Jangan Salahkan Jilbabku (3)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Tiba-tiba datang Wahyuni, senior kita. Dia satu tingkat di atas kita. Yuni ini biasa kita panggil Kak Yuni. Yuni orangnya kalem, lembut dan sabar, dia memakai jilbab panjang namun tetap terlihat cantik dan nampak menarik. “Haiii, Kakak boleh duduk di sini? Itu penuh semua bangkunya”, Ujar Yuni dengan ramah.

“Ohh silahkan Kak, masih muat kok”, Sahut Lily sambil bergeser memberi tempat.

Yuni tersenyum ramah, lalu dia duduk sambil berbasa basi menawari rujaknya. Dalam hati aku tergelitik ingin membuka suatu obrolan, dan akhirnya aku pun bicara “Kak Yuni keliatan seger terus deh?”.

Lily langsung ikut menimpali, “Kak Yuni kok tetap terlihat cantik ya? Apa sih kosmetiknya?”

Yuni memandang kami dengan ramah lalu dia bicara, “Aku kalau soal pake kosmetik nggak macem-macem, cuma bedak sama lipgloss aja biar keliatan seger. Kosmetik juga merek pasaran aja? Lagian kalian ini juga cantik kok”.

Lily tersenyum simpul sambil sibuk memainkan jarinya di ujung rambut panjangnya. Sementara aku masih penasaran, “Kak …. Dua hari lalu tuh ada yang ngatain aku ganjen, gara-gara aku pake make-up. Orang itu bilang pake jilbab kok masih aja mau mancing pengelihatan cowok?”.

Yuni mengeyitkan dahinya, “Hah?? Kok orang itu bisa bilang gitu? Aku sih berpendapat beda ya?! Siapa yang bilang kalau kita pakai jilbab nggak boleh dandan? Aku sudah pakai jilbab sejak 2 SMP dan selama itu aku tetep peduli sama masalah kecantikan dan kesehatan kulit juga rambut kok”, Jawab Yuni dengan mantab dan tegas.

Aku diam sambil mengaduk es cendol di hadapanku, kemudian Ami yang berbicara seolah mewakili diriku, “Tapi Kak? Kenapa ya kadang-kadang kita lebih mudah dikritik justru saat kita memakai jilbab? Maksudku kritikan yang dialamatkan ke aku atau Anggie jauuuhh lebih banyak dibanding ke Lily atau intinya sejak memakai jilbab, aku dan Anggie merasakan begitu banyak batasan yang dibuat orang-orang kepada kami??”, Ujar Ami dengan wajah serius.

Yuni menarik nafas, “Kakak memang bukan seorang Ustadzah, tapi Kakak banyak bertanya, menurut Aku sih itu ujian keimanan ya? Orang kan memang mudah kok saat memberi kritikan tanpa mereka peduli kritikan itu mendasar atau asal diucap saja, bahkan mereka tidak pernah merasa perlu untuk berkaca”, Yuni diam sesaat, lalu ia kembali bicara.

“Soal dandan, banyak wanita yang melakukannya secara berlebihan, membuat wajahnya bagai topeng, nah bagiku itu bukan karena berjilbab atau tidak, namun karena mereka itu tidak PD, mereka tidak paham makna bermake-up. Aku walau berjilbab toh ikut kursus kecantikan, sekedar buat nambah wawasan. Bermake-up itu bukan mewarnai wajah, namun lebih pada membuat wajah nampak segar, menonjolkan ke satu titik dan tentu akan terlihat lebih cantik.

Aku sehari-hari hanya memakai bedak tipis, lipgloss, alis dan itu kan sudah membuat wajah nampak segar, mungkin kalau ke pesta tentu aku akan menambahkan eye shadow dan juga mascara. So kalau ada yang bilang saat berjilbab kita dilarang memakai bedak atau riasan ya jelas ngawur lah! Riasan bagi siapapun dia, kalau dipoles berlebihan akan terlihat jelek dan tidak natural”, Yuni berbicara agak panjang lebar.

Penjelasannya sangat sederhana, namun bisa aku terima dan pahami. Jadi masalahnya bukan berjilbab atau tidak, semua wanita di Planet ini berhak cantik dan bergaya namun mungkin kiatnya yang harus benar.

“Jadi kalian tetap harus tampil cantik, berjilbab kan bukan sekedar tertutup namun memang dalam berjilbab ada aturannya, tentu yang sesuai tuntunan agama kita, Soal orang yang selalu bicara banyak tuntutan ini itu, baiknya dilihat saja siapa dia. Aku pernah punya teman yang tukang selingkuh namun dia menuntut kesetiaan, bagiku itu bagai lelucon yang nggak lucu”, Lanjut Yuni lebih jauh.

