Peradaban Otomotif

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SETIAP tahun pertambahan kendaraan bermotor di Indonesia mencengangkan sementara ruas jalan bertambah tak sesuai kecepatan masyarakat membeli mobil atau motor. Namun masih lebih tinggi pertumbuhan itu dibanding di barat dan Jepang, tetapi jarang macet. Wajar pameran mobil rajin digelar di sini dalam hitungan kuartal dalam setahun.

Walau negara terkebelakang, mobil pertama sudah ada di Indonesia tepatnya di Jawa pada 1894. Tahun yang sama ketika AS sudah hadir mobil pertama yang dimiliki keluarga Baushke di Michigan. Bersamaan! Kemudian nasib dua negara kini bertolak belakang, Yang satu rajin bikin mobil, yang satu rajin beli mobil.

Mobil pertama di Indonesia, tak tanggung-tanggung! Mercedes Benz pada 1894 yang dimiliki Susuhunan Pakubuwono X (kakek Moorjati Soedibjo, ratu Jamu). Cicitnya Pakubuwono XIII pernah diperiksa polisi karena pelecahan seksual dengan ABG. Baru setahun jadi raja Jawa (1893) sudah punya mobil! PB X adalah raja Jawa dari Surakarta yang paling lama berkuasa dan membangun banyak infrastktur untuk kraton dan Solo. Presiden SBY memberinya gelar pahlawan nasional (lupa tahunnya, 2005?).

otomotif01 otomotif02

Mobil pertama di Indonesia (Belanda baru punya mobil 1986, padahal tetanggaan sama Jerman) adalah Mercedes-Benz tipe Phanteon muat 8 orang dengan mesin 1 silinder 5HP 2000cc. Bahkan, karena tak puas, PB X beli Mercedes-Benz lagi tahun 1907 dengan tipe Daimler-Britse Benz dengan mesin 4 silinder 45 HP! PB X memang ‘agak megalomania’.

Waktu baru jadi raja badannya kerempeng seperti Jokowi, namun setelah 40 tahun berkuasa, badan seperti disiram minyak tanah tiap pagi. Melaaaarrrr! PB X sengaja memelarkan badannya agar tubuhnya (busananya) bisa menjadi display banyak tanda jasa sebagai medali kehormatan!

Tiap peradaban dunia, Indonesia selalu hadir dan mengalaminya lebih dulu jauh sebelum negara lain. Termasuk peradaban otomotif dunia. Bahkan peradaban orang gila juga hadir di sini, ketika orang yang kalah bertarung secara politik dan demokrasi jadi kumat dan bajingan (gila). Orang itu sedarah dengan Pakubuwono X. Hanya beda kewarasan.

Yang satu raja agung. Satu lagu raja gila. Bajingan.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *