[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Di Antara Kesedihan dan Kebahagiaan

Liana Safitri

 

LYDIA berusaha kabur saat seseorang mengantarkan makanan ke ruangan tempatnya dikurung. Tapi tiga orang bodyguard berhasil menangkapnya. Pukulan tongkat Nyonya Zhou kembali mendarat di tubuh Lydia dan satu hari itu ia tak mendapatkan jatah makan.

“Sudah kukatakan, jangan coba-coba kabur karena hanya akan menyusahkan diri sendiri! Terima saja nasibmu! Aku akan baik padamu kalau kau menurut!”

Tapi bahkan dalam keadaan perut kosong, ketika matahari tenggelam Lydia harus bergabung dengan teman-temannya pergi ke kelab malam. Lydia tidak yakin bisa lolos seperti sebelumnya. Lydia ingin menyayat-nyayat wajahnya agar menjadi buruk rupa, hingga tak ada laki-laki yang sudi melihatnya. Lydia berusaha bersikap sangat menyebalkan, tapi jangan sampai membuat orang marah atau tersinggung agar tidak ada laporan buruk yang singgah ke telinga Nyonya Zhou. Air mata juga sudah habis karena tak cukup untuk mengungkapkan ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, dan kemarahan yang bercampur aduk jadi satu. Entah berapa kali Lydia meratap penuh sesal,

Seharusnya aku tidak menelepon Kakak sebelum Xiao Long merampas ponselku!

Seharusnya aku tidak meninggalkan apartemen!

Seharusnya aku tidak bertengkar dengan Tian Ya!

Seharusnya aku tidak membiarkan Frida tinggal bersama kami!

Seharusnya aku tidak perlu menolong Frida!

Seharusnya aku dan Tian Ya tinggal bersama mama dan papa Tian Ya!

Seharusnya aku dan Tian Ya menikah lebih dulu sebelum hidup bersama!

Dulu Franklin menahan ponsel Lydia, karena mencintainya… sedangkan Xiao Long? Lydia mau bunuh diri, tapi sebelum mati ia ingin menatap wajah orang-orang yang dikasihi sekali saja. Mengucapkan terima kasih… mengucapkan maaf… Kepada Kakak, kepada Tian Ya, meski tidak yakin apakah pemuda itu masih mencintainya. Alangkah indahnya jika dapat mengatakan Wo xihuan ni我喜欢你) sekali lagi… Kemudian di lain waktu Lydia berubah pikiran. Ia belum mau mati! Mungkin akan ada kesempatan yang lebih baik untuk bisa keluar dari tempat ini… Tapi kapan? Sedangkan Lydia melalui hari-harinya bagaikan berpijak pada lembaran es tipis yang sewaktu-waktu bisa pecah. Begitu tercebur tamatlah sudah! Dan ketika berhasil keluar nanti, bagaimana jika dirinya dipenuhi lumpur yang tak bisa dibersihkan?

Kelab malam lebih ramai dari biasanya. Kabarnya hari ini akan ada tamu spesial, para pengusaha kaya dan ada yang dari luar negeri. Lydia bersama beberapa orang diminta menemani mereka. Minum, mengobrol, karaoke, dan selanjutnya terserah pada keinginan tamu. Teman-teman Lydia tampak sangat senang karena “tamu istimewa” berarti akan ada pemasukan lebih besar jika mereka bisa memberikan service memuaskan.

“Kunasihati kau, ya! Kali ini jangan berulah macam-macam lagi! Buang keinginanmu untuk kabur, ada banyak bodyguard yang menjaga! Tidak akan berhasil!” kata Yi Qian. Lydia tak menanggapi. Tadi ia menemukan sebuah pisau lipat di gudang tempatnya dikurung, entah milik siapa. Daripada digunakan untuk melukai diri sendiri, lebih baik pisau itu digunakan untuk melindungi diri sendiri!

