Pensiun

Anwari Doel Arnowo

 

JANGAN PERNAH PENSIUN. Itu saya dengar pertama kali ketika pada sekitar dua puluh lima tahunan yang lalu, ketika saya sudah melampaui umur 50 tahunan. Lumayan juga saya terkejut dan berpikir dan berpikir. Jawaban apa yang saya terima sedikit mengejutkan saya tetapi terhadap yang mana saya terkejut, saya tidak tau. Maklum sekali karena belum banyak data di otak saya yang bisa membantu saya memproses dengan akal sendiri. Ingat waktu itu banyak data yang tidak transparan, oleh karena bisa menjadi data yang  dikomersialkan untuk menambah penghasilan kecil-kecilan. Jadi tentu saja disembunyikan orang. Lima tahunan kemudian mulai ada pergerakan pemikiran global dan mulailah alat-alat elektronik membuka data-data untuk umum. Saya manfaatkan untuk pribadi sesuai dengan suasana lingkungan saya di mana-mana. Gadget demi gadget yang termutakhir saya beli agar mudah belajar sendiri tanpa berguru ke siapapun. Kalau tidak salah ada telepon merk Nokia yang muncul pertama kali sebagai penjual gadget yang bergengsi di Indonesia.

Produk pertama yang saya miliki adalah yang type 9000 yang besar dan berat. Tampilan layarnya lebih lebar, tetapi masih black and white. Tahun-tahun berikutnya saya menjadi pembeli pertama dan bisa saja saya beli sebelum dilaunch untuk umum, dengan harga sekitar US$ 1000.– per unit. . Salah satunya berupa unit yang masih percobaan. Kebetulan keesokan harinya saya ke Surabaya dan sempat pergi ke Gunung Bromo dan memotret Nokia itu berlatar kawah Bromo. Agennya saya beri photo itu kemudian. Beberapa bulan kemudian ada yang iseng memasang berita bahwa di masa tidak terlalu lama merk Nokia bisa bangkrut karena pesaingnya makin kuat. Saya mulai melirik dan mencoba macam-macam produk elektronik lain yang selalu muncul setiap beberapa bulan dengan features yang selalu lebih canggih dan lebih murah. Tidak ada  habisnya.

Itu semua membuat saya berpikir lebih cepat. Pada umur berapa orang bisa pensiun dengan selamat? Seingat saya waktu itu usia pensiun Pemerintah kita, Republik Indonesia adalah 55 tahun. Ah saya merasa masih cukup sehat, mengapa saya hharus mengikuti model ini, kan saya bukan pegawai pemerintah. Saya adalah seorang yang berusaha dan selalu mencoba menciptakan tenaga kerja di usaha macam apa saja saya pernah terlibat. Setelah memikirkan mendapatkan kerja untuk diri saya sendiri, nafkah halal untuk diri sendiri juga, saya selalu berfikir bagaimana berupaya bisa menciptakan kerja bagi banyak orang lain.

Bukan rahasia lagi bahwa Negara kita ini sering mengalami kesukaran ekonomi karena banyaknya manusia produktif yang tidak mampu menciptakan kerja bagi dirinya sendiri.

Umur lima puluhan adalah umur pensiun bagi generasi kakek saya bahkan ayah saya. Ah, saya tidak akan mau menjalani usia pensiun pada waktu saya masih sehat. Tapi tunggu dulu, apa sih pensiun itu? Saya carilah pendalaman di mana-mana ada data dan indikasi apa dan bagaimana pensiun itu. Kamus saya cari-cari, demikian juga encyclopaedia. Tanya kiri dan kanan mewawancarai para oldies.

Eh ternyata para oldies itu belum tentu sudah “tua”. Di Kanada mereka itu diberi “batasan” yang lahirnya tahun sekian dan sedang sampai di usia akhir 50an. Nggak jelas kan? Itu sebabnya muncul istilah-istilah lain, seperti halnya kata baby boomers. Anda tentunya tau bahwa saat ini usia 70an sudah seperti usia 50an pada tahun 1950an, jadi seseorang yang usia 70an itu bisa dianggap sebagai orang yang dulu kelihatan tua sekali sehingga patut dipensiunkan. Sekarang tidak lagi. Juga di Kanada pernah muncul peraturan bahwa sepanjang seseorang itu masih sehat dan masih bisa berkerja dengan layak dan correct, maka dia tidak boleh dipensiunkan. Bagi yang majikan yang berbuat seperti itu akan sampai kepada persoalan hukum. Tetapi waktu krisis ekonomi terjadi, maka peraturan seperti ini menjadi melunak, karena toh banyak usaha yang harus tunduk kepada hukum ekonomi juga.

Apalagi kaum muda yang susah mendapat pekerjaan akan berpikir ulang waktu terkena pajak penghasilan, karena menganggap bahwa pajak yang dibayarkan juga akan dipakai menunjang kondisi kaum oldies yang pensiun dan ongkang-ongkang kaki saja.

Di titik inilah saya mengambil keputusan: Saya tidak ingin membebani kaum muda dengan menjadi sakit-sakitan. Itu saja dulu: saya harus tetap sehat sekuat tenaga dan bersikap hidup: saya bisa normal sesuai dengan pengertian saya mengenai normal itu apa. Sekarang saya sudah 76 tahun dan masih sanggup mengonsumsi makanan apa saja dengan seimbang. Masih bisa berljalan kaki sebanyak sedikitnyua 7000 langkah hampir setiap hari. Masih bergaul dengan puluhan teman-teman, baik melalui pertemuan langsung serta, bermain musik,  menyanyi dan berdiskusi serius atau bercanda dan juga terbahak-bahak  ha ha juga hi hi hi. Menulis belum pernah saya hentikan, dan selalu saya pilih dulu mana yang patut dipublish untuk umum, atau disimpan untuk sementara waktu dulu malahan ada yang saya simpan saja seterusnya dan nantinya akan boleh dibuka setelah saya meninggal dunia nanti. Sesungguhnya pensiun itu ada dua atau lebih pengertiannya:

1. Kalau dia pegawai, maka ada masa kontraknya yang akan habis karena usianya.

2. Kalau dia itu pengusaha maka dia boleh saja pensiun pada usia 45 sekalipun dan terus menganggur sesuka dia sampai mati.

3. Kata pensiun bisa saja bagian dari pengganti nama benda dari istilah uang pensiun yang diterima si Tua setiap bulan.

pensiun

Seumur ini saya makin tidak takut kepada Allah. Bagi saya Allah itu baik sekali. Apa pasal? Allah selama ini  telah membiarkan saya hidup baik sampai saat ini, 76 tahun. Bisa hidup seperti cara saya tuliskan di atas, plus tidak merepotkan sekeliling saya. Masih bisa mencuci piring sendiri kalau perlu segala pekerjaan di rumah termasuk membersihkan got di luar pagar rumah di depan. Menjadi tua bukan sesuatu yang perlu ditakuti dan dihindari. Jangan bunuh diri meskipun anda sedang menderita. Tidak perlu membunuh diri sendiri apalagi membunuh orang lain. Kalau terpaksa bunuh dirilah dengan bermartabat. Bagaimana caranya? Ya silakan pensiun dulu dan dalamilah semua informasi sehingga anda akan sibuk mengumpulkan data bunuh diri ke sana dan kemari sampai lupa diri tidak ingat lagi mau mengapa atau mau apa. Bunuh diri? Sudah lupaaa …. Apa itu??……

 

Anwari Doel Arnowo    

2014/10/09

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.