Sayang waktu cepat berlalu, kuliah berikut akan dimulai, dan obrolan pun diakhiri. Sambil berjalan menuju kelas, Lily bicara, “Wah Kak Yuni tuh emang orangnya diem, tapi ternyata asik ya kalau diajak ngobrol?  Dalam menjelaskan suatu hal selalu simple dan jelas”.

“Aku setuju Ly! Sayang kita ada jam kuliah lagi, banyak yang aku pingin tanyain, Kak Yuni sepertinya sangat paham masalah berjilbab”, Sahut Ami

Aku hanya diam, dalam hati aku niat suatu hari akan ngobrol lagi dengan Kak Yuni. “Eh! Darwin kemana? Kayanya gak masuk ya? Semester ini aku dan Ami sering nggak sekelas sama kamu ya Ang?”, Celetuk Lily membuatku kembali ke alam nyata.

“Ohh iya! Dia sakit flu, kepalanya pusing badannya demam, ntar pulang kuliah aku ke rumahnya. Semester ini kita emang banyak misah kelas, gara-gara pas liburan kemaren aku sakit Demam Berdarah, jadinya nggak bisa milih kelas gara-gara daftar ulangnya dah memepet, tapi untungnya masih ada Darwin, jadi aku tetep semangat kuliah”, Sahutku sambil tertawa.

Ami buru-buru bicara, “Hellow! Kan kita siang ini mau nonton ke Blitz? Mosok jadi batal?? Kamu malah mau kerumah Darwin”.

Aku memegang tangan Ami, “Maap ya say, ini soalnya Darwin sakit, besok kan masih bisa, sekarang aku urus my baby dulu”, Ujarku sambil tersenyum, “Insya Allah besok kita nonton bareng, kasian Darwin kalo aku nggak nengok dia, bisa galau deh”, Ujarku pada Ami dan disambut anggukan tanda setuju.

*****

Banyak orang yang pakai jilbab dan baik-baik aja. Namun entah kenapa bagiku ada saja hal yang membuatku tersinggung. Entah kritik soal riasan, pakaian, sikap laku. Seolah aku ini sumber kesalahan dan itu membuatku kesal tanpa tepi. Tapi kalau dipikir-pikir aku juga ada kesalahan salah satunya adalah aku malas datang ke pengajian, berat saja kakiku melangkah ke sana. Apa aku ini belum dapat hidayah?

Aku merasa kehilangan diriku yang dulu, banyak baju-baju yang aku punya terpaksa aku kasih ke saudara atau aku sumbangkan. Dan dalam hati aku merasa berat. Mengapa aku begitu ribet? Dan hal ini sempat ku bicarakan pada Darwin yang berujung emosi. Yah! Sekarang aku lebih sering marah,  mudah untuk marah.

“Yank, menurutmu riasanku gimana? Menor? Menyolok? Lebay?”, Ujarku di suatu Minggu siang saat kita akan menonton di Bioskop.

Darwin tersenyum, lalu dia pun segera menjawab pertanyaanku, “Ya kalau menurutku sih biasa kok alias nggak ada yang aneh, dari dulu kamu selalu merias wajah dengan baik, setahuku soal pakaian dan make-up kamu termasuk jagoan deh”.

Aku memandangnya dalam-dalam, seolah ingin memastikan dia tidak berdusta, “Yakin? Beneran? Kenapa ada yang bilang kalau aku seperti berusaha menggoda lelaki?”.

make-up

Darwin terdiam, lalu bicara dengan nada tegas, “Ang, kenapa kamu yakin riasanmu itu menggoda? Siapa yang bilang? Look who’s talking lah, kalau cuma sejenis siapa tuh? Elisa? Rugi amat kalo dipikirin! Itu omongan yang asal bunyi”

Aku mendadak kesal, bukan pada Darwin tapi pada mereka yang selalu menghakimiku. Seolah mereka berhak mencatat segala dosa orang lain dan itupun dilakukan dengan serabutan. “Aku lelah dikomentarin, semua salah dan seolah aku ini pendosa dan mereka berhak mencatat dosaku”, Ujarku sengit.

Darwin pun menyodorkan botol air mineral miliknya, “Minum dulu Yank, kelihatan banged kamu molai emosi”. Kata Darwin lembut.

Aku meneguk air itu dan dalam hati aku malu, kenapa aku jadi emosi? Darwin memang kekasih yang sabar, dia lalu merangkulku sambil bicara lembut, “Kamu tahu mereka tidak berhak menjadi hakim, tingkah laku merekapun belum tentu benar, lantas kenapa semua ucapan mereka itu mengganggumu? Kenapa dipikirkan?”.