Seorang pelayan laki-laki mengantar Lydia, Ke Ying, dan Yi Qian masuk ke ruangan VIP. Suasana di dalam lebih tenang daripada di luar ruangan. Musik yang diputar pun tak terlalu bising. Empat orang pria berpakaian rapi lengkap dengan dasi duduk di sofa warna merah, lalu di atas meja terdapat dua botol minuman dan gelas-gelas kecil. Ketika pelayan laki-laki tersebut masuk membawa beberapa wanita yang “sudah dipesan”, pembicaraan mereka langsung terhenti.

“Oh, ini dia!” Pria yang duduk paling dekat dengan pintu tampak sangat gembira lalu berkata pada teman-temannya, “Kita lupakan dulu masalah pekerjaan yang memusingkan itu! Mari bersenang-senang!”

“Tuan Wang! Anda benar-benar memahami apa yang kami inginkan!”

“Tentu saja!” Mereka tertawa. Pria yang paling muda sibuk dengan ponselnya, sejak tadi hanya diam membisu. Bahkan ketika para perempuan ini dibawa masuk ia tidak peduli dan tidak mau melihat.

“Apa kabar, Tuan-tuan? Saya Ke Ying…”

“Saya Yi Qian!”

Si pelayan laki-laki membentak Lydia, “Hei, orang baru! Kenapa diam saja? Jangan menunduk terus! Ayo perkenalkan dirimu!”

Lydia tak bereaksi.

“Kau tuli, ya!” Si pelayan laki-laki menarik rambut Lydia dari belakang sehingga membuatnya mengangkat kepala.

Mata Lydia bertemu dengan mata salah seorang tamu. Lydia merasa jantungnya berhenti berdetak dan langit runtuh menimpanya. Mulut Lydia terbuka namun tak ada suara yang keluar, sehingga panggilan yang ingin dikatakan hanya mengambang di antara pandangan mereka yang sama-sama terbelalak.

Tidak mungkin! Mataku pasti salah lihat!

 

Lydia dilepaskan setelah masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Tapi belum sempat menarik napas, tangan itu sudah berayun di udara dan mendarat di pipinya keras sekali. Plaakkk!

Mata Lydia membelalak lebar-lebar bersamaan dengan setitik air mata yang meluncur. Ia memegangi sebelah wajahnya. Tapi tangan yang barusan memukul juga tampak gemetar.

“Kau…” Akhirnya suara itu terdengar meski parau, matanya juga berkaca-kaca melihat pipi yang merah bekas ditampar. Lydia jatuh terduduk di pinggir tempat tidur dan terisak pelan.

Maafkan aku, Kakak! Kemarin aku memikirkanmu, tak kusangka sekarang kau benar-benar datang…

“Jadi… kehidupan seperti inikah yang kau impikan? Setelah pergi dari rumah demi menghindari pernikahan denganku, mengikuti pria yang kau cintai sampai ke Taiwan… kemudian…” Franklin tidak mampu meneruskan kata-katanya.

Lydia menggelengkan kepala kuat-kuat diikuti buliran air mata yang berhamburan tanpa henti.

Bukan begitu… Bukan begitu… Kau salah! Ini tidak seperti yang kau kira! Bagaimana caranya menguraikan benang kusut ini?

Franklin menatap Lydia lama sekali. Benarkah yang ada di hadapannya sekarang adalah Lydia? Kenapa sangat berbeda? Apa saja yang dialaminya hingga sampai di tempat seperti itu? “Seandainya tidak ada urusan yang mengharuskanku ke Taiwan… seandainya aku tidak menuruti ajakan Tuan Wang untuk pergi ke kelab malam, seandainya aku datang lebih cepat atau lebih lambat… Siapa laki-laki yang akan kau temui hari ini?”

Lydia tidak sanggup menerima tuduhan Franklin. Apakah kakak yang sudah tinggal selama bertahun-tahun dengannya masih belum memahami seperti apa Lydia? “Aku dijebak… aku tidak tahu…” Lydia berucap terbata-bata, tangisnya semakin memilukan. “Aku berusaha melarikan diri, tapi gagal… Mereka juga… memukuliku… Aku tidak bohong!”

