Menghadapi “Si”

Dewi Aichi – Brazil

 

Di sebuah ruang keluarga, pada menjelang makan malam, Doni terdiam bagaikan terdakwa yang tak berkutik.  “Doni, aku ngga peduli lagi kamu mau gimana-gimana, apa yang kamu butuhkan silahkan saja bilang sama papa dan mamamu!”

Emosi Mira sebagai tantenya Doni meluap-luap tak tertahankan, ketika ibunya Doni menuduh Mira menyembunyikan coklat dari Doni. Santi marah kepada iparnya itu, dan menganggap Mira hanya memberikan coklat kepada anaknya sendiri.

Kemarahan Mira bertambah ketika adiknya sendiri alias papanya Doni percaya semuanya apa yang dikatakan Doni. Tetapi karena apa yang dituduhkan Doni ke tantenya itu tidak benar, maka Mira tidak akan berlama-lama dengan kesalahpahaman yang terjadi, akhirnya Doni yang berusia 11 tahun itu ditanya di hadapan tantenya yaitu Mira, dan juga papa mamanya Doni sendiri.

Memang, sejak masih bayi Doni dalam perawatan tantenya karena mamanya sendiri saat saat melahirkan Doni, usianya baru 16 tahun, papanya baru 19 tahun. Mereka masih remaja, belum ada tanggung jawab sama sekali sehingga diputuskan Doni dalam perawatan tantenya.

Semuanya menjadi jelas ketika Doni memang salah lihat, apa yang dimakan sepupunya di dalam kamarnya itu adalah snack bekal untuk sekolah yang tidak sempat ia makan. Akhirnya semuanya jelas, papa mamanya Doni minta maaf kepada Mira yang telah menuduh yang tidak seharusnya.

Di luar contoh di atas, memang alangkah bijaknya jika suatu kabar yang belum tentu kebenarannya, bisa ditanyakan kepada semua pihak. Sebab belum tentu apa yang dikatakan sumber berita, itu adalah kebenaran. Ini contoh yang hanya dilakukan seorang anak berusia 11 tahun, yang bisa saja menjadi sumber keretakan sebuah hubungan.

Namun jika si pelaku ini seorang dewasa yang dengan sadar melakukannya, bagaimana menyikapinya? Tidak bisa dihindari, dalam sebuah pertemanan pasti ada kerikil-kerikil kecil yang bisa bikin geli-geli atau bahkan menusuk-nusuk telapak kaki. Kalau bikin geli-geli, paling hanya membuat kita ketawa kegelian, tetapi yang menusuk menyakitkan ini mau diapakan ya?

Dibuang? Ahhh…semestinya tidak, bisa diakali, mungkin bisa diletakkan di posisi pinggiran jalan, sehingga bisa menjadi tempat mengalirnya rembesan air hujan, atau dijadikan batuan batuan hiasan yang mempercantik taman.

two-faces

Kadang-kadang dalam hidup ini kita mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Jika kejutan itu sesuatu hal yang baik, tentu tidak mengecewakan, justru sebaliknya sangat menyenangkan. Tetapi jika kejutan itu misalnya kita mendapatkan kabar bahwa si A bilang ke si B, bahwa kita ini bla…bla….bla….aduh…misalnya kabar itu benar, apa pentingnya si A bilang ke si B yang tidak ada kaitannya dengan kita? Kalau kabar yang disampaikan si A itu tidak benar, dan kita mendengarnya aduh….rasanya pengen ngasah golok hahaha….

Memang bikin kesal jika punya teman yang suka ngomongin tentang kita dari belakang, menusuk dari belakang. Walaupun kita juga harus bijak, mungkin saja ada sebab-sebab kenapa si teman berbuat demikian. Yang jelas menghadapi Si Teman semacam ini harus hati-hati sekali. Sangat susah memulihkan kepercayaan dengan teman seperti ini.

Bukankah kepercayaan itu adalah fundamental dalam menjalin sebuah hubungan, apalagi dalam sebuah hubungan pertemanan? Sulit, jika dalam pertemanan sudah tak ada kepercayaan. Siapa sih yang suka dibohongin? Siapa sih yang suka dijelek-jelekin? Dari depan aja sudah menyakitkan, apalagi dari belakang ya. Ngga kebayang deh kecewanya.

Jika terjadi pada saya, rasanya ingin deh menyebarkan berita ini kepada banyak orang, dengan harapan si teman itu dibenci rame-rame. Tapi yakinlah tindakan seperti ini bukan simpati yang didapat, justru sebaliknya, aku akan sama saja dengan si teman, tukang cerita, iya ngga? Rugi kan? Harus bertahan untuk tutup mulut. Itu sikap yang terbaik.

Jadi tidak perlu kan saya melabrak dia? Bertanya saja baik-baik, kenapa begini, kenapa begitu, begitu benar, begitu salah…lho…kok malah sing a song lagunya Dewi Dewi hehehehe…Bilang saja begini,”kirain tuh kita berteman baik-baik, kok tega sih lo berbuat gitu ke gue?”. Pendek, sopan, tajam dan menyilet…(Feni Rose mode ON).

Kita perhatikan baik-baik deh apa yang kita katakan saat ngobrol dengan teman yang seperti ini, karena bisa saja perkataan kita dipelintir, memutarbalikkan semua apa yang kita katakan. Apes deh kita kena batunya.

Nah setelah kita bertanya mengenai sikap backstabbingnya itu, dengarkan saja penjelasannya, dia pasti akan memberikan penjelasan. Yah…dengarkan saja dan gunakan insting. Apabila masih mau menjalin pertemanan, yah siapkan saja hati, siapkan maaf sebanyak banyaknya, tetapi jika memilih untuk memutuskan pertemanan, ya bicara baik-baik, jadikan ini sebagai pelajaran agar tidak mudah begitu saja percaya.

Tips saya sendiri nih, tetap hati-hati dalam mengungkapkan apa yang ingin kita sampaikan kepada orang lain, terutama dengan hal yang menyangkut dengan orang orang. Jangan terlalu menghakimi juga sih…sebab bisa berbalik arah menyerang kita kalau menghadapi teman model begini ini. Sebagai sikap preventif, kita dapat mempelajari arti mimik wajah, sehingga bisa deteksi dini.

He he he…emang sih ya, teman seperti itu bikin sakit hati, capek, kecewa, dan lain lain dan seterusnya dan sebagainya . Tapi yang tetap saya ingat ya harus tetap baik dan positif, pandai-pandai saja bergaul. Maksud saya, cari teman yang selalu berpikir positif ini bisa kita rasakan saat ngobrol dengannya.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.