Aku membisu, ya! Kenapa harus aku pikirkan? Sedang aku sendiri sadar bahwa mereka belum tentu benar dan mereka mengkritik juga belum tentu karena peduli padaku, ah bodohnya aku ….. Ku kecup pipi Darwin, lalu tanpa ragu kusandarkan kepalaku di lengannya, aku tak peduli bahwa aku di lobby bioskop, yang aku peduli, inilah aku, aku juga berhak tetap menjadi diriku sendiri.

*****

Tidak disangka siang itu aku jumpa Kak Yuni di taman kampus. Ami dan Lily ada kuliah lagi. Darwin pulang duluan karena harus ke toko Ayahnya. “Siang Kak …. Lagi santai nih? Nggak ada kuliah lagi ya?”, Sapaku sambil duduk di sebelah Yuni.

Yuni tersenyum ramah, “Heiii selamat siang juga Ang, aku udah nggak ada kuliah, mau pulang tapi masih panas, jadi nyantai aja deh di sini, anginnya enak, banyak pohon”.

Aku menawari Yuni permen, lalu aku langsung membuka obrolan, “Kak, aku sebenernya agak heran, kenapa ya di masyarakat kita ada pemikiran yang sifatnya menghakimi?”.

Yuni menatapku, “Maksudmu gimana nih?”, Sahut Yuni singkat.

“Ya ini masih berkaitan dengan jilbab, jadi kemaren aku kan naik Busway, nah tiba-tiba ada seorang Ibu yang menyerobot antrian, lalu ada orang berkomentar ‘Pake jilbab tapi masih aja doyan srobot!’, nah aku bingung aja, kenapa jilbab yang dipakai selalu jadi kata kunci saat terjadi sesuatu yang tak semestinya dilakukan oleh pemakainya?” Aku bicara panjang tentang hal yang seolah mengganggu benakku.

Yuni diam sesaat, lalu dia berbicara dengan tenang namun tegas, “Itulah yang aku sebenernya nggak setuju, di masyarakat kita ada paradigma yang seolah menyandingkan kesucian atau kebenaran dengan jilbab. Maksudku gini, Si A pake jilbab maka diartikan si A ini harusnya sudah bener, agamis, baik, sopan dan banyak lagi. Namun saat akhirnya ketahuan kalau si A ini sebutlah brengsek, maka jilbab itu disangkut pautkan. Jilbab dan akhlak itu berbeda. Soal tata tertib, sikap laku atau apapun perkaranya, sekali lagi tak berkaitan dengan jilbab atau atribut keagamaan namun berkaitan dengan akhlak.

Jilbab memang diwajibkan buat kita wanita Islam, tapi jilbab tidak pernah menjamin kalau pemakainya akan bertabiat sesuai Islam, kecuali mereka yang rajin mengkaji segala Alquran dan hadist. Misalnya nih aku kasih contoh, wanita berjilbab tidak menjamin dirinya tidak suka pamer atau jadi pusat perhatian, mau bukti?? Lihatlah di TV atau dijalanan dan dimana saja, banyak wanita berjilbab namun tidak memenuhi aturan, dia memakai ciput dan kerudung yang kalau dilihat mirip kepala Alien atau punuk unta. Belum lagi aneka hiasan seronok dan model pakaian berikut jilbabnya yang sengaja dibuat seheboh mungkin. Itu karena pemakainya memang ingin dilihat, dipandang, dikagumi. Sedang hakekat berjilbab kan justru menyamarkan pandangan, khususnya laki laki terhadap diri kita, lebih membersihkan hati kaum lelaki dan perempuan dari godaan nafsu”, Ujar Yuni menjabarkan pendapatnya.

Aku manggut-manggut, “Aku setuju Kak, artinya jilbab hanya bungkus dan tidak berarti selalu membungkus isi yang bagus, right?”.

“Betul! Sama saja seperti rok mini, tak semua yang memakai rok mini adalah perempuan nakal, namun hampir rata-rata perempuan nakal pasti pakai rok mini. Sekarang ini hampir semua perempuan Islam memakai jilbab, namun tak semuanya mencermikan Islam. Jadi pahami dulu tujuan memakai jilbab, kalau sudah paham Insya Allah nggak akan terjadi kebingungan”, Ujar Yuni dengan gamblang.

Aku diam, menerawang menatap bunga Sutra Bombay yang berebut memamerkan warna pink dan putih di salah satu sudut taman kampus. Aku jelas termasuk orang yang belum paham tujuan berjilbab, sebab itu aku selalu kebingungan dan merasa di simpang jalan. Aku memang harus banyak belajar dan mengkaji ilmu agama, semoga aku memiliki kekuatan menuju hal itu.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.