Franklin berjongkok di depan Lydia, sambil memegang bahunya bertanya, “Mana Tian Ya?”

“Dia…”

“Sudah putus?”

Lydia hanya bisa mengangguk lemah.

Franklin menggertakkan gigi, “Dari awal aku tidak setuju… Aku tidak percaya kalau orang itu bisa menjagamu!”

“Tian Ya tidak tahu…”

“Kenapa kau masih membelanya!” Franklin berteriak keras. “Sudah sampai begini kenapa masih membelanya? Kau sudah dibutakan oleh cinta, begitu butanya sampai tidak tahu jika orang yang kau cintai itu sudah menjerumuskanmu ke dalam lubang dan nyaris menghancurkan hidupmu! Apa yang harus kulakukan agar kau sadar?” Franklin merasa sedih, marah, sekaligus putus asa. Ia ingin mencincang-cincang Tian Ya sampai mati! Bukan, yang lebih Franklin inginkan adalah cerita Lydia. Ia tidak peduli seberapa larut sekarang, apakah Lydia lelah, dan sekacau apa keadaannya. Franklin mengambil segelas air hangat, meraih tangan Lydia untuk memegangnya. “Ceritakan semuanya!”

Menuturkan kembali hal yang tidak ingin diingat adalah sebuah siksaan. Namun meski harus terhenti beberapa kali serta memakan waktu cukup lama, Franklin mendengarkan dengan sabar sampai tuntas. Setelah selesai Franklin hanya berkata singkat, “Sudah malam, istirahatlah!” Lalu Franklin berjalan ke seberang ruangan, duduk bersandar di sofa.

Bertemu Franklin dengan cara seperti ini sangat tidak diinginkan oleh Lydia. Diam-diam ia juga terkejut. Terperangkap di tempat itu menghadapi orang-orang yang mengerikan, secara kebetulan selalu berhasil lolos dari para lelaki hidung belang meski harus dipukuli, lalu di hari ketiga ketika Lydia kehabisan akal, kakak tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya! Bukankah itu sebuah keajaiban? Franklin benar-benar adalah malaikat penolongnya, pahlawan pribadinya, sejak dulu hingga sekarang! Setelah berpisah dan menjalani hari-hari yang berat sebagai orang asing, meskipun ada Tian Ya, tapi memang tak ada orang lain yang memahami Lydia dengan sangat baik kecuali Franklin. Lydia sangat merindukannya, juga saat terkurung selama tiga hari di tempat itu, Franklin lebih sering diingat Lydia daripada Tian Ya. Lydia ingin memeluknya, mengatakan bahwa ia sangat takut jika harus jauh dari kakak sekali lagi… Tapi Franklin malah menunjukkan sikap yang membuat Lydia merasa sedih.

Aku tahu kau marah dan kecewa, tapi tak ada seorang pun yang bisa mengetahui kejadian buruk apa yang akan menimpa dirinya…

Franklin tak bisa berhenti berpikir. Dari sofa tempatnya berbaring sekarang ia melihat ke tempat tidur, tempat orang yang dicari selama ini akhirnya ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan.

Aku marah karena kau berkali-kali menolakku hanya untuk memilih seorang pria yang tidak bisa membahagiakan dan melindungimu dengan lebih baik.

Ketika bertemu Lydia di kelab malam Franklin sangat terpukul hingga tak sanggup berkata-kata. Seandainya ia tidak ingat kalau pada saat itu mereka sedang berada di tempat asing, pasti Lydia langsung dicecar dengan berbagai pertanyaan, apa yang kau lakukan, kenapa ada di sini, bagaimana bisa terjadi, mengapa Tian Ya tidak memedulikanmu, dan sebagainya.

