali matanya terasa perih karena terkena titik hujan yang berhasil menembus kaca pelindung helmnya.

Setelah beberapa kali bertanya, sampailah kami di depan Koramil Reo. Enu Wiwik telah menunggu di depan kantornya, yang ternyata hanya beberapa meter dari tempat kami berhenti.

“Waduh, ternyata benar-benar rock and roll.” Ujarnya sambil tertawa-tawa.

“Kami kehujanan di dekat Wae Pesi.” Ulang saya untuk menegaskan pesan singkat yang saya kirimkan sebelumnya.

“Lha Mbak Tia melanggar ‘jam hujan’, sih. Jam-jam segitu emang saatnya turun hujan dari perbatasan Cibal sampai ke dekat Pagal (kota kecamatan Cibal). Setiap hari hujan turun di tempat-tempat itu tanpa lihat musim. Makanya kalau pulang ke Ruteng kami pasti memilih berangkat pagi atau sekalian malam setelah hujan.”

Wah, bagian itu tak pernah masuk dalam informasi wisata ke Reo. Bila tahu tentang ‘jam hujan’ pasti kami memperpendek kunjungan ke pantai. Walaupun tak deras, jaket kami basah dan tubuh mulai menggigil kedinginan.

reo2 (3)

“Ayo, ke mari.” Diajaknya kami menuju toko kelontong tak jauh dari tempat kami bertemu dengannya. “Saya sudah berpesan pada mantan Bapak Kost untuk menyiapkan kamar buat Mbak Tia.”

Rupanya penginapan itu berada di belakang toko kelontong. Bangunannya sejajar dengan toko dengan halaman luas di depannya. Kendaraan roda dua atau empat dapat diparkir di depan kamar. Keamanan terjamin karena halaman luas di depan kamar memiliki pintu gerbang yang selalu dikunci saat malam hari.

Meskipun sederhana, penginapan itu bersih dan nyaman. Kamarnya sangat layak, tenang, dan cukup luas. Terdapat TV dengan berbagai channel, bahkan channel khusus Piala Dunia yang harus dilanggan. Ada kipas angin dan colokan berisi 4 plug in untuk mengisi baterai ponsel dan kamera. Sayangnya kami masih butuh bantuan lilin karena kebetulan ada pemadaman listrik sampai jam 9 malam.

Kamar mandi basah yang terdapat di dalam kamar bersih dan penuh air melimpah. Sebagai catatan, beberapa penginapan di wilayah dekat pantai airnya kurang bagus. Apalagi wilayah pantai tertentu sering kekurangan air, akibatnya mereka membeli air dari truk-truk tangki. Menurut kabar, truk-truk itu menyedot air dari sungai-sungai yang berair keruh dan bisa dipastikan kotor. Hal itu pula yang membuat kami bertanya tentang sumber air untuk kebutuhan sehari-hari di tempat itu. Paling tidak agar kami bisa memutuskan untuk mandi atau sekedar menggunakan kamar mandi sebagai tempat cuci muka dengan menggunakan air mineral botolan yang kami bawa.

“Airnya dari sumur, koq Mbak. Makanya saya kerasan tinggal di sini sampai dapat tempat tinggal sendiri saat suami dipindahtugaskan kemari.” Jelasnya.

Bila melihat hujan yang masih turun sampai tengah malam sungguh beruntung mendapat penginapan yang aman dan nyaman di kota sekecil Reo. Esok paginya pun kami masih punya kesempatan berkeliling kota untuk mengenalnya lebih dekat. Max malah berencana pesiar ke Robek dan Kajong. Dengan catatan tak boleh lebih dari jam satu siang, atau kami akan kembali kehujanan di wilayah Cibal karena melanggar “jam hujan.”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.