Tuan Wang adalah pengusaha yang dapat berbahasa Indonesia dan menjadi penerjemah selama Franklin berada di Taiwan. Sebenarnya ia bermaksud mengajak Franklin mencari hiburan di kelab malam bersama beberapa rekan bisnis lain. Tapi Franklin menolak, “Saya tidak terbiasa mendatangi tempat semacam itu…”

“Apa?” Mata Tuan Wang terbelalak lebar-lebar, “Apa Anda bermaksud mengatakan, Anda tidak pernah pergi ke kelab malam?”

“Pernah sekali! Tapi saya tidak suka.” jawab Franklin sekenanya.

Tuan Wang terheran-heran, “Saya kira Indonesia sudah sangat modern? Saya sering berkunjung ke negara Anda dan banyak pengusaha yang datang ke kelab malam?”

Franklin hanya tersenyum, “Saya tidak, Tuan Wang!”

“Ah… ya, saya mengerti! Tapi kalau Anda menghabiskan waktu sendirian di hotel bukankah sangat disayangkan? Ayolah, ikut kami minum sedikit saja, ya?” Oleh karena itu Tuan Wang bingung ketika melihat Franklin sangat antusias melihat Lydia.

Pikiran Franklin berputar dengan cepat. Agar tak mengundang kecurigaan banyak orang Franklin tiba-tiba tersenyum senang sambil berteriak pada Tuan Wang, “Oh… Tuan Wang, gadis yang berbaju hijau itu tampaknya orang Indonesia?” Franklin beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di samping Lydia lalu tanpa ragu-ragu memeluk pinggang Lydia. Akting Franklin benar-benar bagus. Jika laki-laki lain yang berbuat demikian, pisau yang dibawa Lydia sekarang sudah pasti menembus perutnya! “Tuan Wang, malam ini aku menginginkan dia!” Sebenarnya teman-teman Lydia pada saat itu sedang waspada kalau-kalau Lydia membuat kekacauan lagi. Tapi kemudian mereka heran karena Lydia diam saja ketika dipeluk Franklin.

Namun masalah masih belum selesai. Franklin tahu ia harus “membeli kembali” Lydia dari orang yang telah mempekerjakannya di kelab malam. Itu adalah cara paling mudah dan tercepat jika tidak ingin bermasalah dengan para gangster! Dan di bawah sana, ada bodyguard yang menunggu hingga matahari terbit untuk mengetuk pintu kamar Franklin, memberitahukan kalau “waktunya sudah habis” dan Lydia akan dibawa pergi.

Maka Franklin mengabaikan segala tata krama dan sopan santun menghubungi Tuan Wang larut malam. “Tuan Wang, saya memerlukan bantuan Anda sekarang juga!”

Lydia berpura-pura tidur. Ia dapat mendengar Franklin membuka pintu dan keluar dari kamar. Apa pun yang dilakukan Franklin, Lydia berdoa agar kakaknya pulang sebelum pagi.

Tuan Wang segera menemukan sosok Franklin yang duduk sendirian di restoran hotel. Ia menatap cangkir kopi tanpa berkedip, wajahnya juga lebih serius dari biasa. “Sepertinya baru dua jam yang lalu kita bertemu, Tuan Frank? Masalah apa yang sedemikian serius hingga membuat Anda tak sabar menunggu sampai besok?” tanya Tuan Wang setelah duduk di hadapan Franklin.

Franklin mencondongkan tubuhnya mendekati Tuan Wang dan langsung berbicara ke intinya, “Wanita yang saya temui di kelab malam adalah wanita baik-baik! Saya tidak bisa melihat saudara sebangsa saya menderita lebih lama di sini. Saya ingin membantunya pulang ke kampung halaman, dia akan kembali ke Indonesia bersama saya.”

“Jadi?”

“Saya bersedia menebusnya, berapa pun yang mereka minta!”

Tuan Wang mengangguk penuh pengertian, “Baiklah!”

“Anda bisa menjamin rahasia ini?”

“Tentu! Anda tenang saja!”

Menggunakan mobil Tuan Wang mereka berdua kembali mendatangi kelab malam. Seseorang merujuk ke sebuah rumah besar yang pemiliknya bernama Nyonya Zhou. Di luar dugaan semua berjalan dengan sangat lancar. Tentu saja setelah Franklin menyodorkan setumpuk uang pada Nyonya Zhou, dan wanita itu menyadari jika harga yang ditawarkan Franklin tiga kali lipat lebih banyak dari harga yang dibayarkannya pada Jing Yuan.

 

Lydia tiba-tiba berdiri setelah mendengar suara pintu dibuka. Ternyata Franklin. Sejak dari tempat itu, Lydia memang sering terkejut oleh suara-suara sekecil apa pun.

“Kenapa?” tanya Franklin.

“Tidak apa-apa…”

Lydia masih duduk melamun sampai Franklin muncul dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Lydia menatapnya lama sekali. “Kau… mau pergi?”

“Ya. Aku akan sangat sibuk beberapa hari ke depan.” Franklin melihat ketakutan dalam mata Lydia lalu menambahkan, “Masalahmu sudah beres, jangan khawatir! Selama aku pergi jangan ke mana-mana, ya?”

Lydia mengangguk. Ia melihat Franklin menenteng tas sudah akan keluar, kemudian memanggil, “Kakak!”

Franklin menoleh.

“Belikan aku baju…”

“Baju?” Pemuda itu tertegun sesaat. Ia melihat baju yang dikenakan Lydia masih sama seperti kemarin saat mereka bertemu di kelab malam. Dan pakaian Lydia yang tertinggal di tempat itu? Lupakan! “Baiklah, aku tahu! Nanti kubawakan baju baru.”

Setelah Franklin pergi Lydia menghidupkan televisi, mengganti saluran setiap beberapa menit. Lydia tidak tahu bagaimana cara Franklin membereskan masalahnya. Selain karena dirinya tidak mau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan tempat itu, sejak bertemu lagi dengan Franklin, Lydia merasa suasana di antara mereka sangat canggung. Franklin sudah mendengar semua cerita Lydia dan percaya kalau Lydia hanya dijebak. Tapi Franklin tetap menyimpan kemarahan di dalam hati, membuat Lydia sedih, rasa bersalahnya juga semakin besar. Kejadian ini telah melukai keduanya. Mungkin mereka memerlukan waktu untuk bisa kembali bersikap normal.

 

Tian Ya sama sekali tak menyentuh makanan yang ada di hadapannya. Ia sudah mencari Lydia ke mana-mana, meminta bantuan Xing Wang dan teman-teman untuk mencari Lydia, tapi belum membuahkan hasil. Frida menatap Tian Ya dan tiba-tiba kesal sendiri.

“Sudah beberapa hari aku perhatikan kau tidak pernah menghabiskan makananmu.”

“Dalam situasi seperti ini siapa yang berselera untuk makan?”

“Aku tahu kau mencemaskan Lydia. Kau sudah berusaha mencarinya siang malam, mendatangi berbagai tempat… tapi masih belum ketemu. Siapa tahu Lydia sudah meninggalkan Taipei.”

Tian Ya tak sependapat. “Dia baru beberapa bulan di sini, memangnya bisa pergi ke mana?”

“Bagaimana kalau…” Frida berkata hati-hati, “pulang ke Indonesia?”

Tian Ya tersentak. “Mana mungkin?” suaranya tanpa sadar meninggi. “Dia sudah pergi dari rumah, meninggalkan keluarganya! Lydia sudah tidak punya tempat untuk pulang di Indonesia!”

“Memang benar dia pergi meninggalkan rumah. Tapi bukan berarti Lydia tidak bisa kembali. Bagaimana kalau ia merasa menyesal? Bagaimana kalau akhirnya ia memilih menyerah dan memilih menjalani hidup dengan pernikahan yang diatur? Apalagi Lydia memang sangat dekat dengan kakaknya…”

Tian Ya mengakui kebenaran kata-kata Frida.

“Pertengkaran kalian bukannya tidak bisa diselesaikan. Ke mana pun Lydia pergi, setelah kemarahannya mereda, seharusnya ia kembali. Paling tidak membiarkan kau menjelaskan masalahnya sampai tuntas. Kecuali Lydia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganmu…” Frida beranjak ke sisi Tian Ya dan memegang bahu pemuda itu, “Berarti kau juga harus mulai melupakannya…”

Mengakhiri hubungan? Melupakannya?

Tian Ya membanting sumpit di tangannya lalu masuk ke kamar, meninggalkan Frida sendirian.

“Lydia, lihat baju-baju ini! Aku hanya mengira-ngira… Kalau kebesaran sedikit, masih bisa dipakai, kan? Sambil menunggu aku punya waktu untuk pergi bersamamu.”

Lydia membuka beberapa tas yang dibawa Franklin dan mengeluarkan isinya. Ada kaus, kemeja, rok, celana jeans, blus, bahkan pakaian dalam. Lydia menempelkan sebuah baju di tubuhnya.

“Bagaimana?” tanya Franklin.

“Sepertinya pas. Akan aku coba…” Lydia mengambil beberapa pakaian lalu pergi ke kamar mandi.

Lydia menatap bayangan dirinya di cermin yang mengenakan rok warna putih dengan atasan senada. Lama ia berpikir. Sungguh aneh, karena ia tak merasa malu ketika Franklin memilihkan dan membelikan baju untuknya. Tidak juga ketika melihat pakaian dalam itu di depan mereka. Lalu bagaimana jadinya jika bersama Tian Ya? Meskipun belum pernah merasakan situasi semacam ini, tapi Lydia tahu, dengan Franklin masih lebih baik. Lydia keluar dengan baju barunya yang manis.

Franklin meletakkan sebuah ponsel di tangan Lydia. Ponsel itu sama dengan milik Franklin. Mau tak mau Lydia teringat dengan ponselnya yang sama dengan milik Tian Ya dan dirampas oleh Xiao Long. “Kelak, jika terjadi sesuatu padamu… aku adalah orang pertama yang harus kau panggil.” Ucapan Franklin sangat menyentuh hati Lydia.

“Aku pernah meneleponmu…” Lydia akhirnya mengaku.

Mata Franklin membelalak tak percaya. “Kapan?”

“Sekitar dua minggu yang lalu, sebelum berada di tempat itu…” Lydia menelan ludah, “Aku merindukanmu…”

Franklin berpikir keras, berusaha mengingat-ingat. Ada banyak sekali orang yang menghubunginya. Tapi pada suatu malam memang pernah ada seseorang yang menelepon dengan nomor tak dikenal. Franklin bertanya siapa dia. Tak ada jawaban, lalu telepon ditutup. Sayangnya ia sama sekali tak memperhatikan nomor pada layar yang sangat berbeda dan pada deretan depan merupakan kode dari luar negeri.

Lalu urusan pekerjaan mengharuskanku datang kemari, barulah terpikir olehku jika mungkin kau kabur ke Taiwan! Bodoh!

“Kenapa kau tidak berkata apa-apa?” tanya Franklin kecewa.

“Aku tidak mau kau tahu kalau aku telah gagal dan salah…” Lydia tersenyum getir, “Tapi tetap saja ketahuan! Aku bodoh, ya?”

“Ya, kau sangat bodoh! Bodoh sekali…”

Segerombolan lelaki mendekat dengan tawa mengerikan. Dirinya berlari, tapi yang tampak di depan mata hanyalah lorong gelap tak berujung. Lydia berteriak meminta tolong namun tak ada seorang pun yang datang. Sementara para lelaki yang mengejarnya semakin mendekat, ia terjatuh-jatuh. “Jangan! Jangan!” Lydia berteriak keras, “Jangaannn…!” Ada yang memegangi tangannya dan juga memanggil namanya.

“Lydia! Lydia! Bangun!” Lydia membuka mata. Bayangan mengerikan itu menghilang, digantikan dengan wajah Franklin yang duduk di tepi tempat tidur. Cuma mimpi!

“Kau mimpi buruk?”

Lydia berkeringat dingin, tubuhnya gemetar.

“Mimpi apa?”

Lydia tak menjawab, ia menggelengkan kepala lalu terisak. Melihat reaksi seperti ini, Franklin dapat menduga mimpi buruk apa yang dialami Lydia. Dipeluknya gadis itu sembari menenangkan, “Semua sudah berlalu… Tidak ada yang akan mencelakakanmu di sini…” Franklin menyelimuti Lydia dan kembali ke sofa di seberang tempat tidur.

Beberapa menit kemudian Franklin mendengar suara-suara kecil. Ia menyalakan lampu dan mendatangi tempat tidur lagi. “Kenapa lagi?”

“Tidak apa-apa…”

Franklin menarik napas dalam-dalam lalu berbaring di samping Lydia. “Tidurlah, aku akan menemanimu!” Lydia sebenarnya agak terkejut karena tindakan Franklin yang tiba-tiba tersebut. Namun di saat seperti sekarang dirinya sungguh sangat membutuhkan Franklin, Lydia tidak dapat menolaknya. Dapat tidur tanpa rasa takut, itu lebih baik.

“Apa saja yang kau alami selama aku tidak ada? Tempat itu pasti sangat menakutkan, bukan? Aku marah karena kau kabur dengan Tian Ya. Tapi mendengar ceritamu membuatku tidak tega memarahimu. Ah, salah… bukankah aku memang selalu tidak berdaya menghadapimu?”

“Kemarin kau menamparku…” Lydia berkata lirih.

Franklin menunduk menatap Lydia dengan terkejut karena ia mengira Lydia sudah tidur. “Ya, waktu itu aku lepas kendali…” ujarnya penuh sesal. “Tapi sebenarnya… aku merasa jauh lebih sakit daripada kau…” Ia berbisik sambil mengusap poni yang menutupi kening Lydia. Ada bekas luka sangat jelas di sana. “Ini kenapa?”

“Aku berkelahi dengan seseorang yang sekamar denganku di tempat itu.”

“Mengapa?”

“Karena dia menjelek-jelekkan Kakak, jadi aku marah,” Lydia menjawab masih dengan mata terpejam.

“Lalu kau terluka?”

“Hmmm…”

Dan Franklin melihat luka Lydia dengan lebih jelas, di tangan, di leher, di kepala, di mana-mana… Tidak ada kata-kata lagi. Franklin memeluk Lydia semakin erat, Lydia pun balas memeluk Franklin.

Hari ini sama dengan hari itu, ketika Lydia dan Franklin menjalani kehidupan baru sebagai suami istri.

happiness-and-sadness

Lydia berpikir, asal undangan sudah disebarkan, tamu berdatangan, foto berpasangan, lalu dipajang duduk di pelaminan, maka dirinya bisa terbebas dari tekanan orangtua. Bagi Franklin berbeda lagi. Status pernikahan akan membatasi hubungan Lydia dan Tian Ya sekaligus memperkuat posisinya atas Lydia. Soal di malam hari mereka tidur terpisah hanya Lydia dan Franklin yang tahu. Keadaan mereka yang sesungguhnya masih seperti kakak beradik, bahkan menjadi semakin jauh karena mereka berbicara hanya pada saat perlu. Sayang, Lydia terlalu tergantung pada Franklin dan dirasa sangat sulit untuk bisa lepas sepenuhnya.

Tepat dua minggu setelah pesta pernikahan Franklin kembali sibuk di kantor. Pekerjaan yang ditinggalkan menuntut untuk diselesaikan hingga ia terpaksa lembur. Teman-teman berebut memberi ucapan selamat sedangkan Franklin hanya bisa membalas dengan senyuman getir. Lydia sendirian di rumah. Sepi. Tian Ya… Terakhir kali Lydia mendengar suara pemuda itu adalah ketika Tian Ya menelepon di Tanah Lot. Dalam keadaan seperti sekarang nama Tian Ya semakin sulit dilupakan. Tidak bisa tidur, Lydia lalu beranjak ke ruang tamu dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton televisi. Namun tiba-tiba televisi dan semua lampu padam. Lydia tersentak, mati listrik! Menjadi masalah besar karena Lydia selalu takut jika sendirian dalam keadaan gelap. Biasanya Franklin akan mendatangi Lydia, menyalakan lilin lalu duduk menemani sampai listrik menyala lagi. Tapi sekarang… Akan terasa aneh setelah Lydia menolak berbicara dengan Franklin lalu mencarinya karena mati listrik! Lydia memainkan ponselnya agar tetap ada sumber cahaya dari layar yang menyala. Menit demi menit berlalu. Listrik tak kunjung menyala, rasa takut pun kian tak tertahankan. Dengan tangan gemetar Lydia mengirim pesan.

Kak, mati listrik!

Tak perlu menunggu lama Franklin langsung membalas dengan menelepon Lydia, “Halo! Lydia?”

“Kakak…” Sudah agak lama Lydia tidak menyebut panggilan ini.

“Jalanan macet! Kau tidak apa-apa?” Franklin terdengar panik.

“Listriknya mati sejak tadi…”

“Tunggu ya, Kakak akan sampai di rumah secepatnya.”

Entah berapa lama Lydia menunggu. Franklin menemukan Lydia duduk meringkuk di lantai depan televisi. “Lydia…” Franklin memanggil. Walau tak dapat melihat apa pun kecuali cahaya dari layar ponsel, Lydia dapat merasakan tangan Franklin yang hangat menyentuh tangannya. Lydia langsung memeluk Franklin erat-erat. Pelukan itu sekaligus sebagai tanda penyesalan dan permintaan maaf karena dirinya sudah mengabaikan Kakak beberapa waktu belakangan. Franklin menepuk-nepuk punggung Lydia tanpa berkata apa-apa. Lydia menelepon Franklin. Bukan ayah, bukan ibu, bukan pula Tian Ya. Karena hanya Franklin yang bisa memahami ketakutannya. Hanya Franklin yang mau meninggalkan apa pun yang ada di hadapannya ketika Lydia sedang membutuhkan kehadirannya.

Franklin mengantar Lydia ke kamar. Dia menyalakan beberapa batang lilin lalu duduk di pinggir ranjang. “Tidurlah, aku tidak akan pergi.” Mata Lydia segera terpejam. Di bawah temaram cahaya lilin yang batangnya meleleh sedikit demi sedikit, Franklin memandangi wajah Lydia. Dirinya ikut terbakar oleh perasaan pedih sekaligus tidak berdaya yang mulai menyerang. Franklin mengulurkan tangan mengusap rambut Lydia. Apa yang harus dilakukan? Begitu dekat namun tak dapat dimiliki. Demikian sulitnyakah mengenyahkan bayangan Tian Ya dari hati Lydia? Sedikit lupa diri… perlahan-lahan Franklin membungkukkan badan. Bibir mereka nyaris bersentuhan. Namun akhirnya Franklin mendaratkan ciuman di kening Lydia.

 

Sepertinya peristiwa mati listrik baru terjadi kemarin. Mengingatnya juga membuat Franklin tak bisa tidur sekarang. Bagaimana bisa tidur? Setelah berpisah selama berbulan-bulan tanpa mengetahui keberadaan Lydia dan diliputi kecemasan, mereka kemudian bertemu di Taiwan dalam keadaan yang sangat menyakitkan. Dapat melihat kembali wajah Lydia dengan jarak sangat dekat dari wajahnya adalah bagai sebuah mimpi. Berharap pagi tak usah tiba…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.